The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
Berakhir


__ADS_3

Dua regu pasukan yang isinya manusia dengan perlengkapan perang menunggangi kuda menuju kerajaan yang diserang oleh Cassiopeia. Ya, mereka diperintahkan untuk membantu Yugo.


Hugo yang berniat untuk mengikuti Yugo kehilangan jejaknya namun dia bertemu Julia yang baru saja pulang dari misi Asteria. Setelah memberitahukan keadaan Yugo yang tiba-tiba menggunakan kekuatan kutukan dan pergi begitu saja, Julia mengerti dengan situasinya.


Komandan dua regu itu adalah Julia yang baru saja pulang dari misi, bersama wakilnya yang merupakan veteran perang dan rasnya merupakan manusia bernama Leon. Sebelumnya dia adalah Ketua Regu dari pasukan di Kerajaan Fimela.


Mereka menunggangi kuda dan di depan mereka dengan ujung sepanjang jalan terdapat benteng tinggi yang sudah dijebol. Julia menyadari adanya seseorang yang bergerak dengan cepat, terdapat monster berkaki empat yang ditunggangi oleh Kiijo dengan tujuan sama.


“Kiijo ... sudah kuduga, Cassiopeia menyerang kerajaannya.”


Meski Kiijo ada di depan mereka dan itu merupakan kesempatan melenyapkan musuh. Tetapi Julia mengangkat tangannya dan menyuruh pasukannya tidak menyerang Kiijo. Seorang pria yang memiliki tujuan menyelamatkan negerinya tidak bisa diganggu, apalagi menyelamatkan orang-orang yang dicintainya.


“Regu satu ikut bersamaku, regu dua ikuti Leon!”


“Siap!”


Kiijo menerjang musuh dan melewati mereka satu persatu yang merupakan pasukan dari Cassiopeia. Julia membagi dua regu, mereka menyerang dari dua arah dan menerobos pasukan yang menghalangi.


Monster buas dan Golem raksasa telah berada di kawasan penduduk dan melewati benteng yang berlubang. Julia mengayunkan pedangnya dengan darah mereka yang menyembur ke wajahnya, tetapi sorot matanya yang dingin telah menandakan terbiasa.


Julia yang fokus membunuh pasukan yang menyerangnya menyadari pasukan pemanah mengincar mereka. Kuda yang ia tunggangi tertembak, mau tidak mau dia harus turun dan melawan setiap pasukan yang mengincarnya.


Pasukan yang dibawa Julia menguasai sihir peningkatan fisik dan mereka bisa melawan puluhan pasukan meski seorang diri. Jika mereka terluka, Julia hanya harus meminumkan darahnya kepada mereka, dengan ini dua regu pasukan itu memiliki kekuatan yang sebanding lima ratus pasukan.


“Semoga kau baik-baik saja Yugo ... ”


* * * * *


Yugo terkapar dengan zirah pada beberapa bagian di tubuhnya remuk bahkan terkelupas. Yugo menahan mati-matian melawan pasukan Golem musuh bahkan pasukan yang ada di darat dan monster buas, Doro pun sudah hampir pada batas kemampuannya dengan perisai yang sudah tidak kuat menahan serangan lagi.


Yugo mencoba untuk bangkit kembali dengan tangan kiri memegangi pundak sebelah kanan. Lukanya parah meski dia terlindungi oleh zirah Naga Terkutuk, kesulitan bernapas dengan keadaan pikiran yang sudah berat dan kaki yang tidak kuat menopang tubuhnya.


Meski lukanya perlahan-lahan sembuh dengan sendirinya, ini membutuhkan waktu cukup lama dan Yugo tidak bisa istirahat begitu saja. Ketika Yugo berjalan keluar dari gang kecil, tiba-tiba saja sebuah tangan Golem mengarah dari samping, pukulan Golem raksasa itu membuat zirah Naga Terkutuk miliknya remuk dan ia terhempas jauh menabrak rumah penduduk.


Dua tulang rusuknya patah dan ketika ia mencoba untuk bangkit kembali rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Yugo hanya bisa berbaring untuk menunggu penyembuhan yang dilakukan tubuhnya, namun dia berpikir untuk membiarkan tubuhnya dikendalikan oleh Naga Terkutuk.

__ADS_1


Namun jika seperti itu, dia akan kehilangan jati dirinya dan menyerang siapapun dan melenyapkan apapun yang menghalanginya. Yugo yang teringat dengan masa lalunya menghela napas sebentar, ia melihat sosok bayangan Raja Iblis yang menghentikan amukannya pada saat itu.


Ketika Yugo menutup kedua matanya seraya mengistirahatkan tubuhnya agar penyembuhan cepat dilakukan. Suara teriakan dari pasukan yang tidak jauh dari posisinya terdengar nyaring, ia tidak bisa membedakan teriakan pasukan mana apakah itu musuh atau sekutu.


Yugo menyadari sosok keberadaan yang selalu ada di medan perang. Kiijo, hawa keberadaan itu dapat dirasakan olehnya dan Yugo perlahan-lahan mengubah posisi berbaringnya lalu beranjak dengan kaki yang sedikit bergeming.


Memuntahkan sedikit darah, dia kembali terjatuh dengan darah yang mengalir di berbagai tempat. Lukanya masih belum menutup, namun Yugo memaksakan dirinya dengan kembali berdiri.


Kiijo sendirian melawan pasukan Cassiopeia dengan tombak besi yang digunakannya. Yugo menarik napas dalam dan menggunakan kembali zirah Naga Terkutuk dalam sekejap, namun untuk kali ini bukan tubuhnya yang berubah menyesuaikan melainkan tubuhnya yang hanya terlapisi zirah keras dari Naga Terkutuk.


Celah di punggungnya terbuka, Yugo berlari dan ia melompat ditambah dorongan dari celah di punggungnya membuat dia menerobos pasukan musuh lalu menendang salah satu pasukan musuh. Kiijo dan Yugo saling bertatapan, mereka berdua kini saling membelakangi satu sama lain.


“Kau terlambat Kiijo, Yugo ini yang sudah menahan pasukan Kerajaan Cassiopeia.”


“Sudah lama tidak melihatmu menggunakan zirah nagamu. Untuk sekarang waktuku terbatas. Sebelum itu sembuhkan lukamu dulu bodoh.”


“Ya, kau ada rencana? Sejak tadi aku hanya melawan Golem raksasa dan pasukan yang ada di darat bersama Golem hitam itu.”


“Ya, pertama-tama pasukan kerajaanku telah mengevakuasi warga dan menyerang balik. Golem hitam itu adalah Doro saudaraku, tapi aku tidak menyangka ... Cassiopeia mengkhianati kami.”


Ucapan dari Yugo ditanggapi dengan senyuman kecil oleh Kiijo. Mereka berdua melawan balik pasukan yang mengelilingi mereka berdua, Kiijo berlari ke arah kastil diikuti oleh Yugo untuk membantu menerobosnya.


“Akan kubantu kau dari belakang! Sejak tadi Sera belum kutemukan, mungkin saja dia ada di kastil!”


“Ya, itu tujuanku!”


Kiijo mengayunkan tombaknya dengan menyamping, tombaknya menembus tiga kepala pasukan musuh yang terlindungi oleh helm. Tombak itu dipukul oleh Yugo yang membuatnya terlepas dari tiga kepala pasukan musuh, sehingga Kiijo dapat mengayunkan tombaknya lagi dengan waktu yang amat singkat.


Mereka berdua menerobos pasukan musuh yang sudah memenuhi di kawasan penduduk ini. Suara ledakan terdengar nyaring, mereka berdua menoleh ke belakang dan terdapat Doro dengan wujud Golem miliknya terkena serangan bertubi-tubi dari sihir yang dirapal oleh Mage musuh.


Golem raksasa musuh yang tersisa hanya dua, Doro melawan mereka berdua sekaligus menggunakan pedang dan perisai besarnya. Sendirian tidak akan kuat, Yugo menepuk pundak Kiijo dan ia pergi meninggalkannya menuju Doro untuk membantu melawan dua Golem raksasa musuh.


Kiijo tidak bisa berbalik, tujuannya saat ini adalah kastil kerajaan yang ada di depannya. Pasukan di tempat ini belum mencapainya sehingga Kiijo lebih cepat sampai dengan napas yang terengah-engah.


Berlarian di lorong yang panjang, memeriksa ruang satu persatu dan terdapat beberapa pelayan yang belum melarikan diri. Mereka memberitahu Kiijo bahwa Sera telah membantu keluarganya untuk melarikan diri melalui pelarian jalan rahasia.

__ADS_1


Kiijo yang mendengarnya lega, dia pun segera mengejar mereka melalui jalan rahasia yang telah dilalui. Lorong sempit yang hanya cukup untuk satu orang, udara menipis dengan penerangan berupa batu bercahaya.


Jalan keluar terdapat di ujungnya, bercahaya menyilaukan dan Kiijo mempercepat jalan pendeknya. Ketika melewati mulut lorong yang menuju keluar kastil, dia terdiam melihat sejumlah pasukan Cassiopeia yang berjaga.


Sekilas pandangannya mengarah ke bawah dan terdapat keluarganya yang berbaring dengan darah yang merembes di pakaian mereka. Jiwa Kiijo terguncang, menelan ludah dengan tatapan bergidik ke arah tubuh mereka yang sudah tidak berdaya.


Terdapat beberapa pasukan musuh yang berkumpul menghalangi, sepertinya mereka berkumpul mengerumuni sesuatu. Kiijo berlari lalu mengayunkan tombaknya ke dua arah dengan cepat, menusuk mereka satu persatu yang berniat menyerangnya.


Pasukan yang berkumpul mengerumuni itu mulai menyebar karena Kiijo menghampiri mereka. Kedua kalinya jiwa Kiijo terguncang, perempuan yang merupakan manusia dan orang yang dia sayangi terbaring dengan mulut mengeluarkan darah serta perutnya tertusuk.


Sera, wanita yang dia cintai terbujur kaku. Pasukan yang berada di sekitarnya segera berlari mengelilingi Kiijo, menyerangnya yang seorang diri namun tiba-tiba saja kepala setiap pasukan yang menyerangnya melayang.


Perasaan Kiijo tidak enak saat ini, dia membunuh siapa saja yang menghampirinya. Dia berjalan ke arah Sera, bertekuk lutut di samping kanannya lalu melepas sarung tangan kirinya.


Menyentuh pipinya, meski dia sudah memanggil namanya Sera tetap tidak bangun. Tubuhnya dingin, Kiijo yang tidak mempercayainya menyentuh urat nadi di lehernya.



Tidak ada reaksi, Kiijo mengeluarkan air mata dan menahan tangisannya dan ia memeluk Sera untuk terakhir kalinya. Pasukan musuh yang melihatnya berpikir bahwa itu kesempatan untuk menyerangnya, terdapat tiga pasukan yang menusuk dari belakang dan Kiijo tidak bergerak sedikit pun.


*Trangg


Suara dari benda yang saling bertubrukan terdengar. Sesosok manusia dengan zirah hitam menahan serangan tiga orang itu menggunakan tubuhnya, dia adalah Yugo dengan tubuh yang penuh luka.


“Berdiri Kiijo, aku tahu kau sedang menderita saat ini. Tapi untuk sekarang bisakah kau membantuku melawan mereka? Aku tidak kuat lagi, beberapa tulangku patah.”


Ucap Yugo kepada Kiijo yang ada di belakangnya, ia meremukkan tiga pedang yang menusuknya menggunakan pukulan lalu mengayunkan tangan kanannya dengan cepat dengan bagian samping yang terdapat bilah pisau zirah. Ayunannya tidak terlihat, tiga pasukan itu tewas dengan tenggorokan yang teriris.


Kiijo masih diam tidak menjawab pertanyaannya, Yugo menghela napas dan menerjang musuh yang ada di dekatnya. Memukul mereka hingga terhempas, menyayat tubuh mereka dengan pisau di kedua tangannya dan membiarkan mereka menyerangnya meski tidak mempan karena zirahnya yang keras menahan serangan mereka.


Ketika Yugo berniat bergerak, suara hati dari seorang pria yang tergerak hatinya membuat Yugo berhenti. Ia berbalik badan meski pasukan musuh berniat menusuknya, terdapat Kiijo yang tengah berdiri dengan tangan kanan memegang tombak miliknya.


“Akan kubunuh ... kalian semua ... ”


__ADS_1


To Be Continue ...


__ADS_2