
Julia bersama dengan para bawahannya sampai di sebuah kota yang telah menjadi reruntuhan. Mereka berhenti di tempat ini dan berniat untuk bermalam, lagipula tempat ini juga merupakan tempat tujuannya.
Kota reruntuhan ini sebelumnya merupakan tempat di mana Yuuza dan Yuina tumbuh besar. Karena itulah, tempat ini cocok dijadikan tempat bagi Yuuza untuk bersembunyi namun masalahnya hanya satu.
Julia menyuruh bawahannya untuk diam di tempat ini dan berjaga, sedangkan dirinya sendiri pergi menuju suatu tempat yang tidak jauh dari tempat pemberhentian. Julia berdiri di depan batu yang berukuran besar, seharusnya batu tersebut didorong namun Julia memotongnya menjadi beberapa bagian.
Tangga menuju bawah tanah terlihat jelas, ruangan tersebut tersembunyi karena terhalangi batu besar. Julia perlahan-lahan menuruni tangga dan menemukan sebuah pintu, ia mendobraknya lalu menemukan dua orang yang ia kenal.
Satu orang bersandar di tembok, keadaannya bisa dikatakan hidup namun tidak bisa bergerak sama sekali. Dia adalah Yuuza, memiliki rambut berwarna merah dan ia mempunyai bekas luka di wajahnya.
Yuuza mempunyai tanduk patah di bagian samping kepalanya, kenapa seorang manusia mempunyai tanduk? Dia menjual jiwanya kepada Raja Iblis, sehingga saat itu ia mempunyai setengah darah Iblis dan setengah darah manusia.
Alasannya hanya satu, dia hanya ingin melindungi Adik kecilnya yang manis yaitu Yuina. Pada saat itu Yuina marah besar karena tanpa sepengetahuan darinya, namun perlahan-lahan dia mulai menerima keadaan Yuuza yang berjuang keras untuk dirinya sendiri dan dia.
Raja Iblis, Jenderal serta para pasukan Iblis lainnya tidak akan mencelakai Adik dari Yuuza. Karena bisa saja markas mereka terbakar habis akan kemarahannya, kejadian tersebut pernah terjadi ketika Kiijo bermain-main bersama Yuina dan Julia.
Satunya lagi tergeletak di permukaan lantai yang lembab, dia adalah Kiijo. Salah satu Jenderal di pasukan Raja Iblis, namun keadaannya seperti mayat hidup karena jantung miliknya terlihat diambil oleh seseorang.
Akhirnya Julia memecahkan misteri ini, sepertinya jantung miliknya diambil oleh salah seorang Pahlawan yang membuatnya terpaksa menghentikan waktu bagi dirinya sendiri menggunakan segel sihir miliknya.
Untuk keadaan Yuuza, sepertinya dia harus berpura-pura mati dengan cara menidurkan dirinya sendiri menggunakan segel milik Kiijo. Tetapi jika seperti ini, dia tidak akan pernah bangun jika saja Kiijo tidak mendapatkan kembali jantungnya.
“Kalian berdua ... ”
Tiba-tiba saja permukaan tanah bergetar, teriakan dari luar terdengar dan Julia sepertinya salah perhitungan. Ia membawa Kiijo dan Yuuza ke luar dari bawah tanah dengan cara menarik pakaian mereka berdua.
Ketika sampai di permukaan, bawahannya tengah diserang oleh pasukan Kerajaan Karm yang dipimpin oleh Clarisse. Dia ingin membantu mereka, namun salah satu Iblis menghadangnya.
“Sisanya pergi dari tempat ini dan selamatkan para Jenderal!”
Seru salah satu Iblis yang menghadang musuh. Mereka mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi sosok Pemimpin yang suatu saat akan bangkit kembali, hanya dengan harapan itu membuat semangat terakhir mereka menyala kembali.
Mereka gugur bukan sebagai pecundang, namun pasukan Raja Iblis yang loyal terhadap sesama rekan seperjuangan. Bertarung hingga titik darah penghabisan untuk menahan musuh yang ada di depan mereka.
Sisanya pergi meninggalkan tempat ini, mereka lebih mengutamakan Julia serta Kiijo dan Yuuza untuk diselamatkan. Lagipula mereka berhutang banyak pada tiga orang tersebut.
Julia ingin menghentikan bawahannya yang pergi meninggalkan rekan mereka. Namun niatnya hilang setelah melihat air mata mereka mengalir untuk menghormati rekan seperjuangan yang berjuang, mereka hanya bisa menghormati usaha terakhir mereka sebagai pasukan terhormat.
__ADS_1
Julia serta sisa bawahannya dapat lolos dan pergi ke tempat yang cukup jauh dengan cara berlari. Ia menyuruh bawahannya untuk menjaga Yuuza dan Kiijo, sedangkan dia sendiri bergerak menuju Hutan Keabadian melalui sebuah pohon.
Setelah memasukinya, Julia keluar lagi dari Hutan Keabadian namun dengan koordinat yang berbeda sehingga terlihat seperti dia melakukan teleportasi. Dia pergi ke Utara di mana seharusnya tempat ini merupakan lembah yang ditumbuhi pepohonan, namun di tebing itu hanya batuan dan pohonnya lebih ke hutan yang ada di belakangnya.
Dari kejauhan, terlihat seekor naga tergeletak di tebing yang hancur serta aliran sungai yang terhalang oleh reruntuhan batuan tebing. Di dekat tempat itu terdapat beberapa mayat, ia langsung pergi ke bawah serta mengikuti aliran sungai.
Tidak ada mayat Hugo serta yang lainnya, hanya ada pasukan yang mengejar mereka. Dengan kata lain mereka dapat mengalahkan Pahlawan yang mengejar mereka, ini adalah suatu hal yang membanggakan.
Julia menelusuri aliran sungai hingga ke ujungnya, terdapat Golem yang bersandar pada tebing namun sudah tidak aktif. Di dadanya terdapat lambang yang sama seperti yang dimiliki oleh Yuina, tidak salah lagi bahwa Golem ini merupakan buatan dari Yuina.
Ia memeriksa Golem tersebut namun tidak dapat dihidupkan, lagipula hanya Yuina yang tahu bagaimana cara kerjanya. Dia menyerah tentang Golem ini lalu mencari jejak Rindou dan yang lainnya.
“Ketua! Apa itu kau!?”
Seru seseorang dari atas bukit, Julia melihat ke atas dan terdapat Rindou serta Hugo yang tengah menatapnya dari atas. Julia memperkuat fisiknya lalu menaiki Golem yang ia pijak dan melewati tebing dengan cepat.
“Apa kalian berdua sudah menemukan Yuina?”
“Ya, dia sedang bersama Liese dan Lecia. Dari pada itu, kenapa Ketua berada di tempat ini? Bukankah kau sedang mencari Yuuza di Selatan?”
“Aku sudah menemukannya bersama dengan Kiijo, lebih baik kita pergi ke tempat Yuina terlebih dahulu.”
“Di balik batu itu terdapat Yuina.”
Ucap Rindou seraya menunjuk batu besar yang dimaksud. Julia mendarat lalu berlari untuk sampai terlebih dahulu, terdapat Yuina yang tidur di pangkuan paha mulus dari Lecia.
“Bagaimana keadaannya saat ini?”
“Seharusnya dia sudah sadar, namun ... ”
Jawab Liese yang ada di samping Lecia. Julia mengerti dengan keadaannya, ia melepas zirah pelindung tangan kirinya lalu menyayatnya dengan pedang. Darah segar menetes dan mengalir cepat, ia meminumkannya kepada Yuina dengan jumlah cukup banyak.
“Yuima pernah melakukan sesuatu dengan darahku. Hasil penelitiannya membuat darahku ini menjadi sepertiga ramuan keabadian, Elixir.”
Elixir, sebuah ramuan yang dapat membuat seseorang abadi hanya dengan mengkonsumsinya. Darah Julia sepertiga dari sifat Elixir tersebut, sehingga hanya bisa menyembuhkan dan menghilangkan semua efek pelemah kecuali segel dan yang lainnya.
Beberapa saat, Yuina terlihat mengernyitkan keningnya lalu memejamkan matanya beberapa kali. Wajah dari Julia terlihat namun cukup kabur, beberapa detik kemudian pandangannya menjadi lebih jelas dan ia benar-benar melihat Julia yang tidak berubah sama sekali.
__ADS_1
“Julia ... ini di mana? Yang lainnya di mana?”
“Tenangkan dulu dirimu. Aku akan menceritakannya setelah kau pulih.”
Jawab Julia, Yuina melihat tiga orang yang asing baginya yaitu Rindou, Liese serta Lecia. Mereka bertiga memperkenalkan diri kepada Yuina, hanya dari perkenalan itu dia sudah mulai sedikit mengerti dengan situasinya.
“Sepertinya aku tertidur cukup lama. Bagaimana dengan Kakak dan yang lainnya?”
“Yuuza dan Kiijo sudah kutemukan. Namun ada masalah, jantung milik Kiijo sepertinya diambil oleh Pahlawan dari Cassiopeia.”
Karena perkataan dari Julia yang berkaitan dengan jantung membuat Rindou teringat dengan jantung yang didapatkan olehnya dari salah satu bangsawan yang dibunuh olehnya.
“Tentang jantung itu ... sepertinya aku tahu letaknya di mana.”
Ucapan dari Rindou yang menyela membuat situasi hening seketika. Julia serta Hugo langsung ngegas, kerah bajunya ditarik oleh Julia dan ia menggoyangkan tubuhnya yang membuat Rindou mulai malas untuk menjelaskannya.
“Dengar ya, sepertinya kita memang harus bertemu di suatu tempat setelah mengumpulkan beberapa orang. Ada tempat yang bagus untuk berkumpul?”
Tanya Rindou, mereka semua berpikir mengenai tempat yang aman dari pengawasan para Pahlawan serta negeri-negeri yang lainnya. Yuina mengangkat tangannya, ia mengusulkan suatu tempat untuk menjadi titik temu.
“Lebih baik kita bertemu di Blue Land, bukankah tempat itu cocok?”
Tanya Yuina, Julia mulai sependapat dengannya karena ia pernah mengunjungi Blue Land bersama dengan salah satu Jenderal Raja Iblis yang tidak akur dengan Kiijo.
“Jantung yang dimaksud ada di Kota Citadel Yuvin, bangsawan yang bernama Viens memilikinya. Kau hanya harus mengatakan namaku maka dia akan membantumu.”
“Kota Yuvin ... Kota yang memiliki dungeon. Baiklah, aku akan bergerak seorang diri untuk mengambilnya jantung dan kembali ke tempat Yuuza dan Kiijo berada. Kalian pergilah menuju Blue Land, membutuhkan kapal untuk pergi ke sana.”
“Kita tidak perlu kapal, aku punya ide untuk itu.”
Ucap Yuina, Julia langsung pergi dari tempat ini memasuki Hutan Keabadian melalui pohon yang ada di sekitarnya. Yuina dapat terbang menggunakan sihir angin dan gravitasi yang digabungkan, sedangkan Hugo memangku Lecia dan mereka segera pergi mengikuti Yuina yang tengah menuju Golem milknya.
Dari atas tebing, ia menyuruh agar yang lainnya tidak turun karena cukup berbahaya. Yuina turun di depan sang Golem, dua tangannya menciptakan segel lapisan sihir dengan empat gambar atribut elemen dasar.
Setelah prosesnya selesai, lambang yang ada di dada Golem tersebut menyala serta matanya berwarna kebiruan layaknya api. Perlahan-lahan berdiri dengan kedua kakinya, Golem ini benar-benar memiliki ukuran yang besar dan juga sangat tinggi.
“Baiklah, kita pergi.”
__ADS_1
To Be Continue .....