The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
Ruang Terdalam


__ADS_3

“Hugo, beri aku batu cahaya itu.”


“Ya, mana tanganmu bodoh. Ini gelap sekali.”


“Tunggu, siapa yang memegang pantatku? Hugo ... sialan kau homo diam-diam!”


“Apa!? Aku tidak melakukannya!? Tunggu! Aku gunakan batu cahaya ini dulu.”


Hugo mengambil batu cahaya dari ransel kecil yang dia bawa di pundaknya. Ketika cahaya dari batu itu bersinar kuning dan perlahan-lahan menjadi cahaya putih, Hugo dan Rindou saling bertatapan.


“Baiklah Hugo, aku baru sadar yang menyentuh pantatku bukan tanganmu.”


Ucap Rindou yang melihat kedua tangan Hugo diangkatnya membawa pedang dan batu cahaya. Hugo menelan ludah dengan keringat yang turun di dahinya ke pipi, ia juga merasakan sentuhan aneh di pantatnya.


“Baiklah Rindou, aku merasa tidak enak padamu tapi bisa kau angkat kedua tanganmu?”


Tanya Hugo seraya mengambil beberapa batu cahaya, setelah batu itu terkumpul di kedua tangannya cahaya kuning menjadi terang benderang. Rindou dan Hugo terdiam, mereka sudah dikelilingi oleh tengkorak yang bergerak.


“Brengsek!”


Ucap mereka berdua, Hugo melempar batu bercahaya itu ke atas dan mereka berdua menarik pedang masing-masing. Membasmi tengkorak yang mengelilinginya mereka. Namun sialnya lagi, meski sudah terpisah dengan tubuhnya tengkorak-tengkorak itu masih bisa bergerak.


Rindou menggunakan sihir api, telapak tangan kanannya diisi penuh dengan energi sihir. Segel sihir di depannya terbentuk, ia melemparkan api kecil yang ada di tangannya dan ketika melewati segel sihir itu dalam sekejap membesar dan menjadi semburan api menghanguskan sekumpulan tengkorak.


“Kenapa ada tengkorak yang dapat bergerak di tempat ini!?”


Tanya Rindou seraya menebas para tengkorak yang mengerubungi mereka berdua. Hugo pun sama, namun dia merasakan adanya sumber di mana tengkorak-tengkorak tersebut dikendalikan.


“Rindou! Mereka dikendalikan dan penggunanya ada di depan sana!”


Seru Hugo seraya menunjuk ke sebuah gua yang gelap, Rindou melempar batu bercahaya yang ia ambil dari permukaan tanah ke arah gua tersebut. Memang terdapat lorong dan sepertinya cukup jauh.


“Kita pergi!”


“Baiklah!”


Hugo dan Rindou segera berlari menghindari kejaran para tengkorak dengan cepat. Ketika memasuki mulut gua, Rindou menggunakan kemampuan Caligula dan menciptakan tembok kritsal di mulut gua sehingga para tengkorak itu tidak dapat memasukinya.


Rindou menggunakan sihir api seraya membayangkannya seperti lilin di telapak tangannya. Sedangkan Hugo memegangi dua batu bercahaya berukuran kepalan tangan dan mereka berjalan menelusuri lorong gua ini.


“Hati-hati Rindou, gua seperti ini biasanya ada suatu makhluk yang tertidur. Mungkin saja akan ada Skeleton Dragon atau makhluk lainnya.”


“Benarkah? Baiklah kau berjalan di depanku.”


Ucap Rindou lalu ia berjalan di belakang Hugo, cukup lama Hugo memikirkan perkataan dari Rindou.


“Tunggu!? Aku jadi perisai dan tumbal!?”


“Kenapa kau baru saja sadar bodoh. Tunggu ... ”


Rindou meraih pundak Hugo untuk berhenti berjalan. Ia melakukan sihir api yang sebelumnya, semburan api memenuhi lorong gelap ini di depan mereka terdapat sebuah ruangan di bawah tanah.


“Pintu? Hugo, apa yang akan kau lakukan jika menemukan pintu di tempat seperti ini?”


“Hmm? Tentu saja memeriksanya terlebih dahulu jika ada jebakan dan mungkin saja terdapat segel di dalamnya.”

__ADS_1


“Itu salah, jika ada pintu di tempat seperti ini ... terobos saja anjeng!”


Rindou langsung berlari mendahului Hugo, meningkatkan fisiknya menggunakan energi sihir dan itu tidak cukup untuk membuka pintu yang terkunci. Ia mengumpulkan energi sihir di telapak kedua tangannya yang menghasilkan bola api bertekanan tinggi, kedua tangannya dilapisi dengan kristal Caligula dan langsung saja dia meledakkan pintu di hadapannya.


*Blarr


Efek ledakan tersebut membuat Rindou terhempas mundur dan kedua tangannya tidak terlalu terluka. Jika ia tidak melapisi kedua tangannya dengan kristal Caligula, maka bisa saja kedua tangannya terluka dan putus.


“Kau terlalu ceroboh Rindou, namun untungnya pintu itu terbuka. Bersiaplah.”


Ucap Hugo seraya mempersiapkan pedang miliknya, Rindou berdiri dengan tangan kanan memegang pedang sedangkan tangan kiri mempersiapkan sihir api seperti sebelumnya jika ada serangan kejutan.


Mereka berdua memasuki sebuah ruangan di tempat aneh seperti ini. Di berbagai sudut ruangan hanya ada lembaran kertas penelitian, namun ada sebuah peti berukuran cukup besar dan manusia bisa muat memasukinya.


Rindou dan Hugo melakukan suit untuk siapa yang akan membuka peti tersebut. Sialnya, Rindou kalah adu taktik dan kemenangan dimenangkan oleh Hugo yang tersenyum terkekeh melihat Rindou kalah.


“Ingat Hugo, lain kali aku tidak akan kalah.”


“Lekas selesaikan, aku ingin segera pulang.”


Rindou berjongkok untuk membuka peti yang tidak terkunci sama sekali. Perlahan-lahan ia membukanya, terlalu gelap untuk melihat isinya sehingga Hugo menyinarinya menggunakan batu bercahaya.


“Hmm? Apa ini? Mayat seorang perempuan? Tetapi ... bekas jahitan di wajahnya ini ... ”


Terdapat mayat seorang perempuan dengan beberapa bekas jahitan di wajahnya. Kedua kakinya dijahit seperti pernah lepas, rambutnya berwarna ungu dengan pakaian berupa gaun robek yang menempel padanya sudah lusuh.


“Tragis sekali, mungkin dia tinggal di tempat ini dan mati di tempat ini. Biarkan saja di— anjeng!”


Rindou berteriak dengan perkataan yang tidak dimengerti oleh Hugo artinya. Ia menunjuk ke mayat perempuan tersebut dan menjelaskan kepada Hugo bahwa matanya terbuka dengan cepat.


“Mungkin kau salah lihat, kau terlalu kelelahan karena perjalanan ke tempat ini menggunakan kapal.”


Rindou bersikeras memberitahu Hugo bahwa tadi dia melihat mayat perempuan tersebut membuka matanya. Hugo menghela napas dan meladeni Rindou cukup melelahkan, ia pun melihat mayat perempuan tersebut dan mereka berdua terdiam melihatnya.


Sepasang mata melihat mereka berdua, mayat perempuan tersebut benar-benar membuka matanya dan memejamkan matanya beberapa kali.


“Anjeng!?”


Seru mereka berdua secara bersamaan, Rindou marah kepada Hugo karena mengikuti perkataannya dan ia memegangi pundak Hugo dan mengguncangkannya beberapa. Hugo marah karena Rindou mempermasalahkan masalah sepele, yang lebih penting adalah mayat perempuan yang ada di depannya.


“Tunggu Rindou!? Bukankah yang lebih penting itu—”


Hugo yang melihat ke dalam peti terdiam membisu, mayat perempuan itu menghilang dan Rindou pun melihat ke arah yang sama seperti Hugo.


“Anjeng!? Hilang!?”


Mereka berdua langsung saling membelakangi dengan pedang di tangan kanan. Hugo melemparkan beberapa batu bercahaya ke berbagai arah, terdapat sesuatu yang ditutupi menggunakan kain berwarna hitam yang terlihat mencurigakan.


“Baiklah, bakar saja.”


Rindou menekankan mana miliknya ke tangan kiri dan bersiap-siap menyemburkan api melalui segel sihir yang ada di hadapannya.


“Tunggu sebentar!? Aku menyerah!?"


Suara seorang perempuan terdengar, Rindou menghilangkan sihir apinya dan Hugo melemparkan sisa batu bercahaya yang dibawanya ke arah benda tertutup tersebut. Kain hitam yang menutupinya ditarik, terdapat perempuan mayat yang tadi dan dia terlihat hidup.

__ADS_1


“Mayat hidup? Baiklah, kita bakar saja.”


“Tu-tunggu!? Aku akan bicara! Apapun yang ingin kau tahu! Dulunya aku seorang Pahlawan!”


Seru zombie tersebut dengan memohon ampun kepada Rindou. Hugo menepuk pundak Rindou, informasi saat ini lebih penting dan membunuhnya adalah hal yang sia-sia bagi zombie namun beda lagi jika dibakar.


“Baiklah, kau tetap diam di situ. Baumu cukup menyengat.”


Perkataan Rindou menyakiti perempuan zombie itu, Hugo menyarungkan kembali pedangnya dan ia menanyakan tentang Xeno.


“Xeno? Ah, maksudmu manusia setengah mesin itu?”


Tanya zombie tersebut seraya menunjuk ke tembok yang ada di samping kiri Hugo. Rindou menekan mana di tangan kirinya seraya melapisinya dengan kristal Caligula, meledakkan tembok tersebut menggunakan tekanan sihir api dan menutup wajahnya untuk melindungi dari debu.


Rindou melempar batu cahaya ke tembok yang jebol, terdapat seseorang dengan kedua tangan dan kakinya terpotong dengan rapih namun terdapat sambungan dari anggota badan palsu. Rindou mundur, ia menyerahkan Xeno kepada Hugo.


“Jadi dia bernama Xeno ya ... ketika aku melawannya cukup kesulitan.”


“Melawannya? Siapa kau sebenarnya?”


Tanya Rindou, senyuman kecil dengan niat tersembunyi dia tampakkan kepada Rindou yang lengah. Zombie itu menahan tangan kanannya yang bersiap untuk menebasnya, Rindou merasa ada yang diserap dari dalam tubuhnya dan itu cukup deras.


Dengan tangan kirinya yang masih terlindungi kristal Caligula, Rindou menembakkan bola api bertekanan sedang ke zombie yang menahan pergerakan tangan kanannya.


“Terima kasih dengan makanannya. Dengan mana ini sudah cukup ... untuk melenyapkan kalian.”


Rindou terkecoh, mana miliknya diserap oleh zombie tersebut hingga pengendalian tembok kristal lenyap dan Hugo menggendong Xeno di pundaknya. Zombie itu pergi dari ruangan ini karena tembok kristal itu hilang karena sebagian mana Rindou diserap, mereka berdua pun segera mengikutinya dengan cepat dan sampai di tempat di mana mereka melawan tengkorak yang bergerak.


Sosok zombie itu berdiri dan jarak mereka berdua cukup jauh. Jika Rindou menyerangnya dengan sihir gabungan, kemungkinan besar mereka akan terkubur hidup-hidup karena tempat ini cukup sempit di bagian bawah lembah.


“Kau bertanya siapa aku? Salah satu dari Pahlawan yang melawan Raja Iblis, Anise. Ironisnya aku malah menjadi mayat hidup menggunakan sihirku sendiri, namun sekarang aku tidak perlu menunggu lagi.”


Setelah ocehannya berhenti, tanah yang mereka pijak muncul lapisan segel sihir berwarna ungu dengan skala luas. Bergetar cukup hebat, Rindou dan Hugo meningkatkan fisik mereka berdua dan memanjat tebing sebelum segel sihir yang ada di bawah mereka aktif.


“Kalian akan mati di sini!”


Ketika mereka berdua hampir sampai, segel sihir di bawah mereka telah aktif dan membuat hewan sihir yang sudah mati kembali hidup dengan jenis mayat hidup dan kulit membusuk. Hewan sihir yang memiliki wujud seperti banteng, berdiri dengan fisik layaknya manusia yaitu Minotaur kuno dengan kekuatan yang hebat.


Rindou dan Hugo mengambil napas dalam-dalam lalu menahannya, bau dari Minotaur kuno itu seperti mayat hidup yang sudah lama tidak dikubur.


Minotaur kuno yang menjadi mayat hidup itu menghantam tebing di mana Rindou dan Hugo tengah memanjat. Namun sayangnya mereka berdua kehilangan keseimbangan dan kembali jatuh, Rindou melompat ke arah Hugo dan segera meraih tangan kirinya.


“Kau duluan Hugo, aku yang akan mengurusnya.”


Rindou melemparnya ke atas dengan sisa tenaga yang dia kerahkan. Jatuh dengan posisi tanpa pertahanan, menyiapkan pedang di tangan kanannya dan menumbuhkan kristal Caligula di sebilah pedang yang menembus dada Minotaur tersebut.


Karena mana yang digunakan untuk menghidupkan kembali Minotaur kuno itu sedikit, maka daya tempurnya kurang dan mobilitas fisik serta daya tahan dagingnya tidak sekuat ketika Minotaur itu hidup.


Dengan cara seperti ini, Rindou terdorong ke atas karena kristal Caligula itu terus menerus tumbuh. Setelah melewati batas tebing, ia melepaskan pedang yang digenggam dan mendarat tepat di hadapan Hugo.


“Atraksi yang bagus.”


“Mana mungkin, kita segera pergi dari tempat ini sebelum dia mengejar kita.”


Rindou dan Hugo pergi dengan cepat membawa Xeno, Anise yang dulunya seorang Pahlawan dan kini menjadi mayat hidup masih berada di bawah lembah dan menunggu waktu agar sihir yang pernah ia rapal sebelum menjelang ajalnya aktif.

__ADS_1


“Akan kubunuh kalian ... ”


To Be Continue ....


__ADS_2