
Rindou membuka kedua matanya, ia tidak melihat atap rumah kayu yang biasanya. Apa yang dilihatnya adalah langit malam berbintang, ia cukup bingung dan memutuskan untuk bangun.
“Selamat datang di tempatku bocah.”
Sambutan seseorang yang ada di hadapannya saat ini tidak memiliki wujud fisik. Dia memiliki wujud gelap namun tatapan tajamnya mengarah langsung kepada Rindou, aura yang dikeluarkannya terasa jelas.
“Siapa kau?”
Tanya Rindou seraya memposisikan tubuhnya duduk bersila. Lawan bicaranya menyipitkan mata tajamnya, ia menjawab bahwa dia adalah sosok yang menemani Ayah Rindou.
“Di mana aku? Apa yang terjadi?”
“Saat ini kesadaranmu berada di alam bawah sadar. Keperluanku hanya berbicara kepadamu, sosok anak dari pejuang yang aku kutuk.”
Dari ucapannya, Rindou sudah mengerti bahwa sosok yang ada di hadapannya adalah Naga Terkutuk yang mengutuk Ayahnya yaitu Yugo.
“Ada yang perlu kau tahu, sistem yang kau dapatkan dari Raja Iblis serta kekuatan naga sebelumnya yang kau serap telah lenyap karena aku telah mengutukmu. Sebagai ganti aku bersemayam di tubuhmu, kau akan ditolak oleh dewa kematian seperti halnya Yugo. Keabadian yang kau dapatkan bisa hilang dengan beberapa kondisi, seperti halnya senjata suci. Meski kau abadi, kemampuan regenerasi lukamu lambat.”
“Begitu ya ... jadi itu alasanku kenapa luka yang aku terima sembuh dengan sendirinya. Ada yang ingin kutanyakan padamu, ceritakan padaku kejadian perang yang terjadi ketika manusia yang dihasut oleh gereja menyerang Raja Iblis.”
“Tentu, akan kuceritakan masa-masa menyenangkan di mana manusia saling berperang.”
* * * * *
Asteria, sebuah kota di mana para Jenderal Raja Iblis serta para bawahannya hidup dengan damai. Terdapat Raja Iblis yang menjadi pelindung mereka, setiap harinya mereka menghadapi peperangan melawan manusia yang ingin memusnahkan mereka meskipun kelompok mereka tidak ada salah sama sekali.
Dan ...
*Blarr
“Bawa yang terluka ke garis belakang! Hugo! Bantu yang ada di sayap kanan!”
Perintah dari seorang perempuan dengan pedang di tangan kanannya membuat Hugo yang ada di bawah perintahnya segera pergi melaksanakannya. Vinessa, dia adalah pendekar garis depan dengan kutukan makhluk suci yang membuat kekuatan tempurnya melebihi manusia biasa.
Seorang pria tiba-tiba berlari melewati Vinessa menuju garis depan dengan tangan kosong yang terlapisi sarung tangan. Pria tersebut menyadari ada seseorang yang kuat datang, dia melompat dan orang yang dia lawan menggunakan tombak serta topeng.
“Kiijo! Kau tidak kapok setelah kalah!”
__ADS_1
“Akan kumusnahkan kalian!”
Yugo memukul perut Kiijo dengan cepat menggunakan tangan kirinya. Kiijo menerima serangan dan ia memukul balik Yugo tepat di wajahnya menggunakan tangan kanan. Mereka berdua menjauh setelah menerima pukulan masing-masing.
Kiijo sebelum bergabung dengan Yugo dan yang lainnya merupakan pasukan dari sebuah negeri yang tergabung menjadi pembasmi para hama di dunia ini yaitu Iblis dan makhluk kotor lainnya yang dianggap rendah oleh manusia. Negeri tempat asal Kiijo merupakan ras manusia keturunan darah makhluk suci menjadi makhluk terkutuk yang di bawah naungan Kerajaan Cassiopeia, sebagai ganti agar mereka tidak menjadi musuh maka Kiijo dan yang lainnya menjadi pasukan sukarela.
Yugo dan Kiijo saling berhadap-hadapan, pertarungan mereka berdua yang dikelilingi oleh sekutu dan musuh terlihat berat sebelah karena Yugo memakai tangan kosong. Tapi memang itu keahliannya, Yugo selalu bertarung menggunakan tangan kosong apalagi ketika kutukan dari Naga Terkutuk aktif.
“Kiijo! Lebih baik kau bergabung bersama kami!”
“Tidak mungkin! Akan kukalahkan kau untuk negeriku!”
Jawaban dari Kiijo membuat Yugo kecewa, bujukannya yang selalu ia katakan kepada Kiijo selalu ditolaknya. Yugo yang tadinya siap bertarung dengan dua tangan di depan tiba-tiba menurunkannya.
“Nina! Bagianmu! Aku yang akan mengurus yang lainnya!”
Teriakan dari Yugo terdengar oleh seorang perempuan yang bernama Nina. Dia adalah Wakil Jenderal yang menggunakan tombak sebagai senjatanya, terdapat bendera dengan lambang negeri miliknya yang selalu ia kibarkan di medan perang.
Nina berlari membasmi pasukan musuh yang ada di hadapannya untuk pergi menuju tempat Yugo berada. Sesampainya, Yugo menunjukkan senyuman liciknya kepada Kiijo dan ia pergi ke tempat lain sedangkan Kiijo menghadapi Nina.
“Sudah kuduga Kiijo, apa kau tidak ada niatan untuk bergabung dengan kami? Raja Iblis tidak ada niatan sama sekali untuk menyerang tapi malah kalian sendiri yang seenaknya saja berniat memusnahkan kami.”
Nina menghela napas sebentar, dia berlari cepat menghampiri Kiijo yang telah menyiapkan tombaknya. Mereka berdua saling mengayunkannya dengan kuat, kedua tenaga mereka masing-masing seimbang namun teknik yang menjadi acuan.
“Aku tidak akan membiarkannya ... ”
* * * * *
Satu bulan yang lalu ...
Di kediaman Kiijo yang merupakan sebuah istana bagi keluarganya yang terhormat mengadakan sebuah upacara kepada salah satu dari saudaranya. Upacara itu bertujuan untuk mewariskan kekuatan sejati dari keluarga Kiijo, wujud sejati mereka dapat dikeluarkan setelah menerima persembahan dari upacara tersebut.
Aula besar di kerajaannya, terdapat satu keluarga Kiijo yang melakukan upacara. Ibunya telah meninggal dua tahun lalu, suasana hangat yang biasanya diisi oleh tingkah Ibunya telah lama sirna.
Keluarga Kiijo yang tidak terbebas dari kutukan makhluk terkutuk yang merupakan leluhur mereka menjadikan fisik mereka memliki tanduk berwarna hitam dengan rambut berwarna perak serta warna kulit putih. Berbeda dengan saudaranya yang terbebas dari kutukan, dia memiliki empat tanduk serta rambut berwarna hitam dan warna kulit coklat.
Saudara Kiijo bertekuk lutut di hadapan sang Raja yang tidak lain adalah Ayah mereka. Pedang sebagai bentuk penghormatan terhadapnya diletakkan di samping kanan kepala, sang Raja mulai membicarakan tentang kemakmuran serta sosok anaknya yang akan memimpin kerajaan ini.
__ADS_1
Kiijo tidak ada rasa penyesalan sama sekali, dia senang saudaranya menjadi penerus dan mewarisi kemampuan untuk kembali ke bentuk sejati miliknya.
Upacara selesai dengan wakil dari manusia yang ada di kerajaan sebagai saksi. Hanya ada beberapa orang saja yang menghadiri dan itu anggota keluarga kerajaan saja.
Kerajaan ini bekerja sama dengan ras manusia yang membuat perjanjian agar tidak saling menyerang dan bersama-sama memusnahkan keberadaan Raja Iblis serta bawahannya. Sehingga, ras manusia pun memasuki dan tinggal di kerajaan ini.
Tentu saja, Kiijo memiliki seseorang yang dekat dengannya dan dia seorang manusia.
Kiijo dan saudaranya berjalan di lorong, mereka membicarakan tentang peperangan yang akan terjadi setelah mendapatkan kabar dari Kerajaan Cassiopeia. Ketika mereka sedang berdiskusi, muncul seorang perempuan manusia dari belakang dan merangkul Kiijo.
“Apa yang kalian bicarakan? Bolehkah aku bergabung? Oh, selamat untukmu.”
“Terima kasih.”
Jawab saudara Kiijo dengan senyuman kecil untuk menanggapinya. Kiijo menyuruh perempuan itu untuk lepas dari punggungnya, namun dia semakin menempel dan jika Kiijo ingin lepas darinya hanya ada satu hal yang harus ia lakukan.
Kiijo tidak ingin melakukannya, namun dia dipaksa dengan pipi sebelah kanan yang dicubit dan ditarik. Tangan kirinya membentuk setengah hati, perempuan tersebut membentuk setengah hati menggunakan tangan kanannya lalu menyatukannya.
“Hehehe ... aku berhasil.”
“Jangan tertawa dan lepaskan, sakit bodoh.”
Mereka berdua sangat akrab, saudara Kiijo yang melihat tingkah mereka berdua tertawa lepas. Pasangan bodoh yang tidak tahu arti dari romantis terutama Kiijo terpaksa dalam permainan.
“He-hentikan! Jangan tertawa! Daripada itu Sera, kenapa kau ada di tempat ini? Bukankah kau ada keperluan di tempat asalmu?”
“Begitulah, dua hari yang lalu aku bertemu dengan Yugo. Aneh sekali, Jenderal Raja Iblis seperti dia bisa dengan santainya berkeliling ke sana kemari. Yugo mengatakan bahwa jika kau bergabung ke pihak mereka, maka dia akan senang.”
“Ukh ... aku tidak ingin menghadapi dia. Tetapi, kekuasaan berikutnya ada di tanganmu. Bukankah begitu, Doro?”
Tanya Kiijo seraya menoleh ke arah saudaranya yang ada di depan mereka berdua. Sera melepaskan Kiijo dari pelukannya lalu berdiri di samping kanannya menunggu Doro menjawab pertanyaan dari Kiijo.
“Aku sudah menduga ini, Raja Iblis tidak ada niatan sama sekali menyerang manusia yang dibelakang layar terdapat penghasut yaitu pihak gereja. Jika keadaannya mendesak, tentu kita akan beralih ke pihak lain.”
Jawaban dari Doro membuat Kiijo terdiam dan tidak mengira bahwa jawabannya akan seperti itu. Ia menunjukkan senyuman lebar, rasa lega yang ada di dalam dirinya membuat Kiijo jujur pada dirinya.
__ADS_1
“Jika itu mau dari saudaraku, akan kulakukan.”
To Be Continue ....