The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
27. Penyebab Akan Masalah Mereka


__ADS_3

Setelah mengalahkan seekor naga hitam, Rindou segera menemui Liese yang lainnya setelah melihat pertarungannya dengan sekejap saja. Ia langsung saja memeriksa Golem yang telah ditinggalkan itu, ia mencoba memukulnya dengan peningkatan fisik dan tubuhnya benar-benar sangat keras.


“Hugo, kau yakin Golem ini milik Yuina?”


“Ya, dari kepalanya aku masih ingat dengan Golem kecil berbentuk bola dengan bagian wajahnya seperti wajah Golem ini. Dari pada itu, bukankah kau semakin kuat saja karena dapat mengalahkan seekor naga hitam?”


“Ini masih ketimbang dari pada para Pahlawan yang melakukannya. Baiklah, sebenarnya dari tadi aku merasa tekanan sihir yang samar-samar dari suatu tempat. Kita cek terlebih dahulu tempat itu.”


Sahut Rindou, Liese dan yang lainnya setuju dengan hal itu. Lecia yang tengah memperhatikan sesuatu di belakang mereka membuat Hugo penasaran, ia pun menanyakan apa yang tengah ia perhatikan sedari tadi.


“Lihatlah akar-akar tanaman yang ada di tebing itu. Kenapa akar-akar itu merambat dan keluar dari tebing? Bukankah biasanya akar pohon yang merambat seperti seharusnya ada pohonnya? Namun lihatlah, akar pohon itu masih hidup bukannya mati.”


Perkataan dari Lecia ada benarnya dan memang sangat menarik. Memang seharusnya ada pohon yang merupakan sumber akar tanaman tersebut. Rindou dan Liese menciptakan sihir api lalu melemparkannya ke bagian tebing yang terdapat akar rambat tersebut hingga sebagian tebingnya hancur.


Akar tanaman yang terbakar dan hancur, perlahan-lahan mulai tumbuh kembali dan sedikit memanjang dari sebelumnya. Tidak salah lagi, memang ada yang aneh dari akar tanaman rambat itu.


Hugo dan Rindou menaiki tebing tersebut, ia menyentuh akar tanaman tersebut dan merasakan adanya dua tekanan mana dari satu akar rambat pohon. Ini aneh, akar pohon ini memang terasa hidup dan ada yang menghuninya.


Rindou mencoba mencari posisinya dari menelusuri sumber mana akar tanaman tersebut. Cukup lama, ketika ia sampai pada sumbernya yang terdapat seekor monster memiliki fisik perempuan namun terbuat dari tumbuhan.


Dua tanduk akar dan seluruh tempat ini seperti sarang yang dipenuhi berbagai akar untuk melindungi monster tersebut. Tidak salah lagi, monster tersebut seperti memanggilnya untuk pergi ke tempatnya.


“Hugo, aku menemukan monster yang kucari. Suruh Liese untuk menggendong Lecia ke atas tebing.”


Mendengar perintah dari Rindou, ia pun meminta kepada Liese yang ada di bawah mereka untuk segera pergi ke atas tebing. Liese mengerti, ia menggendong Lecia di punggungnya lalu menaiki tebingnya terlebih dahulu.


“Rindou, apa yang kau temukan?”


“Monster, tapi di perutnya ada sesuatu yang tertidur. Lebih baik kita bergegas sebelum hari semakin gelap.”


“Baiklah.”


Hugo dan Rindou segera menaiki tebing dengan cepat, sebelum pergi Hugo meminta Liese agar Lecia pindah kepadanya. Liese menurunkan Lecia lalu ia pun dipangku oleh Hugo, sudah tidak ada masalah lagi lalu Rindou meminta mereka berdua untuk mengikutinya.

__ADS_1


Rindou melompati tebing tinggi, jika jatuh mungkin akan sangat gawat. Cukup lama melewati tebing-tebing ini, namun di tengah-tengah tempat ini semua akar tanaman rambat yang tersebar sumbernya ada di tempat ini.


“Kita sudah hampir sampai, lihatlah akar tanaman itu yang membentuk seperti kantung.”


Ucap Rindou seraya menunjuk ke bawah tebing, dari kejauhan Liese dan Hugo memang melihat akar tanaman yang amat banyak membentuk kantung. Di dalamnya seperti ada sesuatu dan itulah yang kini Rindou incar untuk mencari tahu tentang hal tersebut.


Menuruni tebing perlahan-lahan, mereka menghampiri kantung berbentuk akar tanaman tersebut lalu memperhatikannya dari dekat lagi. Rindou berniat menyentuh kantung itu, namun tiba-tiba saja pandangannya langsung kabur dan keseimbangannya hilang hingga ia tidak sadarkan diri.


* * * * *


Rindou merasa bermimpi, namun mimpi ini bukanlah mimpi miliknya melainkan mimpi milik orang.


Terdapat seorang perempuan dengan gaya rambut dikepang pita hitam yang tengah melakukan suatu penelitian di ruangannya seorang diri ditemani Golem berbentuk bola dengan bagian wajah berwarna biru dan hitam gelap. Ia berjuang keras mencampurkan beberapa bahan lalu melakukan manifestasinya menggunakan Alkimia.


“Huff ... sepertinya berjalan sukses.”


*Blarr


Tiba-tiba saja hasil penelitian mentahannya meledak begitu saja. Ia panik seraya memegangi kepalanya sedangkan Golem bola yang bersamanya mencoba untuk melindunginya. Karena ledakan itu cukup hebat, terdapat seorang Elf berambut putih panjang diurai dengan memakai zirah lengkap seraya datang ke ruangan ini dengan membawa pedang.


Paniknya seraya melihat ke berbagai ruangan, Yuina adalah namanya. Dia berlari ke arah Elf tersebut lalu memeluknya meskipun terasa keras karena zirahnya menghalangi.


“Julia! Aku gagal lagi!”


“Gagal? Jangan-jangan ledakan yang tadi itu karena ulahmu? Apa yang sedang kau buat sekarang?”


“Hehehe rahasia.”


Karena kesal dengan tingkah dari Yuina, Julia menjitak kepalanya hingga ia meringkuk kesakitan apalagi tangannya menggunakan sarung tangan dari besi. Karena merasa akan ada masalah lagi, Julia memutuskan untuk menemani Yuina seraya duduk di atas kursi yang ada di samping meja kerja satunya lagi.


“Julia, apakah ada masalah lagi dengan Kakakku?”


“Yuuza? Ah ... tadi ada beberapa pasukan dari Kerajaan yang menantang kami karena bagian dari bawahan Raja Iblis. Padahal saat itu kami sedang memancing sambil menikmati cemilan buatan Kijoo.”

__ADS_1


“Ngomong-ngomong soal Kijoo, saat ini Jenderal Pasukan Raja Iblis namun hobinya membuat cemilan. Bahkan saat menghadapi Pahlawan yang berniat menyerang, dia sangat sangar sekali dengan kampak panjang miliknya.”


Ya, pembicaraan kecil antara Julia dan Yuina sangat dinikmati oleh mereka. Keseharian mereka bukanlah mengacau atau pun membunuh makhluk lainnya, mereka hanya hidup santai namun akan menyerang balik jika mereka diserang.


Tiba-tiba saja, mimpinya berakhir dengan cepat lalu ia melihat medan perang di mana terjadinya peperangan dari pihak Raja Iblis dan Pahlawan serta manusia hebat lainnya yang tiba-tiba menyerang mereka dengan kekuatan penuh.


Terdapat seorang perempuan yang menaiki Golem di pundaknya lalu merapal sihir dengan tiga lapisan segel sihir yang langsung muncul. Sedangkan di garis depan terdapat setidaknya lima orang, di antaranya adalah Julia serta seseorang yang menggunakan kampak panjang bernama Kiijo.


Dia merupakan garis keturunan Iblis sehingga dia mempunyai dua tanduk hitam di kepalanya yang mencuat ke atas serta jika turun ke medan perang, dia selalu menggunakan topeng.


Peperangan ini terjadi di wilayah yang amat luas dan hanya ada tumpukan mayat dari kedua belah pihak serta mereka berjuang untuk mempertahankan garis depan. Raja Iblis yang tidak tahan melihatnya, dia melakukan sihir pemindahan masal kepada semua bawahannya dan dia sendiri yang melawan seluruh manusia dan Pahlawan dengan kekuatan dan persenjataan suci yang lengkap.


Karena hal itulah, sisa pasukan Raja Iblis menyesal karena mereka merasa meninggalkan Tuan mereka sendirian di medan perang. Setelah beberapa hari, tahu-tahu Raja Iblis diberitakan telah dimusnahkan dan membuat sisa pasukannya melemah karena kekuatan kepemimpinan Raja Iblis pun ikut lenyap.


Terdapat seorang pria yang lari bersama dengan Yuina, dia memaksa Yuina untuk melakukan kontrak bersama dengan seorang monster di suatu hutan. Ia hanya ingin Yuina aman, maka secara paksa dia melakukan kontrak tersebut dan Yuina terjerat oleh akar rambat yang membuatnya tidur sampai sekarang.



* * * * *


Rindou merasa pipinya terasa sakit, ia terbangun karena ditampar oleh Liese beberapa kali hingga merah. Ketika terbangun, Liese meminta maaf kepadanya namun ia sangat khawatir kepada Rindou yang tiba-tiba saja terjatuh tidak sadarkan diri.


Rindou mengerti akan hal itu, mimpi yang ia lihat tadi adalah ingatan monster di hadapannya saat ini. Tanpa lama-lama, dia meminjam pedang milik Hugo karena pedangnya terkubur bersama tebing yang ditabrak oleh naga hitam.


Beberapa akar pohon yang terpotong berjatuhan, Rindou memasuki celah tersebut lalu di dalam kantung akar ini terdapat monster dengan perutnya yang bersinar. Ya, terdapat sosok seorang perempuan yang tertidur lama dengan monster yang menjadi pelindungnya.



“Yuina ... aku akan membebaskanmu.”


Rindou menyentuh perut monster tersebut lalu menyerap setengah dari kekuatannya. Perlahan-lahan, perutnya yang merupakan akar rambat membuka dan Yuina yang tertidur terlihat jelas. Rindou mengeluarkannya dari dalam lalu memangkunya dengan gaya tuan Puteri hingga dia dapat memejamkan matanya lalu melihat wajah Rindou yang menyelamatkannya.


“Maaf ... aku tidak bisa menyelamatkan kalian ... ”

__ADS_1


Itulah yang pertama kali Yuina katakan ketika membuka matanya, ia menangis karena beberapa alasan yang membuatnya menyesal. Rindou mengerti, karena dia sudah melihat masa lalu Yuina serta sisa pasukan Raja Iblis yang lainnya.


To Be Continue ....


__ADS_2