The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
Ratu Onioshi


__ADS_3

Sosok perempuan dengan tinggi badan pendek yang memiliki lima tanduk di kepalanya. Dua di sisi kanan kiri dengan ukuran tanduk besar menciut ke bawah, dua tanduk menciut ke atas di ubun kepala serta satu tanduk lagi di tengah-tengah.


Pundak sebelah kanannya terlindungi sebuah material keras, kedua tangannya mengenakan sarung tangan besi dan ia mengenakan jubah di pundak kanannya dengan lambang negeri kekuasaannya.


Dia terlihat seperti bocah, membawa pedang panjang seperti monohishao di pinggangnya dan terdapat ekor yang tumbuh di pantatnya. Itu sudah dapat dijelaskan bahwa dia bukan manusia, namun orang-orang menyebutnya Ratu Onioshi.


“Menurut peta dari bawahanku ... sepertinya ada di depan sana.”


Ratu Onioshi memasuki kawasan yang menanjak, hutan ini tidak lebat dan dia menembus dengan cepat meskipun berjalan seraya melihat peta. Setelah menentukan arahnya, dia kembali berhenti lalu melihat petanya kembali.


“Baiklah, berarti ada di bawah tempat ini ... ”


Ketika dia menyingkirkan peta yang ada di hadapannya, hanya terlihat pemandangan yang hancur lebur. Mayat ada di mana-mana dengan dua belah pihak yang menyerang dan bertahan, serangan sihir bertubi-tubi diluncurkan.


“Baiklah, pasti ini tempatnya. Tapi aku tidak begitu tahu dengan tempat yang disebutkan olehnya ... ”


Ratu Onioshi berpikir sebentar, namun karena otaknya tidak dibiasakan berpikir keras dan dia biasanya tidak terlalu memikirkan hal yang rumit. Langsung saja ia terjun tanpa ada persiapan sama sekali, ketika hampir sampai dengan permukaan tanah ia mendarat di atas pasukan musuh dan memutar kepalanya.


Medan perang ini seperti wilayah uji coba senjata mematikan, tandus dan hanya ada sebuah benteng yang merupakan tempat bertahan para bawahan Raja Iblis yang berjuang. Berserakan para mayat tidak membuatnya goyah, kematian manusia sudah dia anggap dengan kebiasaan sehari-hari.


Ratu Onioshi yang berprinsip berpegang teguh pada pendiriannya, dia berjalan seraya membunuh pasukan musuh yang menghampirinya. Kekuatan fisiknya di atas manusia biasa, kekuatan sihirnya tidak diperlihatkan karena ia berjalan seraya melihat peta yang dibawa.


“Berjalan dari tempatku ke tempat ini benar-benar menyenangkan. Akhirnya aku bisa terbebas dengan aturan wilayahku.”


Ratu Onioshi sebetulnya sangat senang ketika mendapatkan kabar agar dia membantu Jizaf, serta para Jenderal Raja Iblis sangat akrab dengannya. Apalagi kesempatan ini tidak akan datang dua kali, maka dia pergi seorang diri sehingga kekuasaan di wilayahnya digantikan secara darurat oleh orang yang memiliki wewenang lebih tinggi.


Meski Ratu Onioshi diserang oleh sihir yang bertubi-tubi, dia tidak merasakan adanya gangguan. Dia memiliki sebuah kuasa yang membuat serangan sihir tidak akan mempan padanya, berkah itu dia dapatkan setelah mendapatkan hadiah dari Raja Iblis ketika mereka berdua mabuk.


Suara berisik yang ada di sekitarnya membuat Ratu Onioshi tidak fokus untuk menandai posisinya di peta. Ia menarik pedangnya dengan cepat lalu mengayunkannya ke seluruh area.


Tidak terlihat sabetannya, ayunannya membuat sayatan angin yang membelah tubuh pasukan musuh dengan bersih. Ratu Onioshi menghela napas dan menyarungkan kembali pedangnya meski darah muncrat ke berbagai arah, kembali berjalan dengan pasukan musuh yang waspada padanya.


Mereka juga bingung, serangan sihir tidak mempan dan ketika mereka mendekat untuk membunuhnya malah mereka yang terbunuh terlebih dahulu. Yang dapat mereka lakukan adalah menjauhinya namun mengelilinginya.


Tidak sadar hingga dia berjalan sampai ke tengah-tengah medan perang. Dia masih saja melihat petanya dan kebingungan, padahal di belakangnya terdapat Julia yang tengah bertarung melawan Jenderal pasukan musuh.



“Tunggu, apakah ini sudah benar?”


“Ratu Onioshi!?”


Julia terkejut karena kehadiran Ratu Onioshi tidak ia sadari, semenjak dia datang telah lama dia bertarung di medan perang ini bersama Jizaf dan yang lainnya namun terpisah untuk saat ini.


Julia mendorong pedangnya agar membuat Jenderal musuh yang dilawannya terdorong. Ratu Onioshi berbalik badan, ia melihat sosok Julia yang tidak berubah sejak dulu membuat pikirannya kembali segar dan melupakan tujuannya.

__ADS_1


“Oh!? Bukankah Julia!? Kebetulan sekali kita bertemu di tempat seperti ini.”


Senyuman Onioshi yang polos layaknya anak kecil membuat Julia ngeri. Di hadapannya saat ini adalah salah satu penantang Raja Iblis serta kelima naga yang pernah mereka lawan dapat dihajar olehnya dengan Yugo.


Kebetulan macam apa dengan dua orang yang bertemu di medan perang seperti ini. Beberapa orang telah dipanggil agar mereka kembali, layaknya Komandan Batalion yang menumpang kereta kuda menuju Blue Land.


Julia segera mundur membawa Ratu Onioshi pergi menuju markas mereka yang ada jauh di belakang. Tetapi, langkahnya terhenti sehingga membuat Julia menoleh ke belakang dan melihat sorot mata Ratu Onioshi terlihat tidak tertarik.


“Katakan Julia, apakah kau butuh bantuan?”


Pertanyaan dari Ratu Onioshi tidak bisa dihindari, sorot matanya mengarah langsung ke jiwa terdalam Julia dan dia tidak dapat mengalihkan pandangannya.


“Ya, aku butuh bantuanmu Ratu Onioshi.”


“Baiklah, akan kuselesaikan dengan cepat.”


* * * * *


Kiijo yang tengah pergi ke Utara untuk mengambil kembali tombak terkutuk miliknya dengan cara menunggangi monster. Kiijo dan monster yang ditungganginya mengenakan topeng, ini adalah salah satu bentuk penangkal.


Cuaca bersalju ini tidak membuatnya lengah, ia selalu berhati-hati jika seorang diri dan tujuannya saat ini hanyalah untuk membawa tombak terkutuk miliknya. Meskipun persenjataannya hanya tombak biasa, keahliannya yang sudah diasah membuatnya dapat melawan ratusan pasukan.


Ada satu alasan lain kenapa Kiijo ingin berpergian sendirian. Ketika dia menjaga anak Yugo dan Vinessa yang merupakan Rindou, ada saudaranya yang selalu menjaganya.


“Sial, salju ini menghalangi pandanganku saja.”


Pikirnya, ketika ia sedang memikirkan saudaranya yang kemungkinan besar sudah dibunuh. Tiba-tiba saja sebuah ledakan terjadi, untungnya wilayah yang sedang ia telusuri bukanlah lereng gunung sehingga tidak akan ada salju longsor.


Monster berkaki empat yang dikendarainya berhenti. Kiijo melihat ke samping kiri dan menatap ke atas, asap yang dihasilkan ledakan tersebut sepertinya terjadi kebakaran dan wilayah bersalju ini tidak mungkin terjadi begitu saja.


Dengan kata lain, sebuah pemukiman terbakar dan hanya itu satu-satunya yang masuk akal setelah suara ledakan tadi terdengar. Namun, Kiijo bimbang karena tidak ada hubungannya dengan dirinya dan ia harus segera mengambil senjata miliknya di suatu tempat di daerah ini.


Hanya saja, Kiijo tidak ingin ada yang terulang kembali. Monster yang dikendarainya mengerti dengan isyarat Kiijo, dia berlari menuju arah asap terbakar yang tidak terlalu jauh dari posisinya.


Melewati pepohonan di daerah bersalju seperti ini bukanlah halangan baginya. Kiijo dan monster yang dikendarainya telah melewati berpuluh-puluh pertempuran melawan manusia yang ingin memusnahkan keberadaan mereka.


Tidak terlalu lama, Kiijo bersembunyi di balik pepohonan untuk melihat situasi pemukiman yang terbakar. Tidak ada satupun mayat, sepertinya tempat ini sudah ditinggalkan dan sengaja dibakar untuk menghilangkan jejak.


“Kenapa mereka melakukan ini? Atau mungkin ada sisa bawahan Raja Iblis terdahulu?”


Pikir Kiijo, ia mengambil napas cukup dalam dan menenangkan tubuhnya agar dapat merasakan segala hal yang ada di sekitarnya. Langkah kaki, suara kayu terbakar, hembusan angin bersalju, serta suara makhluk hidup lainnya dia dengar dengan seksama.


Langkah kaki terdengar di belakangnya, tidak terlalu jauh namun ada banyak dan mereka menunggangi kuda. Hentakan kaki manusia dan kuda berbeda, beratnya dapat dibedakan oleh Kiijo yang telah memiliki banyak pengalaman.


Tanpa banyak berpikir, Kiijo dan monster yang ditungganginya pergi menuju arah belakang. Ketika hampir mendekatinya, monster itu melompat dan Kiijo pun terlempar ke arah sekumpulan pasukan berkuda dengan zirah ringan.

__ADS_1


Karena jika mereka mengenakan zirah berat di tempat bersalju seperti ini hanya akan menyulitkan mereka. Mungkin ada alasan lain, Kiijo tidak memperdulikannya dan membunuh mereka satu persatu dengan tombak dengan ujung seperti pengait miliknya.


Di pertempuran berkuda, Kiijo lebih unggul dan dia tidak terluka sama sekali hanya kelelahan sedikit karena bergerak ke sana kemari membunuh pasukan berkuda yang dilawannya.


“Sialan, kenapa aku melakukan ini? Tapi pasukan yang barusan kubunuh mungkin saja berniat menyerang pemukiman ini atau mungkin membakar pemukimannya? Jika seperti itu, berarti ada yang tersisa di pemukiman tadi.”


Dengan pemikiran seperti itu, Kiijo menaiki monster yang sudah menunggunya lalu kembali menuju pemukiman yang terbakar. Ia menelusuri tempat ini yang sudah dilalap api, tidak ada yang tersisa dan tidak ada satupun mayat.


Suara kayu terbakar yang terinjak terdengar, Kiijo menoleh ke samping kanan dengan cepat namun tidak ada apapun. Jika itu hanya firasatnya, Kiijo menahan napasnya dengan rasa gelisah menghantuinya.


Dia merasakan hawa pembunuh, namun tidak ditujukan padanya dan membuat kewaspadaannya meningkat. Dia menyiapkan tombaknya di tangan kanan dan bersiap-siap jika ada serangan, napsu pembunuh itu terasa berat ketika ia memalingkan wajahnya bersama dengan monster yang dikendarainya.


“Sial! Berbalik!”


Serunya, monster yang dikendarainya segera memutar arah dan berniat pergi dengan cepat. Namun dia telat, telah ada seseorang dengan mulut sebelah kiri tumbuh gigi dan kedua tangannya terlapisi dengan api.



“Kubunuh kau!”


Kiijo yang tidak bersiap bertahan hanya bisa menahan pukulan berapi itu dengan tombak yang digenggam dengan tangan kanannya. Ia terhempas serta monster yang ditungganginya terpisah dengannya, tidak ada waktu untuk istirahat karena luka kecil karena napsu pembunuh itu masih tertuju padanya.


Ketika Kiijo berniat untuk bangun dari posisi tiarapnya. Sosok yang menyerangnya sudah ada di hadapannya dan menginjak dadanya dengan tangan kanan berapi siap memukulnya.


“Ada kata-kata terakhir?”


“Haha ... akan kubunuh kau.”


Sosok yang menyerangnya membuka topeng Kiijo menggunakan tangan kirinya. Pandangan mereka berdua bertemu, terdiam sebentar seraya memikirkan suatu hal.


“Ah!? Bang Kiijo?”


“Bukankah kau anak tukang makan di pangkalan Asteria? Sebentar kuingat lagi panggilanmu ... oh, anak setan.”


Pukulan tangan kanan berapi itu mendarat tepat di sisi kepala Kiijo dan sengaja meleset. Tentu saja dia marah karena Kiijo memanggilnya anak setan, tapi memang benar dia dipanggil anak setan karena bermasalah ketika di markas pangkalan Asteria sebelum perang satu tahun lalu.


“Bisakah aku mendengar apa yang terjadi setelah satu tahun berlalu, Bang Kiijo.”


To Be Continue ....


Concept Art Onioshi



__ADS_1


__ADS_2