The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
Terbangun


__ADS_3

Empat bulan kemudian ...


Doro, Kiijo, serta para rakyatnya bergabung menjadi bawahan Raja Iblis namun mereka berada di daerah Asteria yang bersalju. Alasannya hanya satu, dia tidak ingin berada di garis depan melawan musuhnya yang kini Cassiopeia dan kerajaan lainnya bersama Yugo.


Tawaran dari Yugo agar mereka bergabung bersama mereka yang menjadi bawahan Raja Iblis diterima. Mereka disambut dengan baik, karena mereka telah mengetahui kekuatan tempur yang dimiliki Kiijo maka langsung saja Kiijo menjadi perwakilan dari kelompoknya serta menjadi Jenderal Raja Iblis.


Tidak ada yang menolak, keputusan Yugo agar Kiijo menjadi Jenderal Raja Iblis disetujui oleh Jenderal Raja Iblis lainnya. Karena paksaan itu, dia menjadi Jenderal Raja Iblis yang mewakili daerah Asteria bersama Doro menjadi wakilnya.


Kepergian Sera baginya sangat membuatnya terpukul bersama dengan keluarganya. Tetapi Kiijo tidak menyerah, Yuina yang merupakan Ilmuwan jenius sejati membawa tubuh Sera dan mengawetkannya menggunakan sihir terlarang Kiijo yang membuat waktu bagi seseorang akan berhenti.


Dengan itu tubuh Sera tidak akan menua, rusak, maupun membusuk karena konsep waktu tidak akan mempengaruhi. Kiijo yang mendengarnya merasa lega, ia dapat mencari cara untuk menghidupkannya kembali dengan cara apapun.


Sebetulnya Yuina dapat membuat Sera menjadi mayat hidup seperti halnya Xeno yang merupakan mayat hidup setengah mesin. Kiijo menolak tawaran itu, jika Sera dihidupkan kembali menjadi mayat hidup maka semuanya akan sia-sia baginya.


* * * * *


“Ini gawat ... sumber daya yang dibutuhkan untuk membuat Golem hampir habis.”


Ucap Yuina secara tiba-tiba ketika sedang sarapan. Di ruang makan ini terdapat Yuuza sang Kakak serta Vinessa, Anzu, Julia, dan Nina. Yugo dan Hugo tengah berpergian mencari monster untuk diburu, mereka biasanya berburu.


“Ketika makan maka isi perutmu dulu, jangan khawatirkan hal lain. Sumber daya untuk Golem ya ... baiklah, aku akan berkomunikasi dengan Raja Iblis.”


Ucap Yuuza, dia adalah salah satu dari sekian banyak orang yang bisa berkomunikasi dengan Raja Iblis. Keberadaan Raja Iblis saat ini berada di Pandemonium, tempat paling berbahaya dan sosok Raja Iblis itu menjadi penghuni tempat ini.


“Terima kasih Kak, itu akan sangat membantuku. Ngomong-ngomong Kak Vinessa, bagaimana dengan keadaan kandunganmu?”


Tanya Yuina kepada Vinessa yang akan memasukkan sendok ke dalam mulutnya. Dia menjawab baik-baik saja, tidak ada masalah dan dia dapat mengatasinya. Setiap orang yang ada di ruang makan ini kecuali Vinessa mulai memikirkan Yugo yang merupakan Ayah dari anak yang di kandung Vinessa.


Seharusnya sebagai calon Ayah dia menemani Vinessa kapan pun di mana pun. Tapi Jenderal Raja Iblis itu seenak jidatnya pergi ke sana kemari, bertempur, dan menginap di berbagai tempat. Mereka tertolong oleh kekuatan tempur yang dimiliki Yugo, tapi tetap saja kelakuannya membuat jengkel mereka.


“Diam, aku bisa tahu kalian sedang mengejek Yugo.”


Kata-kata yang dilontarkan oleh Vinessa tiba-tiba saja membuat Yuuza dan yang lainnya terdiam. Vinessa dapat mengetahui apa yang dipikirkan oleh orang lain, tetapi dia juga tahu sosok Yugo yang merupakan anak di perutnya ini masih terlihat belum siap sebagai calon Ayah.


“Benar juga ... ngomong-ngomong di mana Yugo saat ini?”


* * * * *


“Baku hantam kita!”


Seru Yugo seraya melompat dengan kekuatan penuh, kaki di depan untuk menendang kepala Naga yang tinggal di gunung es dekat daerah Asteria. Hugo yang berada di bawah dengan membawa sebilah pedang tidak percaya bahwa mereka akan melawan seekor naga.


“Yugo bodoh! Kenapa kau malah membangunkan naga itu!?”


Bentak Kiijo yang diseret oleh Yugo agar dirinya ikut, Doro yang diajak menolak ajakan Yugo karena dia yang akan menggantikan posisi Kiijo dalam berjaga. Kini mereka berdua melawan seekor naga yang menghuni gunung es di daerah bersalju Asteria.


“Sialan! Orang bodoh kuat itu tidak mau mendengarkanku!”

__ADS_1


Kiijo menggertakkan giginya karena kesal, Hugo dan Kiijo melihat pertarungan satu lawan satu antara seekor naga dengan manusia yang memiliki kekuatan dari kutukan Naga Terkutuk.


Yugo memukul dan menendang naga itu tidak terlalu kesulitan, kekuatan pukulannya sangat berat dan kuat. Zirah yang menjadi bagian tubuhnya sangat keras, kuat, dan ringan. Pertarungan dua monster itu sangat sengit lalu Kiijo serta Hugo yang ada di bawah hanya bisa melihat.


“Tenangkan dirimu Bang Kiijo, tenang ... ”


Hugo mencoba untuk menenangkan Kiijo, dia mulai memutar-mutar tombak yang digenggam berniat membantu dari bawah. Kiijo memperkuat tangan kanan, bahu, kedua kakinya dan membuat ancang-ancang melempar tombak yang digenggamnya erat.


Langsung saja, tombak yang dilemparnya melesat ke arah naga yang tengah melawan Yugo di atas mereka berdua. Tombak itu menembus bagian sayap sebelah kanan, keseimbangan untuk terbang menghilang dan membuat naga itu perlahan-lahan merendah.


“Gawat ... aku meleset.”


“Apa!? Jadi Bang Kiijo tidak mengincar sayapnya!?”


Hugo mulai panik dengan perkataan dari Kiijo dan tombak yang dilempar olehnya untung saja bukan miliknya. Yugo yang ada berada di atas naga menambah dorongan untuk melakukan tendangan lurus ke bawah, celah di punggungnya membesar dan efek dorongan itu semakin kuat.


Tendangan lurusnya mengenai kepala naga yang ada di bawahnya, sialnya lagi naga itu kehilangan kesadaran dan mulai jatuh ke arah Hugo dan Kiijo. Mereka berdua menelan ludahnya karena kebodohan Yugo, berlari menghindari naga yang jatuh sedangkan Yugo baru sadar bahwa Kiijo dan Hugo akan terkena naga yang jatuh.


“Gawat ... ”


* * * * *


Perjalan menuju Asteria, naga yang telah dikalahkan oleh Yugo ditarik oleh Doro yang berubah wujud menjadi wujud sejati berukuran raksasa. Mereka bertiga berjalan mendahului Doro, Kiijo memarahi habis-habisan Yugo yang membangunkan naga.


“Seharusnya kita berburu monster yang biasa saja bodoh! Kenapa kau malah mengencingi naga yang tidur!?”


“Bisakah kalian berdua diam sebentar, aku ingin kembali ke Blue Land ... ”


Keluh kesah Hugo seraya menghela napas, dia juga diseret oleh Yugo untuk pergi ke Asteria bersamanya karena dia pikir Yugo mengajaknya hanya untuk berburu monster di tempat biasa dekat Blue Land tetapi dia dibawa terbang oleh Yugo.


“Sudahlah, aku sudah lelah berteriak terus menerus, tenggorokanku sudah kering.”


“Mau makan salju? Dicampur sirup terlihat enak.”


“Tolol.”


Pikir Hugo dan Kiijo dan mereka tidak bisa mengucapkannya begitu saja. Di depan mereka terdapat benteng tinggi mengelilingi sebuah daerah yang dinamakan Asteria, gerbang besi terangkat lalu mereka bertiga memasukinya.


Doro meninggalkan naga yang dia tarik di depan gerbang, wujudnya perlahan-lahan mengecil dan pecah berkeping-keping menjadi wujud manusia miliknya. Dirinya segera mengejar ketertinggalannya, namun Yugo dan yang lainnya telah menunggunya di pintu masuk gerbang menuju Asteria.


“Aku kira kalian akan meninggalkanku.”


“Hah? Mana mungkin aku akan meninggalkan saudaraku sendiri.”


Ucap Kiijo, mereka berempat berjalan menuju sebuah kedai. Orang-orang yang berjaga segera pergi ke gerbang depan untuk membawa naga yang dikalahkan oleh Yugo, naga itu dapat dimanfaatkan semuanya.


Yugo menendang pintu kedai yang biasa dikunjungi oleh Kiijo dan Doro. Orang-orang yang berasal dari berbagai ras tengah melepas letihnya dengan mabuk dan menikmati makanan, menyambut kedatangan mereka berempat.

__ADS_1


Yugo langsung ditawari segelas bir dan tentu saja dia menenggaknya. Mereka bertiga mencari tempat yang kosong sedangkan Yugo ditarik oleh pengunjung kedai ini dan menawarinya berbagai makanan dan bir.


“Huh ... Jenderal Raja Iblis Yugo si Naga Terkutuk, julukan itu sangat pantas untuknya.”


Ucap Kiijo yang duduk setelah mendapatkan tempat kosong. Doro dan Hugo setuju dengannya, dirinya dapat mengalahkan seekor naga seorang diri meskipun mendapatkan bantuan kecil dari Kiijo.


“Tetapi aku tidak menyangka, bergabungnya kami menjadi bawahan Raja Iblis tidak terlalu banyak berubah ketika kami berada dalam cengkeraman Cassiopeia. Situasi sama, namun di tempat ini aku tahu bahwa Raja Iblis tidak salah sama sekali dan manusia-manusia itu tidak sadar diri untuk memusnahkan kita. Hugo, bisakah kau ceritakan masa lalu Yugo? Dia tidak pernah membicarakan tentang dirinya.”


“Hmm? Boleh saja, tetapi ketika kalian mendengarnya mungkin kalian akan merasa kasihan padanya.”


“Aku ingin mendengarnya.”


Ucap Doro yang setuju dengan usulan dari Kiijo. Hugo menghela napas karena tidak ada pilihan lain selain menceritakan tentang Yugo.


“Yugo, manusia biasa yang dikutuk oleh Naga Terkutuk karena kemalangannya. Yang aku tahu, Yugo merupakan anak dari Ibu seorang selir dan Ayahnya merupakan penguasa daerah kecil. Ketika dia menginjak usia sebelas tahun, Ibunya sakit dan mereka berdua dibuang bahkan Ayahnya tidak tahu akan wajah dari anak-anak yang dilahirkan dari selirnya. Setelah itu dia bertemu dengan seekor naga yang sekarat, naga itu diburu oleh manusia dan Pahlawan. Naga itu mengutuk Yugo, dia memasuki tubuhnya dan bersemayam lalu kutukannya menyebar. Dia ditolak oleh Dewa Kematian berkali-kali ketika hampir mati, tubuhnya malah kembali beregenerasi. Beberapa bulan kemudian, Ibunya meninggal karena sakit dan dia sendirian. Pada saat itulah Yugo pertama kali membunuh, dan orang itu adalah Ayahnya sendiri. Hanya itu yang bisa kuceritakan, nama Yugo sendiri merupakan panggilannya.”


“Begitu ya ... setiap orang yang di sini memiliki masa lalu yang kelam. Tujuanku saat ini adalah membalas perbuatan Cassiopeia, akan kuhancurkan mereka.”


Tiba-tiba saja menjadi gelap, kesadaran Rindou yang berada di alam bawah sadar ditarik paksa oleh Naga Terkutuk yang membiarkan Rindou melihat masa lalunya. Kini Rindou duduk bersila menghadap sosok Naga Terkutuk yang hanya berwujud api hitam dengan sepasang mata tajam menatapnya.


“Hanya itu yang dapat kuceritakan, kembalilah suatu saat nanti.”


“Aku mengetahui banyak hal darimu, sampai nanti ... ”


Ucap Rindou, Naga Terkutuk itu mengembalikan kesadaran Rindou ke dunia nyata. Kini dirinya tersadar tengah terbaring di sebuah ruangan, dia sangat lapar dan tubuhnya lemas seperti tidak biasanya.


“Sudah berapa hari aku tidur ... ”


*Prang


Suara berisik dari benda yang dijatuhkan membuat Rindou terkejut, dia menoleh ke sumber suara yang berasal dari arah pintu. Terdapat Liese yang membawa mangkok besi dan nampan serta handuk namun dijatuhkan, dirinya langsung berjalan cepat ke arah Rindou lalu memeluknya.


Rindou sadar, Liese menangis dan dia mendekapnya dengan erat. Dia membiarkan momen ini berlangsung cukup lama, Liese yang telah mencurahkan segalanya melepaskan Rindou dari dekapannya.


“Maaf Rindou, aku khawatir pada kondisimu. Kau tidak sadarkan diri selama tiga hari, apa yang terjadi padamu?”


“Tiga hari? Jadi Naga Terkutuk itu menarikku dari alam bawah sadar agar aku tidak mati kelaparan. Begitu ya ... ”


“Apa yang kau maksud? Kau lapar bukan? Akan kubuatkan makanan untukmu.”


Ucap Liese, Rindou menganggukkan kepala lalu Liese pergi keluar dari ruangan Rindou. Dia beranjak dari atas kasur, mengikuti Liese dari belakang lalu terlihat Liese tengah mengenakan apron.


“Apa yang kau inginkan? Akan kumasak untukmu?”


Pertanyaan dari Liese dibalas dengan senyuman oleh Rindou, dia memutuskan untuk menapaki jejak yang hampir sama dengan Ayahnya.


“Apa saja, aku akan memakan apa yang kau buat."

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2