The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
Keinginan


__ADS_3

Kiijo bertemu dengan sosok yang menyerangnya pergi menuju tempat persembunyian mereka. Tidak terlalu jauh dari pemukiman yang terbakar, pemukiman itu sengaja dibakar agar pasukan terdekat tidak terlalu menarik perhatian untuk saat ini.


“Untuk saat ini kau harus kupanggil apa anak setan? Aku masih ingat ketika kau dan Yuuza lomba makan bersama Pak Tua yang merupakan Lycanthrope macan tutul salju.”


“Namaku Zima! Ingat itu Bang Kiijo! Dan soal Lycanthrope macan tutul salju itu ... saat ini situasinya sedang kritis.”


“Apa maksudmu?”


“Lihat saja nanti, kau akan mengerti dengan keadaan kami.”


Zima memandu Kiijo menuju sebuah genangan air yang jernih hingga pantulan bayangan mereka berdua terlihat jelas. Zima melihat keadaan sekitar jika saja ada yang mengikutinya, jejak kaki mereka akan dihapus oleh salju baru secara otomatis.


“Kenapa genangan air ini tidak membeku di daerah bersalju seperti ini?”


“Bang Kiijo menyadarinya? Ini pintu masuk menuju tempat persembunyian kami.”


Jawab Zima, dia melompat memasuki genangan air yang ada di hadapan mereka berdua dan sosoknya hilang seperti pergi ke tempat lain. Kiijo dan monster yang bersamanya memasuki genangan air tersebut, ketika memasukinya dunia terasa terbalik.


Dimensi ini masih sama namun berada di balik dimensi itu sendiri, sulit dijelaskan namun dengan ini keberadaan mereka akan sangat sulit dilacak. Kiijo menelan ludahnya, ia baru saja tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan.


“Kau tidak apa Bang Kiijo? Ehem ... selamat datang di rumah kami.”


“Rumah?”


Tempat ini bersalju namun terdapat cahaya mentari yang menyinari tempat ini. Terang dan ada banyak orang yang tengah bekerja membangun rumah, tempat ini benar-benar berbeda dengan pemukiman sebelumnya.


Kebanyakan, di tempat ini adalah Lycanthrope yaitu hewan yang memiliki wujud manusia. Berbeda dengan Demi Human yang dominan dengan manusia dengan karakteristik hewan di beberapa bagian tubuhnya, Lycanthrope seperti hewan hanya saja berwujud manusia.


“Tempat ini kami jadikan markas sementara. Kami baru saja mendapatkan informasi bahwa Blue Land telah menjadi tempat berkumpul bagi kita semua, pasukan serta para korban dari kekejaman manusia dengan pendukung gereja berniat untuk pergi tiga hari lagi menuju Blue Land.”


“Hmm ... aku mengerti, untuk sekarang masalahnya adalah kendaraan untuk menuju Blue Land. Bagaimana dengan kekuatan tempur saat ini?”


“Tidak terlalu bagus, kebanyakan dari mereka tidak dapat memakai sihir namun pertarungan jarak dekat mereka sudah berpengalaman. Jika dibandingkan, satu orang sekuat lima pasukan. Sebelum itu ada yang harus kupertemukan denganmu, ini mengenai saudaramu.”


Pembicaraan mereka berdua terhenti, Kiijo menceritakan kepada Zima bahwa dia sedang mencari senjata terkutuk miliknya serta saudaranya. Zima tidak terlalu tahu, namun sosok saudara Kiijo memiliki empat tanduk berwarna putih transparan tidak seperti Kiijo yang berwarna hitam karena kutukan.


Dia dipandu menuju sebuah gubuk kecil, hanya ada sesosok Lycanthrope macan tutul salju yang berbaring dibalut selembar kain. Mereka berdua menghampirinya lalu duduk di sampingnya, menatap Lycanthrope itu mengalami mimpi buruk.


“Usianya sudah tidak lama lagi, racun yang menembus lukanya telah menyebar. Dia hanya dapat bertahan dua hari lagi, dan yang ingin kau tahu adalah saatnya.”


Zima membangunkan Lycanthrope tersebut, ia membisikkan sesuatu meski kedua matanya tertutup lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan mereka berdua. Kiijo bingung dengan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


“Apa itu kau Jenderal Kiijo ... ”


“Ya, ada yang ingin aku tahu. Apa kau tahu saudaraku di mana saat ini?”


Tanya Kiijo, Lycanthrope macan tutul salju itu menghela napas cukup berat karena racun yang di dalam tubuhnya terasa hingga kedua kakinya mati rasa.


“Ketika ... Jenderal Kiijo serta Jenderal Yuuza membawa anak dari Jenderal Yugo. Saat itu kami menahan serangan musuh agar yang lainnya dapat lari, menggunakan berbagai cara agar yang lainnya bertahan. Tetapi ... yang lainnya ditangkap dan dieksekusi, salah satu orang yang dieksekusi itu adalah saudara Jenderal Kiijo.”


Ketika mendengar akhir kalimatnya, Kiijo memukul permukaan lantai yang merupakan helaian kain ditata rapi. Emosinya meluap namun ia masih dapat mengendalikan akal sehatnya.


“Masih belum selesai ... saudara Jenderal Kiijo tidak dieksekusi namun ditahan di suatu tempat. Yang aku dengar ... Kerajaan Fimela, mereka mencuci otaknya dengan artefak sihir dan sekarang menjadi salah satu Pahlawan.”


Meski masih hidup, saudara Kiijo telah dicuci otaknya. Tetapi bisa saja ingatannya kembali, namun caranya masih belum ia pikirkan sejauh ini.


“Kerajaan Fimela ... saudaraku ada di sana, baiklah ... akan kulakukan.”


Kiijo beranjak dari tempat duduknya lalu berniat pergi, tetapi langkahnya terhenti ketika Zima menarik lengan kirinya dengan kuat.


“Kau mau pergi ke mana? Jangan kira kau akan pergi sendirian.”


“Memang itu niatku, ada Hao di sana yang merupakan salah satu Pemimpin kelompok Assassin. Aku tidak sendirian, tenang saja.”


“Sial ... ”


Niat Kiijo diurungkan oleh alasan yang dilontarkan Zima kepadanya. Kiijo kembali duduk dan mendinginkan kepalanya, berpikir jernih saat ini lebih baik.


“Kerajaan Fimela itu kebanyakan isinya religius apalagi terdapat dukungan gereja yang membasmi kita dengan mengatasnamakan keadilan dunia. Hao yang merupakan Assassin sudah lama mengintai tapi tidak terjadi apa-apa. Jika seperti itu, peluang untuk menyusup ... ”


“Cukup kecil, sekali tertangkap maka kau akan langsung dieksekusi di depan publik. Tapi berbeda jika kau menyamar dan berbaur.”


Perkataan Zima menarik perhatian Kiijo mengenai penyamaran, ada beberapa yang dapat melaksanakan rencana yang sedang ia pikirkan namun membutuhkan waktu. Tapi jika berhasil, maka akan ada koneksi memasuki Kerajaan Fimela dengan mudah.


“Aku akan kembali ke Blue Land terlebih dahulu. Kalian akan pergi beberapa hari lagi dan akan kukirim beberapa pasukan dari Blue Land.”


“Bukankah kau ke tempat ini untuk mencari senjata terkutukmu?”


“Senjata dapat aku gunakan meski hanya sebilah besi panjang. Ada yang lebih penting lagi selain itu, sampai jumpa.”


Kiijo beranjak dari tempat duduknya seraya membawa tombak miliknya yang ada di samping kanan. Keluar dari gubuk kecil ini diikuti oleh Zima yang ada di belakangnya.


“Jangan bertindak gegabah, kami akan kesulitan jika salah satu Jenderal Raja Iblis hilang di posisinya.”

__ADS_1


“Huh ... tenang saja, seharusnya kau mengkhawatirkan kondisi rekan-rekanmu saat ini.”


Setelah mengucapkannya, monster yang dijadikan kendaraan oleh Kiijo datang menghampirinya setelah tanda sinyal dari jari tangannya. Mereka berdua pergi menuju genangan air pembalik dimensi, tanpa basa-basi mereka memasuki genangan air tersebut dan kembali ke tempat semula.


“Tunggulah aku ... ”


* * * * *


Pertarungan melawan balik pasukan musuh yang menyerang garis depan pertahanan di mana Julia berada serta Ratu Onioshi sudah mereda. Mereka berdua memiliki banyak kontribusi, apalagi Ratu Onioshi yang membereskan setengah batalion musuh.


Gelombang berikutnya kemungkinan sudah dipersiapkan dan akan datang lagi musuh yang kuat jika terdapat Pahlawan yang ikut serta. Untuk mengisi tenaga serta kekuatan tempur, maka pasukan serta Julia dan yang lainnya mundur sementara.


Ratu Onioshi pergi mengelilingi fasilitas yang ada di bawah tanah ini ditemani oleh Anzu, sedangkan Jizaf, Julia dan tiga orang baru datang dari wilayah lainnya mulai mengatur strategi yang baru lagi.


Mereka bertiga adalah orang-orang yang selalu bersama dengan Jizaf sejak peperangan melawan Pahlawan sebelumnya dan kini mereka berkumpul kembali. Apalagi adanya Ratu Onioshi, Jizaf saat ini sudah cukup untuk membuat rencana selanjutnya.



“Kak Jizaf, sejak dulu kucing ini selalu menempel padamu.”


Ucap anak kecil yang merupakan humanoid hewan dari rubah merah. Kucing hitam yang dielus olehnya sudah jengkel karena sejak tadi sudah diperlakukan seperti itu, anak kecil yang satunya lagi merupakan Oni yang hanya patuh kepada Jizaf dan tidak terlalu banyak bicara.


“Kami bertiga datang kemari karena surat darimu untuk berkumpul, apalagi Ratu Onioshi sampai datang. Apakah sebegitu berbahayanya situasi saat ini?”


Tanya pria dengan ukuran tubuh tinggi yang duduk di samping kanan Jizaf. Memakai penutup mata karena ia mengalami luka setelah pertempuran sengit ketika para Pahlawan membasmi mereka.


“Situasi ini sudah cukup gawat. Garis pertahanan ini sudah hampir pada batasnya dan mungkin gelombang serangan berikutnya ada kemungkinan besar beberapa Pahlawan akan datang menyerang. Api dilawan dengan api, kita hanya harus menyerang balik dengan kekuatan penuh.”


Ucap Jizaf dengan penjelasan yang terperinci, Julia yang duduk di samping kirinya seraya menahan pedangnya terdiam sebentar memikirkan perkataan Jizaf. Kekuatan tempur di tempat ini memang sudah hampir pada batasnya, pasukan yang tersisa hanya berjumlah ratusan sedangkan pihak musuh bisa ribuan.


“Begitu ya, keputusan yang bagus untuk memanggil Ratu Onioshi. Sedangkan itu, Jenderal Julia ... menurut kabar bahwa beberapa Jenderal sudah berkumpul kembali, apa itu benar?”


Pria yang mengenakan topi merah serta penutup mata tersebut. Julia menganggukkan kepala serta menjelaskan situasi yang terjadi saat ini dan Blue Land saat ini menjadi tempat titik temu untuk berkumpul kembali.


“Blue Land ... wilayah danau ya. Ide bagus, Jizaf ... apa yang akan kau lakukan?”


Pertanyaan dari salah satu rekannya itu membuat Jizaf menghela napas dan membulatkan tekadnya.


“Tentu saja ... memenangkan pertarungan gelombang berikutnya lalu segera pergi dari medan perang ini menuju Blue Land.”


To Be Continue .....

__ADS_1


__ADS_2