The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
Perubahan Sikap


__ADS_3

Rindou dan Hugo yang membawa Xeno kembali ke Blue Land langsung diserahkan kepada Yuina yang dapat dia sembuhkan dan memperbaiki bagian tubuhnya yang rusak.


Satu hari telah berlalu, Rindou tidak mendengar kabar tentang Liese. Ia dengar Liese sedang diperiksa keadaannya oleh Yuina di tempat pengobatan, ia berinisiatif untuk menjenguknya seraya membawa beberapa makanan untuknya.


Hugo pergi bersama Lecia ke suatu tempat, pasangan itu butuh waktu untuk bersama karena tidak ada waktu lagi dan waktu untuk berperang sudah dekat. Rindou yang berdiri di depan pintu, mengetuknya beberapa kali hingga Yuina menyuruhnya masuk ke dalam ruangan.


“Liese, bagaimana dengan keadaanmu?”


Tanya Rindou seraya memasuki ruang pengobatan ini, terlihat Liese tengah duduk di atas kasur dengan bekas luka yang terlihat jelas namun Liese tidak menyembunyikannya. Mengenakan kaos hitam serta celana pendek berwarna putih, kini selera warna pakaiannya hampir sama dengan Rindou.



“Rindou ... ”


Ucap Liese, Yuina tengah menyiapkan beberapa obat agar bekas luka Liese dapat disembuhkan. Rindou yang baru datang meletakkan barang bawaannya di atas meja lalu menghampiri Liese yang duduk menatap ke arahnya.


Ia menyentuh kedua pipi Liese, tentu saja Liese terkejut dengan pipi merona kemerahan. Tetapi Rindou tidak memperdulikannya meski Liese menahan tangannya dan mencoba menjauhinya.


“A-apa yang ingin kau lakukan Rindou!?”


“Tenang saja, aku hanya ingin melihatnya.”


Rindou mengangkat tangannya lalu menaikkan poni rambut Liese yang menutupi mata kirinya. Rindou mengernyitkan dahinya, luka di mata kiri lebih parah daripada apa yang ia bayangkan.


Dengan penyesalan, Rindou menarik tubuh Liese dan memeluknya dengan erat. Liese terbingungkan dengan tingkah Rindou yang tidak biasanya.


“Maafkan aku Liese, andaikan saat itu aku tidak datang terlambat ... ”


“Tidak apa, aku bahagia dengan keadaan seperti ini. Jika aku tidak bertemu denganmu maka aku tidak akan ada di tempat ini saat ini juga.”


“Mau wujudmu penuh luka atau apa, aku akan tetap bersamamu dan menerimamu.”


Mereka saling memeluk satu sama lain, Yuina yang ingin mengobati luka Liese terdiam sebentar duduk di atas kursi seraya melihat pasangan itu menikmati waktu mereka berdua. Rindou melepaskan Liese dari pelukannya, menoleh ke samping kiri yang terdapat Yuina tengah memperhatikan mereka berdua.


“Yuina, apa kau bisa menyembuhkan luka Liese?”


“Aku sedang mencobanya. Tapi sepertinya luka yang dia dapatkan bukan dari luka alat biasa, tetapi luka yang tidak akan hilang oleh suatu alat terkutuk. Sepertinya bekas luka itu tidak bisa hilang dan sulit untuk disembuhkan, orang yang menyiksanya berniat untuk membuat Liese menderita.”

__ADS_1


Seperti yang dikatakan oleh Yuina, luka yang dialami Liese berasal dari alat-alat khusus yang sudah diberi kutukan. Bekas luka itu sulit untuk dihilangkan, tetapi Liese menerima keadaan ini.


“Lebih baik kau keluar dulu, aku ingin mencoba beberapa obat penemuanku.”


Yuina mendorong paksa Rindou keluar dari ruangan. Ketika ia meninggalkan ruangan ini, Liese menunjukkan senyuman kecilnya seraya melambaikan tangan kanannya.


Pintu masuk ditutup, Yuina kembali ke meja kerjanya lalu mengambil beberapa obat yang sudah ditata rapi. Ia mengambil tiga jenis obat yang berbeda kemudian menghampiri Liese yang sudah menunggunya.


“Rinrin sangat khawatir kepadamu Liese, ngomong-ngomong apakah kalian sepasang kekasih seperti Hugo dan Lecia?”


Pertanyaan polos dari Yuina membuat wajah Liese memerah hingga telinga. Ia menyangkal pertanyaan dari Yuina, ia berargumen bahwa Rindou tidak menyukainya apalagi dengan tubuh yang penuh luka. Bagi perempuan, bekas luka adalah aib.


“Tetapi dari tindakan Rinrin tadi, bukankah dia sangat khawatir padamu? Jika kau mencintainya maka nyatakan saja. Aku akan mendukungmu Liese.”


“Apakah memang benar seperti itu ... ”


* * * * *


Malam hari di Blue Land ...



Hugo bercerita panjang lebar kepada Liese yang duduk di samping kirinya seraya membaca buku. Lecia menanggapi ucapannya dengan senyuman kecil lalu meletakkan bukunya.


Mereka berdua saat ini berada di kamar Lecia, Hugo diundang ke tempatnya hanya untuk menghabiskan waktu mereka berdua. Hugo meminum minuman hangat yang ia pegang dengan kedua tangannya, menikmati waktu di malam hari seperti ini membuat batinnya tenang setelah melakukan misi.


“Hugo ... bagaimana menurutmu tentang Liese dan Rindou?”


Pertanyaan dari Lecia membuat Hugo terdiam sebentar, apa yang ia pikirkan adalah hubungan mereka berdua. Ketika pertama kali bertemu pun kesan Hugo terhadap Rindou merupakan kekaguman.


“Sejak perjalananku bersama Rindou, orang itu terlihat bodo amat dari luar namun dia memikirkan perasaan orang lain. Orang seperti itu sedikit kubenci, yah ... itu seperti pertemuanku denganmu ketika saat pesta para bangsawan dan aku menyusup.”


“Ah ... saat itu rambutku masih pendek. Sepertinya sudah waktunya, lekas pergi Hugo.”


Ucap Lecia seraya menyingkirkan selembar kain yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Ia pun beranjak dari atas kasur dan mengajak Hugo untuk pergi ke suatu tempat.


“Aku sudah janji kepada Liese untuk makan malam bersama. Ikutlah, Rindou pasti diajak oleh Liese.”

__ADS_1


“Begitu ya ... aku terima tawaranmu Lecia.”


* * * * *


Di jalan Kota Blue Land, Rindou bersama Liese serta Hugo bersama Lecia tengah berdiri dan saling menatap satu sama lain. Rindou menatap Hugo yang tiba-tiba memalingkan wajahnya, dia curiga akan tingkah Hugo yang menghindarinya.


“Meski Rindou adalah anak dari Yugo penyelamat dan orang yang mengurusku. Bukankah itu bisa disebut dia sebagai Kakak tiriku? Tetapi sepertinya bagus juga dengan keadaan seperti itu, aku bangga memiliki saudara seperti Rindou.”


Kini Hugo melihat Rindou dengan tatapan kekaguman meski Rindou tidak mengerti dengan ekspresi wajahnya yang senang. Liese dan Lecia memandu mereka berdua menuju sebuah kedai yang di dalamnya terdapat pasukan bawahan Raja Iblis.


Kedatangan mereka berempat disambut dengan baik, hingga disediakan tempat khusus meskipun tempat ini berisik. Mereka memesan menu yang sama, Hugo dan Rindou tidak mempermasalahkan hal itu.


Tempat mereka duduk saat ini melingkar dengan meja berbentuk lingkaran di tengah-tengah mereka. Lecia berhadapan dengan Rindou sedangkan Hugo berhadapan dengan Liese.


“Tunggu, bukankah posisi duduk kita saat ini ada yang salah?”


Keluh Hugo yang tidak terima dengan posisi duduk saat ini. Rindou tidak mendengarkannya karena Liese tengah membisikkan sesuatu padanya, sedangkan Lecia hanya tersenyum kecil menanggapinya.


“Hmm ... Hugo, apa kau tahu siapa saja Jenderal Raja Iblis sebelumnya?”


“Ya, akan kuberitahu satu persatu. Yang pertama tentu saja Vinessa, dia adalah pendekar pedang dengan darah makhluk suci yang mengalir di tubuhnya karena kutukan. Kedua adalah Yugo, dia adalah penyelamatku dan tentu saja orang tuamu. Ketiga adalah Kiijo, keempat adalah Yuuza Kakak dari Yuina. Kelima ada Hao, tetapi dia lebih memilih menjadi Pemimpin Kelompok Assassin dari pada Jenderal Iblis. Keenam adalah Julia, ketujuh adalah seorang perempuan dengan kristal roh api di dadanya dan dia bernama Nina. Yuuza dan Nina berhubungan baik, namun tidak akrab ketika Kiijo ada di sekitarnya. Yang terakhir adalah Pemimpin dari regu Golem, dia pun seorang perempuan berambut perak dan berkulit hitam seperti halnya Hao.”


“Siapa saja yang memiliki kutukan?”


“Pertama adalah Vinessa kutukan dari Makhluk Suci, kedua Yugo dari Naga Terkutuk. Ketiga Hao setengah Dark Elf dan dia pemegang Pedang Terkutuk Balxior. Keempat Yuuza, kutukan yang dia dapatkan berasal dari Raja Iblis tetapi sebagai gantinya dia memiliki kuasa dalam api. Kiijo dan Nina sepertinya termasuk, mereka berdua pemegang tombak terkutuk. Sepertinya Julia termasuk, garis keturunan dimulai darinya dikutuk karena dia bergabung dengan pasukan Raja Iblis.”


“Hmm ... jika perang terjadi, sepertinya hanya mereka harapan kita satu-satunya. Singkat sekali hidup ini.”


Ucap Rindou seraya menatap ke atas dan memikirkan beberapa situasi yang mungkin terjadi. Tetapi Hugo berterima kasih padanya, jika Rindou tidak ada maka mereka tidak akan pernah berkumpul seperti ini.


“Di antara para Jenderal Iblis ada banyak bantuan dari luar. Seperti Ratu Onioshi, Jizaf dan ... sial, mereka ada banyak aku tidak bisa menyebut mereka satu-persatu.”


Ucapan dari Hugo membuat Rindou tersadar akan sesuatu, hanya ada satu kemungkinan yang terjadi kenapa mereka bisa selamat setelah dibasmi oleh para Pahlawan.


“Berarti ... Raja Iblis mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan bawahannya saja?”


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2