The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
24. Kembali Sebelum Dihabisi


__ADS_3

Liese menghajar setiap penjaga yang menghadangnya, Hugo pun melakukan hal yang sama dengan cara menebas satu persatu dari mereka yang pada akhirnya menemui sebuah tempat dengan pintunya terbuat dari teralis baja.


“Sepertinya tempat ini. Kita selesaikan dengan cepat lalu menyusul Rindou.”


Ucap Liese, Hugo menganggukkan kepala. Terdapat alat yang dapat menaikkan pintu teralis besi tersebut, Hugo mengayuhnya menggunakan kedua tangannya hingga pintu tersebut terangkat.


Mereka berdua segera memasuki penjara tersebut. Setiap dinding terpasang dengan obor sebagai alat penerangan, setiap sel dihuni oleh orang-orang yang ditawan dan diantaranya terdapat Iblis.


Namun tujuan utama mereka adalah menyelamatkan Julia dan Lecia. Mereka berdua mengabaikan setiap orang yang meminta pertolongannya, hingga pada akhirnya terdapat dua persimpangan yang menuju ke arah kiri dan kanan.


“Hugo, kau ke kanan sedangkan aku ke kiri.”


“Baiklah, sampai nanti.”


Mereka berdua berpisah, Liese bergegas mencari sosok yang ia cari dan begitu pula dengan Hugo yang mencari sosok kekasihnya tersebut. Meskipun sudah sedekat ini, napas sesak, dia yakin bahwa Lecia ada di tempat ini tengah menunggunya.


Ketika ia menoleh ke samping kanan melihat sebuah sel penjara yang diisi oleh seorang perempuan. Terdapat anak panah yang meluncur ke arahnya tepat di depan wajahnya, Hugo langsung menundukkan kepala lalu berguling-guling seraya mempersiapkan pedangnya.


Terdapat sesosok pria tengah berjalan ke arahnya seraya membuang busur yang sudah ia pakai untuk menembakkan anak panah kepadanya. Pria tersebut menghampiri Hugo seraya menghunuskan pedangnya lalu membuang sarung pedang tersebut.


“Akulah Algojo yang akan mengantarkan nyawamu ke alam kematian.”


Ucap sosok pria tersebut yang wajahnya sedikit terlihat oleh penerangan api obor. Hugo mempersiapkan pedangnya untuk menghadapi lawan yang menghadang jalannya. Langsung saja tanpa ada penentuan, mereka berdua berlari lalu saling mengayunkan pedang hingga beradu beberapa kali.


Hugo melakukan tusukan dilanjutkan dengan ayunan, pria yang menjadi lawannya sangat lihai dalam menghalau serangannya apalagi tubuhnya dilengkapi dengan zirah ringan dan kedua tangannya terlapisi pelindung tangan. Segala teknik ia kerahkan, namun dia serang balik setelah lengah kelelahan dalam melakukan serangan.


Sementara itu, Liese masih mencari sosok yang harus ia selamatkan dan menemui sebuah pintu kayu yang dilapisi dengan plat besi. Ketika ia mencoba menekan gagang pintunya, pintu tersebut terkunci dan tidak ada cara lain selain dia menghancurkan pintu tersebut dengan pukulan ledakan.


*Blarr


Bagian engsel pintu tersebut tidak dan membuat pintu tersebut jatuh ke bagian dalam ruangan. Di ruangan tersebut terdapat teralis yang terbuka, cahaya bulan memasuki ruangan ini dan hanya ada satu orang penghuni tempat ini.


Seorang perempuan tengah duduk seraya bersandar pada dinding ruangan. Sosoknya merupakan Elf berambut perak dengan seluruh tubuhnya mengenakan zirah besi penuh, namun kedua kakinya terikat oleh sebuah rantai yang menjadi belenggu baginya.


Elf tersebut membuka matanya karena suara berisik akan ledakan tadi membuatnya terbangun. Dari pandangannya yang tertutup sedikit rambutnya, terdapat seorang perempuan dengan pakaian serba hitam tengah berdiri di atas pintu yang dia hempaskan.


“Siapa ... kau ... ”


Julia ingin mengatakan sesuatu namun ia terlalu lelah untuk melakukannya. Liese langsung menghampirinys lalu mengeluarkan kampak yang ia bawa, meningkatkan fisiknya lalu menghantam rantai yang membelenggu kedua kakinya.


Rantai tersebut diberi anti sihir, setiap reaksi mana akan ditolak dan mustahil bagi Julia untuk kabur. Namun dengan ini, dia merasa bermimpi karena terdapat seseorang yang tengah menggendongnya seraya berjalan keluar dari penjara ini.


“Apakah ini mimpi ... mimpi yang terlalu indah ... ”


Liese yang mendengar suara Julia yang lemah membuatnya semakin yakin. Ia segera pergi dari penjara ini seraya menggendong Julia di punggungnya, tidak terlalu berat karena ia menggunakan sihir peningkatan fisik.

__ADS_1


* * * * *


*Brakkk


Rindou terhempas lalu menabrak kotak kayu yang ada di pinggir jalan. Ledakan hebat yang ia lancarkan membuat seisi jalan ini dipenuhi dengan kepulan asap, ia segera pergi dari tempat ini melalui jalan gang yang ada di samping kanannya.


Luka yang ada di dadanya mulai sembuh. Ia segera mengejar Liese serta Hugo yang telah pergi terlebih dahulu, namun serangannya tadi sepertinya dapat dihindari oleh Clarisse yang menguasai atribut sihir listrik.


“Sialan ... mereka terlalu kuat.”


Pikir Rindou seraya berlari, di depan gang kecil ini terdapat belokan, ketika ia berniat belok namun ada orang lain yang datang dari arah tersebut. Tabrakan tidak bisa dihindari, Rindou baik-baik saja dan masih dalam posisi berdiri namun orang yang ditabraknya jatuh dengan pantat jatuh terlebih dahulu.


“Kau tidak apa?”


“Ya, aku baik-baik saja.”


Rindou mengulurkan tangannya, cahaya bulan sedikit menerangi wajah orang yang ditabraknya. Sosok berambut panjang mengenakan pita hitam, ia menciptakan sihir api di tangan kirinya sebagai penerangan untuk melihat lebih jelas lagi.


“Wajahmu sepertinya pernah kulihat ... ah! Lukisan itu! Tidak salah lagi, kau Lecia!?”


Heboh Rindou yang sangat yakin bahwa sosok itu adalah Lecia, kekasih dari Hugo yang tertangkap. Perempuan tersebut terkejut akan perkataannya, dia mengaku bahwa dirinya Lecia dan ia mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Rindou yang membantunya berdiri.


“Kau bisa berlari?”


“Ya ... ”


“Tunggu? Katamu tadi Hugo? Jangan-jangan dia benar-benar datang ... ”


“Ya, saat ini kami berpisah untuk menyelamatkanmu dan Julia The Grey. Untuk saat ini kita pergi dari tempat ini, Kerajaan Karm sangat menakutkan bagiku.”


Ucap Rindou seraya mengingat peristiwa tadi di mana dia melawan Clarisse yang kecepatannya melebihi rata-rata. Lecia menganggukkan kepala, ia pun menjadi pemandu jalan karena ia sudah tahu betul jalan yang ada di kota ini.


“Ngomong-ngomong Lecia, kenapa kau berkeliaran di malam hari seperti ini?”


“Panjang ceritanya, saat ini Kerajaan Karm terdapat dua Pahlawan yang sangat kuat. Clarisse dan Julius, mereka berdua pemegang pedang suci yang mengutamakan kepentingan pribadi dari pada yang lainnya.”


“Begitu ya ... ”


Rindou menghela napas dengan lega, ia bersyukur karena dapat kabur dari Clarisse yang merupakan salah satu dari para jajaran Pahlawan. Secara nyata memang Rindou kalah, namun secara psikologis Rindou masih ada kemungkinan menang.


* * * * *


Hugo dapat menang melawan pria yang menghadangnya, namun ia harus mendapatkan luka yang cukup parah dengan luka tusukan di perut dan dua tulang rusuknya yang patah. Ia berjalan seraya memegangi perutnya yang tertusuk, menemukan sebuah pintu yang terlapisi dengan plat besi di ujung jalan.


Tetapi, di dalam ruangan tersebut tidak ada apapun dan hanya penjara kosong. Dengan harapan kecil, ia kembali lagi mencari Lecia namun ia yakin bahwa Liese sudah bertemu dengannya maka dia lebih memilih untuk segera keluar dari penjara ini.

__ADS_1


Pintu keluar terbuka dengan lega, namun sudah ada puluhan penjaga dengan zirah besi ringan penuh seluruh tubuh yang sudah siap menyergap Hugo dari depan. Hugo sepertinya sudah tidak ada harapan, namun asalkan Lecia baik-baik saja dia rela mengorbankan nyawanya.


“Semoga kau baik-baik saja ... Lecia.”


*Blarr


Tiba-tiba saja terjadi ledakan hebat tepat di depannya yang membuat sekumpulan penjaga terhempas ke berbagai arah. Terdapat teriakan seseorang yang ia kenal menyebut namanya, terdapat Liese yang berlari ke arahnya seraya menggendong Julia dengan tangan kanannya memegang sebuah pedang.


“Liese dan Ketua Julia, kalian berdua baik-baik saja?”


“Ya, dari pada itu kau terluka parah. Mana potion pemulihmu?”


“Aku tinggalkan kepada Rindou, tetapi kenapa kalian belum pergi? Kau menemukan Lecia?”


“Julia merengek untuk diambilkan pedang berharga miliknya yang ada di dalam penjara bagian barang. Tentang Lecia maaf, aku tidak menemukannya dan aku melihat sinyal api yang diluncurkan ke langit.”


“Sinyal api? Tunggu! Jangan-jangan Rindou!?”


“Ya, sinyal api itu merupakan pertanda kita harus mundur. Maafkan aku Hugo karena tidak bisa menemukan Lecia, namun aku yakin setelah kita berkumpul kembali kita dapat bertemu dengannya.”


Setelah mendengar ucapan dari Liese. Rindou merasa sangat kecewa akan dirinya yang amat tidak berguna, ia menggertakkan giginya akan saking marahnya karena ia tidak bisa melakukan apapun.


“Sial ... sial ... ”


* * * * *


Rindou dan Liese menunggu kedatangan Liese dan Hugo di tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya. Sambil menunggu, Lecia menceritakan beberapa hal ketika dia ditangkap bersama dengan Julia dan beberapa rekannya. Namun, Julia dapat membebaskan Lecia pada detik-detik terakhir hanya saja dia tidak bisa keluar dari Kerajaan Karm tanpa membawa kembali Julia yang sudah berkorban.


Setelah menunggu beberapa lama, terdapat suara langkah kaki cukup cepat di jalan depan karena saat ini Rindou berada di gang kecil bagian dalam. Karena sosoknya tidak jelas, Rindou menciptakan api pada tangan kanannya sebagai penerangan hingga sosok yang berlari ke arahnya adalah Liese dan Hugo yang terluka parah.


“Hugo ... ”


“Le ... cia ... ”


Napas Hugo yang berat karena berlarian terus menerus dengan luka yang ia derita. Dengan sisa tenaganya, ia kehilangan keseimbangan yang membuatnya terjatuh.


Lecia menghampirinya lalu menggapainya, memeluknya dengan erat lalu memegangi perut Hugo yang terluka akibat tusukan.



“Lecia ... kau benar-benar Lecia?”


“Ya ... ”


Rindou yang melihat keadaan Hugo saat ini langsung melukai lengannya lalu mencampurkan darahnya dengan potion pemulih yang dia bawa. Ia memberikannya kepada Lecia dan menyuruhnya untuk meminumkannya padanya, lambat laun tetapi lukanya mulai beregenerasi begitu pula dengan tulang rusuknya yang patah.

__ADS_1


“Kita harus segera pergi dari tempat ini sebelum Clarisse sialan itu menemukan kita.”


To Be Continue .....


__ADS_2