
Yugo seorang diri pergi ke suatu negeri yang dipimpin oleh seorang manusia dengan darah naga di dalam tubuhnya. Saat ini dia masih mengemban gelar Puteri Onioshi, bersama dengan rekan-rekannya dan pelayan setianya yaitu Jizaf.
Negeri ini merupakan kota pelabuhan, berbagai kapal memasuki negeri ini untuk melakukan perdagangan barang langka baik material maupun spiritual. Spiritual meliputi kekuatan yang didapatkan dengan cara instan, bisa melalui roh maupun konsep lainnya.
Kedatangan Yugo disambut oleh penjaga bersenjata pedang, di hadapannya menjulang bangunan tinggi dan Puteri Onioshi serta rekan-rekannya berada di ruangan paling atas. Tidak terlalu tinggi, bangunan ini memiliki lapisan lima lantai.
Cukup lama berjalan santai menuju ruangan yang ingin dituju oleh Yugo dan ia membuang rokoknya ketika hampir dekat dengan ruangan yang ingin dituju. Berdiri di sebuah pintu dengan dua lapisan kayu dan dia membenarkan posisi ransel yang digendong, pintu didorong oleh Yugo dan ia melihat situasi yang cukup berantakan.
“Punten ... ”
“Dengar ya, teh adalah minuman bagi wanita dewasa sepertiku. Puteri Onioshi masih belum mengerti bagaimana untuk menjadi dewasa.”
Ucap perempuan yang paling depan tengah menyeruput teh seraya berdiri. Puteri Onioshi yang sedang menindas pelayan barunya agak jengkel dengan perkataan perempuan itu. Terdapat dua monster yang tengah bertengkar dan melayang di atas.
“Jizaf, bagaimana pendapatmu tentang itu? Bukankah hal bodoh jika tiap hari minum teh tidak jelas?”
“Begitukah? Ah ya tapi masa bodoh bagiku. Aku harus pergi melihat persediaan, sampai nanti.”
Ketika Jizaf menoleh ke depan, di hadapannya terdapat Yugo yang tengah berdiri melihat mereka seraya membawa sebuah tas ransel yang digendongnya. Jizaf menyebutkan nama Yugo tanpa disadari, Puteri Onioshi serta yang lainnya menoleh ke arah Yugo.
Tanpa berkata apa-apa, Yugo melempar ransel yang ia gendong ke tengah-tengah ruangan ini. Perempuan yang tengah minum teh di samping kanan Jizaf mengucurkan keringat dan ia menoleh ke arah ransel tersebut.
“Jangan-jangan ini ... ”
“Hmm? Oleh-oleh.”
Yugo mengatakannya disertai senyuman kecil, mereka yang ada di ruangan ini langsung menghampiri ransel tersebut dan membuka isinya. Yugo membawa makanan, teh, aksesoris dan hal lainnya yang disukai oleh mereka terutama Jizaf dia selalu menunggu pakan kucing yang diberikan oleh Yugo.
“Bang Yugo. jangan-jangan pakan ini ... ”
“Pakan itu terbuat dari ikan pedang dicampur dengan harimau petir. Kau menginginkannya bukan?”
Pertanyaan Yugo tidak bisa dijawab oleh Jizaf, ia terharu karena permintaan yang hampir mustahil itu dapat dilakukan oleh Yugo. Akhirnya dia memiliki alasan lain untuk membantu Yugo dan mengaguminya.
“Seperti biasa, jika Yugo datang membawa hadiah berarti ada sesuatu yang kau inginkan? Jika masalah perang akan kami bantu.”
Pueri Onioshi mengatakannya seraya melihat-lihat makanan jenis baru yang dibawa oleh Yugo di ranselnya. Teh jenis baru dan beberapa barang lainnya langsung diamankan oleh rekan-rekan Pueri Onioshi dan mereka pergi meninggalkan ruangan ini setelah berterima kasih kepada Yugo.
Sekarang hanya tinggal Puteri Onioshi dan Jizaf yang memberi pakan kucing hitam bersayapnya dari pemberian Yugo. Puteri Onioshi mempersilahkan Yugo untuk duduk terlebih dahulu dan menawarinya teh, tetapi Yugo menginginkan bir dengan cumi bakar.
__ADS_1
Puteri Onioshi menyuruh Jizaf untuk mengambil apa yang diminta Yugo. Tentu saja dia pergi dengan gesit dan segera pergi ke lantai dasar untuk mengambil yang diminta. Sekarang hanya tersisa dua orang, Puteri Onioshi dan Yugo yang duduk saling berhadapan.
“Ada urusan apa lagi? Terakhir kali kau meminta bantuan mengamankan daerah Asteria. Kuharap tidak terlalu menyusahkan.”
“Untuk sekarang bukan perang. Ramalan, ada yang ingin aku tahu tentang ke depannya. Serangan yang akan dilakukan oleh Cassiopeia ke depannya.”
“Mmm ... ramalan ya, apa kau akan mencegahnya?”
“Aku harap seperti itu.”
Jawab Yugo dengan tatapan yang berharap kepada Puteri Onioshi. Kedua matanya terluka seperti sayatan pedang, serta kedua pipinya terluka dan matanya berwarna merah karena kutukan.
Puteri Onioshi yang sadar bahwa Yugo bersungguh-sungguh menghela napas. Ia sebenarnya sudah menduga bahwa orang yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang paling hebat yang dia temui.
“Baiklah, aku akan membantu ... yah ... karena kami sudah tahu kau akan meminta ramalan maka kami sudah melakukannya. Mereka akan menyerang sebuah negeri, kali ini bukan untuk menginvasi para Iblis.”
“Apa katamu? Negeri? Berarti mereka berniat untuk memperluas wilayah?”
“Sepertinya begitu, ajaran suci dari gereja membuat pergerakan besar. Orang-orang yang sebelumnya bisa melihat pixie kini tidak bisa, mereka mulai menyalahkan sihir hitam dan menangkap manusia yang berhubungan dengan Iblis maupun ritual lainnya.”
“Gawat juga, Cassiopeia sepertinya berniat untuk melenyapkan Iblis dari muka bumi ini. Raja Iblis sepertinya sudah mengantisipasinya, pada saatnya aku akan meminta bantuanmu Puteri Onioshi.”
“Ya, tentu ... ”
* * * * *
Vinessa, dia adalah kekasih Yugo dan merupakan pendekar pedang dan dirinya telah dikutuk oleh makhluk suci yang membuat kemampuan fisiknya meningkat serta taringnya lebih panjang dari manusia biasa.
Dia selalu berada di garis depan, melawan pasukan musuh yang berniat menembus garis pertahanan. Raja Iblis yang ada di suatu tempat tidak bisa dijangkau oleh mereka, namun tujuan musuh adalah melenyapkan Iblis serta segala hal yang berkaitan dengannya akan dilenyapkan.
Raja Iblis saat ini menjaga sebuah tempat, dia tidak bisa meninggalkannya dan dia akan meninggalkan tempat itu jika terdapat situasi mendesak.
Garis pertahanan yang dilindungi Vinessa ini merupakan sekumpulan ras dari berbagai kalangan yang mempertahankan wilayah dari serbuan musuh. Kini yang menjadi pemimpin di benteng ini adalah Vinessa ditemani oleh Anzu dan Nina yang merupakan Wakil Jenderal.
Anzu dan Nina menangani tempat lain, sedangkan Vinessa bersama beberapa pasukan yang berasal dari ras raksasa dan manusia pengguna tombak dengan sihir pendukung melawan serbuan dari pihak musuh. Mereka saling melengkapi satu sama lain, Vinessa melawan seorang laki-laki dengan karakteristik Ratman.
Di setiap medan perang, Vinessa selalu menggunakan pakaian serba merah dan mengenakan jubah merah. Rambut pirangnya sangat panjang sehingga ia mengikat dan menguncirnya, ia sering ditertawakan oleh Yugo karena menggunakan gaya rambut kepang dua.
Tapi tawa itulah yang disukai oleh Vinessa, dia tidak terlalu peduli dengan yang lainnya asalkan Yugo ada bersamanya itu sudah cukup.
Vinessa melompat dan mengayunkan pedangnya dengan kuat, membuat pasukan musuh yang berlari ke arahnya terdorong oleh hempasan pasukan yang terlempar olehnya. Raksasa yang ada di depannya membuat jalan dengan mengayunkan kapak besar, sedangkan si pengguna tombak membantu mereka berdua jika ada musuh yang menyerang dari jarak jauh.
__ADS_1
”Jangan terlalu jauh dariku!”
“Tenang saja! Aku membantu kalian agar serangan sihir dapat kutangkis!”
“Terima kasih!”
Vinessa disibukkan dengan sosok Ratman yang gesit namun masih menggunakan sosok manusia. Serangannya dapat dihalau dengan cepat dan ditangkis menggunakan belati, ini lebih sulit melawan Assassin yang membunuh sebelum musuh menarik senjatanya.
Pihak musuh yang kekurangan kekuatan tempur, mundur sementara untuk berkumpul kembali menjadi satu kekuatan. Pasukan Vinessa yang dipimpin sebelumnya adalah dua ratus orang melawan dua ribu orang lalu memukul mundur mereka.
Ia sedikit kesulitan karena Yugo tidak bersamanya, kebiasaan mereka adalah saling melindungi punggung masing-masing. Hanya perasaan itu yang tidak bisa dilepaskan oleh Vinessa, sehingga dia selalu berada di garis depan bersama Yugo.
Ketika pasukan Vinessa ditarik ke dalam benteng, hanya Vinessa yang belum kembali dan dia masih berada di depan benteng seraya memegangi perutnya. Dia tengah mengandung seorang anak dari Yugo, pernikahan mereka belum dilangsungkan karena keadaan perang seperti ini.
Vinessa menerima situasi itu, meski dia mengandung dia tidak bisa meninggalkan garis depan. Dia masih belum mempercayai pasukannya yang lain, hanya beberapa orang saja seperti Yuuza, Hao, dan Nina yang dapat dipercayakannya.
“Kuharap kau segera pulang Yugo ... ”
Vinessa berjalan memasuki gerbang benteng, setelah memasukinya gerbang besi itu diturunkan dan dia disambut oleh para pasukan. Mereka mengawal Vinessa menuju tenda yang khusus untuknya, di dalamnya terdapat kasur miliknya yang menunggu Vinessa untuk tidur.
Tanpa basa-basi, Vinessa menanggalkan pakaian dan menggantinya. Meski dia seorang Jenderal, jika sosoknya yang kuat dan dikagumi orang lain terlihat lemah maka harapan orang lain tidak bisa dia wujudkan. Karena itu, dia selalu berjuang untuk menjadi yang terbaik dari pada yang lainnya.
Hingga dia bertemu dengan Yugo, laki-laki yang menantangnya karena alasan sepele dan bergabung menjadi bawahan Raja Iblis hingga mereka berdua menjadi Jenderal. Sampai saat ini dia tidak percaya, Yugo adalah laki-laki yang mengalahkannya dan juga laki-laki yang dia cintai.
“Permisi, bagaimana keadaanmu Jendral Vinessa?”
Anzu memasuki tenda Vinessa dengan keringat yang merembes ke pakaian tempurnya berlapis zirah ringan, ia mengkhawatirkan kondisi Vinessa yang sebelumnya terlihat memaksakan kehendaknya.
Anzu yang usianya masih muda telah turun ke medan perang, senjata sucinya yang merupakan tameng benar-benar sangat berguna menahan serangan fisik dan sihir. Meskipun dia setengah manusia setengah Iblis, penggunaan perisai sucinya tidak membuatnya kesulitan.
“Anzu? Bisakah kau berjaga ... aku sedikit lelah.”
“Siap, aku sudah mengantisipasinya, tolong jangan memaksakan diri. Bayi Jenderal Vinessa ... aku ingin melihatnya.”
“Huh ... setelah lahir mungkin dia akan memanggilmu dengan Kakak.”
“Aku tidak sabar menantinya, kalau begitu permisi. Beristirahatlah, serahkan penjagaan pada Anzu ini.”
Dia menutup tenda dan meninggalkan tenda lalu beberapa suara langkah kaki menjauh. Vinessa menutup kedua matanya dan berniat untuk melepas lelahnya dengan tidur. Memikirkan bayi yang dikandungnya, dia ingin anaknya lahir dengan selamat meski dengan keadaan sulit seperti ini.
__ADS_1
“Jika perempuan namanya sudah diputuskan oleh Yugo. Agano ... jika laki-laki ... Rindou ... ”
To Be Continue ....