
Di suatu tempat di bagian Barat. Terdapat suatu kelompok sisa-sisa dari pasukan Raja Iblis yang terlantar, mereka tidak mempunyai tujuan apalagi banyak pemimpin mereka yang terbunuh setelah peperangan besar melawan para Pahlawan.
Seorang pria mengenakan jubah hitam dan seluruh tubuhnya tertutup, terdapat dua tanduk yang ada dia atas kepalanya menembus kerudung jubah yang dipakainya.
Berjalan di beberapa pemukiman Iblis lemah dan mereka dapat terbunuh kapan saja jika serangan dari para manusia menyerang secara mendadak. Di balik jubahnya terdapat pedang yang ia miliki setelah berburu di hutan, dia lakukan itu untuk menghidupi Iblis yang ada di pemukiman ini.
*Brugg
Seorang anak kecil menabraknya karena berlarian tanpa melihat ke depan. Pria tersebut melirik tajam ke anak kecil yang merasa terancam, ia berjongkok lalu menunjukkan wajahnya dengan senyuman kecil.
“Kau tidak apa? Apa kau terluka?”
Tanya dirinya seraya menunjukkan giginya yang runcing. Anak kecil itu merasa bersalah karena langsung menyimpulkan hal yang tidak-tidak, ia meminta maaf kepada pria tersebut lalu pergi.
Pria yang berjongkok itu kembali berdiri seraya melihat anak kecil yang menabraknya tadi semakin menjauh darinya. Ia harus segera pergi ke tempat dapur umum, hasil buruan hari ini harus segera dimasak sebelum dibagikan kepada penduduk pemukiman Iblis lemah ini.
Ketika dia ingin pergi, tanah terasa sedikit bergetar dan ia kembali berjongkok lalu menempelkan telinganya ke permukaan tanah.
“Ini suara langkah kaki dengan kereta pengangkut ... kuda?”
Pikirnya, ia langsung berkesimpulan jika saja manusia melewati wilayah ini maka dia bisa merampas barang mereka dan membagikannya kepada yang lain. Bergegas pergi menuju gerbang depan wilayah ini yang hanya terbuat dari pagar kayu, terdapat dua penjaga yang berjaga secara bergiliran.
Dari kejauhan, mereka terpaku kepada suatu hal yang datang menuju mereka. Terdapat dua kuda yang menarik kereta pengangkut barang, seorang perempuan dengan penutup mata sebelah kanan yang menjadi kusir kuda. Terlihat seorang pria tengah makan di dalam kereta pengangkut kuda, namun sosoknya tidak jelas terlihat.
Setelah cukup lama, akhirnya mereka tiba di depan gerbang pemukiman Iblis ini. Beberapa Iblis berkumpul di depan gerbang dengan membawa beberapa senjata, ada juga yang sudah bersiap menggunakan sihir mereka untuk menyerang.
Perempuan yang menjadi kusir kuda itu terlihat tidak ingin mencari masalah sehingga mengangkat tangannya sebagai tanda dia menyerah. Dari dalam kereta pengangkut barang, terdapat seorang pemuda dengan tubuhnya terlapisi perlengkapan membuat beberapa Iblis trauma akan masalah di masa lalu ketika manusia menyerang mereka.
Karena kenangan yang tidak mengenakkan, mereka menunjukkan sifat permusuhan kepada pemuda tersebut. Tidak masalah, pemuda itu dengan santainya berjalan ke depan kuda lalu menghela napas sebentar sebelum berbicara.
“Berlutut.”
Di antara Iblis yang berkumpul di depan, beberapa di antara mereka ada yang tiba-tiba berlutut dan membuat sisanya kebingungan. Pria yang bertanduk sebelumnya sadar, pemuda itu menggunakan sihir perintah yang sama seperti bawahan Raja Iblis dengan otoritas cukup tinggi.
Tidak salah lagi, dia menganggap pemuda itu adalah salah satu kaumnya karena dapat menundukkan Iblis yang lain. Bergegas berlari menuju paling depan, ia berjuang dan pada akhirnya mereka berdua saling berhadap-hadapan.
“Kami sudah menunggumu! Pahlawan kami!”
Ya, tidak salah pria ini menangis di hadapan pemuda asing yang tiba-tiba dapat membuat beberapa Iblis tunduk padanya. Pria itu pun bertekuk lutut di hadapan pemuda itu, sisanya mulai bertekuk lutut di hadapannya dan pemuda itu menaklukkan para Iblis yang berniat menyerangnya.
“Eh? Pahlawan? Rindou?”
Liese, dia terbingungkan dengan keadaan dan situasi yang terjadi di hadapannya saat ini juga. Rindou berdiri di depan mereka dan dia sendiri juga terbingungkan kenapa dia dianggap Pahlawan.
“Posisinya peta memang ada di sini. Hei kalian! Apakah kalian sisa dari pasukan Raja Iblis!?”
Seru Rindou dengan suara yang lantang, para Iblis yang bertekuk lutut di hadapannya menjawab dengan serentak. Ya, tidak salah lagi bahwa Rindou dan Liese sudah sampai ke tempat ini dalam lima hari menggunakan dua kuda dan kereta pengangkut yang membawa bahan makanan.
“Jadi mereka sisa pasukan Raja Iblis yang memanggilku ... kasihan sekali.”
__ADS_1
Pikir Rindou, ia pun ingin memasuki kawasan pemukiman Iblis ini dan para Iblis menyambut kedatangannya. Liese pun disambut, namun bau manusia dari tubuhnya membuat beberapa di antaranya menolak kehadirannya.
Sedangkan Rindou mengeluarkan aura yang sama seperti manusia pada umumnya. Namun karena ia dipanggil oleh Raja Iblis, sisa auranya terserap oleh Rindou meskipun sedikit.
Pemukiman ini amat kumuh, beberapa Iblis di sini kekuatannya sudah melemah namun masih bisa bertahan hidup sampai sekarang. Mereka sebetulnya sangat kuat, namun semenjak Raja Iblis dikalahkan kekuatan mereka melemah.
Raja Iblis memiliki kekuatan yang dapat memperkuat bawahannya, maka ketika dia tewas dapat dipastikan Iblis yang sebelumnya kuat menjadi lemah dan pada saat itulah pembantaian pada Iblis dilakukan.
Rindou tiba-tiba berhenti berjalan, Iblis yang mengikutinya di belakang pun ikut berhenti. Rindou berbalik badan, melihat satu persatu Iblis dari samping kiri sampai ujung samping kanan.
“Hei kau, bisa ke sini sebentar.”
Ucap Rindou seraya menunjuk sosok pria berjubah dengan wajahnya tertutup kerudung, dua tanduknya itulah yang membuat Rindou cukup tertarik padanya. Tanduknya tidak sama dengan Iblis yang lainnya, ini lebih lancip dan tidak seperti tanduk Iblis kebanyakan.
“Bagaiman dengan situasi sekarang? Kondisi makanan? Kesehatan? Pendidikan dasar? Serta yang lainnya.”
“Ba-baik! Kondisi makanan dapat diatasi dengan perburuan. Kesehatan para Iblis tidak lemah seperti manusia, cukup kebal. Kami tidak tahu apa yang Tuan maksud dengan pendidikan dasar dan kehidupan kami sekarang ini seperti inilah yang Anda lihat.
“Begitu ya ... ngomong-ngomong jika kau menyebutku ‘Tuan’ lagi kutendang kau. Situasi di sini lebih gawat dari pada yang kubayangkan, siapa Pemimpin kalian saat ini?”
“Pemimpin kami adalah Julia, dia memiliki julukan The Grey. Dia seorang Elf yang menjadi bawahan dari Raja Iblis, namun setahun yang lalu dia ditangkap bersamaan dengan ... ”
Ketika dia ingin mengakhiri kalimatnya, sepertinya ada suatu hal yang terlalu menyakitkan jika dikatakan. Namun Rindou memaksanya untuk berbicara, kenangan yang pahit akan selalu teringat maka terimalah kenangan pahit itu dan perbaiki kembali tanpa melihat masa lalu.
“Kekasihku Lecia ... dia seorang manusia yang memihak kami para Iblis. Julia The Grey dan Lecia tertangkap oleh anak Kerajaan Cassiopeia yaitu Karm, kabar tentang mereka berdua sudah tidak terdengar setengah tahun ini.”
“Sialan, keadaan dunia ini lebih runyam dari yang aku bayangkan. Raja Iblis sialan, kau meninggalkan banyak masalah padaku dan karenamu banyak kaummu yang tersiksa.”
“Eh!? Bukankah itu makanan yang sangat berharga bagi Tuan!?”
*Duakk
Ya, pria itu ditendang oleh Rindou hingga wajahnya tersungkur ke tanah terlebih dahulu. Bagi Rindou, panggilan Tuan atau yang lainnya terdengar geli di telinganya.
“Namaku Rindou, namamu?”
Tanya Rindou, pria yang mendengar ucapan Rindou segera bangkit meskipun wajahnya kotor lalu memperkenalkan dirinya yang bernama Hugo. Dia Iblis keturunan naga, sehingga di dalam tubuhnya saat ini mengalirlah darah naga yang memuat tanduknya itu tidak seperti Iblis kebanyakan.
“Kau keturunan naga? Kau bisa berubah menjadi naga?”
Tanya Rindou, namun salah satu Iblis yang tengah mengangkat bahan makanan dari dalam kereta kuda menyela pembicaraan mereka berdua.
“Lebih baik jangan, Hugo tidak bisa mengontrol kekuatannya yang begitu besar. Namun karena kekuatannya, kami dapat lolos dari kejaran Pahlawan. Ngomong-ngomong, apa yang harus kami lakukan dengan bahan makanan ini Tuan Rindou?”
*Duakk
Satu lagi Iblis itu menyebut Rindou dengan awalan ‘Tuan’ dan membuat Rindou menendangnya meskipun dia sedang bekerja. Iblis yang melihatnya mencoba untuk tidak memanggil Rindou dengan embel-embel Tuan.
“Baiklah Hugo, ulurkan tanganmu.”
Ucap Rindou, ia pun mengulurkan tangan kanannya lalu bersalaman. Langsung saja, Rindou menggunakan skill absorb dan menyerap kekuatan naga milik Hugo yang tertidur di dalam tubuhnya. Dalam sekejap, tanduk naga Hugo menghilang begitu saja dan ia sendiri kebingungan sampai heboh akan tingkahnya.
__ADS_1
“Santailah sedikit Hugo. Kekuatanmu kuserap untuk sementara waktu, jika waktunya sudah tepat maka akan kukembalikan kekuatanmu.”
Ucap Rindou, Hugo yang mendengar penjelasannya tidak percaya akan kekuatan miliknya yang dapat diserap oleh Rindou. Namun memang benar, ia merasa ada yang hilang dan meskipun ia bersikeras untuk menggunakan kekuatan naga miliknya tetap tidak bereaksi.
“Mulai hari ini aku adalah Pemimpin sementara kalian! Rencana awal kita adalah membebaskan Julia yang ditawan! Aku yakin! Dia tidak dibunuh karena rasnya adalah Elf!”
Seru Rindou dengan suara lantang membangkitkan semangat para Iblis yang jatuh. Ia memegang pundak Hugo, dia pun berencana untuk membebaskan Lecia yang merupakan kekasih manusia dari Hugo.
Hugo yang mendengarnya sangat berterima kasih padanya. Ia mengabdi kepada Rindou meskipun usianya lebih tua, namun keyakinannya untuk melayani Rindou sebagai Pemimpinnya adalah pilihan tepat.
“Terima kasih banyak, Tuan Rind—”
*Duakk
* * * * *
Malam harinya, Rindou berbaring di tenda yang sudah disediakan oleh Hugo. Atapnya jebol dan terbuat dari kain sisa, bagian bawahnya dilapisi menggunakan tumpukan daun kering dan ditutupi menggunakan kain. Memang tidak begitu enak, namun ini lebih baik dari pada tidak ada.
Rindou berniat tidur namun ia tidak bisa tidur sama sekali. Ketika menutup matanya, terdapat beberapa langkah kaki yang melewati tendanya. Ini bukan hanya satu orang, langkahnya juga terasa berat seperti membawa sesuatu.
Rindou mengeluarkan kepalanya keluar tenda lalu melihat Hugo dan yang lainnya tengah membawa senjata. Karena penasaran, Rindou menanyakan tujuan mereka di malam hari ini.
“Tu— ehm ... Rindou, malam ini beberapa hewan liar dan berbahaya sedang aktif. Mau ikut berburu?”
Tawar Hugo, Rindou mengingat-ingat beberapa waktu lalu jatah waktu latihannya terasa kurang karena berpergian terus. Maka untuk melepas penat akan baku hantam, Rindou ikut diperburuan malam ini bersama Hugo dan yang lainnya.
Tidak lama setelah mereka pergi memasuki hutan. Memang benar dengan yang dikatakan Hugo, terdapat monster yang memiliki bentuk buaya namun ukuran badannya lima kali lebih besar dari buaya dan di bagian punggungnya terdapat beberapa turbin kecil yang dapat menghasilkan aliran listrik.
Dari balik semak-semak, yang berburu saat ini hanya ada empat orang dan termasuk Rindou. Setiap dari mereka memegang senjata berupa pedang, Rindou menghunuskan pedangnya dan bersiap-siap.
“Hugo, apakah melawan monster itu sulit?”
“Monster? Jangan-jangan Anda tidak tahu dengan Varsi? Itu adalah nama monster itu. Memang sulit untuk mengalahkannya karena lapisan kulit yang kuat dan keras sebagai pertahanannya, apalagi bisa menghasilkan listrik yang dapat dimanipulasi.”
Jawab Hugo, Rindou yang mendengar ucapannya sangat tertarik terhadap monster yang bernama Varsi ini. Kulitnya memang tebal dan sangat keras, Rindou menyarungkan kembali pedangnya lalu berdiri secara tiba-tiba.
Hugo dan yang lainnya terkejut karena Rindou langsung berlari begitu saja. Meningkatkan fisiknya serta tangannya mulai terlapisi dengan kristal Caligula, ia melompat ke atas dengan ketinggian yang membuat Hugo terkejut karena lompatannya hampir sama dengan kemampuan fisik Iblis.
“Companion : Minotaur, Overflow!”
Skill yang Rindou aktifkan meningkatkan kemampuan fisiknya hingga melewati batas. Ketika akan mendarat di atas Varsi, ia mengangkat tangan kanannya lalu bersiap-siap memukul kepala Varsi dengan mengincar tengkorak kepalanya.
*Brakkk
Pukulannya sangat keras, kuat dan membuat tanah bergetar hebat. Tentu saja, Varsi langsung dikalahkan oleh Rindou hanya dengan satu pukulan tangan kanan. Kristal yang melapisi tangan kanannya berjatuhan, ia berjongkok lalu mengambil setengah kekuatan dari Varsi.
Rindou mendapatkan kemampuan baru dari Companion. Lightning Burst, dia dapat menciptakan listrik dari mana yang ia punya. Rindou langsung mencobanya, jari jempol tangan kanan dan dari telunjuk ia dekatkan lalu muncul aliran listrik meskipun masih kecil sifat hantarnya namun ini sudah cukup.
“Baiklah, selangkah lebih dekat menuju Julia.”
To Be Continue.......
__ADS_1