
Rindou dan Liese tiba di lantai empat. Lantai empat ini terdapat danau besar dan di kelilingi oleh hutan yang luasnya tidak terkira. Mereka berdua memutuskan untuk beristirahat di dalam dungeon lantai empat ini, lagipula di lantai ini telah gelap dan bulannya terdapat dua.
Rindou duduk di permukaan batuan kali seraya memotong kayu menggunakan kampak. Dengan api unggun yang sudah dibuat, Rindou melempar potongan tersebut. Liese menyiapkan makan malam berupa daging sirloin yang dibungkus menggunakan beberapa daun, ia pun membakarnya di api unggun.
Kini, tas yang dibawa oleh Rindou isinya hampir habis dan menyisakan dua potion pemulih. Seraya menunggu daging sirloin matang, Liese terlihat memandangi luka di tangannya dengan wajah yang membuat Rindou tidak bisa menebak perasaannya saat ini.
Sorot mata Rindou disadari oleh Liese. Ia pun berjalan menghampirinya lalu duduk di samping kanannya.
“Bagaimana dengan lukamu Liese?”
“Ya, aku baik-baik saja. Tangan kirimu bagaimana? Bukankah sebelumnya berlubang?”
“Asal tahu saja, aku ini tidak abadi namun kemampuan dari Harvod Wolf merupakan pemulihan. Tubuhku dapat meregenerasi sel yang rusak.”
“Begitukah ... ”
Rindou mengambil perban dari dalam tas di samping kirinya. Ia menyuruh Liese untuk membelakanginya dan mengangkat rambutnya yang menghalangi. Rindou mulai menempelkan perban kepada Liese, ia juga menawarkan darahnya kepada Liese namun ditolak.
Ia akan menerimanya jika situasi sangat gawat. Rindou mengerti akan hal itu dan menerima alasannya, ia melanjutkan kembali menempelkan perban kepada Liese di beberapa tempat.
“Aku hampir lupa. Rindou ... gaya rambutmu lebih baik dari pada sebelumnya yang panjang hingga punggung.”
“Kau pandai sekali memuji. Untuk kali ini kubiarkan.”
Ucap Rindou seraya mengikat perban yang sudah ia pakaikan kepada Liese. Mereka berdua duduk di depan api unggun, suasana dingin ini membuat suasana di antara mereka berdua canggung dan tidak ada yang memulai percakapan sama sekali.
“Ngomong-ngomong Rindou, apa yang kau lakukan di lantai enam tadi terhadap Minotaur yang kau kalahkan?”
“Kau melihatnya? Aku mengambil setengah kemampuan dari Minotaur itu. Overflow, skill yang dapat meningkatkan kemampuan fisik melebihi peningkatan fisik menggunakan mana. Kau tahu, Minotaur mempunyai kekuatan, otot tebal dan tenaga yang hebat. Intinya setengah kekuatan dari Minotaur kuambil.”
“Aku tidak tahu bagaimana caranya kau mengambil kemampuan monster bahkan kemampuan Caligula bisa kau dapatkan. Entah apa jadinya jika kita berdua tidak bisa kabur tadi, melawan enam orang dengan pengalaman lebih banyak sangat sulit.”
Ucapan Liese membuat Rindou tersadar akan sesuatu hal. Ia sepertinya ragu dengan Liese dalam menghabisi nyawa seseorang.
“Liese ... jika kau ragu untuk ... tidak jadi, lupakan saja.”
Rindou mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal yang membuat dia terganggu. Liese penasaran dengan hal itu namun setelah melihat Rindou yang memalingkan wajahnya membuat dirinya enggan.
“Baiklah ... terima kasih Rindou.”
* * * * *
Di lantai empat, pagi hari yang seharusnya damai namun terdapat dua orang yang tengah berlatih. Mereka berdua adalah Rindou dan Liese yang latih tanding menggunakan sihir peningkatan fisik.
__ADS_1
Rindou yang mempelajari bela diri Lethwei melakukan serangan bertubi-tubi kepada Liese. Dicampur dengan teknik Jeet Kune Do membuat pergerakan Liese selalu terjepit, apalagi ia baru melihat gaya bertarung Rindou dan sangat berbeda dengan gaya bertarung kebanyakan.
Rindou lebih unggul dari Liese, baik teknik dan pengalaman dia lebih atas dari Liese. Dengan latih tanding ini membuat Liese tersadar bahwa ia masihlah lemah, mengandalkan sihir api yang ia pelajari masih belum cukup dan ia berkeinginan mempelajari atribut sihir yang lainnya.
Sebelum pergi, mereka membasuh tubuh mereka di pinggir danau karena keringat hasil latih tanding membuat tubuh mereka lengket. Sebelum menjelang siang, Rindou dan Liese segera pergi dari lantai empat sebelum para petualang yang lain berdatangan.
Mungkin akan sial jika mereka berdua bertemu dengan party yang kemarin di perjalanan pulang. Namun setelah mereka berdua tiba, para petualang baru saja tiba di lantai dua dan jumlahnya masih sedikit membuat peluang mereka dapat kabur dari dungeon ini semakin besar.
Seharusnya begitu ...
Begitu mereka berdua keluar dari dungeon, terdapat para petualang yang sudah berkumpul dan hanya ada satu topik yang mereka semua bicarakan tentang lantai sembilan yang sudah ditaklukkan oleh dua orang saja.
Rindou langsung berkeringat dingin karena informasi dari dalam dungeon bisa bocor dengan cepat. Liese melihat ke berbagai arah, dia cukup malu dan bangga karena orang-orang membicarakannya meskipun mereka tidak tahu bahwa dua orang ini yang melakukannya kecuali party yang beranggotakan enam orang kemarin.
“Liese, aku mulai mual dengan keramaian ini.”
Ucap Rindou dengan wajah yang muak dan terlihat ingin muntah melihat sekumpulan petualang membicarakan mereka berdua. Liese menganggukkan kepala, mereka berdua segera pergi dari pintu masuk dungeon menuju kota untuk mencari makanan.
Mereka berdua berhenti di sebuah kedai pinggir jalan bagian kota kumuh yang cukup tertutup namun ramai oleh orang-orang. Memakan sarapan mereka berupa tumis sayuran ditambah irisan daging, membuat suasana hati Rindou perlahan-lahan semakin membaik. Seraya memakan sarapannya, Rindou memikirkan rencana ke depannya karena dia tidak bisa tinggal lebih lama di Kota Citadel Yuvin ini namun dia ingin pergi menuju dungeon lantai sepuluh.
“Rindou, apa yang sedang kau pikirkan berwajah masam seperti itu?”
“Maaf membuatmu khawatir, sepertinya kita harus pergi dari Kota Yuvin ini.”
“Maaf Liese, aku ke belakang dulu.”
Ucap Rindou seraya beranjak dari tempat duduknya berupa sebuah kotak kayu. Berjalan menuju belakang jalan melalui gang kecil, akhirnya sosok yang sedari tadi mengawasinya muncul dan tingginya sedikit lebih pendek darinya.
Wajahnya tertutup kerudung jubah yang robek dan sudah jelas bahwa dia seorang perempuan karena bagian depannya tidak tertutup jubah. Rindou menyuruhnya untuk bicara akan keperluan dia dengannya. Sosok tersebut menurunkan kerudung yang menutupi wajahnya, seorang perempuan dengan pedang di sebelah pinggang kiri memberikan sepucuk surat kepada Rindou
“Tuan Viens ingin bertemu denganmu.”
Sahutnya seraya menyodorkan sepucuk surat kepada Rindou. Jika memang dari Viens maka Rindou tidak akan curiga, ia pun menerima surat tersebut menggunakan tangan kanannya lalu menanyakan alasan perempuan tersebut mengawasi Rindou dari kejauhan.
“Alasanku? Aku hanya mencari situasi yang pas untuk memberikan pesan tersebut kepadamu. Perempuan yang bersamamu tidak menyadari kehadiranku. Permisi, selamat tinggal.”
Ucap perempuan tersebut lalu pergi begitu saja meninggalkan Rindou. Ketika Rindou ingin membaca surat tersebut, isinya bukanlah surat namun wajahnya yang dilukis kasar dengan tulisan yang tidak ia mengerti. Ini pertanda gawat, Rindou segera kembali ke tempat Liese berada lalu menyuruhnya membacakan tulisan selembar kertas yang terlukiskan wajahnya.
“Orang ini adalah penakluk lantai sembilan, Boss Caligula telah dikalahkannya. Aku tidak salah baca, kan? Rindou ... tiba-tiba saja kita berdua semakin terkenal saja.”
Ucap Liese seraya menatap Rindou dengan wajah yang tidak mempercayai kenyataan. Sepertinya memang benar, Rindou harus pergi ke tempat Viens saat ini.
* * * * *
__ADS_1
Sampai di depan pintu gerbang rumah Bangsawan yang Rindou kenal, dia adalah Viens. Salah satu pelayannya sudah menunggu kedatangan mereka berdua, memasuki halaman rumah lalu mereka berdua diantar memasuki rumah yang begitu besar.
Menuju ruangan Viens yang ada di lantai atas. Sosok pria terlihat kelelahan mengurusi dokumen penting, pelayan yang mengantar Rindou dan Liese memasuki ruangan Viens dan memberitahukan jika tamunya sudah datang.
Pelayan tersebut keluar dari ruangan dan mempersilahkan Liese serta Rindou untuk masuk menghadap Viens. Ya, kedatangan mereka berdua seperti yang sudah direncanakan oleh Viens.
Rindou langsung saja duduk di atas sofa lalu menurunkan pedangnya. Liese meminta izin kepada Viens lalu ia duduk di samping kiri Rindou yang tengah bersandar di sofa.
“Ada perlu apa denganku Viens?”
“Terima kasih karena kalian sudah mau datang. Selamat karena sudah menaklukkan lantai sembilan dari dungeon Kota Yuvin.”
“Sial, kau juga sudah tahu tentang hal itu.”
“Informasi mengenaimu sudah tidak aneh bagiku. Dari pada hal itu, ada yang ingin kubicarakan serius denganmu Tuan Rindou.”
“Woi Viens, jika kau memanggilku dengan ‘Tuan Rindou’ lagi, kutendang kau.”
Karena ucapan dari Rindou, Viens yang berniat membicarakan masalah intinya malah depresi dan kehilangan motivasi akan ancaman dari Rindou. Ia sebenarnya mengagumi dan berniat membantu Rindou sebisa mungkin, karena dialah yang pertama kalinya bisa terlepas dalam belenggunya sendiri.
“Aku memanggilmu ke sini karena ada sedikit permasalahan. Karena Raja Iblis sudah dikalahkan oleh Pahlawan, saat ini tidak ada tanda-tanda kebangkitannya namun para bawahannya mulai melakukan pergerakan di bagian Barat. Mereka membentuk kelompok dengan sisa pasukan Raja Iblis, dipimpin oleh beberapa monster kuat.”
“Jadi?”
“Ah benar juga, maafkan aku karena tidak menceritakan awal mulanya. Sebenarnya sisa pasukan Raja Iblis saat ini diburu oleh para petualang dan beberapa Pahlawan. Sebenarnya bukan Iblis yang sejak dulu berkuasa, namun nafsu akan manusia dan sifat manusia lebih parah dari Iblis.”
“Jadi ... maksudmu Raja Iblis tidak pernah berniat menghancurkan dunia ini namun manusia yang ada di dunia ini membunuh mereka?”
“Ya, sejak kematian Raja Iblis. Para sisa Iblis dan monster banyak yang tertindas dan mereka banyak dibunuh dengan cara kejam. Aku mengetahui ini dari seorang Iblis yang menyelinap ke Kota ini kemarin, memang sulit dipercaya namun memang begitu kenyataannya.”
“Katakan Viens, menurutmu di antara mereka yang paling memiliki kekuasaan atas segalanya siapa?”
“Sudah pasti, negeri terkuat di dunia ini ... Cassiopeia.”
Jawab Viens dengan nada yang amat serius. Rindou mengernyitkan keningnya, ia ingin lepas tangan dari tanggungjawabnya sebagai permintaan terakhir dari Raja Iblis yang memanggilnya.
Dengan menghela napas, ia memutuskan untuk pergi menuju markas sisa pasukan Raja Iblis yang ada di barat dan Viens memberikan sebuah peta yang telah diisi menggunakan suatu sihir. Posisinya saat ini bisa terlihat di peta dan jika dia mendekati posisi yang di tuju, bulatan hitam sebagai posisinya akan bergerak.
“Ada satu hal lagi. Pasukan sisa Raja Iblis ada di berbagai daerah, beberapa di antaranya ada yang ingin bangkit kembali namun ada juga yang tidak.”
“Baiklah, untuk sekarang aku akan menerima tawaran darimu.”
Ucap Rindou seraya beranjak dari tempat duduknya, diikuti oleh Liese yang mengambil pedang milik Rindou lalu berpamitan kepada Viens. Mereka berdua pergi dari ruangan Viens dan berniat untuk pergi hari ini juga menuju Barat.
To Be Continue .....
__ADS_1