
Daerah Asteria, tempat ini salah satu negeri yang bergabung menjadi pasukan Raja Iblis. Namun, mereka bergerak dengan cara mereka sendiri dan tidak melibatkan pihak sekutu di pihak yang sama seperti para Jenderal Raja Iblis.
Tempat ini dipimpin oleh beberapa orang dan mereka berisikan manusia, Demi Human, Lycanthrope dan yang lainnya. Mereka mempunyai bendera sendiri yang berwarna biru dengan simbol dua kepala serigala saling membelakangi.
Sebelumnya Puteri Onioshi membantu daerah ini karena serangan dari Kerajaan Fimela yang mengerahkan Golem serta makhluk buas membuat pasukan di daerah Asteria kesulitan mengumpulkan sumber daya. Dengan bantuan Ratu Onioshi serta bawahannya, tempat ini menjadi zona aman karena kekuasaan Ratu Onioshi sampai di tempat ini meski itu permintaan dari Yugo.
Seorang perempuan berambut biru panjang dengan dua telinga serigala yang ia mainkan. Mata berwarna merah dengan tubuh kecil seperti halnya anak perempuan berusia dua belas tahun, tetapi umurnya yang sebenarnya menginjak dua puluh dua tahun.
“Sial ... kenapa banyak sekali laporan yang datang ... ”
Mengeluh di meja kerjanya, dia yang baru saja pulang dari wilayah yang kekurangan tenaga kerja disambut dengan pekerjaan menumpuk membuatnya semakin malas. Mau tidak mau, dirinya duduk di kursi miliknya lalu mengambil lembar demi lembar mengecek setiap laporan yang masuk.
“Bahan makanan ... fasilitas ... pemukiman ... yang menjadi masalah adalah wilayah. Jika seperti ini terus, Asteria harus menyerang balik dan peperangan akan pecah. Andaikan Yugo ada di sini ... ”
Dirinya memikirkan sosok Rindou dengan wajah yang serius, terakhir kalinya ia bertemu Yugo ketika bertahan dari serangan Kerajaan Fimela bersama Puteri Onioshi.
Dia menyukai Yugo, tetapi Vinessa yang saat ini merupakan kekasih Yugo adalah musuhnya. Ada alasan pribadi untuk itu, pemukiman tempat tinggalnya dihancurkan oleh makhluk suci yang mengamuk dan itu merasuki tubuh Vinessa.
Ketika mereka berdua bertemu, maka pertemuan antara dua perempuan terjadi pada saat itu. Yugo pernah menjadi penengah, tetapi dia dihajar habis-habisan bahkan pedang dari dua perempuan itu menusuk tubuhnya.
Ketika dia hampir menyelesaikan beberapa laporan, ia memegangi sebuah lembar kertas mengenai laporan dari kelompok pengintai. Laporan ini berisikan bahwa terdapat beberapa pergerakan yang dilakukan Cassiopeia bahwa mereka menyiapkan beberapa Golem bahkan artefak teleportasi massal.
Ketika dia memfokuskan segalanya ke laporan tersebut, terdapat seseorang yang memasuki ruangannya setelah mengetuk pintu. Sesosok manusia laki-laki dengan telinga kelinci di kepalanya, dia membawa sebuah ramuan dalam botol kecil dan membawa makanan ringan sebagai pengganjal.
“Vitnir, aku ingin kau mengetes ramuan peningkat mana ini.”
Ucap laki-laki tersebut, Vitnir yang tengah duduk di meja kerjanya langsung saja meletakkan lembaran kertas laporan yang dia baca lalu beranjak dari tempat duduknya. Dia menghampiri laki-laki bertelinga kelinci itu lalu mengajaknya keluar dari ruangannya.
Berjalan bersama di lorong yang panjang, laki-laki bertelinga kelinci itu teralihkan perhatiannya kepada Vitnir yang tiba-tiba diam dan memikirkan sesuatu.
“Kau baru pulang dari misi, apa ada yang mengganggumu?”
“Hmm? Tidak juga, aku sedikit terganggu dengan pergerakan musuh yang sekarang. Bagaimana dengan pertahanan di daerah Blue Land? Dan satu lagi, kita harus memberi hadiah kepada Puteri Onioshi yang sudah membantu kita.”
“Semuanya sudah diatur, ngomong-ngomong ada tamu untukmu. Dia menunggu di ruang pertemuan.”
__ADS_1
“Tamu? Baiklah, tolong urus sisanya.”
“Siap.”
Mereka berdua berpisah, Vitnir pergi ke tempat pertemuan dan setiap ada pasukan yang berjaga mereka memberi hormat kepadanya dan begitu pula Vitnir melambaikan tangannya. Berdiri di depan pintu pertemuan yang dijaga oleh satu orang, penjaga itu membuka pintunya dan Vitnir melihat sosok perempuan berambut putih panjang dengan telinga yang panjang dan runcing.
Tubuhnya dilengkapi dengan zirah besi lengkap tanpa helm, pedang yang tidak disarungkan di atas meja dan sosok Elf itu bernama Julia dengan julukan Julia The Grey.
Vitnir melangkahkan kakinya, memasuki ruang pertemuan di mana ruangan pertemuan ini terdapat meja panjang di tengah dan dilengkapi sepuluh kursi. Julia menyambut kedatangannya, Vitnir segera duduk berhadapan untuk mendengarkan keperluannya ke tempat ini.
“Apa keperluan Jenderal Raja Iblis di tempat ini? Garis pertahanan di Asteria saat ini sudah membaik.”
“Ya, aku sudah mendengarnya. Tetapi kenapa kau mengenakan perlengkapan perangmu di daerah bersalju seperti ini? Apakah tidak dingin?”
“Tenang saja, sebentar lagi aku akan pulang. Setidaknya tumbuhkan satu pohon yang berukuran cukup besar, melakukan perpindahan tempat di pohon yang ada di luar sangat merepotkan.”
Ucapan dari Julia yang cukup membingungkan membuat Vitnir lupa bahwa Julia dapat berpindah tempat seperti teleportasi dengan memasuki Hutan Keabadian menggunakan pohon.
Vitnir pun membalas penjelasan Julia dengan menceritakan bahwa pasukan pengintai dari Asteria yang ada di Cassiopeia menyiapkan pasukan Golem dan makhluk buas terkurung.
Pertukaran informasi ini akhirnya mereka sadari artinya, kemungkinan besar yang akan diserang bukanlah Asteria dan Blue Land. Invasi menggunakan Golem dan makhluk buas berarti melibatkan penghancuran dengan serangan telak, maka serangan dari pihak musuh akan sangat sulit diantisipasi.
“Sepertinya aku baru mendengar kabar buruk, tapi terima kasih dengan itu. Julia The Grey, bolehkah aku bertanya hal pribadi kepadamu?”
“Hmm? Baiklah, tanya saja padaku. Akan kujawab semampuku.”
Jawab Julia, Vitnir agak malu untuk menanyakan sebuah pertanyaan kepadanya. Julia cukup bingung kenapa Vitnir tiba-tiba diam dengan pipi merona kemerahan.
“Yugo ... bagaimana dengan keadaannya? Ngomong-ngomong aku tidak mengkhawatirkannya atau apa. Yang jelas aku hanya ingin mengetahui sosok yang membantu Asteria bersama dengan Puteri Onioshi.”
“Keadaan Yugo? Dia baik-baik saja dan selalu penuh semangat di garis depan. Ah! Jika berkaitan dengan Yugo, aku mendengar sesuatu tentang Vinessa.”
__ADS_1
Ketika Julia menyebut nama Vinessa, Vitnir mengernyitkan dahinya dan ia menyembunyikan rasa kesal dan marahnya dengan senyuman.
“Saat ini Vinessa sedang mengandung anak dari Yugo, aku terkejut bahwa hubungan mereka sudah sejauh itu. Sialan, aku ingin sekali melihat anak mereka berdua.”
Julia menjelaskannya dengan semangat yang terpampang jelas di wajahnya. Tetapi Vitnir yang mendengar penjelasannya tiba-tiba terdiam dengan pandangan kosong, Julia menyebut namanya berkali-kali namun Vitnir tidak merespon.
Akhirnya Julia beranjak dari tempat duduknya, berjalan menghampirinya yang tiba-tiba diam. Melihat sosoknya yang duduk terdiam dengan mata terbuka namun terlihat kosong.
“Ah ... dia pingsan.”
* * * * *
Kiijo bersiap-siap untuk berangkat menuju sebuah daerah bersalju bersama pasukannya yang berjumlah seratus orang dan mereka terlatih. Mengenakan topeng, jubah, serta membawa tombak dengan bagian ujungnya diberi seperti pengait.
Ketika dia bercermin di ruangannya, sebuah ketukan pintu yang telah terbuka terdengar. Ia berbalik badan lalu menoleh dan terdapat Doro yang tengah berdiri di tengah pintu dengan seragam perangnya yang berwarna hitam.
“Kau akan berangkat lagi? Sampaikan salamku kepada Yugo.”
“Jangan salah sangka, kami diberi perintah oleh Cassiopeia untuk pergi menuju daerah bersalju. Kemungkinan besar orang itu tidak akan muncul, aku akan segera kembali dengan cepat.”
“Sera ... apakah kau sudah menemuinya?”
Tanya Doro, Kiijo yang mendengarkan pertanyaan darinya terdiam sebentar lalu membuka topengnya. Dia berjalan menghampiri Doro dengan tangan kiri membawa tombaknya.
“Tolong jaga dia, aku mengandalkanmu saudaraku.”
Ucap Kiijo yang berdiri di hadapannya, ia mengenakan kembali topengnya lalu Doro menyingkir dari depan pintu. Sebelum melewatinya, Kiijo menepuk pundak Doro lalu pergi meninggalkan ruangannya.
Doro yang melihat punggungnya perlahan-lahan sosok Kiijo semakin menjauh. Dia tahu, Kiijo terpaksa melakukan ini untuk negeri ini agar terlepas dari incaran Kerajaan Cassiopeia dan yang lainnya.
Seharusnya tugas itu miliknya, tetapi Kiijo yang mengambil alihnya seorang diri sehingga Doro tidak mempunyai kesempatan. Dia yang harus menjaga negeri ini bersama sisa pasukan yang dibawa oleh Kiijo, karena di tempat ini ada banyak penduduk yang menginginkan kebahagiaan.
Doro berjalan di lorong yang sama seperti Kiijo, Sera bersembunyi di persimpangan di lorong ini dan mereka berdua mendengar percakapan antara dua saudara itu. Sera yang merupakan teman masa kecil Kiijo pun mengejar derajat yang sama, sehingga dia menjadi pasukan tetapi Kiijo selalu melarangnya untuk berperang.
“Apa yang harus kulakukan ... ”
__ADS_1
To Be Continue ....