
Julia bersama dua regu pasukannya tergabung menjadi satu kelompok. Leon yang merupakan wakil dari Julia meski hanya sementara, mati-matian melawan pasukan Cassiopeia yang berada di sekitar gerbang yang berlubang.
“Tunjukkan semangat kalian! Kita akan menang!”
Seru Julia seraya mengangkat pedangnya, pasukannya serta Leon menjawab panggilannya lalu mengangkat pedang mereka. Serangan sihir dari arah depan, merupakan anak panah yang diluncurkan melewati segel sihir dan membuat anak panah biasa itu terlapisi sihir.
Dua anak panah mengarah kepada Julia, dia mengayunkan pedangnya mematahkan dua anak panah tersebut. Pasukan yang lainnya menghindari dan melakukan hal yang sama seperti Julia, namun ada beberapa orang yang terkena tembakan dan mereka tewas seketika.
Efek dari anak panah itu ada yang beracun, meledak, dan menembus. Jika mereka terus bertahan maka kemungkinan terbesarnya adalah kalah dihujani oleh anak panah.
Sebelum Cassiopeia melakukan teleportasi massal pada pasukannya yang telah siap siaga. Itu akan sangat berbahaya, Julia maju sendirian melewati berbagai anak panah yang meluncur ke arah mereka.
Berlari dengan menghindari berbagai anak panah adalah hal mudah baginya. Julia dapat melihat arah laju anak panah itu, menghindarinya satu persatu lalu menerobos adalah pilihan terbaik.
Dia melompat, menyiapkan pedangnya di ayunan pertama bagian kanan yang membuat dua pasukan pemanah kepalanya terpenggal. Mendarat dengan zirah besi berat yang dipakainya, sebuah anak panah melesat ke arahnya dan Julia tidak bisa menghindarinya.
Ia menebas anak panah yang melesat ke arahnya, tetapi meledak secara tiba-tiba dan membuatnya terhempas. Pedang yang digenggam dengan tangan kanan terlepas, Julia masih terkapar dengan kondisi tubuhnya yang sudah lelah.
Julia mendengar teriakan manusia, ia segera bangkit dengan hidung yang mengeluarkan darah. Ketika melihat secara jelas, pasukannya telah menerobos dan membunuh pasukan pemanah serta pasukan penyihir yang mereka bunuh sebelum menyerang.
“Sial ... aku ingin tidur ... ”
Julia tidak bisa menahan tubuhnya, ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Mengambil napas panjang, tangan kiri bergeming dan terasa berat apalagi kedua kakinya. Leon serta pasukannya menghampiri dirinya dan mengelilingi, untuk sekarang mereka menyerahkan apa yang ada di dalam kawasan kepada Yugo dan satu Golem raksasa berwarna hitam.
Yugo meneriakkan nama Doro, Golem raksasa itu menoleh ke bawah dan terdapat Yugo yang terlapisi zirah Naga Terkutuk. Doro melepas pedangnya yang ada di tangan kanan, menurunkan tangannya dan mengangkat Yugo yang menaiki telapak tangannya.
“Doro, kau semakin kuat saja. Tubuh besarmu ini bukan untuk pamer saja bukan!?”
“Seperti yang kuharapkan dari sosok Jenderal Raja Iblis. Mengalahkan Golem raksasa milik Cassiopeia adalah hal mudah bagimu, kita selesaikan sekarang.”
“Ya!”
__ADS_1
Doro mengarahkan tangan kanannya ke belakang lalu mengepal sedikit dengan Yugo pada posisi berjongkok. Ia mengayunkan tangan kanannya dengan cepat ke arah salah satu Golem raksasa musuh, Yugo yang ada di dalam kepalan tangannya meluncur dengan cepat menembus dada Golem raksasa musuh dengan tendangannya.
Golem yang satunya lagi menyerang Doro menggunakan meriam sihir, ia mengangkat perisainya dengan cepat sehingga meriam sihir itu dapat ditahan. Yugo yang masih meluncur dengan cepat mengubah laju terbangnya menggunakan celah di punggungnya dan memiliki efek dorongan dari melepaskan mana secara langsung.
Dia meluncur kembali dan menembus pertahanan Golem raksasa dari belakang dan tendangan lurusnya menembus dada Golem raksasa dan inti dari Golem itu dihancurkan olehnya. Dua Golem yang tersisa kini telah diatasi, Doro mengangkat tangan kanannya lalu menangkap Yugo yang terbang ke arahnya dengan cepat.
“Kerja bagus, Yugo.”
“Ya ... ”
Doro menurunkan Yugo yang ada di telapak tangannya, tubuh besar Doro mulai mengecil dan perlahan-lahan wujudnya kembali menjadi semula. Dia terjatuh dengan dua tangan yang menopang tubuhnya, kesulitan bernapas dan ia kehabisan tenaga serta mana.
Yugo berjalan ke arahnya, berdiri di belakangnya lalu memukul dadanya dengan tangan kanan. Zirah Naga Terkutuk yang ia pakai remuk dan hilang terbawa angin, dia memutuskan untuk berbaring di atas permukaan tanah.
Bau darah tercium dari pakaian Yugo, Doro yang menyadarinya menanyakan keadaannya. Meski dilihat sekilas pun, perlahan-lahan luka Yugo mulai sembuh dan ia menutup kedua matanya.
“Bukankah kau tadi bersama Kiijo? Di mana dia?”
Tanya Doro seraya menoleh ke belakang, Yugo membuka kedua matanya dan tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya. Kiijo saat ini tengah berkabung, sosok wanita yang ia sayangi dan keluarganya telah berlalu.
Penduduk telah dievakuasi, yang tersisa saat ini hanyalah rumah penduduk kosong dan hancur lebur. Beberapa Golem yang tidak aktif bisa dijadikan bahan baku, Yuina akan senang jika Yugo membawanya pulang.
“Doro ... aku sudah lama mengatakan hal ini kepada Kiijo. Bergabunglah bersama kami ... ”
Ucapan dari Yugo membuat Doro terdiam melihatnya, dia tidak bisa menjawabnya karena keputusan saat ini sangatlah penting. Keadaan negeri ini yang sudah diserang menimbulkan dampak yang sangat besar, jika mereka bergabung maka nasib mereka bisa diperbaiki kembali.
Serangan dari Cassiopeia tidak dapat diprediksi oleh mereka, kesalahan. Kehilangan seseorang di masa-masa seperti ini tidaklah aneh, karena setiap makhluk hidup ditakdirkan untuk mati.
“Kau tidak menjawabnya ya ... baiklah. Doro, tenangkan Kiijo di belakang kastil. Saat ini aku hanya akan menjadi pengganggu, tetapi jika itu kau akan kuserahkan padamu. Untuk sekarang ... ”
Yugo mulai bangkit, mengubah posisinya dari berbaring menjadi berdiri. Doro cukup terkejut karena keadaannya sudah pulih, Yugo meregangkan tubuhnya yang pendarahan dialaminya mulai berhenti.
“Kami akan menerima kalian, jika sudah diputuskan datang saja.”
__ADS_1
Yugo berjalan menjauhinya, cahaya matahari menyilaukan pandangan matanya dan ia menutupi sebagian dahinya menggunakan tangan kanan. Doro bangkit dan berjalan dengan arah yang sebaliknya, dia penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Yugo tentang menenangkan Kiijo di belakang kastil.
Doro sudah menduganya tetapi tidak ingin mempercayainya, berlari untuk mempercepatnya lalu melompati batuan terjal dan segera melewati kastil. Dari kejauhan terlihat pasukan dengan seragam mereka yang berwarna lambang Kerajaan Cassiopeia terkapar dan darah mewarnai permukaan.
Doro berlari menghampiri, terdapat sosok seorang pria bertanduk tengah menangis memeluk seorang wanita. Melihat ke sekitar, anggota keluarganya telah terbujur kaku dan tatapan Doro mulai hilang harapan.
“Sial ... sialan ... ”
Doro mengutuk dirinya sendiri, Kiijo berteriak keras bahkan suaranya terdengar oleh Yugo yang tengah berjalan menuju benteng berlubang. Menoleh ke belakang, dia berharap Kiijo bergabung bersama mereka untuk melawan Cassiopeia serta kerajaan lainnya yang ingin memusnahkan mereka.
Yugo berjalan melewati benteng berlubang, dirinya sudah ditunggu oleh Julia serta sisa pasukan yang tersisa sekitar dua belas orang termasuk Leon. Julia yang menaiki kuda menghampiri Yugo, mengulurkan tangannya dan menarik lengan Yugo untuk menumpang di kuda miliknya.
“Terima kasih kalian, tetapi dari mana kalian tahu? Apakah ada yang memberitahu kalian?”
“Entahlah ... kami hanya bergerak sesuai keinginan kami. Kita pulang, garis pertahanan membutuhkan bantuan.”
* * * * *
Puteri Onioshi tengah duduk di ruangan miliknya bersama beberapa rekannya. Terdapat Jizaf yang tengah bermain-main bersama dengan kucing hitam bersayap miliknya, melirik ke arah Puteri Onioshi yang terlihat gelisah setelah melihat hasil ramalannya di atas meja.
“Ada apa? Apakah ada hal buruk yang akan terjadi?”
Tanya Jizaf seraya berjalan menghampirinya, kucing yang bermain-main dengannya terbang lalu pergi ke tempat lain di atas kursi samping kanan Puteri Onioshi duduk.
“Ya, ini benar-benar di luar dugaanku. Akan ada perang besar yang terjadi.”
“Perang besar? Perang selalu terjadi di berbagai tempat apalagi kerajaan yang terhasut oleh gereja bersikeras memusnahkan makhluk lain selain manusia kecuali Elf dan beberapa ras.”
Ucap Jizaf, ruangan ini cukup berisik dipenuhi oleh orang-orang yang tidak tahu adat. Wajar saja, negeri yang diperintah oleh Puteri Onioshi meski gelar yang seharusnya Ratu Onioshi merupakan negeri yang membebaskan mereka melakukan segala hal dan terdapat aturan keras.
Banyak yang mematuhinya, kerasnya hukum di sini sangat dihormati oleh orang luar bahkan penduduk yang ada di sini. Aturan yang dipakai merupakan hukuman fisik, mau mati atau tidak itu urusan kejahatannya.
Puteri Onioshi beranjak dari tempat duduknya, memerintahkan Jizaf untuk membereskan hasil ramalan di atas meja untuk dibuang karena bahan-bahannya sudah dipakai dan tidak dapat digunakan kembali. Jizaf pergi dari ruangan bersama kucing hitam bersayap, Puteri Onioshi memutuskan untuk memanggil bantuan kepada beberapa Naga yang dikenalnya.
__ADS_1
“Aku harap ... mereka tidak menghancurkan dunia ini ... ”
To Be Continue ....