
Dalam seminggu ini, Liese melatih para Iblis baik laki-laki maupun perempuan untuk meningkatkan kekuatan tempur. Selamat seminggu ini, Rindou mendapatkan beberapa kemampuan yang dia serap dari beberapa monster.
Seperti Varsi, Guiles, Fallen Dryad serta Alraune. Hanya empat monster itu yang kekuatannya dapat diserap olehnya, ketika dia mencoba untuk menyerap lebih banyak Companion tidak bereaksi sama sekali dan mungkin saja batasan untuk tubuhnya saat ini hanya sampai itu.
Kehidupan di tempat ini sudah membaik, apalagi para Iblis yang lemah sudah mendapatkan kembali kekuatannya serta peningkatan fisiknya drastis dari pada manusia kebanyakan. Dengan ini, Rindou berniat untuk pergi menuju anak Kerajaan Cassiopeia yaitu sebuah Kerajaan dengan nama Karm.
Rencana yang ia lakukan adalah misi penyelamatan, sehingga dibutuhkan sedikit orang untuk memasuki Kerajaan Karm. Tentu saja niat Rindou hanya membawa Liese saja, jika ada banyak orang maka rencananya mungkin akan gagal.
Malam harinya ...
Rindou dan Liese mendiskusikan rencana penyelamatan yang akan dilakukannya. Informasi mengenai letak Kerajaan Karm, wajah Julia serta Lecia sudah dia lihat melalui lukisan salah satu Iblis yang menghuni pemukiman ini. Sisanya tinggal bergerak saja, mereka berdua berniat menyelinap pergi pagi sekali esok hari.
“Rindou, kau yakin hanya kita berdua yang pergi?”
“Tentu saja, mereka terlalu banyak menderita dan jika mereka ikut mungkin saja mereka akan mengorbankan nyawanya hanya untukku. Ini lebih baik.”
“Baiklah ... ”
Suara langkah kaki terdengar di belakang mereka berdua. Terdapat Hugo yang perlahan-lahan berjalan ke arah mereka berdua, dari ekspresinya yang bimbang sepertinya dia menguping pembicaraan Rindou dan Liese.
“Rindou ... Liese ... bolehkah aku ikut bersama kalian?”
Tanya Hugo, perlahan-lahan ia turun lalu bersujud di hadapan Rindou dan Liese. Dia sangat ingin sekali ikut, dia juga tahu bagaimana wajah Julia serta Lecia yang ditawan dan mungkin saja dia akan berguna.
“Seperti yang sudah direncanakan Hugo. Hanya kami berdua saja yang akan pergi, tetapi jika kau tetap memaksa ... aku tidak bisa bertanggung jawab akan nyawamu.”
“Aku sudah siap untuk itu. Aku hanya ingin melihat Lecia dengan mata kepalaku sendiri.”
Hugo mengubah posisinya menjadi berdiri, sepertinya Rindou paham akan perasaan Hugo yang sudah greget sejak dulu. Maka dari itu, ia menyentuh pundak Hugo kemudian mengembalikan kekuatan naga yang ia miliki di dalam tubuhnya.
“Kekuatanmu sudah kukembalikan, jangan sampai mati ... Hugo.”
“Ya ... terima kasih Rindou.”
Senyuman yang ia tampakkan begitu mengandung begitu banyak arti. Senyuman tulus untuk melakukan sesuatu dengan segenap tenaganya adalah suatu hal yang patut dibanggakan, dia berjuang untuk mendapatkan kembali orang yang dicintainya.
* * * * *
Seperti yang direncanakan, mereka bertiga segera pergi menuju Kerajaan Karm yang jaraknya satu hari penuh jika menggunakan kuda. Namun mereka juga meningkatkan fisik mereka dengan sihir, apalagi fisik Hugo sudah terbentuk dan dia juga memiliki teknik berpedang tidak kalah hebatnya hingga Rindou hanya menang satu kali dengan kekalahan dua puluh kali.
__ADS_1
Dua kuda yang sebelumnya dibawa oleh Rindou telah dijual, uang tersebut digunakan untuk membeli bahan makanan bagi pemukiman ini. Karena itu, tidak ada cara lain selain berlari menuju Kerajaan Karm saat ini juga.
Perjalanan mereka tidak ada gangguan sama sekali. Pergerakan mereka semakin cepat karena memotong jalan, rute yang dilalui merupakan jalan pelarian yang pernah dilewati oleh Hugo serta Iblis yang lainnya ketika pembantaian terjadi.
* * * * *
Seorang penjaga berlari menuju atasannya yang tengah meminum minuman keras bersama dengan atasan yang lainnya. Ia melaporkan bahwa terdapat penyusup berjumlah tiga orang memasuki Kerajaan ini dengan menyelinap, Kerajaan Karm telah dipasangi sebuah alat sihir untuk mendeteksi orang asing yang menyelinap masuk sehingga keberadaan tiga penyusup itu sudah diketahui.
“Setelah sekian lamanya tidak ada tikus yang berani. Baiklah, bunuh para penyusup itu dan bakar mayat mereka di depan umum.”
Ucap salah satu atasan, dua orang sisanya yang merupakan Pemimpin dalam bidang tertentu setuju atas usulannya. Penjaga tersebut menerima perintah tersebut, namun terdapat sesosok perempuan yang tiba-tiba datang dari balik tirai.
“Tunggu sebentar, biar aku saja yang menangani para penyusup itu.”
“Tidak perlu, Pahlawan seperti anda tidak perlu melakukannya, biarkan para bawahan yang menanganinya.”
“Keputusanku tidak akan berubah.”
Ucap perempuan tersebut lalu menutup kembali tirai yang dibuka olehnya dan suara langkah kakinya terdengar menjauh. Tiga pria tua yang tengah meminum minuman keras tersebut tertawa terkekeh.
“Wanita keparat, jika saja dia bukan pemegang pedang suci. Akan kugerayangi tubuhnya lalu kunikmati setiap inci dari tubuhnya, aku ingin sekali mendengar desahan dan erangannya yang selalu bertingkah angkuh.”
“Kejam sekali kalian berdua, aku yang harus menangani mayat mereka dan membuangnya ke sarang para monster.”
Ya, percakapan tiga Pemimpin tersebut memiliki topik sadis yang bukan main. Kekuasaan yang mereka dapatkan digunakan sesuka hati mereka, tidak peduli apa kata orang asalkan ia memiliki pengaruh dan kekuasaan mereka dapat menyingkirkan siapapun.
* * * * *
Rindou, Liese, dan Hugo menyusup di malam hari karena saat ini adalah waktu yang pas untuk bergerak. Mereka berpisah menjadi dua kelompok, Rindou seorang diri sedangkan Liese bersama dengan Hugo menuju penjara bawah tanah di mana Julia The Grey dan Lecia ditawan.
Sedangkan Rindou menunggu mereka berdua pergi terlebih dahulu, seraya melambaikan tangannya ia menunjukkan senyuman kecilnya. Karena ia sudah tahu, dia sudah diawasi oleh seseorang dari belakangnya saat ini.
Hawa pembunuh yang dikeluarkannya sangat terasa, bulu kuduk Rindou saja bisa berdiri hanya dapat merasakan aura pembunuhnya. Seorang perempuan dengan gaya rambut dikepang, membawa sebuah pedang jenis rapier yang tergantung di pinggang sebelah kiri.
Rindou berbalik badan, sosok tersebut berhenti tujuh meter dari posisi Rindou saat ini. Tanpa ada sepatah kata pun yang ia keluarkan, perempuan tersebut menghunuskan rapier miliknya dan secara reflek Rindou menghunuskan pedang yang ada di punggungnya.
“Namaku Clarisse, aku yang akan menjadi lawanmu.”
“Sopan sekali, jadi kedatangan kami sudah diketahui ... sial sekali.”
__ADS_1
“Tenang saja, teman-temanmu akan menyusulmu.”
Ucap Clarisse, setelah percakapan singkat tersebut mereka berdua mengambil posisi bertahan dan menyerang. Dengan sekejap, Clarisse berlari menuju Rindou lalu mengayunkan rapier-nya dengan celah yang lebar.
Kesempatan, seraya menghindarinya dengan mundur maka Rindou pun memutar tubuhnya lalu mengayunkan pedangnya menuju perut Clarisse. Seharusnya itu yang terjadi, namun Clarisse dapat mengayunkan rapier-nya kembali dengan cepat.
“Sial! Cepat sekali!”
Rindou tidak bisa menghindari serangan Clarisse, dia menggunakan tangan kirinya yang dilapisi pelindung tangan namun dadanya masih terkena bilah rapier-nya. Rindou berniat mundur sebentar dengan cara melompat ke belakang, namun Clarisse sudah memprediksi pergerakan Rindou dan ia pun melompat ke depan seraya mengayunkan rapier-nya.
Dengan kurun waktu yang cepat, Liese melukai dada Rindou hingga darahnya muncrat cukup banyak dan membasahi tangan kiri Clarisse dengan darahnya. Clarisse mengambil posisi berdiri dengan pedang ke depan, ia menunggu Rindou untuk bangkit kembali.
“Aku kira kau kuat, namun kau mengecewakanku. Akan kubunuh kau tanpa rasa sakit.”
“Sialan, baru kali ini aku dipermalukan oleh perempuan cantik sepertimu.”
Ucap Rindou seraya menunjukkan senyumannya yang dipaksakan. Luka yang ada di dadanya terasa seperti sentuhan listrik, sepertinya ia mengerti kenapa Clarisse dapat bergerak dengan cepat.
“Kau menggunakan sihir atribut listrik untuk melakukan akselerasi dengan cepat. Tidak mungkin manusia sepertimu mengayunkan dua kali rapier dengan cepat dalam satu detik, rapier serta tubuhmu mengandung listrik.”
“Ooh ... kalau kau sudah tahu akan hal itu kau mau apa? Orang lemah sepertimu hanya bisa menjadi pijakan orang lain.”
“Sepertinya aku menyinggungmu. Baiklah, namaku Rindou dan ingatlah kata-kataku ini ... kau tidak seharusnya meremehkan orang lain.”
Percakapan kecil mereka selesai, luka di dada Rindou mulai pulih kembali dan ia mengambil posisi menyerang. Meningkatkan fisiknya menggunakan Overflow, ia bergerak dengan cepat lalu mengayunkan pedangnya secara horizontal.
Clarisse dengan posisi siap menunggu kedatangan Rindou. Namun, kecepatannya semakin tinggi dari pada sebelumnya hingga serangan Rindou yang belum sampai padanya pun sudah kalah telak.
Ayunan rapier Clarisse sangat cepat dan Rindou kalah cepat. Darahnya muncrat dan dadanya tersayat kembali untuk kedua kalinya, namun Rindou tersenyum kecil karena rencana dadakannya berhasil tanpa disadari Clarisse.
Terdapat bola api tercampur aliran listrik yang mengarah kepada Clarisse dan sudah tiba di depannya saat ini. Namun ayunan keduanya cukup melambat karena ia mengerahkan kekuatan serta kecepatannya diayunan pertama untuk menyerang balik Rindou.
“Meremehkan ya ... ”
*Blarr
To Be Continue .....
__ADS_1
concept art Clarisse