The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
31. Retreat


__ADS_3

“Apa!? Pahlawan yang sudah dikirim telah dikalahkan!?”


“Ya, itu benar yang mulia.”


Di Kerajaan Karm terdapat berita yang membuat gempar, Pahlawan yang dikirim untuk membasmi hama yaitu Rindou dan yang lainnya telah dikalahkan.


Meski mereka disebut dengan Pahlawan, mereka hanyalah orang-orang berbakat yang membantu perang ketika melawan Raja Iblis terdahulu. Ketika selesai, mereka mengakui dan ada juga yang diakui bahwa mereka itu bergelar Pahlawan.


“Bagaimana dengan Pemimpin mereka!?”


“Ya, saat ini Pahlawan Clarisse sedang mengejar mereka.”


“Clarisse ya ... pemegang Pedang Suci yang memiliki kecepatan tinggi. Baiklah, pergilah dari hadapanku.”


“Baik yang mulia.”


Jenderal dari batalion prajurit Kerajaan Karm itu undur diri dari hadapan sang Raja yang berdiri di depan singgasana. Menghela napas, ia duduk kembali di singgasana miliknya.


“Para Iblis itu masih hidup, mereka harus dimusnahkan dari muka bumi ini tanpa tersisa.”


* * * * *


Satu hari telah berlalu, kelompok Rindou masih dikejar oleh Pahlawan dari Kerajaan Karm. Namun mereka tidak tahu, prediksi mereka telah meleset.


“Hugo, ngomong-ngomong usiaku sebenarnya yaitu dua puluh satu tahun.”


Hugo dan yang lainnya tengah makan di atas dua tangan Golem raksasa, tiba-tiba terdiam karena perkataan secara tiba-tiba dari Rindou. Hugo berpikir berarti dia dan Rindou berbeda satu tahun, yang berarti Rindou lebih tua darinya.


“Penampilanmu itu seperti anak remaja berusia delapan belas tahun, jangan-jangan kau ini berjiwa muda?”


“Oh? Ketahuan ya?”


Yuina yang duduk di atas kepala Golem memantau ke sekeliling daerah ini, tidak ada manusia satupun dan hanya ada beberapa monster yang tidak terlalu berbahaya. Jika tingkat bencana muncul, itu akan sangat berbahaya.

__ADS_1


Ketika Raja Iblis masih berjaya, terdapat banyak tingkat bencana yaitu monster yang tingkat kekuatannya lebih tinggi. Meliputi berbagai aspek seperti roh, monster, makhluk pemanggilan, dan kutukan.


“Yuina, kau tahu sosok orang tuaku?”


“Hmm? Aku tidak begitu tahu, Kakakku dan Kiijo adalah anggota Kelompok Pemusnah yang membasmi tingkat bencana. Ada lima orang dalam kelompok itu, ketuanya adalah Kakakku dan mereka semua adalah orang-orang terkutuk.”


“Begitu ya, asal usulku masih menjadi misteri. Orang tua angkatku yang ada di dunia sebelumnya juga mengatakan hal yang sama, mereka menemukanku ketika masih bayi di dalam hutan. Dengan kata lain, satu tahun sebelumnya di dunia ini kedua orang tuaku memindahkanku ke dunia lain. Ironisnya Raja Iblis malah memanggilku ke dunia tempat asalku, ilmu yang kudapatkan sangat berguna di dunia ini.”


Setelah penjelasan dari Rindou, ia meminum air satu gelas dan meletakkannya kembali. Beranjak dari tempat duduknya lalu meregangkan tubuhnya untuk melakukan hal yang gila.


“Yuina, suruh Golem ini menunduk sekarang juga!”


Perintah dari Rindou langsung dilakukan oleh Yuina, Golem itu menunduk dengan posisi dua tangan seperti berdoa karena Rindou dan yang lainnya ada di atasnya.


Dalam sekejap, terdapat tembakan sihir api berlapis listrik melesat dari jarak jauh. Hugo terdiam menganga melihatnya, ia menelan ludahnya karena kagum akan Rindou yang menyadari serangan tersebut dari jarak jauh.


“Yuina, kau urus pertahanan dari sihir jarak jauh itu yang kemungkinan besar dari senjata suci. Bersiaplah, jangan sampai mati.”


* * * * *


“Bagaimana keadaannya, apakah mereka masih mengejar?”


“Ya, namun pasukan kecil telah kami kalahkan dan tidak ada yang menjadi korban. Para Iblis yang ada di sini telah mendapatkan kembali kekuatannya dari rekan yang telah gugur memberikan kekuatan mereka kepada kami.”


Ucap Iblis berzirah besi lengkap dengan tubuhnya yang tertutup jubah robek berwarna merah. Iblis itu memandu Julia ke tempat di mana Yuuza dan Kiijo berada, mereka terbaring di atas kain yang disebar di atas permukaan rumput.


Julia menghampiri Kiijo, duduk di sebelahnya lalu mengambil jantung dari dalam kotak harta kecil yang dibawa olehnya. Sambil berharap, ia memasukkan jantung itu ke dada Kiijo yang terbelah.


Tidak ada tanda-tanda kehidupan maupun reaksi, satu menit telah berlalu dan Julia tetap menunggumu keajaiban. Ia melupakan satu hal, darahnya yang sepertiga merupakan Elixir ia minumkan kepada Kiijo setelah mengiris telapak tangannya.


Tubuhnya bereaksi dengan sel-sel yang kembali beregenerasi, dadanya yang robek mulai menutup dan jantungnya mulai menyambungkan saraf-saraf serta organ lainnya kembali berfungsi. Iblis yang ada di sekitarnya kagum dengan kehebatan Julia, mereka mundur selangkah karena perintah dari Julia.


Tanpa aba-aba, Kiijo langsung membuka matanya lalu berguling-guling dan mengubah posisinya menjadi berdiri dengan kedua tangan yang sudah siap untuk bertarung.

__ADS_1


“Siapa kalian!? Jawab aku!”


Penglihatan Kiijo masih belum sepenuhnya pulih karena sel-selnya masih beregenerasi dan darahnya belum menyebar seluruhnya. Sosok Julia buram, ia menyuruh Kiijo untuk tenang dan memberinya waktu lima menit agar kondisi tubuhnya pulih.


Lima menit berlalu dengan Kiijo duduk bersila, ia membuka kedua matanya dan dunia sudah terlihat jelas. Aroma tanah, angin yang melewatinya serta cahaya mentari yang menyilaukan matanya.


Memandangi kedua telapak tangannya, ia menggebrak permukaan tanah dengan sekuat tenaga yang membuat Julia terkejut. Dia juga mengerti akan kekesalan Kiijo saat ini, mereka telah gagal untuk melindungi.


“Sialan! Sialan! Maafkan aku Yugo! Vinessa! Hao! Yuuza! Aku gagal!”


Ia terus menggebrak tanah untuk melimpahkan kekesalannya, Julia menyuruh Iblis berzirah yang ada di sekitarnya untuk berkumpul kembali karena mereka akan pergi ke tempat pertemuan mereka yaitu Blue Land.


“Kiijo tenangkan dirimu, kita memang gagal namun kau telah menyelamatkan banyak nyawa.”


Julia menenangkannya dan ia memegangi tangan kiri Kiijo yang mengenakan sarung tangan baja. Kiijo memalingkan wajahnya dan mengeluarkan sedikit air mata, ia benar-benar kecewa kepada dirinya sendiri.


“Sialan, aku tidak bisa melindungi anak Yugo. Bahkan dia mengorbankan nyawanya meski keabadian dari kutukannya direnggut, sialan. Julia, bagaimana dengan keadaan dunia saat ini?”


“Ya, satu tahun telah berlalu. Setelah itu aku dikurung di penjara terdalam, namun ada pria baik yang telah menyelamatkanku. Karena itu Kiijo, mari kita berkumpul kembali.”


Ucapan dari Julia membuat harapan baru untuk Kiijo yang telah gagal, dia bangkit bersama Julia yang ada di sisinya. Menoleh ke samping kirinya yang terdapat Yuuza, ia merapal sebuah sihir yang memunculkan lapisan segel sihir di atas tubuh Yuuza.


Pecah berkeping-keping, Yuuza membuka kedua matanya dan ia melihat sosok Kiijo serta Julia yang tengah menatapnya. Yuuza ingin mengucapkan selamat pagi, namun dia mengurungkan niatnya karena situasi saat ini tidak mendukung sama sekali.


Ia mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk, Julia memijat bahunya yang sedikit kaku karena sudah setahun waktu bagi Yuuza telah berhenti. Menghirup napas cukup dalam, menghembuskannya kembali.


“Yuina, Adikku ada di mana sekarang ini?”


“Tenanglah Yuuza, Yuina saat ini sedang menuju Blue Land sama seperti tujuan kita saat ini. Mereka aman karena bersama Hugo dan yang lainnya.”


“Begitu ya, kita tidak perlu membuang-buang waktu lagi. Saatnya pergi.”


To Be Continue .....

__ADS_1


__ADS_2