
Kerajaan Karm yang mendapatkan kabar bahwa Assassin mereka telah dihabisi tanpa membunuh satu orang pun penyusup. Tentu saja, para Perdana Menteri kehilangan muka dan mereka hanya bisa gigit jari setelah dimarahi habis-habisan sampai diancam dengan hukuman mati oleh Raja Karm.
Dengan kemarahannya, dia memerintahkan Pahlawan Rapier Clarisse bersama dengan satu peleton pasukan Kerajaan Karm untuk menghabisi nyawa para penyusup. Bahkan, dia juga memerintahkan agar mereka membasmi sisa Iblis serta Julia The Grey.
Perintah tersebut diterima oleh Clarisse, ia juga memiliki alasan tersendiri untuk melawan lagi Rindou yang sudah ia remehkan sebelumnya. Karena itu, ia berniat bertarung dengan serius untuk menghormati musuh yang berani melawannya apalagi Rindou bisa kabur.
* * * * *
“Anying dada gua sakit.”
Ucap Rindou secara tiba-tiba ketika ia memakan sarapannya. Liese serta Julia yang ada di sampingnya sama sekali tidak mengerti dengan kata-kata gaul yang ia ucapkan. Seperti biasa, Lecia dan Hugo masih pagi sudah ngebucin.
“Rindou, boleh aku menanyakan sesuatu padamu?”
“Ada apa Mbakyu Julia?”
“Kau menjalin hubungan apa dengan Liese?”
Pertanyaan dari Julia yang terdengar oleh Liese di sampingnya membuat ia tersedak. Rindou mengernyitkan dahinya dengan tatapan yang begitu mengintimidasi, sepertinya Julia salah bertanya.
“Hubunganku dengan Liese ... hubunganku hanya sebatas ... tunggu sebentar, itu kurang tepat. Liese adalah ... rekanku yang berharga.”
Mendengar jawaban dari Rindou, Liese menghela napas cukup panjang karena ia kecewa dengan pemikiran Rindou tentangnya. Sepertinya Liese terlalu berharap banyak, ia melanjutkan sarapannya dari pada memikirkan hal-hal tidak penting.
“Ngomong-ngomong Mbakyu, berapa usiamu saat ini? Kudengar, Elf memiliki umur panjang.”
“Umurku? Jika tidak salah, setelah aku bergabung dengan pasukan Raja Iblis serta jika dihitung sampai sekarang ... sekitar seratus lima tahun.”
Orang-orang yang mendengarkan perkataan Julia tidak ada yang terkejut sama sekali, bahkan Rindou sekali pun. Hanya Liese saja yang terkejut hingga memuntahkan kembali makanan yang dikunyah olehnya.
“Masih muda ya, cocok sekali dengan usiamu Mbakyu Julia.”
Sebenarnya apa yang dipikirkan Rindou saat ini adalah batasan usia di mana Elf yang memiliki umur panjang. Jika dua ratus tahun masih di sebut Kakak, apa kata dunia?
“Kesampingkan hal itu, sepertinya Kerajaan Karm sudah mulai bergerak untuk mengincar kita. Aku memiliki rencana untuk hal ini.”
Ucap Julia, Hugo dan Lecia yang duduk cukup jauh darinya langsung mendekat. Julia menjelaskannya secara rinci meskipun mereka semua tengah sarapan pagi.
“Hugo, kau masih ingat dengan perkataan Yuina dan Kakaknya sebelum kita berpisah karena dikejar oleh para Pahlawan?”
“Ya, kita membagi sisa pasukan menjadi beberapa kelompok. Tidak salah lagi, Yuina memang ada di sebelah Utara sedangkan Kakaknya Yuuza ada di Selatan.”
“Masalahnya di sini, aku akan menemui Yuuza yang ada di Selatan sedangkan kalian menemui Yuina yang ada di Utara.”
“Tunggu sebentar, siapa Yuina dan Yuuza?”
Tanya Rindou yang menyela pembicaraan Julia dan Hugo. Memang belum dijelaskan secara rinci apalagi Rindou baru memasuki masalah ini.
“Yuuza sang Kakak sedangkan Yuina sang Adik. Kemampuan tempur Yuuza hampir sama denganku, sedangkan Adiknya Yuina adalah Jenius Sejati Alkimia. Mereka berdua memiliki kontribusi besar ketika berperang, Raja Iblis merawat mereka ketika anak-anak dan mereka berdua merupakan manusia. Untuk saat kita membutuhkan dua orang itu untuk mengumpulkan sisanya.”
__ADS_1
“Dari pada itu, kita akan pergi kapan? Pemukiman ini harus kita tinggalkan?”
Tanya Hugo, ia pun memberitahukan informasi mengenai meninggalkan pemukiman untuk pergi menemui sisa pasukan Raja Iblis yang lain. Tentu saja, mereka setuju karena kekuatan mereka sudah kembali dan tidak ada masalah untuk itu.
“Setelah sarapan ini, kita harus bergegas pergi. Pastinya Kerajaan Karm mengirim Pahlawan serta pasukannya, ini akan gawat jika kita terbunuh dengan cepat. Ngomong-ngomong Hugo, kau akan pergi bersama Rindou menuju Utara.”
“Aku!?”
“Ya, hanya kau yang mengetahui kebiasaan dari Yuina dan bagaimana cara dia bersembunyi dari kejaran musuh. Kau pasti bisa menemukannya, aku yakin itu.”
“Baiklah jika Ketua menyuruhku seperti itu, aku akan berjuang sekeras mungkin.”
Setelah percakapan singkat itu, Julia memberi semangat kepada yang lainnya serta membicarakan tentang rencananya untuk pergi menemui sisa pasukan Raja Iblis yang lainnya. Tentu saja, mereka sangat bersemangat untuk menemui rekan-rekan mereka yang sudah berjuang bersama.
“Sisanya kuserahkan pada kalian.”
* * * * *
Clarisse serta pasukannya menunggangi kuda, mereka menggunakan jalur bekas Assassin yang terbunuh di padang rumput lalu memasuki hutan. Tentu saja mereka tidak berharap, namun di setiap pohon yang mereka lalui terdapat tanda bekas sayatan benda tajam yang merupakan tanda jalur melalui kode.
Clarisse yang merupakan seorang veteran mengetahui hal tersebut. Langsung saja mereka mengikuti jalur bertanda tersebut dan menemukan sebuah pemukiman di dalam hutan, tempatnya sangat kumuh dan terasa masih baru untuk ditinggalkan.
Pasukannya menggeledah semua tempat dan hanya barang-barang serta tenda maupun gubuk yang ditinggalkan. Mereka tidak menemukan jejak kaki targetnya, hanya ada jejak kaki kuda yang mengarah ke wilayah bagian hutan.
Hanya ada satu jejak kaki maka Clarisse serta pasukannya mengikuti jejak kuda tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama untuk keluar dari hutan ini, jejak tersebut menghilang ketika memasuki wilayah baru yang merupakan jalur menuju ke wilayah Selatan.
Mereka semua berhenti sejenak untuk mencari petunjuk yang tersisa. Namun ketika mereka berkumpul, terdapat seseorang yang bukan lain adalah Julia menaiki seekor kuda putih melewati mereka semua.
“Kalian terlambat.”
* * * * *
“Hugo! Kau yakin meninggalkan Julia seorang diri menghadapi mereka!?”
“Tenang saja! Ketua Julia dapat menggunakan sihir pemindahan, dia dapat berpindah tempat menuju Hutan Keabadian di mana para Elf tinggal. Karena itu, aku sangat yakin dia akan baik-baik saja.”
Rindou hanya bisa percaya pada perkataannya, sebelumnya Julia mendahulukan yang lainnya untuk pergi terlebih dahulu sedangkan dia sebagai umpan agar perhatian musuh terfokus padanya.
Rindou, Liese, serta Hugo yang membawa Lecia di pangkuannya pergi dengan cara berlari. Lagipula mereka semua meningkatkan fisik mereka dengan sihir, perjalanan untuk menemukan Yuina adalah salah satu dari tujuan Rindou untuk mengumpulkan kekuatan tempur.
“Hugo, bagaimana caranya kau mencari keberadaan Yuina!?”
“Tenang saja, aku masih ingat jelas cara untuk menemukannya. Kita hanya harus pergi ke Utara dan merasakan lapisan zona sihir miliknya. Apalagi jika terdapat Golem yang menyerang kita, aku yakin dia adalah Yuina.”
“Golem? Apa maksudmu?”
“Yuina adalah Alkimia dengan kepintaran yang tiada tanding meskipun dia manusia. Ketika peperangan terjadi, dialah yang berkontribusi membuat pasukan Golem dan hanya seorang diri yang mengendalikannya. Ketika masa-masa sebelum perang, kami berkumpul di satu tempat dan makan di meja yang sama. Pada saat itulah kami merasakan kebersamaan dari kebaikan Raja Iblis.”
__ADS_1
“Sialan, kalian semua memang hebat.”
Puji Rindou kepada Hugo yang membicarakan tentang Yuina. Hugo senang karena dapat bertemu kembali dengan rekan seperjuangannya, ini adalah mimpi terbaik yang menjadi kenyataan baginya.
* * * * *
Rindou bersama yang lainnya tiba di sebuah tempat dengan lembah yang dalam serta tebing yang tinggi dalam empat hari. Mereka harus melompati tebing untuk dapat melanjutkan perjalanan mereka, namun terdapat beberapa monster yang menghuni tempat ini dan membuat perjalanan mereka terhambat.
“Bagaimana ini? Apa kita harus melawan monster-monster itu?”
Tanya Hugo, Rindou menyuruhnya diam sebentar karena ia merasakan tekanan mana yang membuatnya cukup terganggu. Ini seperti tekanan mana milik monster berukuran besar yang membuatnya kewalahan ketika di Kota Citadel Yuvin. Namun terasa berbeda, tekanan mana kali ini terasa diam namun sumbernya dapat ia rasakan dengan jelas.
“Tunggu Hugo, sepertinya ada makhluk yang benar-benar merepotkan di tempat ini. Sepertinya aku harus berurusan dengan makhluk itu, ikuti aku.”
Ucap Rindou, ia pun menuruni tebing dengan meloncati berbagai celah tebing seraya mencari jalan turun dengan keselamatan yang utama. Di bawah mereka merupakan sungai yang arus airnya tidak terlalu besar, Rindou berhenti sebentar untuk membasuh wajahnya serta yang lainnya meminum air tersebut karena kehausan.
“Bagaimana Rindou? Apa kau menemukan sesuatu?”
Tanya Liese yang tengah berdiri di samping kanan Rindou sedang berjongkok dan membasuh wajahnya beberapa kali. Tidak salah lagi, Rindou memang merasakan tekanan tersebut di tempat ini namun sekarang terasa samar-samar.
Rindou tidak menjawab pertanyaan dari Liese. Ia berdiri setelah terasa segar kembali, mengumpulkan mana di seluruh tubuhnya lalu melepaskannya dengan cara melepas tekanan mana miliknya dengan area luas untuk dapat mendeteksi mana milik orang lain di sekitar area tersebut meskipun jangkauannya tidak terlalu luas.
“Ada tiga belas monster, di atas sana ada naga hitam dan satu lagi mana yang aku rasakan seperti sebelumnya. Tidak salah lagi, tekanan mana itu ada di depan sana.”
Ucap Rindou seraya menunjuk ke depan di mana aliran sungai itu mengalir. Mereka melanjutkan perjalan mereka di pinggir aliran sungai untuk menemukan sesuatu yang membuat Rindou penasaran, hingga akhirnya mereka menemukan Golem raksasa berbentuk manusia dengan tinggi lima belas meter kurang lebih.
Namun yang paling mengkhawatirkan adalah seekor naga hitam yang sedari tadi terbang di atas mereka. Dia hanya terbang memutar tanpa melakukan apapun, Rindou cukup tertarik untuk melawan naga hitam itu sekalian mengambil setengah kekuatannya.
“Kalian diam di sini, aku pergi dulu.”
Ucap Rindou seraya menyuruh Liese dan yang lainnya menunggu di dekat Golem yang sudah tidak aktif tersebut. Dengan cepat, Rindou meningkatkan fisiknya lalu memanjat tebing dengan cepat lalu menatap ke atas langit di mana dia berniat menyerang naga hitam tersebut.
Ia menciptakan bola api konsentrasi tinggi di telapak tangannya serta memasukkan konsentrasi listrik dari kemampuan monster Varsi ke dalam bola api tersebut. Ia melempar bola api tersebut lalu terpecah menjadi puluhan lalu menyerang tubuh bagian bawah naga tersebut hingga tubuhnya sedikit tertutupi kepulan asap dari ledakan.
Karena pedang akan percuma digunakan. Rindou membuang pedang miliknya lalu bersiap-siap menghadapi naga hitam yang tengah terbang menikuk ke arahnya dengan kecepatan tinggi.
Naga hitam itu menyemburkan api dari mulutnya tepat di atas Rindou dengan ketinggian tidak terlalu jauh. Justru hal ini yang dia incar, Rindou menyentuh permukaan tebing kemudian menciptakan pilar kristal Caligula dengan ukuran besar serta puncaknya sangat lancip.
Tentu saja, naga hitam itu yang tengah menyemburkan api menjadikan penglihatannya terhalangi oleh semburan apinya sendiri. Tanpa disadari, kristal itu memasuki mulutnya lalu menembus kerongkongannya dengan sekejap sampai-sampai tebing yang diinjak oleh Rindou hancur ditabrak olehnya.
Dalam sekejap Rindou dapat mengalahkan naga hitam dengan ukuran yang besar, apalagi jika dilihat dari dekat saja sangat besar dan membuat Rindou menyadari bahwa ia mengalahkan seekor naga bukankah suatu hal yang hebat?
Tanpa basa-basi, ia menghampiri kepala naga tersebut lalu menyentuh permukaan kulitnya. Ia mengambil setengah kekuatan naga hitam tersebut lalu Companion bereaksi dari skill absorb yang aktif.
“Hmm ... Abyss Dragon, Wrath of Vengeance.”
Rindou mendapatkan sebuah skill dari naga tersebut, skill tersebut tidak bisa aktif dengan keadaan normal namun memiliki kriteria khusus ketika akan menggunakannya. Untuk saat ini Rindou tidak bisa menggunakannya hingga kriteria yang tidak disebutkan itu dapat ia capai.
“Untuk sekarang ... memprioritaskan pencarian Yuina adalah hal terpenting.”
__ADS_1
To Be Continue .....