
Zraaasssh..... Zraaasssh..... Zraaasssh.....
Suara hujan yang tercurah di luar jendela kamar di pagi hari ketika fajar menyingsing, hujan yang tercurahkan dengan tenang dan derasnya tanpa kilat dan guntur, rintik hujan yang jatuh di atas gerbang besi rumah menciptakan bunyi denting aneh yang menggema di sepanjang gang sepi, bahkan suaranya sampai terdengar ke dalam kamar, suara kebisingan yang menyelimuti ruangan kamar, membuat Olivia semakin terganggu, karena ia jadi kesulitan tidur.
"Suara hujan begitu berisik," gerutu Olivia, ia kemudian mendudukan dirinya seraya bersandar pada kepala tempat tidur, lalu ia menatap kosong kearah jendela kamarnya yang sedang turun hujan.
"Mimpi itu lagi," lirih Olivia, kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah cermin yang tidak jauh dari tempat tidur, cermin vertikal yang berada dekat lemari, pandangannya lurus kearah cermin di depannya, untuk beberapa saat ia menatap dirinya sendiri yang berada dalam cermin itu, wajahnya menggambarkan kesedihan, air mata pun mengalir dari sudut matanya dan menyusuri pipinya.
Ia memiliki gangguan tidur, setiap kali kehilangan kesadaran, ia didatangi mimpi buruk dari hal yang pernah terjadi, baginya tidak ada malam yang bisa dinikmati dengan tenang.
"Maaf ayah, ibu." lirih Olivia seraya memegang dadanya yang terasa sedikit sakit.
Lalu ia menangis terisak-isak dengan suara yang pelan, cukup lama ia menangis tanpa sadar hujan pun terhenti dengan sendirinya dan mulai terbit matahari lalu cahayanya menerpa wajah Olivia, cahaya dari celah-celah kecil dalam kamar.
Ia segera menyeka air matanya, perasaannya mulai stabil karena sambutan hangat dari sang mentari.
Olivia Fioner Alessa Vianela
Berumur 17 tahun kelas 3 SMA, berambut panjang hitam yang terurai sampai ke pinggul dan bermata hitam keunguan, ia pintar di sekolah dan rajin belajar, hobinya bermain biola dan piano, suka membaca, ia orang yang hangat, dan baik hati.
Ia orang yang selalu tersenyum, walau hati menangis.
Ia memiliki kenangan yang kelam dan menyedihkan, ia yatim piatu, kedua orangtuanya meninggal karena insiden kebakaran yang terjadi dua belas silam, saat usianya lima tahun ketika hari ulang tahunnya, selama ini ia hidup dengan mimpi buruk yang terus menghantuinya di setiap malam. Lalu di saat-saat waktu paling menyedihkan, seseorang muncul dalam kehidupannya, seseorang yang membuatnya menjalani kehidupan dengan baik sampai sekarang, seseorang yang menjadi keluarga, teman, serta cinta.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kamar yang diketuk tiga kali dari luar kamar.
"Olivia! Olivia apa kau sudah bangun?
Sepertinya kita kesiangan, kita akan terlambat ke sekolah, cepat bangun!" ujar Riyan dari luar pintu kamar.
Riyan Henry Farel Vianlino
Berumur 18 tahun, kelas 3 SMA,
anak periang dan ceria, selalu tersenyum dan suka bercanda, hobinya menggambar, ia juga pintar dan populer di sekolahnya, orang yang hangat, tetapi ia tidak bisa menangis.
Ia memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun, ia memiliki keistimewaan melihat warna perasaan seseorang dan memiliki batas hidup.
"Iya, aku sudah bangun" sahut Olivia seraya melihat kearah pintu kamar.
"Kalau sudah bangun, kenapa masih duduk seperti itu di tempat tidur? Cepat bangun! Kita bisa terlambat sekolah." ucap Riyan dengan membuka pintu kamar sedikit dan berdiri dari luar pintu kamar dengan memakai seragam sekolah yang sudah rapih terpakai dengan tas dan sepatu.
"Iya, baiklah." ucap Olivia yang masih duduk di atas tempat tidur seraya tersenyum pada Riyan.
"Cepat mandi dan bersiap! Aku sudah buatkan sarapan, aku akan menunggu di luar kamar." ucap Riyan seraya menutup pintu kamar kembali.
Olivia beranjak dari tempat tidur dan
segera pergi mandi lalu setelah selesai, ia langsung memakai seragam sekolah dengan rapih, menyiapkan jadwal pelajaran dan memakai sepatu, serta menyisir rambutnya yang panjang di depan cermin, lalu setelah semua selesai, ia berjalan kearah pintu kamar dan membukanya dengan perlahan.
Krieeet.....
Olivia membuka pintu kamar dengan perlahan, dan Riyan berdiri di depan pintu kamar dengan terbalik dari pintu kamar, dan saat pintu terbuka sepenuhnya, Riyan berbalik dan menatap hangat Olivia seraya tersenyum.
"Kau sudah siap? Kenapa lama sekali? Kita sarapan dulu sebelum berangkat ya,"
pinta Riyan seraya berjalan kearah ruang makan, Olivia mengangguk samar seraya mengikuti Riyan ke ruang makan, kemudian mereka duduk di meja makan.
__ADS_1
"Riyan, apa ini masakanmu? Kenapa telurnya gosong?"
"Ah... itu karena tadi aku tinggal sebentar ke toilet dan setelah kembali telurnya berubah warna, haha." jawab Riyan dengan tertawa kecil.
"Oh... hmph," Olivia yang berusaha menahan tawa yang hampir keluar.
'Kenapa telurnya harus gosong sih, padahalkan sedikit lagi gameku akan naik level, terus dapurnya berantakan lagi gara-gara tadi banyak asap hitam dan bau gas, huh... terpaksa deh nanti pulang sekolah harus bersihin dapur sebelum dilihat Olivia, nanti dia malah meledekku.' pikir Riyan dengan wajah mengernyit karena kesal masakannya gagal.
"Hah... hanya luarnya saja yang gosong tapi mungkin rasanya akan enak, mungkin? Coba saja!" ucap Riyan dengan mendengus, lalu Olivia mulai menyuap makanannya dan saat suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, ia langsung berdiri dan berlari kearah wastafel dapur lalu memuntahkan suapan pertama itu, lalu kembali menghampiri meja makan dan duduk kembali seraya meraih segelas air putih dan menyesapnya dalam satu tegukan.
"Kenapa? Apa tidak enak? Bagaimana rasanya, asem, pahit, asin?" tanya Riyan yang bahkan belum mencicipi makanan yang dibuatnya sendiri.
"Kau coba saja cicipi sendiri!" ucap Olivia dengan menyunggingkan senyum manis di bibirnya yang tipis dan wajah yang sedikit mencebir, Riyan segera menyuap makanannya dan ia menelannya dengan cepat dan meraih air secepat kilat lalu menyesap tiga gelas air dalam satu tegukan.
"Bagaimana rasanya chef, hahaha." ucap Olivia dengan wajah mungilnya yang mengejek seraya tertawa kecil.
"Ini manis, kalau tidak enak jangan dimakan! Kita beli makanan di kantin sekolah saja saat istirahat, ayo berangkat ke sekolah sekarang!" ucap Riyan, moodnya berubah drastis karena merasa kesal dicebir Olivia, karena kesal ia langsung berdiri dan mengambil langkah seribu menuju ke pintu luar rumah, ia melangkah menjauh dan raut wajah tak senang tergambar di wajahnya, sedangkan Olivia yang melihatnya hanya tertawa karena melihat ekspresi wajah Riyan yang sedang kesal seraya menyusul.
Saat di luar rumah, ketika mereka mulai mengayunkan kaki tiba-tiba hujan yang sudah berhenti langsung tercurah dengan deras lalu diikuti dengan awan hitam yang menggumpal dan langit yang menjadi mendung, membuat suasana hati Riyan semakin runyam.
"Apa? Kenapa malah hujan lagi? Tadi kan sudah berhenti, menyebalkan." gerutu Riyan dengan alis menyatu dan wajah yang kesal.
"Olivia, tunggu sebentar! Aku akan mencari payung di dalam rumah." ucap Riyan seraya masuk kembali ke dalam rumah.
"Iya." ucap Olivia, beberapa saat kemudian, tidak, sekitar lima belas menit kemudian.....
"Kenapa Riyan lama sekali mengambil payungnya? Apa dia tidak menemukannya? Ini sudah lima belas menit, huh..." ucap Olivia yang kesal karena bosan menunggu dengan mendengus.
"Maaf aku baru menemukan payungnya di loteng jadi agak lama," ucap Riyan dengan wajah masih kesal dan baru saja keluar dari dalam rumah dengan rambut yang berantakan.
"Agak lama? Kau tau, kau menghabiskan waktu lima belas menit di dalam rumah hanya untuk mencari payung, sekarang coba siapa yang akan membuat kita terlambat?" gerutu Olivia dengan bibir mungilnya yang cemberut, dan tanpa sadar senyum Riyan merekah ke samping dan Riyan tertawa kecil saat menatap keimutan Olivia yang langsung membuat suasana hati yang tadinya runyam menjadi lebih baik.
"Apa yang kau tunggu? Cepat buka payungnya! Kita harus berangkat ke sekolah sebelum gerbangnya tertutup kan?"
Riyan mengangguk samar seraya membuka payung dan mereka mulai berjalan bersama di bawah hujan dalam satu payung yang sama.
Ditengah jalan saat hujan tercurah dari langit, di kesunyian yang hanya terdengar suara hujan saja, karena mereka tidak ada yang saling bicara.
"Riyan? Dari tadi aku tidak melihat Om Vian dan Tante sera? Tadi juga mereka tidak ada saat sarapan? Apa mereka sudah pergi bekerja?" pertanyaan Olivia yang memecah kesunyian saat itu.
"Iya, mereka memang sudah pergi bekerja sejak pukul 3:00 dini hari tadi." jawab Riyan dengan sibuknya merapikan rambutnya yang berantakan sejak tadi, seraya memegangi gagang payung.
"Kenapa mereka berangkat sepagi itu? Tidak seperti biasanya saja."
"Mereka ada pekerjaan di luar negeri, jadi mereka tidak akan pulang selama tiga bulan
dan akan menetap di sana sampai pekerjaan mereka selesai, mereka kan sudah bilang pada kita tadi malam, apa kau lupa? Dasar pelupa!"
"Ah, iya aku sedikit lupa."
ucap Olivia seraya mengingat-ingat.
"Tapi Olivia, jam berapa sekarang?" tanya Riyan seraya menoleh kearah Olivia.
"Jam, jam 7:35!!! Kita akan terlambat." ucap
Olivia yang tersentak setelah melihat jam tangannya.
"Tidak, jika kita berlari!" ucap Riyan seraya meraih lengan tangan Olivia hingga menjadi genggaman, dan berlari bersama.
"Hati-hati jalannya licin karena air hujan!" ucap Olivia saat berlari.
Mereka terus berlari hingga sampai sekolah
__ADS_1
tepat pada saat bel berbunyi.
Crying...... crying...... crying.....
"Hosh... hush... hosh... syukurlah kita tidak terlambat..." ucap Riyan dengan nafas yang terengah-engah, merasa lega setelah berhasil sampai di sekolah tepat sebelum gerbang sekolah ditutup pada jam 08:00 tepat.
"Ayo... hosh.... cepat masuk... hosh....ke dalam kelas sebelum guru datang." ucap Olivia dengan nafas yang terengah-engah, lalu mereka menaiki anak tangga menuju lantai tiga, karena mereka bersekolah di sekolah elit di Jakarta, sekolah bergedung yang berlantai lima, dan saat sampai di lantai tiga mereka langsung masuk ke dalam kelas bersama.
"Olivia." ujar Cia saat Olivia dan Riyan baru saja memasuki kelas.
Natacia Hanafia Alesandrina
Berumur 19 tahun kelas 3 SMA, berambut pendek sebahu, teman sebangku dan teman yang akrab dengan Olivia, mereka sudah saling kenal sejak masih duduk di bangku SMP, anak yang periang dan menyenangkan, ia punya kehidupan yang tak di ketahui oleh siapapun.
Hobinya bermain gitar, ia suka segala hal kecuali pelajaran, meski begitu ia cukup pintar, ia sering menempati lima besar dalam ujian-ujian sekolah, Cia bawel dan cerewet, tertarik dengan cogan terkecuali Riyan karena mereka teman bertengkar sejak pertama bertemu.
"Hai Cia" sahut Olivia menyapa seraya menghampiri Cia dan duduk di bangku lalu ia langsung mengeluarkan buku untuk membacanya.
"Olivia, aku pikir kau tidak akan masuk hari ini karena sakit atau semacamnya, dan lagi tidak seperti biasanya kau datang kesiangan, kau kan murid teladan."
"Ah iya, aku tadi bangunnya kesiangan karena tidak ada yang membangunkan." jawab Olivia yang sedang membaca bukunya.
'Sebenarnya tidak kesiangan sih, tapi... anggap begitulah.' pikir Olivia dengan tersenyum tipis pada dirinya sendiri.
"Apa Om Vian dan Tante Sera tidak membangunkan kalian?"
"Oh, mereka tidak membangunkan kami karena pergi ke luar negeri untuk pekerjaan," ucap Olivia yang menjawab tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari buku yang dibacanya.
"Pekerjaan luar negeri? Jadi kalian hanya tinggal berdua saja?" tanya Cia.
"Iya, di rumah hanya ada kami."
"Oh, kapan mereka pulang,"
"Katanya, akan pulang tiga bulan lagi."
"Oh,"
Tap..... Tap..... Tap..... suara langkah kaki yang berayun dari luar ruangan yang menuju ke kelas, saat pintu kelas terbuka semua keributan dan kegaduhan dalam kelas terhenti seketika karena datangnya guru yang masuk ke dalam kelas, keheningan yang menyeruak menyelimuti seluruh ruangan, Bu Rahayu guru sejarah yang dikenal sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan cantik, tapi ia dikenal sebagai guru yang galak, terkecuali bagi Riyan dan Olivia, karena mereka murid teladan.
"Selamat pagi semuanya." ujar Bu Rahayu dengan nada dingin dan wajah datar.
"Selamat pagi juga Bu." sahut semua murid.
"Saya tidak akan banyak bicara lagi, jadi silahkan catat materi yang saya tulis di papan tulism" ucap Bu Rahayu yang baru datang dan langsung mencatat di papan tulis yang diikuti oleh seluruh murid yang ada di dalam kelas.
"Uwah nyebelin banget kalo pelajaran sejarah pasti harus nulis segunung." tandas Cia.
Cia langsung menulis, lalu setelah semua orang selesai menulis dan materi telah diterangkan, ketika para murid sedang asyik bersantai, tiba-tiba suasana yang tenang itu berubah menjadi suasana yang penuh dengan ketegangan karena Bu Rahayu memberikan sebuah pertanyaan.
"Jika kalian semua sudah selesai mencatatnya, saya akan bertanya kepada kalian, apa itu Mitologi?" tanya Bu Rahayu yang bertanya dengan nada dinginnya seraya menatap kearah semua murid yang ada di dalam kelas dengan tatapan tajam, yang seketika membuat semua murid yang berada di dalam kelas membeku dan membisu karena ketegangan, membuat keheningan yang menyeruak menyelimuti seluruh ruangan, matanya berkeliling seraya melihat setiap murid dengan cermat, dan tatapan matanya terhenti pada murid yang duduk di bangku paling belakang, Fahmi yang sedang asyik bermain hp di jam pelajaran.
"Yang duduk di bangku paling belakang,
coba jawab?" ucap Bu Rahayu dengan menggertak, meski begitu Fahmi masih belum menyadari kesalahannya dan malah terus bermain game.
"Fahmi! Saya sedang bertanya!" sergah Bu Rahayu dengan nada lantang yang membuat semua murid bergidik, bahkan membuat ruang kelas bergetar.
"Eh? hng... sa ya bu" ucap Fahmi terbata-bata karena tersentak.
BERSAMBUNG.
__ADS_1