THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan

THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan
Chapter 17 Sulit Tuk Menghentikan Perasaan ini


__ADS_3

Pagi ini Rayden tertidur di kelas, saat kelas masih kosong, ia tertidur cukup lama, hingga tidurnya terganggu dengan cahaya matahari yang menerpa wajahnya.


'Aku masih ingin tidur, tapi karena cahaya matahari, aku jadi kesulitan tidur... aku berharap matahari tertutup awan' pikir Rayden, menutupi wajahnya sendiri dengan tangannya.


'Oh, apa ini? baru saja aku berharap...


apa benar, harapan anehku terkabul, apa benar bahwa awan benar-benar menutupi mataharinya' pikir Rayden dengan membuka matanya perlahan-lahan.


"Halo, Rayden"ucap Olivia yang duduk di jendela terbuka dengan memegang buku.


"Olivia apa yang kau lakukan, jendelanya tinggi, cepat turun! nanti kau jatuh,"ucap Rayden yang tersentak saat baru pertama kali membuka matanya.


"Tidak apa-apa, jendelanya pendek"


"Apa maksudmu pendek, kalau dari sini, iya memang pendek, tapi kalau dari luar itu tinggi, kita ada di lantai tiga"ucap Rayden yang cemas.


"Baru pertama kali, aku melihat sosok Rayden yang cemas, kau sungguh imut"ucap Olivia seraya tersenyum.


"Berhenti mengatakan omong kosong, dan cepat turun!"


"Iya"ucap Olivia seraya turun.


'Ternyata duduk di jendela lantai tiga, sangat menyenangkan, pantas kemarin Cleo juga bilang menyenangkan' pikir Olivia.


"Sebenarnya apa yang kau pikirkan sampai bisa-bisanya kau duduk di jendela seperti tadi"ucap Rayden.


"Saat kau datang ke sekolah, aku melihatmu tidur, dan sepertinya tidurmu terganggu karena terpaan sinar matahari hingga kau tidur dengan mengernyitkan wajah, jadi aku menghalangi sinar mataharinya"ucap Olivia.


"Sebaiknya lain kali jangan lakukan seperti itu lagi"


"Baiklah, jika tak suka seperti itu"ucap Olivia, lalu ia berjalan ke arah bangkunya.


'Hah, dasar Olivia, aku bukanya tak suka, tapi kenapa... kenapa kau selalu terlihat cantik di mataku, kau juga imut,....cintaku yang bertepuk sebelah tangan selama tiga tahun terakhir sampai saat ini aku masih menyukainya, padahal selama 3 tahun terakhir, aku memaksa diriku setiap hari, setiap waktu, setiap saat, untuk menghentikan perasaan ini. Meski tahu perasaan ini tak ada harapan..... dan tak akan pernah terwujud.... aku tak dapat menghentikannya dan hanya bisa mengamatinya dalam diam' pikir Rayden.


Jam sekolah yang panjang dan melelahkan bagi Raden telah usai, semua orang murid sudah pulang, dan seperti rutinitas,Rayden menunggu ibunya pulang, kali ini karena terlalu bosan di kelas, ia jadi menunggu di taman, ia duduk bernaung di bangku taman di bawah pohon yang rindang.


Ia bersandar pada pohon itu dan memejamkan matanya.


Di sisi lain.


"Deana, bagaimana kalau kau membuang sampah saja, itu di sana"ucap Klaura dengan menunjuk ke arah pojok kelas.


"Apa, tapi kenapa, aku juga mau menyapu saja... bagaimana jika kita nanti buang sampahnya bersama-sama saja... "pinta Deana.


"Apa kau mau aku menyuruhmu dua kali?"ucap Klaura.


"Baiklah, akan aku lakukan"


'Dasar sial, kalau disuruh, langsung kerjakan dong' pikir Klaura.


Deana menyeret-nyeret sampah dalam kantong besar yang seukuran dirinya, hingga melewati taman dan melihat Rayden yang tertidur dengan bersandar pada pohon.


"Oh, halo Rayden"sapa Deana yang sedang lewat.


Rayden tak menjawab ataupun membuka matanya.


"Ah, kalau di pikir-pikir Rayden kalau di kelas pendiam, jadi wajar jika ia mengabaikanku yang menyapanya"gumam Deana yang menarik-narik sampah.


Rayden membuka sedikit matanya dan langsung berdiri lalu menghampiri Deana yang sedang menarik-narik sampah,


'Kenapa ia harus lewat tepat di depanku, aku tidak ingin melakukannya karena akan merepotkanku , tapi aku juga tidak bisa mengabaikan, seorang gadis yang terlihat kesusahan' pikir Rayden.


Ia meraih sampah yang di tarik-tarik Deana hingga tangan mereka bersentuhan tanpa sengaja.


"Oh, maaf, aku hanya ingin membantumu"ucap Rayden, yang langsung menarik sampah.


"Eh, kau minta maaf untuk apa?"


"....."


"Kalau begitu terimakasih"ucap Deana.


Keesokannya...


Hari ini, di jam 10 di pelajaran olahraga, siswa dan siswi sedang mengganti seragam sekolah mereka dengan pakaian olahraga.


Di toilet laki-laki, setiap siswa yang sedang mengganti pakaian sibuk mengobrol dengan sesama siswa lain.


Cleo yang baru saja mengganti pakaian menghampiri Riyan yang sedang mencuci muka.


"Aku suka Olivia"ujar Cleo, untuk sesaat mereka berdua jadi pusat perhatian semua orang.


"Aku juga menyukai Olivia, lalu...


apa hubungan perasaan mu denganku?"


"Aku hanya ingin bilang, meski kalian berteman sejak kecil, tinggal di rumah yang sama, tumbuh besar bersama, itu belum memastikan kalau Olivia menyukaimu balik"


"Bagaimana denganmu? Olivia juga belum tentu menyukai seseorang yang baru ia kenal beberapa minggu, juga belum tentu menyukai orang yang mengajaknya kencan sekali"


"Kau benar, karena itu aku akan membuatnya tertarik padaku"ucap Cleo dengan menyeringai.


"Silahkan saja,"

__ADS_1


"Kau tidak akan keberatankan jika ia menyukaiku lebih dari dia menyukai teman masa kecilnya kan?"


"Tentu tidak, karena aku juga tak punya pilihan dengan hidup ini"ucap Riyan dengan tersenyum ramah.


"Apa maksudmu?"


'Aku tak masalah jika kau menyukai Olivia, itu malah bagus... lagi pula jika Olivia tetap besamaku ia tak akan bahagia, aku tidak bisa menemaninya selamanya karena umurku yang pendek, tapi sebelum aku memberikan Olivia padamu, aku perlu memastikan ketulusanmu padanya' pikir Riyan.


"Sudahlah jam olahraga sudah mulai, ayo kelapangan" ucap Riyan.


Di lapangan, semua siswa dan siswi sudah berkumpul, para siswa sudah mulai memainkan bola basket sedang yang putri sedang memainkan voli.


"Hei, Riyan bagaimana kalau kita mulai dari sini, ayo buat perjanjian untuk membuat Olivia tertarik pada kita, dengan melakukan 10 pertandingan "


"Kedengarannya tidak buruk,"


"Mulai dari bertanding bola basket, kita duel"


"Hm, siapa takut, ok"


Mereka berdua saling mengaitkan jari kelingking atas dasar perjanjian kekanakan-kanakkan yang di buat saat itu.


Cleo menghentikan pertandingan bola basket yang sedang berlangsung, dan meminta mereka semua untuk berhenti, karena ia ingin bermain bola basket dengan Riyan berdua saja, ia juga meminta setiap siswa dan siswi menonton pertandingan yang akan ia lakukan bersama Riyan, ia meminta beberapa orang untuk menjadi wasit.


"Kau siap kalah Riyan"ujar Cleo.


"Itu jika kau bisa menyaingi bakatku"ucap Riyan.


"Begitukah, omong-omong apa kau tahu?


aku pernah memenangkan juara nasional di negaraku dalam basket"


Riyan hanya membalas perkataan Cleo dengan tersenyum, setelah pluit ditiup keduanya sibuk memperebutkan bola basket itu.


"Kakak, kakak harus kalah pokonya~


dan Riyan... aku padamu, jadi yang semangat ya~"Teriak Deana.


'Dasar, Deana... bukannya mendukung kakaknya, ia malah menyemangati gebetannya..' pikir Cleo kesal.


Karena teriakan Deana, Cleo sedikit terkecoh dengan gerakan cepat tangan Riyan dan bola berhasil ada di Riyan, kemudian Riyan melakukan gerakan lay up dan mendapatkan 2 poin di babak pertama, karena tak mau kalah Cleo segera merebut bola dan melakukan lay up hingga poin mereka 2-2 di babak pertama, mereka terus bertarung dengan sengit.


"Hei Olivia, aku tidak pernah tahu jika Riyan bisa bermain bola basket"ucap Cia yang menyenggol Olivia dengan sikunya saat mereka sedang menyaksikan pertandingan itu.


"Aku juga tidak tahu"ucap Olivia yang fokus memperhatikan.


"Tapi, lihat itu, Riyan terlihat lebih tampan dan sexy saat berkeringat"ucap Cia.


Semua orang sibuk berbisik-bisik seraya terus memperhatikan pertandingan itu hingga babak akhir.


Peluit wasit menjerit panjang menandai akhir dari pertandingan. Pertandingan Cleo dan Riyan berakhir dengan skor sama yaitu 9-9, jadi dinyatakan mereka berdualah sama-sama pemenangnya.


"Gila... Riyan hebat banget main basketnya, iya kan? Olivia"ucap Cia.


"Cia, tolong tunggu sebentar... aku ingin beli minum untuk Riyan"


"Oh, ok" ucap Cia.


Sementara itu, karena pertandingan itu membuat semua murid mengelilingi Riyan dan Cleo, baik siswa maupun siswi mereka semua ramai memuji Riyan dan Cleo.


"Wah, Cleo kau bukan hanya cogan, tapi juga sangat sangat keren dalam permainan basket"


"Terimakasih"


"Hei Riyan, kau keren sekali tadi, kenapa selama ini kau menyembunyikan bakatmu.


Apa kau mau bergabung bersama timku mewakili sekolah kita~"


"Terimakasih, dan maaf aku harus menolaknya"ucap Riyan seraya memperhatikan sekeliling mencari Olivia.


"Kenapa? kau tadi benar-benar sangat hebat"


'Tentu saja karena penyakitku, kalau kelelahan sedikit saja dadaku terasa amat sakit, andai saja aku terlahir tanpa tubuh lemah ini, andai aku tidak terlahir dengan penyakit ini' pikir Riyan.


"Maaf ya"


"Sayang sekali, bagaimana denganmu Cleo, mau bergabung?"


"Boleh saja"ucap Cleo.


Riyan menghampiri Cia yang terlihat sendirian.


"Cia, dimana Olivia"


"Dia, tadi bilang mau membeli minum untukmu, hm... tadi kau keren Riyan tapi gak sekeren Cleo"ucap Cia yang langsung pergi menghampiri Cleo.


'ugh... lagi-lagi, aku meninggalkan obat pereda nyeri di kelas lagi...aku harus mengambilnya' pikir Riyan, yang langsung kembali ke kelas.


Sesampainya di kelas, ia langsung meraih tasnya dan mengambil obat pereda nyeri dalam tas.


"Riyan, kenapa kau tiba-tiba kembali ke kelas"tanya Deana yang dari tadi mengikuti Riyan ke kelas.


"Ah, Deana kenapa kau ada di kelas"ucap Riyan yang berbalik dengan satu tangan di belakang, ia menyembunyikan obat pereda nyeri itu di belakangnya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku mengikutimu, aku tadinya ingin memberikan minuman padamu, karena saat aku panggil-panggil tadi kau tidak mendengarku... tapi Riyan, apa yang kau lakukan di kelas ?"tanya Deana dengan memberikan minuman yang ia beli pada Riyan, ia sempat melirik sesaat kearah tangan Riyan yang di sembunyikan di belakang tubuhnya.


"Terimakasih minumannya, sebenarnya aku kemari untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di dalam tas"


"Apa sesuatu yang tertinggal itu ? sampai-sampai kau sembunyikan di belakang dirimu"ucap Deana yang penasaran.


Riyan tidak bisa mengatakan rahasianya itu jadi ia hanya terdiam, beruntung saat Riyan melihat kearah luar jendela, ia melihat guru olahraga sudah datang ke lapangan.


"Deana kita harus kembali ke lapangan karena sepertinya guru olahraga sudah datang" ucap Riyan.


"Benarkah, kalau begitu ayo cepat!" ucap Deana dengan meninggalkan kelas.


Riyan meminum obat pereda nyerinya dengan cepat, dan ia segera kembali ke lapangan.


Sementara itu, Olivia yang sudah kembali dari membeli minuman untuk Riyan, ia melihat sekeliling matanya mencari Riyan.


"Olivia~"


Mendengar ada seseorang yang memanggil namanya, Olivia berbalik kearah orang yang memanggil namanya dengan perlahan.


"Ya, oh penjaga toko eskrim, apa yang bapak lakukan di sekolah ini?"tanya Olivia yang ramah.


"Saya baru saja menjadi guru olahraga di sekolah ini, nama saya Rio, karena guru olahraga yang lama di pindahkan di sekolah lain, saya tidak tahu jika kita akan bertemu lagi..."ucapnya.


"Olivia kau baik-baik saja ?"tanya pak Rio.


"Olivia ada apa denganmu ?"tanya Cia.


"Olivia, apa kau baik-baik saja ?"


"Olivia kau baik-baik saja?"


"Olivia? kenapa wajahmu tiba-tiba memucat?"


Semua orang mulai mengkhawatirkan Olivia yang terdiam.


'Su-suara ini mirip dengan suara paman aneh dari 13 tahun lalu, orang yang telah membumihanguskan hotel dan orang tuaku, kenapa dia bisa tahu namaku, saat waktu di toko eskrim, suaranya tidak begitu jelas karena tersamarkan dalam hujan, kenapa... kenapa suara orang ini mengingatkanku pada hal yang tidak ingin ku ingat' pikir Olivia dengan wajah tertunduk, badannya melemas, matanya menatap nanar, ia menutupi telinganya sendiri dengan kedua telapak tangannya karena tak ingin mendengar suara orang itu, ia bahkan hampir kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh ke belakang, Riyan yang baru datang menangkap Olivia yang hampir jatuh, dan menutupi telinga Olivia.


"Jika tidak ingin di dengar, maka kosongkan pikiranmu dan tenangkan dirimu, karena aku ada di sisimu"ucap Riyan yang berdesis.


"Maaf pak, sepertinya Olivia sedikit sakit, bolehkah saya membawanya ke uks ?"tanya Riyan.


'Apakah yang ku lakukan waktu itu, memicu trauma pada diri Nona Olivia' pikir Pak Rio.


"Pak... bolehkah saya membawa Olivia ke uks ?"tanya Riyan lagi karena melihat Pak Rio yang terdiam tidak menjawab.


"I-iya, cepat bawa Olivia ke uks karena sepertinya dia sakit"ucap Pak Rio.


Riyan segera membawa Olivia ke uks dan membaringkannya di tempat tidur di ruang uks.


"Olivia, minum dulu obat penenang ini..."ucap Riyan.


"Ri-Riyan suara Pak Rio itu mirip dengan suara paman aneh... a-aneh..."


Riyan merengkuh kepala Olivia, lalu mendekapnya,"Kumohon berhenti, jangan bicara lagi, jika itu membuatmu sulit, aku ada di sini"ucap Riyan memeluk Olivia dengan lekat seraya menepuk pundaknya perlahan-lahan.


"Olivia kau baik-baik saja ? oh"ucap Cia yang masuk tanpa mengetuk dan sempat melihat adegan barusan.


'Apa yang baru saja terlihat oleh mataku' pikir Cleo dan Deana yang datang bersama Cia, yang juga sempat melihat adegan tadi.


"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkanku"ucap Olivia dengan tersenyum.


'Katanya waktu dapat menyembuhkan segalanya, tapi meski sudah berlalu 13 tahun pun, aku hanya dapat berpura-pura.


Aku belum bertambah kuat, belum bisa berkembang, aku hanya sudah belajar untuk berbohong, dengan empat kata.....


'Aku baik-baik saja', aku bersyukur... Riyan hadir dalam hidupku' pikir Olivia.


'Aku juga bersyukur banyak orang yang peduli padaku' pikir Olivia lagi.


Jam sekolah berakhir.


"Olivia kau sudah baik-baik saja kan? kau tidak berbohong kan?"tanya Cia.


"Iya, aku sudah benar-benar baik"


"Syukurlah"


"Oy Cia, bukankah itu mobil keluargamu?"tanya Riyan.


"Ya? diimana? oh iya, itu keluargaku aku duluan ya"


Cia pergi berpamitan dan masuk ke dalam mobilnya.


"Riyan, apa kau menyadarinya?"tanya Olivia.


"Menyadari apa?"


"Setiap kali ada keluarganya, Cia selalu tersenyum lebar tetapi selalu bersamaan dengan matanya yang berair"


"Benarkah? aku tidak memperhatikannya, lalu kenapa?"


"...aku hanya berharap Cia hidup bahagia, kau sendiri yang pernah bilang padaku, bahwa kehidupan memiliki jalan takdirnya sendiri..."

__ADS_1


"Aku bilang begitu ya? tapi... aku mengharapkan hal yang sama denganmu"


'karena warna perasaan Cia saat ini... adalah warna kelabu, warna keputusasaan...'pikir Riyan.


__ADS_2