
(lanjutan)
Olivia mulai geram dengan pembicaraan orang-orang yang tidak tahu apa-apa, hingga ia pun angkat suara, ia menghampiri seorang ibu-ibu yang berpakaian serba ungu, pakaiannya bahkan sangat sexy, dandanannya pun begitu glamor, si ibu itu bahkan memegang rokok.
"Maaf bu, sepertinya bicara anda sudah kelewatan, kata-kata ibu kurang enak di dengar di telinga kami"ucap Olivia seraya tersenyum.
"Olivia, apa yang kau lakukan..."desis Riyan.
"Lihat aku dan perhatikan, karena aku akan membalikkan situasi menjadi 180°"desis Olivia.
"Apa?? memangnya aku bicara apa??"tanya si ibu itu dengan mengibaskan rambut panjangnya di depan semua orang.
"Anda bertanya balik rupanya, tapi aku penasaran, apa anda bertanya karena memang tidak tahu kesalahan anda? atau anda hanya sedang berpura-pura tidak tahu kesalahan anda?"tanya Olivia.
"Kau anak siapa sih?"tanya si ibu dengan meninggikan suara.
"Memang apa hubungan hal ini dengan orang tua saya,"ucap Olivia.
"Kenapa ibu mengomentari kami seenaknya, padahal ibu sendiri pun tidak tahu apa-apa tentang kami"ucap Olivia lagi.
"Hei, nak, aku tidak asal mengomentari sembarang orang, tapi memang kalian terlihat seperti itu di mata semua orang, memang benar kan kalau kalian itu sudah di nikahkan karena melakukan hal-hal yang tidak senonoh"ucap si ibu.
"Tidak sama sekali, malahan kami ini teman dekat"ucap Olivia.
"Zaman sekarang kan memang seperti itu, pertama berteman, lalu berpacaran, dan tiba-tiba punya anak, jadi dinikahkan"ucap si ibu.
"Kenapa ibu bicara seolah hal yang demikian pernah terjadi pada ibu"ucap Olivia.
"Hei, anak remaja itu berani juga ya...
memang sih si ibu itunya yang duluan berbicara aneh-aneh, padahal kan dia tidak tahu apa-apa"desis orang-orang yang memperhatikan.
"Dasar anak tak tahu tata krama, memang kau pikir sedang bicara dengan siapa hah??
kau itu harus bicara dengan sopan pada orang yang lebih tua, memang ya, anak ini harus di beri pelajaran baru mengerti..."ucap si ibu.
"Sepertinya cara bicara saya sudah cukup sopan bu, bukankah ibu yang menggunakan cara bicara yang tidak sopan, ya... memang orang yang lebih muda harus bicara sopan pada yang lebih tua,dan bukankah sebaliknya pun begitu, karena setiap orang memiliki hak bicara, setiap orang harus berbicara sopan pada siapa saja ~"ucap Olivia.
"Hei bocah, kau tidak tahu apa-apa tentangku, jangan asal bicara??"ucap si ibu seraya menghisap rokok yang ada di tangannya.
"Kenapa memangnya, aku kan hanya melakukan hal sebaliknya pada orang yang membuatku tak nyaman, ibu pasti marah karena tak terima dengan perkataanku kan?
aku pun sama, aku marah karena tak terima dengan perkataan ibu "ucap Olivia, ibu itu pun terdiam seolah membeku.
__ADS_1
"Olivia, sudahlah ... "ucap Riyan.
"Kau lihat Riyan, situasi mulai berbalik 180°"desis Olivia dengan mengedipkan mata.
Olivia mendekatkan kepalanya kepada si ibu dan berdesis"Ibu yang cantik, aku cukup lelah loh bersitegang dengan anda, jadi mari akhiri pembicaraan yang tidak akan ada akhirnya ini, aku tahu loh ibu ini kan mamanya klaura,klaura adalah teman sekelasku, klaura itu pernah bilang padaku kalau mamanya itu pernah di penjara karena mengedarkan narkoba, apa anda belum puas di penjara selama lima tahun?? "desis Olivia.
"Ba-bagaimana kau tahu itu"
"Aku baru saja bilang, oh ya ... dari tadi aku cukup bersabar menahan diri loh, untuk tidak menyebarkan informasi sepenting ini, karena informasi ini adalah aib bagi keluarga ibu bukan? dan karena aku ini anak yang cukup baik, jadi aku tetap diam"ucap Olivia dengan menyunggingkan senyuman manis di bibirnya yang tipis.
Tanpa melanjutkan pertengkaran itu lagi, Olivia berjalan ke kasir dan membayar semua yang telah ia beli, lalu meninggalkan minimarket itu bersama Riyan.
"Wah luar biasa kau dapat menghina orang dengan senyuman seperti tadi, pertama bicara serius lalu tiba-tiba tersenyum lalu serius lagi, seperti psikopat"ucap Riyan dengan mengangkat dua ibu jari sekaligus.
"Sudahlah, aku jadi kesal saat mengingat kejadian tadi"ucap Olivia.
"Ok, aku tidak akan bicara lagi tentang yang tadi, tapi Olivia aku sangat haus dan sekarang sudah gelap,jadi sejak tadi aku ingin bertanya jam berapa sekarang?"ucap Riyan.
"Sekarang jam 18:15 "
"Yasudah, ayo segera pulang" ucap Riyan.
"Tunggu, kita ke sana dulu sebelum pulang" ucap Olivia, kemudian ia berlari ke arah toko eskrim.
"Hei, Olivia pelankan larimu sedikit"ucap Riyan menyusul dengan langkah lamban, karena terlalu lelah ia duduk di kursi pinggir jalan, sedang Olivia kembali menghampiri Riyan dengan membawa eskrim.
"Terima kasih"ucap Riyan dengan tersenyum.
Mereka memakan eskrim dengan menikmati suasana malam di pinggir jalan itu seraya berbincang -bincang.
Kemudian hujan turun perlahan -lahan, dari yang hanya menitik hingga menjadi deras, membuat Riyan dan Olivia berteduh di toko eskrim yang tadi dibeli.
"Yah sekarang malah hujan"gumam Riyan.
Kemudian pelayan toko eskrim keluar dari dalam toko dan berkata, ia pria dewasa pemilik toko eskrim, umurnya sama dengan orang tua Olivia dan Riyan.
"Maaf, toko kami akan segera tutup"ucap pelayan toko dengan tersenyum ramah.
"Pak, kami hanya bermaksud untuk berteduh sebentar, kami akan segera pergi..."ucap Riyan.
"Owh, begitu, kelihatannya kalian sedang berkencan ya?"tanya pelayan toko.
"Ti-tidak kami..."
__ADS_1
"Ya, kami baru sedang berkencan, tapi tiba-tiba cuaca yang buruk mengganggu~"ucap Riyan dengan melingkarkan tangannya ke pundak Olivia, hingga tubuh mereka saling merekat.
"Ah, kalian pasangan yang sempurna, apa kalian sudah kenal sejak lama?"tanya pelayan toko lagi.
"Ya... kami berteman sejak kecil"ucap Riyan.
"Wah, cinta masa kecil rupanya, manis sekali... oh ya, apa kalian butuh payung, aku punya dua payung..."ucap pelayan toko dengan memberikan payung yang ia miliki.
"Terimakasih payungnya, akan kami pastikan untuk mengembalikannya pada anda esok hari"ucap Olivia.
"Tidak perlu dikembalikan, ini untuk kalian, semoga hari-hari kalian selalu di warnai canda dan tawa, dan sering - seringlah kemari untuk beli eskrim, jika kalian datang kemari lagi akan aku berikan eskrim pasangan"ucap pelayan toko dengan tersenyum, kemudian meninggalkan Olivia dan Riyan berdua saja.
'Nona harus bahagia, karena ini pesan terakhir dan tugas terakhir dari ayah anda' pikir pelayan toko.
"Kalau begitu ayo kita juga pergi!" ucap Riyan.
"Iya, ayo"
Saat di perjalanan pulang, mereka mendengar suara kucing.
Meow, meow, meow.
"Riyan, aku mendengar suara kucing dari sebelah sana"ucap Olivia, kemudian mereka berdua menghampiri asal suara itu dan mendapati seekor kucing berbulu putih dengan mata berwarna ungu permata, yang berada di dalam kardus di bawah pohon rindang.
"Kasihan sekali kucingnya, padahal kucing ini begitu cantik, siapa orang yang tega membuangnya? Riyan bagaimana menurutmu? kita bawa pulang ya?"pinta Olivia.
"Olivia kau tau kan, ibuku itu alergi terhadap kucing, jika ada kucing di rumah pasti ia akan sangat marah"
"Kan tante ada di luar negeri, bagaimana kalau kita rawat kucing ini sampai mereka pulang, dan ketika mereka pulang, kita akan rawat kucing ini di tempat lain tanpa di ketahui sama sekali"ucap Olivia.
"Kau lihat kan, kucing ini begitu menggemaskan"ucap Olivia lagi.
"Kumohon, ya Riyan..."ucap Olivia dengan mata berbinar - binar.
'kucingnya memang menggemaskan, tapi menurutku kau jauh lebih menggemaskan dan imut' pikir Riyan dengan memandangi wajah Olivia.
"Riyan..."
"Bagaima ya... ha! aku tahu ayo bawa pulang kucingnya , lalu besok kita bawa ke sekolah, di sekolah kan ada banya kucing, dan ada bu lily yang suka kucing, kita berikan pada bu lily, pasti kucing ini akan dirawat olehnya "
ucap Riyan.
"Aku setuju, pasti kucing ini akan dirawat oleh bu lily"ucap Olivia.
__ADS_1
Kemudian mereka pulang ke rumah.
BERSAMBUNG.