THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan

THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan
Chapter 10 Hari Belanja Bersama


__ADS_3

Saat matahari berayun pukul 16:00.


Riyan dan Olivia baru pulang dari sekolah dan sedang menuju ke rumah, mereka pulang agak terlambat karena kebetulan hari ini adalah jadwal piket mereka di kelas.


"Lelahnya"ucap Riyan yang baru saja keluar dari gerbang sekolah.


"Iya, cukup lelah piket"ucap Olivia.


"Sepertinya kalau begini, kita akan sampai di rumah saat langit sudah gelap "ucap Olivia.


"Kenapa harus sampai saat langit sudah gelap?"tanya Riyan.


"Sedari kemarin kan aku sudah bilang, bahwa persediaan kebutuhan makanan di rumah hampir habis, dan karena Om dan Tante belum pulang, jadi kita yang akan berbelanja menggantikan mereka"ucap Olivia.


'Ah, benar, bahkan dari tadi pagi Olivia sudah ribut mengajakku berbelanja' pikir Riyan dengan terdiam.


"Riyan! apa yang kau tunggu ayo pergi berbelanja bersama!" ujar Olivia.


"Iya, ayo, tapi Olivia, bukankah harusnya kita pulang terlebih dahulu untuk berganti pakaian dan baru berangkat, bukankah minimarketnya cukup jauh"ucap Riyan.


"Menurut pandanganku, kalau kita pulang dulu, itu akan memakan waktu, jadi langsung pergi saja"ucap Olivia


' hmph ... menurut pandangannya katanya? dia menuruti gaya bicara ibuku, lucunya' pikir Riyan.


Kemudian mereka berdua berjalan sampai halte bis dan menunggu bis datang selama 15 menit.


"Riyan? kau bawa kartu tranportasi umum kan?"ucap Olivia.


"Tentu saja..."ucap Riyan kemudian ia masuk ke dalam bis bersama Olivia.


"Pak, kami berdua"ucap Riyan.


Mereka mendapatkan bangku di bagian tengah dekat jendela sebelah pintu masuk dan pintu keluar.


Bis pun mulai berjalan.


"Huh, bau bis"gumam Riyan.


"Olivia kenapa kita harus belanja hari ini? Kan ada hari esok atau lusa? lagi pula bukankah persediaannya masih cukup sampai besok, kenapa tidak di hari minggu saja? kita bisa berbelanja sepanjang hari, aku cukup lelah loh... setelah pulang sekolah, sehabis piket kelas, masa sekarang harus belanja, memangnya kau tidak le.. eh???"ucap Riyan, ia tidak tahu sedari tadi ia hanya bicara sendiri karena sejak tadi Olivia tertidur di dalam bis, ia baru tersadar bicara sendiri saat kepala Olivia menyentuh pundaknya, hingga Olivia tertidur di pundak Riyan.

__ADS_1


Riyan meraih tangan Olivia dan menggemgam tangannya Olivia, lalu menatap Olivia saat ia sedang tidur, dan berpikir ' Olivia apa kau tahu? mungkin waktu waktu seperti ini tidak selalu datang, ia datang sesaat dan pergi begitu saja, tapi momen-momen seperti saat ini, seperti sebelumnya atau yang akan segera datang akan menetap dalam ingatanku untuk waktu yang lama, lalu menjadi pengalaman yang terus aku kenang, suara roda bis yang berputar, suara riuh dari para penumpang yang sedang mengobrol, suara-suara klakson mobil yang melintas di jalan raya, serta nafas hangat yang terasa tepat di hadapanku, bahkan saat waktu terakhirku akan ku ingat setiap momen bersama denganmu, saat di mana ada Olivia, yang menemaniku selama ini sebagai teman dan sebagai orang yang kusukai, tapi aku tak tahu apa yang kau rasakan.... bisa jadi mengenalku merupakan tragedi bagimu, aku tak masalah meski kau akan membenci dan menjauhiku, tapi tolong jangan lupakan aku, karena hal yang paling kutakutkan di dunia ini adalah ketika kau melupakanku dari ingatan memorimu'.


Riyan menitikkan sedikit air mata hingga mengenai tangan Olivia yang sedang ia genggam seraya bergumam.


"Aku menyukaimu"gumam Riyan.


Sebenarnya beberapa saat yang lalu Olivia sudah terbangun, dan ia hanya berpura-pura tertidur, ia terbangun karena roda bis yang tak sengaja menginjak batu, hingga bis sedikit bergoyang, dan Olivia juga menyadari saat Riyan menggemgam tangannya dan menitikkan air mata, bahkan saat Riyan bergumam.


"Aku menyukaimu lebih dari rasa sukamu padaku"ucap Olivia yang masih berpura-pura tertidur di pundaknya Riyan.


"Ee? eh, apa yang kau katakan barusan?"tanya Riyan, Olivia masih saja berpura-pura tertidur, dan Riyan belum menyadarinya.


"Sepertinya, aku salah dengar"ucap Riyan.


'Apa karena aku terlalu memikirkan hal-hal aneh, dan bicara spontan seperti itu, jadi bahkan seperti aku mendengar ilusi' pikirnya.


'Kau tak salah dengar, karena aku juga memang menyukaimu Riyan....'pikir Olivia.


Lalu tiba-tiba bis berhenti mendadak dan membuat seisi bis bergoyang, bahkan kepala Olivia hampir membentur besi di kursi yang ada di depannya, namun terhalang oleh tangan Riyan, tangan Riyan bergerak impulsif sampai membuat Olivia terkejut.


"Astaga, hampir saja kepalaku terbentur, terima kasih Riyan"ucap Olivia dengan tersenyum, sebenarnya ia masih ingin berpura-pura tertidur di pundak Riyan, tapi karena hal ini, ia harus berpura-pura terbangun secara alami.


"Kau sudah bangun? bisnya tiba-tiba berhenti mendadak, kau tidak terluka?


kenapa pipimu memerah, apa kau demam?"ucap Riyan dengan menempelkan telapak tangannya ke kening Olivia.


"kau demam??"


"Ti-tidak sama sekali, ini karena udaranya sangat panas"ucap Olivia dengan mengibas-ngibaskan tangannya.


"Cuaca hari ini tidak terlalu panas, anehnya..."ucap Riyan dengan memperhatikan Olivia.


"Ah, astaga tanpa sadar ternyata sedari tadi bisnya sudah sampai di tempat tujuan kita, ayo turun"ucap Olivia kemudian ia langsung turun dari bis.


'Aku sangat takut jika suara jantungku akan terdengar oleh Riyan, karena debarannya begitu cepat, rasanya jantungku akan copot' pikir Olivia setelah turun dari bis, seraya terus memegang dadanya.


"Kenapa? kau sakit?" tanya Riyan yang baru saja turun dari bis.


"Tidak sama sekali kok"ucap Olivia cepat.

__ADS_1


"Hah, sudah lampu merah, ayo menyebrang jalan"ucap Olivia yang tergesa-gesa.


"Tunggu aku, kenapa dari tadi kau terus meninggalkan aku, hei... Olivia ... kenapa jalanmu cepat sekali"ujar Riyan.


Saat di minimarket.


"Baiklah, lakukan dengan cepat, dan segera pulang"ucap Riyan.


"Kita baru masuk, aku bahkan belum menemukan bahan apapun"ucap Olivia seraya melihat-lihat.


"Ini, ini, ini... dan ini dan juga ini, lalu yang di sana juga"ucap Olivia yang memilah dan memilih apa saja kebutuhan yang harus di beli, sedang Riyan berperan sebagai orang yang mendorong troli.


"Bukankah, ini sudah cukup banyak"ucap Riyan yang mulai bosan menunggu.


"Kenapa mengeluh?? apa kau bosan??"tanya Olivia.


"Tidak juga, maksudku bukannya mengeluh karena bosan, ta-tapi, hah.... dengan kata lain aku sedikit lelah karena kakiku sedikit sakit, aku juga haus, dan bosan ..."ucap Riyan.


'Dasar Riyan, ia berbicara berbelit-belit hanya untuk mengatakan bahwa ia sedang bosan' pikir Olivia.


"Olivia kau tidak dengar aku ya?"


"Dengar kok, tapi tunggu sedikit lagi..."ucap Olivia.


"Wah lihat itu, anak zaman sekarang ...


masih SMA sudah pacaran saja,"ucap seorang pembeli.


"Iya, iya~ mungkin tidak di ajari orang tuanya, seharusnya masa remaja ini, mereka belajar yang rajin, kalau anakku sih pasti ku sekolahkan dengan benar"ucap pembeli lain.


'Dasar, orang-orang, mereka tidak tahu ya?


kalau orang yang mereka bicarakan itu dapat mendengar'pikir Riyan.


"Olivia, hmm... a-nu"


"Ssttt... biarkan saja, mereka kan tidak tahu apa-apa"ucap Olivia yang masih sibuk dengan belanjaannya.


"Mereka mirip suami istri, mungkin mereka melakukan perbuatan-perbuatan tidak senonoh di usia mereka yang masih remaja, hingga terpaksa di nikahkan"ucap yang lain lagi.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2