THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan

THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan
Chapter 29 Rencana Liburan Bersama ke Pulau Bali


__ADS_3

Pagi ini Cleo sedang mencari Olivia dengan senyum lebar di wajahnya, ia berniat memberikan sebuah buku novel yang pernah dipinta Olivia.


'Pasti dia akan sangat menyukai ini!' pikir Cleo dengan menatap sebuah buku di tangannya.


Cleo mencari-cari Olivia dan mendapatinya berada dalam kelas kosong dengan menatap keluar jendela.


"Olivia~" ujarnya.


"Ah! Cleo. Ada apa?" sahut Olivia dengan menyunggingkan senyuman manis di bibirnya yang mungil.


Cleo memberikan sebuah buku novel pada Olivia, Olivia yang menerimanya pun sangat senang sampai-sampai langsung membacanya setelah mengucap kata terimakasih kepada Cleo.


Cleo juga sangat senang atas respon positif yang didapatnya dari Olivia, selama Olivia membaca buku Cleo terus menatap lekat Olivia.


"Cleo! Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Olivia yang sadar ditatap Cleo.


"Ini aneh, namun... Menakjubkan!" ujar Cleo tersenyum manis.


"Apa? Apa yang... Aneh dan yang... Menakjubkan?"


"Matamu!" ucap Cleo dengan mengangkat sebuah jari telunjuk yang menunjuk kearah mata Olivia.


"Mataku?" tanya Olivia yang bingung dengan perkataan yang barusan terlontar dari mulut Cleo.


"Iya, matamu selalu bersinar seperti kali menatap buku, seolah-olah ada sesuatu yang membuatmu terpesona dan terpukau saat menatapnya." jelas Cleo dengan tersenyum lebar sampai menampilkan deretan giginya yang putih dan rapih, tanpa mengalihkan pandangannya dari Olivia.


"Membaca buku itu menyenangkan, ... Karena melalui buku kita bisa pergi melihat kemana saja, melihat suatu tempat yang belum pernah kita lihat sebelumnya, juga dapat bertemu siapa saja, bahkan bertemu dengan karakter fiksi dalam buku.


Terkadang saat membaca buku... ketika konsentrasi pikiran berkolaborasi dengan imajinasi. Kita akan masuk ke dunia fiksi dan berpetualang disana, buku bisa memberikan hiburan, petualangan, imajinasi, dan serta motivasi, karena itu... Aku sangat-sangat menyukai buku." jelas Olivia.


Cleo sampai terpukau dengan jawaban Olivia, matanya terlihat seperti mendalami perkataan dari Olivia.


"Kau sungguh pintar, aku iri pada orang tua yang melahirkanmu." tutur Cleo.


"Oh ya? Aku penasaran pada satu hal, bolehkah aku bertanya?" tanya Cleo dengan wajah penasaran.


"Apa? Tanya saja!"


"Hanya saja... Seperti apa orang tuamu? Aku penasaran dengan beliau dan kenapa kau tidak tinggal bersama orang tuamu? Malah dengan Riyan yang merupakan sahabat kecilmu."


Olivia menarik nafas panjang perlahan dan tersenyum, "Aku yatim piatu, kedua orang tuaku meninggal karena insiden kebakaran yang terjadi dua belas tahun lalu, kobaran api yang membakar dingin masa laluku." lirih Olivia.


"Oh, maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu dengan menanyakan masa lalu." ucap Cleo yang terlihat kebingungan harus berkata apa lagi karena takut malah akan membuat Olivia jadi sedih.


"Pasti sulit ya. Hidup sendirian... tanpa orang dewasa, di saat dimana kita paling membutuhkan mereka. Aku... Aku juga tahu rasanya hidup tanpa ibu." ucap Cleo tersenyum muram.


"Apa kau juga tidak punya orang tua?" tanya Olivia dengan pelan.


"Aku piatu, karena ibu meninggal di usia ku yang kedua tahun, ayah... masih ada." sahut Cleo.


"Ibumu pasti pergi ke suatu tempat yang indah." ujar Olivia.

__ADS_1


"Sekarang coba siapa yang menghibur siapa." gumam Cleo.


"Hmm. Olivia, apa ada tempat yang belum pernah kau kunjungi? Atau, ada tempat yang ingin kau kunjungi lagi?" ucap Cleo dengan penuh kehati-hatian.


"Ya! Ada, pulau bali, tempat pertama kali yang aku kunjungi bersama ayah dan ibuku."


"Ah, kalau begitu bagaimana jika kita kesana untuk berlibur bersama,"


"Bersama? Tapi—"


Sela Cleo,"Jangan khawatir! Kita akan ajak Riyan, Deana, dan Cia juga, kita memang belum terlalu lama saling mengenal, namun... Anggap saja liburan bersama teman." Jelas Cleo.


"Bagaimana?" tanya Cleo lagi ketika melihat Olivia yang terpaku dengan termenung.


"Kita tanya teman-teman." sahut Olivia.


Satu jam kemudian, karena usul Cleo itu membuat Riyan, Olivia, Cia, Deana, dan Cleo sendiri jadi berkumpul di jam istirahat pada meja yang sama.


"Jadi, kau mengajak untuk berlibur bersama." tanya Riyan.


"Iya benar, tapi kenapa wajahmu sudah masam begitu, aku kan hanya mengusulkan ide yang bagu." ujar Cleo.


"Ide bagus sih! Tapi kita kan akan segera menghadapi tengah semester seminggu lagi, kita juga butuh waktu untuk belajar kan. Dan lagi... Pulau Bali itu cukup jauh dari Jakarta, butuh waktu delapan belas jam dan tiga puluh menit untuk kesana." ucap Riyan.


"Jangan khawatir, belajar bisa dimana saja dan kapan saja, ini hanya untuk menjadi penghiburan sebelum menghadapi semester yang penuh dengan kepusingan." ucap Cleo dengan santai.


"Ya pasti seru! Ayo Riyan ikut," ucap Deana yang duduk di samping Riyan.


"Menurutku juga bakal seru!" ujar Olivia.


"Aku, aku tidak bisa ikut." ucap Cia yang langsung melangkah pergi.


"Yah tidak adik jika hanya berempat." gumam Cleo.


"Kak, aku mau usul," ucap Deana.


"Ajak Rayden ya!" pinta Deana dengan mata berbinar.


"Pencuri dua pekan lalu." ucap Cleo dengan spontan.


"Pencuri dari mana! Sudah kubilang dia yang menyelamatkanku." bantah Deana pada perkataan Cleo.


"Iya, iya! Kau boleh mengajaknya kalau dia mau ikut." ucap Cleo.


"Wah Deana kau dekat dengan Rayden ya!?" tanya Olivia.


"Sekadar teman ribut." ucap Deana.


"Ok, semua sudah setuju ya! Kita siap untuk holiday di akhir pekan besok." ucap Cleo santai.


Beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Di taman sekolah, Deana sedang duduk di kursi taman dengan bersandar pada pohon, tempat dimana yang biasanya dipakai Rayden.


Deana memang sengaja menunggu Rayden sejak tadi. Dia bahkan sampai-sampai memejamkan mata meniru kebiasaan Rayden.


'Akh... Jadi seperti ini rasanya! Pantas saja dia terlihat sangat nyaman saat melakukan ini, rasanya... Nyaman dan tenang.' pikir Deana.


Beberapa saat kemudian.


"Oy! Kau mengambil tempatku." ujar Rayden yang menekan pelan pipi Deana dengan jari telunjuknya mencoba membangunkan Deana yang terlihat tertidur karena menutup matanya.


Deana tidak menjawab ataupun merespon ia meniru Rayden yang seperti ini kepadanya


'Lebih baik aku berpura-pura seperti ini, aku penasaran bagaimana perasaannya saat 'tidak dipedulikan.' pikir Deana yang mengintip sedikit.


Rayden yang tidak direspon malah langsung duduk disebelah Deana dengan wajah menunduk dan mata terpejam.


Deana membuka mata dengan lebar dan untuk beberapa saat Deana memandang Rayden.


'Ternyata dia masih bisa tidur dengan keadaan duduk seperti ini.' pikir Deana yang menatap.


Semelir angin yang datang tiba-tiba mengibas lembut rambut Rayden hingga rambutnya terbang kedepan lalu menutupi matanya.


Deana yang melihat itu mencoba membantu dengan mengesampingkan rambutnya agar tidak menutupi matanya lagi.


Tapi Rayden dengan mata sayup-sayupnya mendekat perlahan-lahan kearah Deana dan mencengkram erat pergelangan tangannya lalu memojokkan Deana ke pohon.


Rayden mencium Deana dengan melekatkan bibir dan tubuh mereka.


"Umm!"


Deana terkesiap untuk sesaat namun langsung mencoba memberontak dengan mendorong tubuh Rayden agar menjauh darinya.


"Maaf! Aku benar-benar minta maaf! Aku setengah tidur. Maaf banget! Sepertinya aku sudah gila!" ucap Rayden yang seketika terkesiap dan menangkup wajah Deana.


Rayden mencoba menghapus bekas ciumannya dengan ibu jarinya, linangan air mata terjatuh dari mata Deana.


"Aduh Deana! Jangan menangis! Aku minta maaf! Aku memang sudah gila! Maaf" ucap Rayden dengan mata penuh kekhawatiran karena melihat Deana yang hampir menangis.


'Lagi-lagi! Ciuman pertamaku terenggut!??


Pertama terenggut karena kecoa dan kedua karena orang setengah tidur.' pikir Deana.


"Kembalikan! Kembalikan ciuman pertamaku! Padahal aku selalu berharap jika ciuman pertamaku itu akan kulakukan dengan anak kemarin sore. Hua... hueee hiks." isak tangis Deana.


"Astaga kau bahkan belum mengucap terimakasih untuk hal yang kulakukan dua pekan lalu." gumam Rayden dengan memijit pelipisnya.


Deana masih terisak dalam tangisnya, sedangkan Rayden masih berusaha menenangkannya.


"Kumohon berhentilah menangis!"


"Aku akan berhenti menangis dengan satu syarat."

__ADS_1


Deana berhenti menangis ketika Rayden menyetujui untuk ikut berlibur bersama meski dengan paksaan dari Deana.


BERSAMBUNG.


__ADS_2