
Pukul 9:45 di jam istirahat, Cleo pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam kemarin, karena sangat suka membaca ia selalu mengganti-ganti buku setiap harinya.
"Oh, Olivia kau ada di sini"
"Iya, karena aku ingin membaca..."ucap Olivia, ia sedang kesusahan mengambil buku di rak yang tinggi, rak yang tidak sesuai dengan tinggi badannya, ia bahkan sampai berjinjit untuk meraih buku yang ia inginkan, tapi tetap tidak sampai.
"Apa kau bisa mengambilnya? boleh ku bantu?"tanya Cleo.
"Benarkah? iya tolong ambilkan yang itu..."
"Baiklah,... ini"ucap Cleo yang memberikan buku pada Olivia setelah ia mengambilkannya dengan mudah.
"Terimakasih"ucap Olivia.
"Kau suka baca buka puisi ya?"
"Tidak terlalu, tetapi aku suka penulis buku puisi ini, karena dia juga penulis buku novel yang aku sukai, dia mampu menciptakan hal-hal unik dan menarik, dia sangat pandai mendeskripsikan cerita, dia pandai membuat puisi yang menyentuh. Gaya berkhayal dan deskripsi psikologis yang halus dari penulis ini sangat menarik..."
ucap Olivia
"Sangat terlihat, kau begitu menyukainya"
"Oh, ya... Cleo kau tahu tidak?"
"Tentu tidak, jika kau belum memberitahu "
"Apa kau kenal penulis Cjentle, katanya dia penulis dari negara Eropa"
'Tunggu, Cjentle? itu nama samaran ayahku, ayahku memang bos besar di negara kami, tapi selain itu dia juga seorang novelis, meski tidak banyak yang tahu tentang kehidupan gandanya...' pikir Cleo.
"Bagaimana Cleo, kau kenal tidak?"tanya Olivia lagi.
"Tidak..."
"Sayang sekali, padahal tadinya aku ingin meminta tolong padamu untuk membelikan langsung karyanya yang baru saja di terbitkan, karena dia begitu terkenal jadi setiap kali karyanya terbit selalu habis terborong, aku jadi jarang dapat kesempatan untuk membacanya..."
"Oh begitu ya, maaf ya..."
"Kenapa kau tiba-tiba minta maaf?"
"Tidak apa-apa, oh ya... Olivia kau ingat kan, janjimu untuk ke bioskop bersamaku?"
"Ah, iya... tentu aku mengingatnya"
"Aku sudah beli tiketnya, kita akan pergi di malam minggu, pukul 19:00 malam"
"Baiklah"
"Tapi, Olivia kau tinggal di mana?"tanya Cleo.
"Aku tinggal bersama Riyan, di jalan mawar Jakarta no 15"
"Ok, sampai bertemu di hari minggu, aku akan menjemputmu"ucap Cleo.
Hari janjian
Pukul, 19:00 malam, di rumah Olivia, ia sudah berdandan dengan cantik, dan sekarang ia duduk di kursi tunggal di ruang tamu seraya menonton TV.
"Olivia, kau mau kemana dengan sudah berpakaian cantik begitu?"tanya Riyan yang baru keluar dari kamarnya setelah tidur siang yang panjang di akhir pekan.
"Aku? ah, Cleo mengajakku menonton bioskop"
"Bagaimana bisa kau pergi dengan orang yang baru di kenal hanya dalam beberapa minggu? tidak boleh"
"Aku tak bisa menolaknya karena sudah berjanji di tempo hari"
Lalu terdengar suara klakson mobil.
"Sepertinya Cleo sudah datang"ucap Olivia yang langsung berdiri dari sofa.
"Riyan, aku pergi dulu ya..."ucap Olivia yang langsung berjalan ke luar rumah.
"Olivia, jangan pulang terlalu malam"
"Iya"
'Memang siapa aku, yang ingin menghentikannya dan melarang-larangnya, aku bukan siapa-siapa, tapi tetap saja....'
Riyan langsung kembali ke dalam kamarnya, dan setelah keluar dari kamar, ia sudah siap dengan pakaian serba hitam, masker hitam, topi dan kacamata hitam.
"Ok, aku siap menguntit"ucap Riyan, ia kemudian langsung membututi mobil Cleo dengan motornya.
Sesampainya di bioskop, Riyan langsung membeli tiket dan masuk mengikuti Olivia dan Cleo.
Supaya tidak mati gaya, Riyan juga membeli popcorn dan Cola. Tapi entah kenapa, kakinya begitu berat melangkah ke studio tempat film di putar. Ketika Riyan masuk, lampu studio sudah di padamkan, suasananya sangat gelap, ia mengandalkan lampu di tangga bioskop untuk mencari tempat duduknya.
'Kenapa gelap sekali ya? meski lampu di padamkan setidaknya tidak akan sampai segelap ini' pikir Riyan dengan memperhatikan sekeliling.
Tiba-tiba Riyan tersadar, ia masih memakai kacamata hitamnya.
'Aku benar-benar bodoh, ternyata aku masih memakai kacamata sejak tadi' pikir Riyan.
Riyan segera menurunkan kacamatanya. Pada saat itulah ia melihat Olivia dan Cleo, mereka duduk tepat di sebelahnya.
__ADS_1
'kok bisa mereka duduk di sebelahku, benar-benar kebetulan yang aneh' pikir Riyan.
Tak ingin penyamarannya terungkap, Riyan membenamkan diri di kursi, kacamata hitam kembali ia pakai.
Selama film di putar, kedua orang di sebelahnya itu sibuk saling berbisik.
Riyan jadi tidak bisa menikmati film yang ditontonnya.
'Apa yang mereka bicarakan, kenapa harus berbisik-bisik?' pikir Riyan dengan wajah kesal.
Memang, dari awal ia tidak berniat menonton film. Apalagi saat ini perhatiannya makin terpusat pada Olivia.
Konsentrasinya mulai membuyar, karena...
Hati kecilnya tiba-tiba terusik.
'Kenapa aku harus menguntit Olivia?' pikiran Riyan yang lewat sesaat.
Beberapa saat berlalu. Akhirnya film yang panjang dan membosankan itu berakhir.
Olivia dan Cleo sudah berdiri dari kursi mereka.
'Bagus, mereka sudah pergi, lebih baik aku pulang saja, aku jadi merasa tidak enak menguntit Olivia' pikir Riyan.
Ia pergi ke arah yang berlawanan dengan mereka berdua. Ia akan pulang diam-diam, seperti tadi saat ia sembunyi-sembunyi datang, setelah saat ini berlalu.....
mungkin hanya Riyan yang menganggap kejadian ini lucu, semua yang di rasakannya ini menjadi penentu moodnya di pagi hari, bisa jadi kelucuan, kemarahan, atau kesedihan.
Riyan terus berjalan lambat- lambat agar tidak ketahuan.
"Oh, Riyan, Halo..."
Apa daya, ia malah bertemu Cleo yang berdiri di depan toilet pintu keluar.
'Oh, sial, kenapa aku harus bertemu Cleo di sini' pikir Riyan.
"Riyan..."ucap Cleo yang melihat Riyan berdiri diam.
"Oh, halo juga Cleo"ucap Riyan dengan tersenyum kaku, wajahnya memerah karena malu.
Menyadari tidak ada siapa pun di samping Riyan, Cleo menatap Riyan dengan curiga.
"Kenapa? memangnya tidak boleh menonton film sendirian?"
Riyan yang mulai tegang dan emosi mengeraskan suara.
"Tidak apa-apa. Hanya saja film seperti ini, maksudku film Romantis yang baru saja kita tonton biasanya di sukai perempuan. Aku hanya bingung kenapa kau menonton filmnya sendirian, kupikir kau sedang berkencan dengan seseorang"ucap Cleo.
"Aku menyukainya"
Cleo mendelikan matanya, terkejut mendengar pengakuan Riyan.
"Bagaimana denganmu Cleo apa kau ke sini sendirian?"tanya Riyan yang berpura-pura tidak tahu.
"Aku datang bersama Olivia, aku mengajaknya kencan, kau tidak tahu? kau kan teman masa kecilnya"ucap Cleo.
"Ke-kencan??"
'Riyan? aku penasaran dengan satu hal, apa kau juga menyukai Olivia' pikir Cleo.
'Kok, tadi Olivia tidak bilang ini kencan' pikir Riyan.
'Bisa-bisanya Olivia tidak bilang ajakan Cleo adalah kencan, padahal kami sendiri pun belum pernah berkencan' pikir Riyan.
"Riyan, kenapa kau kaget begitu, apa... kau menyukai Olivia?"tanya Cleo.
"Tentu saja aku menyukainya karena kami memiliki hubungan yang sudah lama terjalin dan aku menyukainya lebih dulu darimu"
"Aku sudah menduga karena itu aku tidak heran, maka dari itu aku selalu berpikir, seandainya aku yang bertemu dengannya lebih dulu darimu"
Untuk sesaat Riyan terdiam mematung.
"Kau menyukainya Cleo?"tanya Riyan dengan wajah sedikit kesal.
"Aku menyukainya, karena itu aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, aku tulus menyukainya"ucap Cleo.
"Kalau begitu, aku juga akan segera menangkap yang aku inginkan, aku juga tulus menyukainya" ucap Riyan.
Riyan menerka-nerka, bahwa sebentar lagi Olivia akan segera keluar dari dalam pintu.
"Oh, sepertinya ibuku menelepon, aku harus mengangkat telepon di tempat sepi, jadi aku duluan ya"
"Tapi tidak ada suara dering telepon di hp mu"ucap Cleo.
"Itu karena aku memakai mode getar, dah..."ucap Riyan yang langsung pergi.
'Mencurigakan' pikir Cleo.
Benar saja tak lama kemudian Olivia keluar dari dalam toilet.
"Oh, Olivia kau sudah selesai?"tanya Cleo.
"Ya,"ucapnya.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita pergi"ucap Cleo yang langsung membawa Olivia keluar dari bioskop itu.
"Huh, syukurlah aku tidak bertemu Olivia,"ucap Riyan, rupanya tadi Riyan berjalan kearah pot besar berisi tanaman, mencoba menyembunyikan tubuhnya, untuk bisa mengintip Olivia dengan lebih jelas.
Tiba-tiba pengintaiannya berakhir karena kedua petugas menghampirinya.
"Permisi, ada yang bisa kami bantu?"tanya kedua petugas itu.
"Apa, emm... ini... a-aku, aku... sedang melihat pohon ini"dalih Riyan.
"Bukankah ini sangat indah, pohon ini tumbuh subur di tempat seperti ini"ujar Riyan dengan sedikit tertawa.
Kedua petugas itu saling memandang aneh satu sama lain, dan melihat ke arah Riyan yang melangkah cepat, pergi meninggalkan bioskop itu.
Riyan terus saja mengikuti Olivia dan Cleo dari belakang, dan mereka berhenti di sebuah cafe.
'Setelah film yang berputar selama dua jam, sekarang mereka pergi ke cafe, kalau begini Olivia bisa pulang larut, aku harus mengikutinya terus' pikir Riyan, lalu ia langsung masuk ke dalam cafe, ia mengamati tempat paling pojok, dan tempat yang paling strategis untuk mengamati Olivia dan Cleo dari kejauhan yang tidak terlalu jauh.
'Kenapa Olivia terlihat sesenang itu' pikir Riyan.
Lalu pelayanan cafe menghampirinya,"apa ada yang ingin anda pesan?"tanya pelayanan cafe.
"Tidak, emm maksudku... aku hanya ingin ice amerikano" ucap Riyan.
"Baiklah, akan saya bawakan segera" ucapnya
'Sebenarnyan aku sedikit lapar, tapi aku harus menahannya karena aku tidak terlalu membawa uang yang cukup, lagi pula menu di cafe ini sangat mahal' pikir Riyan dengan menyesap minuman pesanannya yang sudah di bawakan.
Riyan mengintip seraya menyembunyikan wajahnya dari balik majalah yang kebetulan ada di atas meja, ia memperhatikan mereka dengan cermat hingga mereka keluar dari cafe itu.
Sementara itu, Olivia yang sudah masuk ke dalam mobil dan sedang menunggu sendirian, karena Cleo masuk kembali kedalam cafe karena ada barang tertinggal.
'Aku penasaran.....apa Riyan sudah tidur? apa Riyan sudan makan?' pikir Olivia.
Pintu mobil sebelah pengemudi terbuka, Cleo masuk ke dalam mobil dan melihat Olivia yang sedang terdiam.
"Olivia?"
"Olivia, kau baik-baik saja?" tanya Cleo.
"Ah, iya aku baik-baik saja, aku sesaat memikirkan sesuatu"ucap Olivia.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Sesuatu yang ku rindukan"ucap Olivia dengan tersenyum lembut saat mengatakannya.
"Apakah Riyan? sepertinya kau memikirkan Riyan layaknya kau bernafas"gumam Cleo spontan.
"Cleo, apa yang kau katakan barusan, aku tidak begitu mendengarnya karena suaramu begitu kecil" ucap Olivia.
"Ah tidak, aku tidak mengatakan apa-apa, oh ya, ini... pelayan toko memberikan minuman ice amerikano sebagai bonus untuk pasangan, karena mereka pikir kita pasangan yang sedang kencan, jadi mereka memberikan ini, aku tak enak menolaknya karena mereka begitu baik..."ucap Cleo memberikannya dengan ramah.
"Baiklah, terimakasih Cleo"
"Oh ya, Cleo dari tadi aku ingin bilang...
Saat kau mengenakan baju santai. Gaya kasual seperti ini cocok untukmu"puji Olivia.
"Begitukah? terimakasih"
Cleo menjalankan mobilnya untuk mengantar Olivia kembali ke rumah, mereka berdua saling diam, tidak ada yang mengajak mengobrol sampai saat di tengah jalan.
"Cleo, bisa kau turunkan aku di bahu jalan depan sana"pinta Olivia.
"Eh? kenapa? rumah yang tadi kan masih jauh"ucap Cleo dengan bingung.
"Ada yang harus ku lakukan sebelum pulang" ucap Olivia.
" Oh, baiklah"
Cleo menepi ke bahu jalan untuk menurunkan Olivia, Olivia kemudian turun dari mobil Cleo.
"Olivia, hati-hati pulangnya ya"ucap Cleo.
"Kau juga, hati-hati di jalan dan... selamat tinggal"
Setelah mobil Cleo pergi jauh, Olivia kemudian berjalan kearah toko ayam Krispy, ia memesan ayam krispy untuk di bawa pulang, kemudian ia berjalan.
'Aku terus merindukan Riyan, aku penasaran bagaimana dengannya, apa dia juga merindukanku?' pikir Olivia.
Riyan yang baru saja tiba, karena motornya mogok, jadi ia baru saja habis mengisi bahan bakar motornya, ia melihat Olivia yang sedang menyusuri jalan.
'Bukankah itu Olivia, kenapa ia berjalan, dan di mana Cleo, apa dia di turunkan di tengah jalan yang sudah larut malam dan begitu dingin ini' pikir Riyan.
Riyan menghentikan motornya tepat di depan halte bis, tempat Olivia yang sedang terduduk dengan kepala menunduk untuk menunggu bis.
"Olivia, apa yang sedang kau lakukan disini?"tanya Riyan.
"Oh, Riyan kenapa kau ada di sini" ucap Olivia, ia langsung tertegun melihat orang yang ia rindukan tepat ada di depan matanya.
"Kenapa diam membeku seperti itu, cepat kemari! dan ayo pulang, ini sudah cukup larut" ucap Riyan.
Olivia menghampiri motor Riyan dan menaikinya, dan mereka pulang bersama.
__ADS_1
BERSAMBUNG.