
"Olivia kau duluan saja ke kelas, aku ingin duduk di taman dulu sebentar saja, atau..... kau mau duduk di taman bersamaku tidak?"
"Ma..."
"Olivia~"ujar seseorang yang baru saja menghampiri.
"Oh, kak Bily... ada apa kakak meneriaki namaku?"
"Bantu... kakak... ada perkumpulan anggota OSIS, bantu kakak merumuskan suatu permasalahan, kau kan pintar, oh ada Riyan, kau juga ikut ya Riyan"ucap Bily.
"Padahal kakak adalah ketua dari anggota OSIS, tapi selalu saja meminta bantuan kami"gumam Olivia.
"Ayo, ayo, Cepat"
"Olivia kau tidak boleh begitu"desis Riyan.
"Iya..."
"Ayo, kenapa kalian diam mematung di sini, cepatlah semua orang sudah menunggu sedari tadi"
"Ayo Riyan,"ucap Olivia.
"Kak Bily, boleh aku izin tidak ikut, aku sedikit... lelah"ucap Riyan.
"Padahal masih pagi, tapi tidak apa-apa, kalau begitu Olivia saja ya, ayo Olivia cepat"
"Riyan kenapa kau lelah, apa kau sakit lagi, apa kau demam, bagaimana keadaanmu sekarang"
"Olivia aku hanya lelah, tidak sakit ataupun demam, aku hanya butuh waktu untuk istirahat"ucap Riyan dengan mengelus-elus rambut Olivia.
'Rasanya akhir-akhir ini Riyan jadi sedikit menjauh, perkataannya lebih terdengar seperti 'aku butuh waktu untuk sendiri'
apa dia jadi membenciku sekarang, karena aku selalu menempel padanya, iya pasti begitu, aku membuanya tidak nyaman, benar, padahal kami sudah besar, aku juga sudah terlalu banyak merepotkannya,' pikir Olivia.
"Ayo Olivia, kalian ini bukan anak kecil yang harus selalu sepaket satu sama lain, ayo cepat"ucap Bily dengan mendorong-dorong Olivia.
"Iya kak, oh, kalau begitu... Riyan aku pergi"ucap Olivia yang menoleh sesaat saat sedang didorong-dorong Bily.
"Iya, sampai jumpa di kelas Olivia"ucap Riyan.
Setelah merasa Olivia dan Bily sudah cukup jauh, Riyan menghampiri kursi taman dan mendudukinya.
'Aku tidak ikut, karena aku memiliki alasan... persediaan obat pereda nyeriku hampis habis, dan ayah dan ibu belum juga belum pulang, aku bahkan sampai berhemat meminumnya, dan alasan lainnya adalah.... saat aku berada di ruang tertutup, aku jadi kesulitan bernafas karena sesak'pikir Riyan yang termenung.
"Aku... juga ingin ikut menemanimu, tapi maaf ya"gumam Riyan.
"Ck,ck,ck sayang sekali, kau malah begumam seperti ini, di saat kau sendiri yang menolak menemani"ucap Cleo yang duduk di atas pohon seraya membaca bukunya.
"Kau?!? hei Cleo apa yang kau lakukan cepat turun dari atas situ, pohonnya sangat tinggi"ucap Riyan yang langsung terdiri karena tersentak.
"Baik, hap~ lihat..."ucap Cleo yang lompat dari atas pohon itu dengan buku di tangannya dengan berpose keren.
"Apa yang harus kul lihat?"
"Lihat betapa tampan dan kerennya seorang siswa yang berada di depanmu,"ucap Cleo dengan membelah poni rambutnya sehingga terlihat lebih terlihat tampan dan mirip orang Korea.
__ADS_1
"Ya, ya, cukup tampan dan keren sampai membutakan mata orang yang melihatnya jadi sakit"ucap Riyan.
"Terimakasih, aku senang dengan perkataanmu"
"Sepertinya kau kurang memahami teori dalam perkataanku, maksud dari perkataanku adalah sebuah ejekan, tapi terserah kau mencernanya sebagai apa,"
ucap Riyan.
"Ya, iya, aku mencernanya sebagai sebuah pujian, ah... omong-omong kau masih ingatkan dengan perjanjian yang kita buat untuk menarik perhatian Olivia pada kita, dengan melakukan 10 pertandingan, jadi "
"Aku ingat, jadi?"
"Yah, seperti yang kau tahu, 1 dari sepuluh pertandingan atau lebih tepatnya kita sudah melakukan pertandingan perdana, dan tinggal 9 dari 10, juga..... pertandingan pertama itu kita seri kan, jadi poin kita sama-sama 1, ayo lakukan sekarang, kita berlomba sampai ke kelas"ucap Cleo.
"Sebenarnya kenapa aku bisa setuju waktu itu, jika tahu ini akan merepotkan, seharusnya aku tidak pernah mengiyakannya"gumam Riyan dengan menyilangkan kedua lengannya.
"Aku dengar loh perkataanmu barusan, yah... mau bagaimana lagi kayu sudah menjadi arang"ucap Cleo.
"Jadi mau bagaimana, mau atau tidak"ucap Cleo lagi.
"Baiklah, aku tidak keberatan"ucap Riyan.
Cleo mencari kayu dan membuat garis start di atas tanah, lalu mereka berdiri di belakang garis itu dan melakukan posisi start jongkok.
"Kau siap Riyan, dalam hitungan ketiga"
"Ya siap, hitung saja,"ucap Riyan.
Cleo menghitung dan mereka mulai berlari.
Impian Riyan adalah menjadi pemanjat tebing internasional sekaligus menjalani masa depan yang bahagia, tetapi impian itu selalu terhenti karena penyakitnya.
Riyan memanjat pohon yang dekat dengan bangunan sekolahnya, lalu saat berada di ketinggian dan di dahan yang cukup kuat, ia melompat langsung pada lantai dua, lalu merayap-rayap seperti cicak di dinding dengan bergantung pada pegangan tangannya yang kuat, dan berhasil sampai lantai tiga lewat jendela kelasnya, di dalam kelas hanya ada Rayden yang duduk sendirian.
"Oh, halo Rayden, jangan bilang pada siapa-siapa ya"ucap Riyan.
Riyan kemudian lompat ke lantai kelasnya lalu menarik bangkunya dan duduk di samping Rayden dengan membaca sebuah buku.
Braaak... Cleo yang berlari kencang menuju kelas dan membanting pintu kelasnya yang tertutup hingga hampir copot.
"Aku menang~ "spontan Cleo yang merasa dirinya menang.
"Ck, ck, ck... satu kata.... lambat!"ucap Riyan yang sedang membaca tanpa melihat kearah Cleo sama sekali.
"A-apa, bagaimana bisa kau ada di sini lebih dulu padaku, kau bahkan tidak ada di belakang atau di depanku saat kita bertanding, kau pasti melakukan keculasan tadi kan?"ucap Cleo yang berdiri di hadapan Riyan.
"Tidak sama sekali, oh atau mungkin aku harus bilang tidak ada peraturan untuk melakukan keculasan kan, jadi aku menggunakan kesempatan itu dengan sebaik mungkin,"ucap Riyan.
"Apa kau menggunakan sihir?"
"Memangnya kau percaya pada sihir?"tanya balik Riyan.
"Tidak sih, tapi aku hanya menerka sedikit, dan sekarang aku benar-benar penasaran, kau itu apa?"
"Buat apa kau tahu aku siapa, saat orang yang kau tanya berada tepat di depan matamu, lagi pula... bukankah poinnya sudah berubah menjadi 2:1"
__ADS_1
Pembicaraan itu terus-terusan berlanjut bahkan sampai ke jam istirahat yang berikutnya.
Kantin.
"Riyan kau berkeringat, apa karena lelah?"tanya Olivia.
"Iya, sedikit"
"Heh Riyan, kau memangnya lelah kenapa?"
tanya Cia.
"Entahlah, aku hampir lupa..."ucap Riyan.
Tepat saat Riyan bicara seperti itu, Cleo datang dengan membawa sebuah eskrim dalam mangkuk ukuran besar dengan berbagai rasa, dan menempatkannya di meja di mana Riyan duduk, ia membawa 2 sekaligus.
"Ini untukmu dan ini untukku, ini pertandingan yang ke 3, jadi harap jangan samapai kalah dariku, aku cukup suka eskrim sampai-sampai dapat menghabiskan 10 kali lipat lebih banyak dari yang ada di meja ini"ucap Cleo yang memberikannya
'Bohong, Kak Cleo kan tidak suka sama sekali pada eskrim, kenapa tiba-tiba ingin memakan eskrim sebanyak itu, bersama Riyan pula, apa dia ingin menggangguku yang ingin dekat dengan Riyan' pikir Deana yang juga duduk di bangku sebelah Olivia, memperhatikan kakaknya dengan bibir yang cemberut.
"Cleo sepertinya kau tidak ada kesibukan, sampai-sampai mengajak bertanding di setiap saat,"
"Tidak akan setiap saat, hanya saat aku mau saja,"ucap Cleo.
"Hah aku harus mengikuti maumu dulu ya, agar kau segera pergi menyingkir dari depan mataku"ucap Riyan.
"Iya, iya, aku hanya akan pergi jika kau segera mengambil sendok di depan matamu dan mengikuti mauku..."ucap Cleo.
"Satu, dua tiga... selamat makan"ucap Cleo.
memakan eskrim dengan mode super cepat. Dan karena Riyan tidak mau kalah, ia juga memakan eskrim secepat yang ia bisa lakukan dengan kedua tangannya.
"Apa-apaan mereka, sejak kapan mereka jadi sedekat itu, sangat aneh... iya kan Olivia"ucap Cia.
"Aku tidak tahu, tapi Riyan sangat imut saat mulutnya penuh, benar-benar imut"ucap Olivia yang senang sendiri.
"Ya, terserah kau"
"Ayo~ Riyan, kau pasti bisa, semangat"ucap Deana.
"Kak jangan terlalu banyak makan eskrim yang rasa kacang, kakak kan alergi terhadap kacang"ucap Deana.
'Sial, dasar bodoh aku ini, sampai lupa terhadap alergiku sendiri, ah tapi kalau berhenti sekarang bisa-bisa aku yang kalah, ah... g*bl*k aku ini, sudahlah, tidak apa-apa walau alerginya kambuh, toh aku tinggal ke dokter dan minum obat saja'pikir Cleo yang tak henti-hentinya memasukkan sedok eskrim ke dalam mulutnya seraya mengucapkan sumpah serapah pada dirinya sendiri.
"Dasar kakak bodoh, jangan salahkan aku nantinya ya, karena aku sudah memperingati"teriak Deana pada kakaknya yang sama sekali tidak mempedulikan perkataan yang terucap dari adiknya barusan.
Pertandingan itu sangat sengit, sampai-sampai semua orang yang ada di sana untuk mempertontonkan hal yang mengundang rasa penasaran itu.
"Aku menyerah, perutku bisa mual, hoek"ucap Riyan yang hampir memuntahkannya.
"Aku menang~"ucap Cleo dengan mulut yang begitu penuh dengan eskrim, dan tentu saja mangkok eskrim jumbonya sudah habis bersih tak tersisa sedikitpun.
"Jadi sepertinya sekarang poinnya jadi 2:2"ucap Cleo menyeringai.
Pertandingan babak ketiga selesai, dan poin mereka sama, Cleo menjadi pemenangnya, sedangkan Riyan kalah karena masih menyisakan eskrim dalam mangkuknya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.