
"Kau kan, yang membaca pesan yang kukirim pada Olivia dan menghapusnya, membuka hp miliknya.saat dia tidak ada tanpa sepengetahuannya." ucap Cia yang menyudutkan Riyan dengan tatapan yang tajam, pertanyaan yang lebih seperti polisi yang mengintrogasi tersangka, 'Apa kau penguntit, coba katakan kejahatan apa yang telah kau lakukan selama ini.'
"Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan."
ucap Riyan.
"Aku tidak menfitnah, aku hanya berasumsi." ucap Cia.
"Tapi benar kan? Kau tahu sandi di hp Olivia."
Riyan hanya terdiam dan pada saat yang sama tiba-tiba rasa nyeri pada dada Riyan yang sangat sakit, tapi dia berusaha menahannya dan hanya berdalih.
"Aw perutku sakit, aku permisi sebentar ke toilet" ucap Riyan seraya berdiri dan berlari kearah toilet.
Riyan terus saja memegangi dadanya yang terasa sakit dengan mata nanar.
Sementara itu, Cia masih merasa kesal kepada Riyan, terus saja mengerutkan keningnya.
"Dia pasti mencoba menghindariku kan,"
"Apa maksudnya?" tanya Olivia yang belum mengerti dengan suasana yang sedang terjadi.
"Bukan apa-apa, tunggu aku akan beli minuman lagi! Apa kau juga mau?"
"Iya, dua ya!"
"Ok." ucap Cia yang langsung membelinya dan kembali lagi duduk untuk memakan makanannya yang belum habis.
"Cia terima kasih minumannya." ucap Olivia seraya tersenyum, saat diberikan minuman oleh Cia.
"Iya... sama... sama." ucap Cia seraya mengerkah makanannya, tidak terasa jam istirahat sudah berakhir dan bel masuk berbunyi.
Crying... crying... crying...
"Oh tidak makananku belum habis, bagaimana ini?!?!" ucap Cia yang dengan cepatnya mengerkah makanan dengan mode mesin yang sangat cepat.
"Cia, jam istirahat sudah berakhir, tapi Riyan masih belum kembali dari toilet," ucap Olivia dengan wajah yang sedikit khawatir dan gelisah.
"Mungkin dia ketiduran di toiletnya."ucap Cia seraya memasukan semua makanan yang tersisa ke dalam mulutnya dalam satu suapan hingga mulutnya menjadi mengembung.
"Tapi, seharusnya tidak selama ini."
"Tenanglah dia hanya ke toilet bukannya ke
medan perang, lagipula jika bertemu dengan pembunuh pun, dia itu laki-laki dan sudah dewasa, jadi jangan khawatir" ucap Cia dengan santainya dan karena ia tidak peduli sama sekali.
"Olivia apa yang kau tunggu? Jam istirahat sudah berakhir ayo masuk ke kelas" tanya Cia yang mengajak Olivia pergi ke kelas.
"Iya," ucap Olivia seraya berdiri dan berjalan menuju ruang kelas bersama Cia.
'Iya, mungkin Riyan hanya terlalu lama di toiletnya, jadi dia tidak apa-apa kan?' pikir Olivia yang terus mengkhwatirkan Riyan.
'Atau dia sudah kembali ke kelas sendirian karena mendengar suara bel yang sudah berbunyi,' pikir Olivia lagi.
'Ah iya aku hampir saja lupa, aku harus memberikan minuman ini pada rayden.' pikir Olivia saat berjalan, dan setelah sampai di ruang kelas.
"Cia lihat! Bahkan Riyan belum kembali ke kelas," ucap Olivia, setelah melihat Riyan yang belum ada di kelas.
"Kalau begitu dia masih ada di toilet." ucap Cia yang tidak begitu peduli.
Kemudian Olivia menghampiri meja Rayden dan memberikan minuman yang dia belikan pada Rayden seperti biasanya.
"Rayden, ini minumlah! Kau pasti haus," ucap Olivia seraya memberikan minuman pada Rayden dengan tersenyum.
"Terima kasih." ucap Rayden dengan dingin dan cuek.
"Sama-sama," ucap Olivia seraya tersenyum, dan saat mengatakannya Olivia melirik ke samping Rayden dan menyadari jika tas Riyan tidak ada sana.
"Rayden, dimana tas Riyan?" tanya Olivia, dan sebelum menjawab pertanyaan Olivia Rayden hanya diam saja dan hanya menatap Olivia dengan tatapan dingin .
'Dia mengambil tasnya dan langsung berlari ke luar, tapi sepertinya dia sakit, karena dia terus memegang dadanya dan keringat dingin yang mengucur di wajahnya begitu banyak, wajahnya juga terlihat pucat, seharusnya aku mengatakan ini, akan tetapi,' pikir Rayden.
***kejadian sebelumnya***
__ADS_1
Jam istirahat saat Riyan yang bedalih ingin pergi ke toilet, ia lari ke kelas dan membuka pintu kelas dengan kecang, sebenarnya pintu itu tertabrak olehnya saat dia sedang berlari.
Braaak...
Suara pintu kelas yang ditabrak Riyan dengan kencang, saat kelas masih kosong dan hanya ada Rayden sendirian di dalam kelas yang sedang duduk dengan menatap jendela kelas, Riyan menghampiri mejanya dan mengambil tasnya dengan cepat.
"Rayden aku mau minta tolong, tolong bilang pada Olivia saat dia menanyakanku, bilang jika aku harus pulang karena urusan mendesak jadi... bilang juga padanya!
Aku menyuruhnya pulang bersama Cia hari ini, tolong katakan itu ya!" ucap Riyan yang mengatakannya dengan wajah pucat dan keringat dingin yang mengucur di wajahnya, dan sambil memegang dadanya yang terasa sakit, Rayden hanya diam tanpa melirik sedikit pun ke arah Riyan yang sedang berbicara dengan serius.
"Rayden... tolong dengarkan aku!" pinta Riyan dengan wajah yang memohon kepada Rayden yang masih saja diam seraya menahan rasa sakit yang ia rasakan saat itu.
"Untuk apa aku mengatakannya? Kau bisa melakukannya sendiri!" ucap Rayden seraya melihat kearah Riyan dan menatap dingin.
"Aku mohon sekali saja, aku akan sangat berterima kasih jika kau melakukannya" ucap Riyan yang dengan suara yang merintih memegang dadanya yang terasa sakit, sambil meninggalkan kelas dengan membawa tasnya.
*** ***
"Rayden, apa kau melihat Riyan?" tanya Olivia lagi karena melihat Rayden yang terdiam, masih belum menjawab pertanyaannya.
"Dia minta tolong padaku, aku harus menyampaikan padamu, katanya dia harus pergi karena urusan mendesak, dia menyuruhku menyampaikannya padamu dan kau harus pulang bersama Cia hari ini" jawab Rayden dengan nada bicara yang berbeda dari yang tadi.
"Eh iya, terima kasih karena sudah mengatakannya"
'Kau bodoh ya, kenapa kau selalu menunjukkan senyumanmu kepada orang sepertiku,' pikir Rayden.
"Olivia... maaf ya."ucap Rayden.
"Kenapa kau tiba-tiba minta maaf kepadaku?"
"Karena sikapku selama ini, dan terima kasih atas perhatian dan kehangatan yang sering kau berikan padaku selama ini."ucap Rayden dengan tersenyum kaku membalas senyuman Olivia yang lembut.
'Dan maaf karena aku harus berbohong untuk hal yang serius seperti ini tentang 'Riyan' maaf aku tidak bisa mengatakannya' pikir Rayden lagi.
"Iya tidak apa-apa, dan sama-sama."ucap Olivia seraya tersenyum, lalu ia duduk di bangkunya karena guru sudah datang, dan ia mengeluarkan buku untuk pelajaran yang berikutnya.
"Wah Olivia kau hebat, kau membuat Rayden si patung Es mencair dan membuatnya berbicara bahkan aku sampai merinding saking pertama kalinya lihat dia tersenyum, wah kau luar biasa." puji Cia.
"Aku cuma bicara sebentar karena bertanya tentang Riyan." tandas Olivia yang menjawab perkataan Cia dengan memperhatikan ke depan sambil menyimak pelajaran yang sedang diterangkan oleh guru.
"Riyan pulang karena urusan mendesak, dan soal Rayden yang minta maaf, itu... entahlah dia tiba-tiba minta maaf soal perlakuannya padaku selama ini."
"Oh Pantes si Riyan belum keliatan juga," ucap Cia dengan nada malas.
"Eh, tapi memang sih, dari dulu si Rayden itu kelakuannya parah banget, karena dia selalu memasang tampang dingin jadi tidak ada yang mau berteman dengannya karena itu dia selalu sendirian, bahkan dari dulu saat kau membelikan minuman untuknya dia tidak pernah mengucapkan terima kasih sama sekali, bahkan tidak menerima dan melemparkannya tanpa rasa bersalah lalu bilang 'aku tidak butuh' dia selalu bilang begitu" tandas Cia dengan heboh sendiri hingga membuat semuanya terganggu saat sedang mendengarkan penjelasan.
"Cia! Dengarkan penjelasan bapak!" ucap Pak Dirga guru MTK.
"Iya pak." ucap Cia, yang langsung mengunci mulutnya.
Waktu berlalu dengan cepat dan pelajaran yang ke dua pun berakhir dan berganti ke pelajaran berikutnya, lalu... pelajaran ketiga pun berakhir kemudian jam istirahat yang kedua lalu... berakhir, dan pelajaran dimulai kembali lalu berganti ke pelajaran yang ke empat sampai pelajaran ke lima yang terakhir, Olivia mengikuti semua pelajaran dengan baik seperti biasanya tapi jauh di dalam hatinya ia memikirkan Riyan dan terus saja menunggunya.
'Aku tahu tadi Rayden bilang... Riyan pulang duluan karena ada urusan mendesak tapi, tapi tidak seperti biasanya, dia orang yang bahkan tidak bisa membolos atau tidak bisa jika tidak mengikuti satu pelajaran pun, akan
tetapi kenapa dia pergi dengan alasan yang konyol, memangnya apa urusan mendesaknya? apa dia sakit dan tidak sempat memberi tahuku?' pikir Olivia yang terus saja mengkhawatirkan Riyan, ia merasakan kekhawatiran yang membuncah dalam hatinya.
'Tapi kenapa aku menunggunya... meski aku tahu dia tidak akan kembali lagi ke sekolahm'
pikir Olivia lagi.
Waktu sekolah telah usai dan jam menunjukkan pada pukul 15:00. Bel pulang sekolah berbunyi
Crying... crying... crying...
"Riyan," lirih Olivia yang tanpa sadar memanggil nama Riyan, saat ia sedang memikirkannya, bahkan ia sampai tidak mendengar bel yang berbunyi.
"Kau masih memikirkan Riyan,
hei! Olivia ini sudah jam pulang, kau tidak ingin pulang?" ucap Cia yang menyadarkan Olivia dari lamunannya.
"Ah iya." ucap Olivia segera membereskan barangnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas setelah ia tersentak dari lamunannya.
"Ayo, cepat."
__ADS_1
"Iya" ucap Olivia, kemudian mereka meninggalkan kelas dan saat sampai di luar sekolah.
"Cia sebenarnya tadi kata Rayden, Riyan menyuruhku pulang bersamamu."
"Yah, masalahnya aku hari ini tidak langsung pulang, aku mau main ke rumah nenek dan besok sore baru pulang, kau tau kan aku mau jalan-jalan di hari weekend" ucap Cia, dan tidak lama kemudian ia dijemput oleh orang tuanya dengan mobil.
'Ini, bohong, aku bahkan tidak punya keluarga dan maaf Olivia, aku tidak bisa mengantarmu pulang karena aku juga... tidak bisa berprilaku semauku, jika aku tak menurut maka aku akan mati.'pikir Cia.
"Olivia kau bisa pulang sendiri kan,
aku harus pergi sekarang,"
"Iya, baiklah... aku bisa pulang sendiri." ucap Olivia.
"Ok, aku pergi ya." ucap Cia seraya masuk ke dalam mobilnya dengan melambaikan tangannya.
Olivia dengan membalas lambaian tangan Cia, lalu ia mulai berjalan menuju ke rumah sendirian.
'Sebenarnya aku takut pulang sendiri.' pikir Olivia.
Saat di tengah jalan tiba-tiba hujan tercurah dengan derasnya tanpa peringatan dan membasahi baju Olivia sampai basah kuyup.
"Apalagi sekarang, hujan? Aku bahkan tidak punya payung karena ada di Riyan, ah... menyebalkan kenapa kau harus turun saat tidak di suruh," ucap Olivia yang menaikan suaranya dengan memaki-maki hujan di tengah jalan yang kebetulan sepi dari mobilitas orang-orang, ia berteriak keras sampai urat nadi lehernya nampak terlihat jelas.
"Kenapa aku masih memikirkan Riyan, apa dia baik-baik saja? apa dia sudah ada di rumah? bagaimana jika saat aku pulang ke rumah dia tidak ada, apa dia sakit? makanya dia pulang di jam istirahat, l bagaimana keadaannya sekarang, apa dia sudah baikan?" ucap Olivia seraya berteriak ditengah-tengah jalan yang sedang turun hujan.
Tiba-tiba Olivia merasakan sesuatu yang tidak asing.
'Oh, apa ini tiba-tiba, kenapa hujannya berhenti menerpa, apa waktu sedang terhenti, tapi di sekelilingku hujannya masih turun lalu kenapa... kenapa ada bayangan seseorang yang sedang memegangi payung di belakangku, kenapa aku merasakan sesuatu,
keberadaan seseorang... keberadaan Mu... Riyan, aku merasakan keberadaan Riyan, apa itu dia.'pikir Olivia, lalu ia berbalik kebelakang dengan cepat, dan saat ia melihat ke belakang, Riyan berada di sana, Riyan berdiri sambil tersenyum dengan memegangi payung.
"Kau akan kena Flu jika terlalu lama bermain hujan-hujanan," ucap Riyan seraya tersenyum lembut dan menatap dengan penuh kehangatan.
"Kau pikir aku sedang bermain hujan -hujanan?" gerutu Olivia dengan wajah kesal, dan mata yang sembab.
"Lalu? Kau sedang konser ditengah hujan sambil memaki-maki hujan di tengah jalan yang kebetulan sepi?" tanya Riyan dengan wajah yang mengejek mencoba menghibur.
"Kau pikir aku begitu,"
"Maaf, maaf haha." ucap Riyan dengan tertawa kecil.
"Kau tertawa... jahat sekali,"
"Riyan kau sakit? wajahmu pucat dan keringat dingin mengucur di wajahmu." ucap Olivia saat menyadari keadaan Riyan, lalu memegang kening Riyan untuk memeriksanya.
"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu,
apa kau kena Flu?" ucap Riyan yang sebelah tangannya memegang wajahnya Olivia, dan sebelahnya lagi menggenggam tangan Olivia.
"A...ku,"
Mulut Olivia terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu, namun kata-kata yang keluar dari mulutnya itu tertelan dalam bunyi hujan.
'Aku khawatir, aku ingin bilang aku merindukanmu jadi jangan pergi tanpa memberi tahuku, aku ingin mengatakannya tapi air mataku tidak bisa ditahan lagi' pikir Olivia.
"Huwaaa... aku ingin pulang, hiks...hiks,"ucap Olivia seraya menangis, yang tadinya hanya terdengar isak tangisnya, dari yang hanya sesegukan hingga akhirnya tangisan itupun pecah dan memecah keheningan di tempat itu, bahkan suara hujan pun kalah dari suara tangis Olivia, saat Olivia menangis jalanan yang sedang sepi itu semakin lama... mulai di lewati oleh orang yang hanya lewat satu persatu hingga menjadi ramai, Olivia yang menangis pun jadi diperhatikan orang-orang yang sedang lewat.
Riyan kebingungan melihat tangis Olivia yang pecah tiba-tiba seperti anak yang telah lama hilang dan baru bertemu orang tuanya setelah sekian lama, ia bahkan kelimpungan ketika ingin menenangkan tangis Olivia yang kencang itu.
"Cup, cup... jangan menangis, malu di perhatikan orang yang lewat." pekik Riyan dengan suara pelan dan wajah yang panik, karena apa yang barusan diucapkannya adalah benar, orang-orang yang berada disekitar situ ramai memperhatikan mereka.
Riyan hanya bisa mengamankan situasi di tempat itu seraya memberikan kode kepada orang-orang bahwa ia dan Olivia baik-baik saja, beruntung orang-orang di sekitar situ mengerti dan segera menjauh dari mereka.
"Hah... ayo kita pulang bersama setelah ini!" ucap Riyan menjatuhkan payung dan tasnya lalu menapuk wajah Olivia agar menatap kepadanya seraya menyeka air mata Olivia yang masih menggenang di pelupuk matanya, kemudian Riyan merengkuh pundak Olivia dan menepuknya dengan perlahan, lalu mendekati Olivia dan memeluknya dengan lembut dan erat, pelukan tiba-tiba yang membuat Olivia merasa tenang dan juga terkejut membuatnya nyaris tidak berkedip, Olivia menatap Riyan dengan mata terbelalak, Olivia hanya berdiri mematung saat di peluk Riyan.
Mereka menyatu dalam pelukan di bawah hujan, seolah-olah mereka memang di takdirkan menjadi satu sejak awal.
"Apa suda lebih baik?" tanya Riyan seraya melepas pelukannya.
"Iya, terimakasih."
"Ayo pulang!" ucap Riyan seraya meraih tangan Olivia kemudian berjalan pulang ke rumah bersama.
__ADS_1
BERSAMBUNG.