THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan

THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan
Chapter 28 Joging dan Dunia masa depan?


__ADS_3

Setelah menikmati pemandangan langit malam yang bertabur bintang dan pemandangan matahari terbit saat duduk dirumah pohon.


Kini Riyan dan Olivia sudah sama-sama mandi dan berpakaian rapih, mereka berniat untuk olahraga pagi yaitu 'joging'.


Mereka sudah berjoging.


Di suatu tempat di saat yang bersamaan, Cleo dan Deana juga sedang berjoging.


"Kak! Stop!" seru Deana dengan membentangkan kedua telapak tangannya tepat didepan wajah Cleo sehingga menghentikan Cleo yang tengah berlari kecil.


"Kenapa sih Deana?!?" protes Cleo yang heran akan tingkah adiknya.


"Lihat disana kak!" tunjuk Deana pada dua remaja yang mana ia adalah Riyan dan Olivia.


Deana menghampiri mereka dengan meninggalkan kakaknya, "Aku duluan kak!"


'Astaga, lihat anak itu!' pikir Cleo terheran-heran melihat adiknya yang lebih mementingkan orang yang ia sukai belum lama ketimbang kakanya sendiri yang sudah banyak berjasa membesarkannya sedari kecil.


"Wah ada Olivia." senyum Cleo yang juga ikut menyusul adiknya yang menghampiri Riyan dan Olivia.


"Halo Riyan/ Halo Olivia." sapa kedua bersaudara itu secara bersamaan.


"Oh, halo juga Deana." sapa balik Riyan.


"Hai Cleo." jawab Olivia dengan menyunggingkan senyum manis di bibirnya yang mungil.


"Apa kalian sedang berjoging? Kami juga sedang berjoging, bagaimana kalau kita berjoging bersama!?!" ujar Cleo dan Deana secara bersamaan.


"Ish. Kakak kenapa dari tadi terus mengikuti ucapanku." gerutu Deana.


"Sembarang! Mengikuti katamu? Aku yang duluan mengucapkannya kok." protes Cleo.


"Kau lebih labat dariku! Aku yang duluan 0.1 detik!" bantah Deana.


"Tidak, aku kok yang lebih dulu! Dan kenapa cara bicaramu jadi tidak sopan begitu pada kakakmu?"


'Astaga! Kenapa dua bersaudara ini malah adu mulut begini?!?' pikir Olivia yang memperhatikan.


"Oy, oy, kalian malah bertengkar hanya karena hal seperti." ujar Riyan yang langsung mengalihkan perhatian.


"Ah benar! Daripada seperti ini bagaimana jika kita adu lari untuk pertandingan itu, ini akan jadi yang keempat!" ujar Cleo.


"Apa hobimh itu mengajak ribut?" cibir Riyan.


"Ya, benar! Ini menjadi hobi terbaruku karena seseorang." ujar Cleo yang melirik kearah Olivia seraya menaik-turunkan alisnya.


Riyan mendengkus kasar seraya melipatkan tangan.


"Ayo adu lari dari sini sampai ujung jalan sana! Di ujung jalan sana terdapat pedagang mie ayam pinggir jalan, yang kalah harus menteraktir semua orang." usul Cleo dengan percaya diri karena yakin dirinya akan menang.


"Ok! Siapa yang takut!" ujar Riyan yang rasa percaya dirinya tak kalah dengan Cleo.


"Kakak ini apa-apaan sih, mencari keasyikan dengan merebut kesempatan emas orang lain." gumam Deana yang kesal dengan melipat bibir mungilnya.


"Astaga kalian begitu kekanak-kanakan." lirih Olivia yang mencibir seraya tertawa kecil.


Riyan dan Cleo menggunakan start jongkok untuk memulai adu lari.


"Satu...


Dua...


Tiga."


Mereka sama-sama berlari dan saling mendahului satu sama lain.


Tapi ketika di tengah jalan Riyan memberhentikan larinya saat merasa sudah jauh tertinggal oleh Cleo dan merasa sudah jauh didepan Olivia dan Deana.


"Sial, aku sangat lelah...! Lebih baik aku menyerah dan jalan biasa saja!" Gumam Riyan yang kemudian berjalan biasa mengarah kursi di pinggir jalan untuk duduk.

__ADS_1


"Tolong! Pencopet!" Suara teriakan wanita berumur paruh baya yang hendak menaiki taxi tepat sepuluh langkah dari kursi yang sedang diduduki oleh Riyan.


PPh


PPh


P


Tidak ada yang memperdulikan teriakan si ibu itu karena semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


"Tolong! Tolong! Siapapun tolong!" suara teriakannya semakin mengecil karena terlalu banyak berteriak.


Si ibu itu terus saja mengejar pencopet itu bahkan sampai terjungkal-jungkal di tengah jalan yang ramai dengan kendaraan, tidak ada satu orangpun yang membantunya.


"Tolong! Tolong!"


'Astaga, aku memang benci hal merepotkan, apalagi... Aku bahkan tidak punya rasa kasihan, lebih tepatnya aku tidak bisa merasakannya, tapi... Aku tak bisa membiarkan sesuatu yang terjadi tetap terjadi begitu saja terutama tepat didepan mataku.' pikir Riyan yang menghampiri si ibu ditengah jalan lalu menuntunnya ke bahu jalan.


"Bu, tunggu disini! Saya akan segera kembali." ucapnya yang mendudukan si ibu di kursi tempatnya duduk tadi dan memegang bahunya dengan lembut.


Lalu Riyan segera pergi mengejar di pencopet.


"Kalau aku berlari maka aku akan tertinggal jauh," gumam Riyan dengan wajah yang celingak-celinguk mencari sesuatu yang dapat digunakan.


Ia segera menghampiri sebuah sepeda yang terpakir di bahu jalan milik sepasang pasangan yang sedang kencan.


"Permisi bolehkah saya pinjam sepedanya?!


Ada seseorang yang kecopetan, saya sudah berusaha membantunya dengan mengejarnya sampai sini, namun masih kalah cepat dengan sepeda motor yang dikendarai oleh si pencopet, jadi saya pinjam ini sebentar!?!" ucap Riyan yang bicara dengan sangat cepat lalu segera menaiki sepeda dan pergi mengendarainya dengan super cepat.


Ia mengayuh sepeda dengan sangat serius, awalnya ia hanya berniat mengejar pencopet itu, tapi ada beberapa keanehan.


"Apa tadi tempat ini merupakan kota? Aku yakin yang tadi hanya sebuah tempat seperti jalanan yang dipenuhi beberapa pohon di pinggir jalannya dan beberapa rumah-rumah kecil, tapi... Kenapa semuanya berubah dalam sesaat menjadi bangunan bergedung, seolah-olah ini merupakan tempat yang berbeda dari yang tadi." gumam Riyan saat bersepeda.


Saat pikirannya terganggu tentang tempat apakah yang ia datangi, ia tidak sadar adanya belokan didepannya sehingga sepeda yang di pakai bergoyang lalu kehilangan keseimbangan dan menabrak batu sampai hampir jatuh ke selokan.


"Astaga! Sepedanya rusak!?" pekiknya lagi saat melihat sepeda yang dipinjamnya dari orang lain menjadi rusak, roda sepeda yang copot serta besinya yang bengkok karena terbentur aspal jalanan.


"Akh, aku terluka?!" gumam Riyan saat menyadari rasa sakit karena bagian siku dan lututnya tergores aspal hingga terluka dan berdarah.


Fokus Riyan kembali teralihkan oleh pencopet yang berlari tidak jauh dari tempatnya terjatuh.


Riyan menyipitkan matanya ketika melihat seorang laki-laki yang berlari kencang tanpa mempedulikan sekitarnya sehingga terus saja menabrak beberapa orang yang berjalan disekitarnya, membuat beberapa orang yang bersenggolan dengannya jadi berteriak dan mengumpat kearah laki-laki itu untuk menunjukkan kekesalannya karena tubuh mereka harus bersenggolan dengan cukup keras dengan tubuh pencopet itu.


Riyan bangkit dari jatuhnya dan berusaha berlari dengan gesit kearah pencopet yang masih berusaha melarikan diri, sesekali pencopet itu menoleh kebelakang untuk memastikan tidak ada seorang pun yang mengejarnya.


"Hei! Sialan berhenti!" teriak Riyan yang masih berusaha mengejar dengan kakinya yang terkadang bergoyang-goyang akibat terluka karena terjatuh tadi.


"Sialan! Dasar gila! Apa dia tidak lelah terus mengejar?" umpat si pencopet saat melihat kearah Riyan.


Pencopet itu dengan sengaja berlari kearah salah satu gang yang sempit. Riyan terus mengikuti meski harus sampai memiringkan cara berjalan saat melewati gang sempit itu.


Gang sempit itu membawa mereka ke jalan buntu, Riyan berusaha mengatur nafasnya.


"Hah... Menyerahlah! Tak akan ada yang bisa kau lakukan!" ancam Riyan dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Begitukah? Kau pikir tak ada yang bisa kulakukan? Sayang sekali tapi perkiraanmu salah." ucap pencopet yang berwajah sangar itu dengan santainya.


Pencopet berwajah sangar itu tampak sengaja berdiri di ujung jalan buntu dan menghadap kearah Riyan, seolah-olah sudah menunggu kehadiran Riyan dengan senyum miringnya yang menunjukkan bahwa ia bukan orang yang baik-baik.


Pencopet itu menyeringai dan menatap sinis melihat sosok Riyan yang dengan sengaja mengejarnya tanpa takut.


"Kau ternyata bisan hidup ya! Kalau begitu... Aku akan mengabulkan keinginanmu yang ingin mati." ujar laki-laki itu seraya mengeluarkan sebuah pisau yang diselipkan di pinggangnya.


Matanya melotot tajam kearah Riyan seraya terus mendekat karena berniat menusuk dengan pisau yang dipegangnya.


Pencopet itu mencengkram bahu Riyan dengan sangat kencang dan mendorongnya ke dinding gang lalu menusuk bagian vitalnya yaitu jantung hingga membuat Riyan mengeluarkan banyak darah dari mulut.


Dengan susah payah Riyan mencoba melepaskan pisau yang menusuk jantungnya, ia bahkan menghempaskan tubuh si pencopet itu hingga jatuh tersungkur ke tanah.

__ADS_1


"Ugh..." lirih Riyan yang memegangi bekas tusukan pisau itu.


"Ergh! Beraninya kau!" pencopet itu berusaha berdiri dan kembali mendekati Riyan dengan pisaunya.


"Perasaan sebelum kematian merupakan hal biasa untukku, entah... Sejak kapa seperti ini, namun... Karena terlalu terbiasa seperti ini, rasanya tidak menakutkan." ujar Riyan.


Riyan melakukan tendangan memutar dan menjatuhkan pisau yang dipegang oleh si pencopet lalu menendangnya jauh. Riyan kembali melakukan tendangan memutar dan tendangannya tepat mengenai kepala si pencopet, karena tendangan keras itu langsung membuat ambruk tubuh si pencopet, Riyan merambet tas dari tangan si pencopet dan segera pergi meninggalkan gang kecil itu.


Dengan tubuh sempoyongan yang berat dan mata yang mulai menatap nanar, Riyan masih terus bertahan.


Seorang ibu paruh baya tadi menghampirinya entah dari mana.


"Terimakasih karena sudah membantu."


"Ah... Iya, tak masalah bu." ujar Riyan dengan suara lirih.


Si ibu hanya menatap Riyan dari bawah sampai atas dan hanya tersenyum tipis saat melihat begitu banyak luka di tubuh Riyan.


"Kau tidak akan merasakan rasa sakit itu lagi!" ujarnya seraya menunjuk kearah dada Riyan yang tertusuk pisau, tepat disaat bersamaan hujun turun dengan begitu tenang tanpa kilat dan guntur.


'Hujan? Di saat seperti ini? Apa pula maksud si ibu.' pikir Riyan.


"Omong-omong bu, apa anda tahu sekarang kita ada dimana?!"


"Masa depan!" ujar si ibu.


"Masa depan? Apa maksud anda?"


"Tempat ini merupakan tempat pertama pertemuan kalian kembali setelah kehidupan kejam di kehidupan yang kau tinggali saat ini. Ini adalah seratus tahun setelah kematian kalian di masa itu."


"Hahaha... Anda ini bicara apa? Saya hampir tidak memahami perkataan anda?!" ucap Riyan dengan wajah bingung.


"Biar bagaimanapun. Mau kau paham atau tidak?! Aku akan membalas kebaikan yang kau lakukan dengan ini!" ucap si ibu yang meraih tangan Riyan yang berlumuran darah lalu menaruh sebuah kalung diatasnya seraya tersenyum hangat.


"Banyak orang yang tahu tapi berpura, banyak orang yang berprasa tapi tidak perduli, banyak orang yang bisa namun memilih keperluannya saja, banyak yang tak acuh. Tapi... Kau berbeda, karena itu terimalah! Aku juga akan menghadiahkan satu hal lagi, berikanlah ini padanya dan kau akan dapat bertemu lagi dengannya meski terpisah karena takdir yang kejam, itulah hadiah keduaku." tuturnya.


"Ahk tidak perlu!" tolak Riyan yang mencoba mengembalikan kalung yang diterimanya dari si ibu, namun entah kenapa ia tidak bisa merasakan tangannya, seolah mati rasa.


'Tanganku?! Ada apa dengan tanganku? Aku tidak bisa menggerakkannya sama sekali?!' pikir Riyan.


"Selamat tinggal! Kita akan bertemu saat kau terlahir di kehidupan ini." ucap si ibu dengan nada penuh misteri.


"Tunggu sebentar! Tunggu!"


Sebelum Riyan benar-benar mengembalikan kalung yang diterimanya, tiba-tiba angin dingin berhembus kencang lalu menerpa rambutnya sampai-sampai membuat rambutnya terkibas kedepan dan jadi menutupi kedua matanya.


Kedua matanya jadi perih karena terkena rambut dan beberapa debu yang berterbangan, Riyan mengusap-usap matanya mencoba untuk membersihkan debu dari matanya.


Sekelebat cahaya menyelimuti sekeliling Riyan saat ia sedang berusaha membersihkan mata dari debunya.


"Ahk... perih sekali" gumamnya.


"Oy Riyan! Lama sekali kau sampai? Aku sudah sangat lapar saat menunggu traktiran dari seseorang yang kalah adu lari." ujar Cleo.


Riyan membuka matanya perlahan dan kembali melihat-lihat ke sekeliling dengan wajah yang dipenuhi kebingungan serta keheranan.


"Kau sedang cari apa hah?! Kalau kau sedang cari Olivia, dia ada tepat di samping ku sekarang dan sedang bersedekap karena terlalu lama menunggumu." ujar Cleo lagi saat melihat Riyan seraya menunjuk kearah Olivia yang sedang berjongkok tepat disampingnya dengan tangan terlipat.


'Apa aku... Baru saja melintasi dimensi?' pikir Riyan yang bertanya pada dirinya sendiri.


"Oy kau mau lepas tanggung jawab ya?! Jangan berpura-pura seperti kau habis datang dari suatu tempat yang tidak kau kenali dan cepat kemari." cibir Cleo seraya melemparkan krikil kecil yang tepat mengenai kepala Riyan.


"Kau merusak pemikiranku." gumam Riyan yang mendekat kearah mereka.


Pertandingan keempat berakhir dengan kekalahan yang didapat Riyan.


Dan hari pun berakhir.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2