
Dirumah Cleo dan Deana, Deana yang terus saja memikirkan tentang bagaimana caranya agar Cleo dan ayahnya berbaikan.
"Ha, padahal aku ingin dapat dekat dengan Riyan. Tapi aku harus ke sampingkan hal itu karena aku harus buat kakak dan ayah berbaikan..."ucap Deana yang sedang berbaring di tempat tidur sepulang sekolah.
Dia berpikir hingga melamun cukup lama dan lamunan itu terganggu karena suara dering telepon dengan mode getar di hp miliknya yang berada tepat di samping telinganya.
"Ah, bikin kaget saja, ternyata ayah telepon"ucap Deana langsung duduk di tempat tidurnya dan mengangkat telepon dari ayahnya.
"Halo, ayah... ada apa?"tanya Deana yang sedang bertelepon.
"Iya, Deana, ayah ingin menanyakan kabar kalian di sana, apa semua baik-baik saja, kenapa uang yang ayah kirim tidak berkurang sama sekali? apa rumahnya nyaman? apa kalian tidur nyenyak dan makan dengan baik? ayah berulang kali menelepon kakakmu Cleo, tetapi teleponnya tidak diangkat-angkat, suruh dia agar mengaktifkan hpnya, dan bilang padanya jika sekali lagi teleponnya tidak di jawab ayah akan ke sana... katakan seperti itu ya...."ucap ayahnya dari sebrang telepon.
'Dan ini adalah sifat ayah yang tidak diketahui oleh kakak, sifat ayah yang begitu protektif, meski sifatnya yang dulu kasar pada kami, dan terkadang bisa membuat kami salah paham, namun ayah... begitu menyayangi dan memperdulikan kami, dengan tindakan yang sulit di pahami' pikir Deana.
"Deana... kau dengar ayah... "
"Ha... iya yah, aku dengar semuanya, aku akan beritahu kakak segera, jangan terlalu khawatir"ucap Deana.
"Yasudah kalau begitu, ayah ada rapat dadakan, jadi ayah tutup teleponnya"
"Iya"
Deana kemudian keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Cleo.
"Kakak aku tidak akan mengetuk, jadi aku akan langsung masuk"ucap Deana seraya membuka pintu.
"Kakak! Kata ayah angkat telepon jika dia menelepon!"ucap Deana yang berteriak tepat di telinga Cleo yang sedang terbaring di tempat tidur.
"Ah, Deana kau berisik sekali, kau mengganggu tidurku"ucap Cleo yang langsung bangun karena tersentak.
"Ayah bilang jika kakak tidak mengangkat teleponnya lagi, dia akan langsung datang ke sini"
"Ayah menelepon ya? hpku lobet .... jadi aku tidak tahu"ucap Cleo yang langsung berbaring lagi.
"Bohong, kakak tidak mau mengangkatnya kan?"ucap Deana lalu meraih hp Cleo yang ada di meja belajar dan mengaktifkannya.
"Tuh, kan hp kaka penuh, kakak cuma mematikan dayanya, pokonya lain kali kakak harus mengangkat telepon dari ayah ya! jangan lupa!"ucap Deana, sedang Cleo menutup telinganya dengan bantal.
'Adikku ini bersikap polos dan kalem disekolah hingga di juluki princess, ya... memang bagus seperti itu, jadi dia tidak lagi dirundung di sekolah seperti sebelumnya, tapi tetap saja dia ini begitu cerewet jika bersamaku' pikir Cleo.
"Kakak dengar tidak?"
"Ya dengar, jadi pergilah"
"Bohong, lalu kenapa telinganya di tutupi bantal, kakak...."ucap Deana dengan menarik bantal, kemudian Cleo membalikkan badannya dan tidak peduli.
"Huh, kakak memang menyebalkan"gumam Deana.
'Kau yang lebih menyebalkan karena mengganggu orang yang sedang ingin tidur' pikir Cleo.
"Kakak, aku mau cerita dong"
"Tidak mau, aku ini kakamu bukan teman ceritamu, lagi pula kau itu kalau sudah
bercerita pasti tidak akan berhenti"
'Deana ini orangnya sangat manja padaku'
"Ayolah kak dengar kan aku sebentar saja, setelah ini aku tidak akan menggangumu selama seminggu penuh, aku berjanji...
ini tentang anggota OSIS di sekolah kita itu, Olivia dan Riyan..."ucap Deana yang bersikeras.
"Apa? kenapa? kenapa dengan Olivia?"tanya Cleo, ia langsung tertarik begitu mendengar nama Olivia terucap.
"Olivia itu, ..... Cantik"
"Dia memang Cantik"ucap Cleo.
"Nah, sekarang dengarkan ceritaku tentang Riyan..."
"Riyan? kau suka ya?"
"Ya, tentu aku suka, dia kan cogan, dan sepertinya dia juga populer di sekolah, dan yang paling penting, dia itu anak laki-laki aneh dari kemarin sore..."
__ADS_1
"?? apa maksudnya??"
"Kakak, ingat tidak? aku pernah cerita, saat kakak ada les tambahan sehingga tak bisa menjemputku pulang dari sekolah, di tengah jalan anak-anak itu, mereka merundungku bahkan sampai melempariku dengan kerikil kecil,"
"Ah, cerita itu, yang kau bilang ada 'Anak tampan yang melindungimu dari anak-anak yang biasa mengganggumu' itu kan sembilan tahun lalu... kau ternyata tipe orang yang sulit melupakan sesuatu ya? aku saja samar-samar mengingat yang kau ceritakan waktu itu"
"Makannya, akan ku ceritakan lagi... dengar ya..."
"Jangan terlalu lama ya... waktuku sangat berharga, aku bahkan sampai tidak punya waktu untuk menggunting kuku..."ucap Cleo dengan memperhatikan kuku jarinya.
"itu kan karena kakaknya yang malas melakukannya, sudah dengarkan ceritaku"
***Waktu itu***
Pov Deana
20 Desember 2009, lebih tepatnya 9 tahun lalu, sepulang dari sekolah, aku mendapat pesan dari kakak, katanya kakak tidak bisa menjemputku dari sekolah karena ada les tambahan, sehingga aku harus pulang sendiri dengan melewati jalan biasa yang kulewati.
"Apa kau harus bercerita sedetail itu?"ucap Cleo.
"Kakak, diamlah sebentar"ucap Deana berteriak.
Saat di tengah jalan anak-anak yang biasa merundungku di sekolah, mereka mengganguku lagi saat sedang berjalan pulang ke rumah, mereka mendorongku hingga aku tersungkur di tanah.
"Hei, Deana anak pembawa sial pergilah dari sekolah kami, kau mengadukan kami pada guru dan kakakmu sehingga kami di skors dan tidak bisa masuk sekolah selama 1 bulan, dengan alasan katanya 'diskriminasi dalam sekolah' padahal kan kami hanya bercanda dengan menguncimu di kamar mandi tidak lebih dari 15 menit"
"Aku melakukannya karena kalian yang mengganguku duluan, lagi pula itu bukan yang pertama kali"
"Ya, itu bukan yang pertama kali, tapi tetap saja karena kau kami semua jadi di marahi habis-habisan oleh guru dan orang tua kami sialan..."
mereka memaki-makiku, menjambak rambutku, melempariku dengan kerikil-kerikil kecil.
Memang saat itu kondisiku sangat tertekan karena ayah yang selalu membanding-bandingkan ku dengan kakak saat di rumah, aku yang di benci oleh pihak keluarga ibu dan juga ayah karena mereka menganggapku pembawa sial dan penyebab kematian ibu, bahkan di sekolah pun, aku begitu di kucilkan dan tidak ada satu pun yang mau berteman denganku, dan hanya kakaklah yang menyayangiku.
Sampai seorang anak laki-laki aneh datang.
"Hei, hei, berhenti... apa yang kalian lakukan, ini yang namanya di sebut kekerasan tahu?"
"Hei bocah, sial minggirlah atau kau juga akan terkena sial darinya"
"Wah, baru pertama kali aku melihat hal yang sama seperti di Indonesia, mereka merundung jika tak suka, mengejek karena benci, mengucilkan karena hal-hal tak masuk akal, apa kalian tahu? masing-masing kehidupan memiliki impian, harapan, dan masa depan..."ucap anak laki-laki aneh.
"Oh kau bukan warga negara kami rupanya,
pantas saja kau berani ikut campur urusan kami, apa kau tidak diajari untuk tidak mengikuti urusan orang lain"
"Tentu pernah diajari oleh orang tuaku, tetapi mereka juga bilang saat sesuatu yang tidak baik ada di depan mata, mereka menyuruhku untuk menghentikannya"ucap anak laki-laki aneh lagi.
"Kau cuma mau sok pahlawan kan? hei teman-teman, ayo kita lempari anak itu juga bersama dengan si anak pembawa sial"
"Eh? tu-tungu, aku memang bukan warga negara ini, tapi ayahku merupakan polisi di negara ini, aku bisa melaporkan kalian jika aku mau, dan pasti nanti kalian di penjara"ucap anak laki-laki aneh.
"Hahahaa, kau bicara ngawur di siang begini, apa katamu? anak polisi?"
"Coba buktikan kalau kau anak polisi!"
"Baiklah akan ku buktikan, tunggu dulu"
Anak laki-laki itu kemudian melihat ke arahku dan bertanya, tidak, lebih tepatnya, ia berdesis di telingaku.
"Hei, kau tahu? kalau nomor telepon polisi di negaraku 110, tapi kalau di sini berapa?"tanyanya berdesis.
"Apa itu artinya kau berbohong pada mereka"
"I-iya lebih tepatnya aku sedang berusaha menyelamatkan diriku dan kau, maksudku kita... haha .. "ucapnya seraya tersenyum.
Itu pertama kalinya aku melihat seseorang tersenyum padaku, karena biasanya mereka selalu memandangku dengan ekspresi tak suka.
"Hei, kau tahu tidak?"tanyanya lagi.
"Woy, kalian, kenapa berbisik-bisik seperti itu, kalau bicara yang keras! "
"Terutama kau anak sok pahlawan, kau pasti membohongi kami kan..."
__ADS_1
"Tidak, kata ayahku ia akan segera datang..."
1 jam kemudian.
"Kau membohongi kami ya"
"Hei, kalau hitunganku sampai tiga, kita harus berlari bersama ya... satu, dua, ti"
Tepat pada saat itu aku membunyikan suara sirine polisi dari perekam dalam hpku.
"Ayo lari, dia benar-benar anak polisi"
"Hei, kalian mau kemana kalian takut ya, hahahaha"
Ia tertawa dengan lembut, dan tersenyum hangat padaku.
"Kau tak apa-apa? apa mereka melukaimu? tadi itu kita beruntung sekali ya? "
"Apanya?"
"Itu, tentang suara sirine polisi yang kebetulan berbunyi, hingga membuat mereka kabur kocar-kacir"
"Hm... sebenarnya itu suara yang berasal dari hpku, aku membunyikannya karena kau tadi terlihat putus asa"
"Aku? benarkah? hm..yasudah terima kasih karena kau melakukan hal itu, dan membuat kita berdua selamat"ucapnya.
"Seharusnya aku yang mengatakan te..."
"R...."seorang anak perempuan yang sepertinya memanggil anak aneh dari kejauhan.
"Temanku sudah menungguku, jadi aku pergi ya, semoga harimu menyenangkan"ucap anak itu lalu pergi.
".....iya"
Saat itu sebenarnya aku menyesal karena tak sempat mengucapkan terimakasih, karena mulutku begitu sulit di gerakkan.
Aku menyusul anak itu untuk mengucapkan terimakasih, tapi terlambat saat itu ia sudah masuk ke dalam mobil, dan meski aku berlari mengejar mobil sambil berteriak-teriak, sepertinya tak terdengar, dan aku pun menyerah.
Setelah itu aku berharap dan...
Menantikan suatu hari, saat ia kembali hadir di hadapanku, kuharap setidaknya aku bisa mengucapkan secara langsung, rasa terimakasih yang tak sempat diucapkan padanya, karena aku yakin, hari itu akan datang...
*****
"Hore ceritanya selesai, setelah sampai satu bab"ucap Cleo.
"Ih, kakak, aku belum selesai "
"Tapi Deana, apa hubungannya cerita ini dengan Riyan?"
"Tentu saja ada, aku yang sudah bertekad seperti itu pun berjanji ketika sudah tumbuh dewasa seperti ini untuk... "
"Untuk apa?"
"Untuk menjadi orang yang mengenalinya pertamakali saat kami di pertemukan lagi"
"Jadi maksudmu, Riyan adalah anak laki-laki aneh dari kemarin sore pada ceritamu, bagaimana kau bisa seyakin ini, kau kan tahu sama seperti Eropa, Indonesia pun memiliki tempat yang begitu luas, mungkin anak aneh itu bukan Riyan dan malah orang lain"
"Tidak, itu memang dia, aku yakin 100%, aku masih mengingat dengan jelas paras anak itu, meski terlihat dingin, dia cukup aneh...
kalau dibayangkan, dulu dia terlihat sangat tampan "
"Begitu ya, semoga berhasil dengannya, dan... karena kakakmu ini sangat-sangat mengantuk, jadi harrgailah rasa ngantuk kakakmu ini, dan cepat pergi dari kamarku "
ucap Cleo seraya mendorong-dorong tubuh Deana keluar kamarnya.
Setelah memastikan Deana sudah keluar ia segera mengunci pintu kamar.
"Deana! tepati janjimu untuk tidak mengganguku selama seminggu penuh"ucap Cleo.
"Haish... aku tidak akan menepatinya"teriak Deana dari luar pintu kamar.
BERSAMBUNG.
__ADS_1