
Malam hari di rumah Cleo dan Deana.
"Aduh Deana, perutku terasa sangat tidak enak, ugh... badanku juga jadi bintik-bintik gini, ugh gatal sekali, perutku sakit!" keluh Cleo yang terbaring pada sofa panjang diruang tamu.
"Makanya siapa suruh kakak makan eskrim yang sudah kularang itu," ucap Deana yang tidak begitu peduli, ia sedang duduk di sofa tunggal dengan bermain hp, ia sedang menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa itu dengan santainya dan wajah yang sedang memakai sebuah masker wajah.
"Kau ini! Aku melakukan itu karena aku melakukan perjanjian dengan Riyan,"
"Perjanjian apa kak?"
"Perjanjian hmm..."
Sebelum melanjutkan perkataannya Cleo memikirkan sesuatu.
'Tunggu, Deana kan suka Riyan, dia menganggap Riyan sebagai anak aneh dari kemarin sore itu, lalu... Riyan dan Olivia itu teman masa kecil karena itu... Riyan menyukai Olivia, tetapi... apakah Deana tahu akan hal itu? Apa dia tahu orang yang disukainya memiliki orang lain yang disuka di dalam hatinya, dia pasti akan sangat sedih, sebaiknya aku tidak memberitahunya... karena dia pasti akan sangat sedih jika tahu kesetiaan yang dia dedikasikan pada bocah kemarin sore itu hanyalah hal yang sia-sia.' pikir Cleo dengan serius.
"Kak? Kenapa kakak berhenti bicara? Membuatku semakin penasaran saja..."
"Perjanjian melakukan sepuluh permainan untuk bersenang-senang." ucap Cle dengan tertawa kecil.
"Apa iya begitu? Apa hanya untuk bersenang-senang saja? Apa tidak ada maksud lain dari perjanjian itu?"
"Tidak ada, memang apa yang kau pikirkan hah? Oh ya, Deana apa besok kau bisa pergi ke sekolah sendirian, kau kan bisa menyetir mobil, jadi besok akan aku berikan uang jajan saja ya." ucap Cleo.
"Memang kakak mau kemana?" tanya Deana yang langsung duduk tegap.
"Aku akan kembali ke Eropa dan kembali lagi ke sini setelah menginap di sana dua hari." ucap Cleo dengan memakan cemilan pada meja di ruang tamu.
"Kembali? Eropa? apa maksud kakak kembali kerumah? bertemu dengan ayah? apa kakak menyerah pada perkataan kakak yang akan hidup mandiri?" ucap Deana yang langsung shock mendengar ucapan kakaknya, bukan karena tidak senang kakaknya akan kembali ke sana melainkan takut jika kakaknya malah akan mencari masalah baru dengan ayahnya.
"Tentu tidak, siapa bilang aku menyerah, aku kembali ke sana hanya untuk meminta sesuatu pada ayah," ucap Cleo dengan santainya.
"Apa?" ucap Deana dengan mata yang berkedip-kedip karena berharap pertanyaannya di jawab.
"Rahasia."
"Ah kakak, beritahu aku, kenapa harus ada rahasia segala sih."ucap Deana yang sedikit kesal karena kakaknya tidak memberitahunya.
"Sudahlah, cepat tidur sana! Aku mau ke rumah sakit dulu."ucap Cleo yang meninggalkan ruang tamu dan langsung ke luar rumah.
Sementara Deana segera menurut dan langsung masuk ke kamarnya untuk pergi tidur, ia mencuci muka setelah bermaskeran dan langsung pergi tidur.
Keesokannya...
Di pagi hari Cleo sudah pergi ke bandara, sesampainya di bandara ia menunggu sampai jam pesawat pergi dengan mengecek paspor untuk kembali ke negaranya.
Tak lama setelah itu, suara pemberitahuan akan keberangkatan pesawat menggema keras pada seluruh ruangan itu, Cleo masuk dengan santai kedalam pesawat, ia duduk dengan nyaman pada kursi miliknya dengan bersandar seraya mendengarkan musik dari headphone, pesawat sudah mengudara dan terbang melesat dengan begitu cepat.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, pesawat itu akhirnya sampai dan mendarat di tempat tujuan.
Cleo yang baru turun dari pesawat sudah dijemput oleh sekertaris ayahnya saat di bandara.
"Tuan muda, silakan masuk kedalam mobil." ucap Diego dengan membungkuk hormat pada penerus yang nantinya akan ia layani, ia membukakan pintu mobil dengan ramah.
"Paman Diego, mana kunci mobilnya?" tanya Cleo dengan santai.
"Maaf tuan muda, tuan besar pasti akan memarahi saya jika tahu and—"
Cleo menyela,"ayolah paman, biarkan aku yang mengemudikan mobilnya," pinta Cleo dengan manjanya, ia menaik-turunkan alisnya.
Selain sekertaris, Diego juga merupakan pengasuh Cleo saat kecil, dan ia juga sangat memahami sifat Cleo dengan baik, bahwa tuan mudanya ini memiliki sifat yang sangat-sangat buruk, karena itulah Cleo dijuluki pembuat onar dalam keluarganya.
"Mana paman? Cepat berikan kunci itu padaku!" ucap Cleo dengan menadahkan tangan didepan Diego.
"Tapi tuan mu—" suara Diego terhenti saat melihat sorot mata Cleo yang mulai menajam kearahnya. Dengan terpaksa Diego memberikan kuncinya.
"Terimakasih paman, oh ya, karena aku akan melajukan mobil ini dengan cepat dan aku takut paman akan merasa tidak enak akan hal itu, jadi aku akan meninggalkan paman disini lalu akan kupanggil orang lain untuk menjemput paman disini." tandas Cleo.
Cleo masuk kedalam mobilnya dengan santai seraya memakai sebuah kacamata hitam yang dibawanya, lalu menginjak gas
hingga membuat mobil melaju pesat, ia menyelip-nyelip diantara mobil-mobil lain tanpa peduli pada para pengemudi lain yang mengumpat kepadanya, seolah-olah ia pemilik lintasan itu.
Cleo memberhentikan mobilnya di tempat dimana terdapat sebuah gedung yang menjual tinggi mencapai langit, gedung milik ayahnya, perusahaan terbesar di negaranya.
Ia turun dari mobil dan menurunkan kaca mata hitamnya, berjalan masuk kedalam gedung itu, melangkah lebar dengan badan tegap namun penuh ketenang layaknya seorang tuan rumah, siapapun yang melihatnya selalu menyambut dengan ramah seraya membungkuk penuh kehormatan.
Saat sampai dilantai paling atas, tanpa mengetuk atupun memberitahukan kehadirannya, Cleo langsung menendang pintu hingga salah satu pintu hampir copot.
"Hah... dasar anak sialan, ayah bahkan baru sebulan lalu mengganti pintu yang baru saja kau tendang itu," ucap ayahnya Cleo.
Cleo masuk keruangan kubus itu dan menarik sebuah sofa tepat di depan meja kerja ayahnya, ia duduk dengan bersandar menaikan kedua kakinya ke atas meja.
"Ayah, aku ingin minta buku Novel terbitan terbaru milik ayah," ucap Cleo dengan santainya.
"Kau baru saja bertemu ayahmu lalu tiba-tiba meminta sesuatu tanpa sopan santun."
__ADS_1
"Sopan santun? Hmm. Oh ya! aku hampir lupa, aku meninggalkan paman Diego dibandara sendirian. Sebaiknya ayah cepat suruh seseorang untuk menjemput paman!" ucap Cleo.
"Dasar pembuatan onar! Apa kau kemari hanya untuk berkata tidak sopan pada ayahmu."
"Tidak juga sih, alasanku kemari karena novel saja, jadi ayah, semakin cepat ayah memberikan keinginanku semakin cepat aku akan menyingkirkan dari pandangan ayah!"
"Astaga anak ini!"
'Katanya sifat anak laki-laki akan mirip dengan ayahnya, tapi kenapa yang satu ini lebih parah dari ayahnya.' pikir ayahnya Cleo seraya mengambil sebuah tablet yang setipis kertas, jari-jemarinya dengan lincah mengetuk-ngetuk tablet itu.
Ketika ketukan jarinya diangkat, lantai di sebelah kanan sejengkal dari kursi tempat Cleo duduk, lantai itu merekah, tiang berbentuk bulat seperti pipa stainless muncul, di ketinggian sekitar delapan puluh senti pipa itu berhenti naik, atasnya menipih kesamping, berubah bentuk menjadi meja bundar kecil dengan satu tiang.
Diatasnya terdapat beberapa buku novel, buku novel terbitan terbaru yang akhir-akhir ini sedang populer dipasaran.
Dengan cepat tangan Cleo merambet buku paling atas, buku yang terbaru itu segera ia bawa, lalu ia segera meninggalkan ruangan itu setelah mengucapkan terimakasih.
Disisi lain Deana yang sedang duduk termenung di dalam kelas pada jam istirahat.
"Deana, kemana Cleo hari ini? Apa dia tidak sekolah?" tanya Klaura.
"Kakak pulang ke Eropa, dia akan menginap disana selama dua hari." ucap Deana.
"Oh, gitu,"
'Yah... sayang sekali,'
'Tunggu, tunggu, bukankah ini sebuah kesempatan bagus? Karena tidak ada kakaknya... aku jadi bisa memanfaatkan Deana.' pikir Klaura dengan menyeringai.
"Deana mau istirahat denganku?"
'Ah, benar. Aku kan tidak punya teman istirahat, lebih baik aku beristirahat bersama Klaura.' pikir Deana.
"Baiklah."
Mereka pergi istirahat bersama di kantin, Klaura juga mengajak beberapa temannya dari berbagai kelas yang sekitar lima belas orang untuk ikut beristirahat bersama dengan Deana.
Ia sibuk bicara dengan teman-temannya dan mengabaikan Deana. Klaura juga dengan sengaja membuat Deana membayar makanannya dan makanan teman-temannya juga, Deana juga hanya bisa diam saja tanpa berkata-kata ataupun membantah.
Lalu setelah dimanfaatkan seperti itu, Klaura dengan teganya meninggalkan Deana sendirian, hingga kini Deana menjadi sendirian lagi.
Deana yang tidak punya teman pun jadi pergi ke taman dan duduk di bangku taman sendirian.
'Aku sendirian lagi, kenapa ya, aku tidak bisa punya teman,' pikir Deana.
Saat pandangannya yang sedang berkeliling melihat-lihat kesekitar, ia melihat Rayden yanga sedang tidur di bawah pohon yang berada dari kejauhan.
"Rayden!" ujarnya.
Rayden tidak membuka mata sama sekali.
'Ah, bahkan sepertinya dia juga tidak akan mau main denganku.' pikir Deana.
"Deana!" ujar Klaura.
"Deana, Deana, kau mau ke luar sekolah tidak, di ujung jalan sana akan ada sebuah restoran enak, ayo makan di sana!" ucap Klaura yang begitu memaksa.
'Pasti dia mengajakku karena ingin aku lagi yang membayarkan makanya. Aku tidak ingin ikut dengannya karena pasti aku akan diabaikan lagi, tapi... dia pasti akan memusuhiku jika aku menolaknya,' pikir Deana dengan serius.
"Iya," ucap Deana dengan terpaksa.
"Bagus, kalau begitu ayo cepat kita pergi!" pinta Klaura dengan mencekal erat lengan Deana seraya menarik-nariknya.
Rayden membuka matanya perlahan, mendekat kearah mereka yang sedang berjalan menjauh. Rayden segera melepaskan cekalan tangan klaura dari lengan Deana dengan sangat kasar.
"Apa yang kau lakukan, itu sangat sakit gila!" umpat Klaura.
Rayden hanya diam dan menatap tajam.
"Apa lihat-lihat? Kau bukannya minta maaf malah menatapku seperti tidak bersalah, dasar!" ucap Klaura seraya mengayunkan tangan kearah wajah Rayden.
Dengan gesitnya Rayden menahan layangan tangan yang mengarah ke wajahnya dengan telapak tangannya lalu mencengkram tangan Klaura.
"Akh!!! sialan, kau!"
'Dia menahannya dengan telapak tangan dan malah mencengkram tanganku.' pikir Klaura dengan memijat-mijat lembut telapak tangan yang dicengkeram Rayden.
"Kau punya masalah apa denganku?" ujar klaura yang setengah membentak.
"Karena kau memaksanya." singkat Rayden yang melirik sesaat kearah Deana.
"Memaksanya? Aku tidak memaksa, jelas-jelas dia juga yang mau, hah! Sekarang aku tahu alasan kenapa aku sangat tidak menyukaimu, karena kau memiliki sifat yang begitu menyebalkan." ketus Klaura seraya menjambak rambutnya sendiri dengan mengumpat.
"Menurutku... dia bukannya mau begitu saja, tapi karena dia tidak bisa menolak." ucap Rayden.
"Kau ini bicara apa hah, aku malas melayani anak sepertimu karena membuatku muak. Deana lebih baik kita segera pergi!" ucap Klaura yang kembali mencekal lengan Deana.
__ADS_1
Tapi lagi-lagi Rayden segera melepaskan cekalan tangan klaura dari lengan Deana dengan sangat kasar dan menatap tajam.
"Kau! Mau apa hah!?! Kenapa kau menahan kami pergi," hardik Klaura.
"Oh? apa jangan-jangan karena melihatku, kau jadi jatuh cinta pada pandangan pertama denganku hingga tidak mengijinkanku pergi." tutur Klaura dengan nada yang tiba-tiba melembut.
"Yah, tidak salah sih, aku kan memang cantik, tapi maaf saja ya, kau itu—"
"Apa kebiasaanmu adalah salah memahami maksud perkataan orang lain? Aku. Tidak. Suka. Sama. Sekali. Dengan. Orang. Sepertimu. " tukas Rayden dengan penuh penekanan.
"Hah! *nj*ng! Lama-lama kau membuatku semakin kesal saja," umpat Klaura.
Lalu Klaura memandang kearah Rayden.
'Kenapa dia orang yang bahkan tidak bisa berekspresi ataupun tidak bisa bicara layaknya seorang yang bisu, tiba-tiba berubah menjadi seperti ini, dia juga jadi mempedulikan orang lain, oh! Aku tahu! Dia pasti menyukai Deana, karena itu dia mencoba keras untuk melindungi Deana.' pikir Klaura dengan menyeringai.
"Deana... Jadi bagaimana? Kau mau ikut denganku atau tetap disini," tanya Klaura dengan nada memelas.
'Bagaimana ini? Apa jika aku menolak, dia akan memusuhiku dan menggangguku seperti sebelum-sebelumnya, aku akan dianiaya lagi... akan lebih baik jika aku tidak menolaknya.' pikir Deana.
"Ah, itu aku mau ik—" ucapan Deana terhenti karena Rayden menyela.
"Bukankah sedikit lagi kita harus masuk karena bel akan segera berbunyi, apa kau mencoba bolos jam pelajaran dengan mengajak-ngajak orang lain untuk menemani bolosmu, atau... kau ingin membuat anak malang ini kena masalah agar kau selamat sendirian, begitu kan? Sayangnya cara licikmu terbaca jelas dari wajahmu yang semakin dilihat semakin membuat tidak suka, membuat muak, dan membuatku mual sampai-sampai inginku muntahkan pada wajahmu itu." ucap Rayden yang menunjuk-nunjuk wajah Klaura dengan menyeringai.
"Aku menyerah, lihat saja nanti sialan!" ucap Klaura yang terpaksa pergi seraya melirik sesaat kearah Deana.
Setelah Klaura pergi cukup lama, Deana hanya duduk di bangku taman dekat Rayden yang kembali memejamkan mata dengan bersandar pada pohon.
Deana hanya duduk diam dengan kaki yang dimainkannya untuk mengetuk-ngetuk tanah.
"Berisik! Apa kau mau aku patahkah kakimu itu." ucap Rayden yang seketika membuat Deana ngeri sehingga ia berhenti mengetuk-ngetuk tanah.
'Padahal jam istirahat masih lama, tapi dia malah bicara seperti tadi karenaku kan?' pikir Deana.
"Rayden, terimakasih ya! Untuk yang tadi."
"Aku tidak berniat untuk membantumu, aku hanya melakukan itu untuk menjawab permintaan tolong dari hati yang menjerit. Dan itu juga karena kau anak yang malang. " tutur Rayden yang masih memejamkan matanya.
"Tetap saja aku berterimakasih banyak padamu." ucap Deana penuh ketulusan dan tersenyum hangat.
Rayden mengintip sedikit dengan mata kirinya untuk melihat Deana yang tersenyum hangat sampai-sampai membuatnya nyaris merekahkan sebuah senyuman, tapi dengan cepatnya Rayden mengatur ekspresi agar tidak menunjukkan senyumnya.
"Kau tidak ingin pergi ke kelas? Kau hanya menggangguku dengan terus duduk disitu."
ucap Rayden.
"Aku malas, lagi pula... dikelas pun, aku tidak punya teman dan pasti aku akan sendiri lagi," ucap Deana yang lebih terdengar seperti sebuah alasan.
"Rayden!"
"Hmm. Apa?"
"Apa kau tidak kesepian saat sendiri? Apa tidak terasa hampa saat sendiri?" tanya Deana dengan mata begitu penasaran. Membuat Rayden jadi duduk dengan tegap.
"Pertama, jangan menatap seperti itu dan kedua, aku tidak pernah merasakan kesepian ataupun hampa." ucap Rayden dengan percaya diri.
"Yakin?" tanya Deana lagi yang terlihat tak percaya dengan jawaban yang diberikan Rayden. Deana seolah mengejek karena terus saja menaik-turunkan alisnya.
"Aku yakin."
"Benar?"
"Iya, benar."
"Bohong!"
"Aku yakin seratu persen dan benar-benar tidak bohong!!!" ucap Rayden yang mulai kesal hingga tanpa sadar mulutnya terus saja menjawabi pertanyaan yang terlontar dari Deana seolah-olah ia jadi terbawa arus yang dibuat Deana, karena awalnya Rayden paling membenci saat ada orang lain yang mengajaknya bicara.
"Kau tahu tidak? Manusia itu adalah mahluk sosial?" ucap Deana setengah membentak.
"Lalu? Apa urusannya itu, atau... Lebih tepatnya apa hubungannya denganku?"
"Aku hanya ingin bilang kalau manusia itu membutuhkan manusia lain sebagai mahluk sosial. Normalnya orang akan merasa kesepian dan hampa saat sendiri, tapi kau... Kau pasti orang aneh!"
"Aku bukan orang aneh! Aku manusia biasa yang tidak membutuhkan orang lain."
"Itu malah lebih aneh lagi bodoh!"
" A-apa katamu???" ucap Rayden dengan mata mendelik.
"Apa kau dungu? Tadi aku bilang kau lebih aneh lagi bodoh!!" umpat Deana.
"Astaga. Tadi kau bilang aku aneh, bodoh, dan bahkan dungu." ucap Rayden.
Mereka terus saja berkelit lidah tanpa henti-hentinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.