THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan

THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan
Chapter 27 Hari Terpanjang


__ADS_3

"Kakak/Deana." ujar dua bersaudara itu secara bersamaan seraya saling menunjuk satu sama lain.


"Kakak sudah pulang?"


"Kau baik-baik saja? Aku sudah mengalahkan pencurinya." ujar Cleo seraya memeriksa Deana.


"Aku baik-baik saja! Tapi itu bukan pencuri, tapi Rayden!" ujar Deana.


"Rayden? Rayden yang mana?"


"Astaga kakak, jangan hanya bertanya saja karena lebih baik kita membawanya ke rumah sakit sekarang juga!" ucap Deana yang sangat khawatir karena akibat pukulan dari Cleo, Rayden mengalami mimisan dua arah pada hidungnya.


Mereka segera membawa Rayden ke rumah sakit.


Disisi lain.


Malam yang sudah sangat suntuk ini dimana seharusnya semua orang terlelap dalam tidur, menjadi hari terpanjang bagi beberapa orang seperti Riyan yang tidak bisa tidur karena sangat lapar dan Olivia yang tidak bisa tidur karena terbangun dari mimpi buruk.


Karena sama-sama terbangun akhirnya mereka memutuskan untuk tidak tidur lagi.


Setelah mereka berdua selesai makan di tengah malam itu, kini mereka berdua sedang membaca buku diruang tamu.


mereka berdua sedang sibuk membaca buku masing-masing.


"Hiksss... Hiksss... Hiksss..." tangis pelan dari Olivia yang sedang membaca buku Novel favoritnya, ia menangis pelan agar tidak menggangu Riyan, ia bahkan sampai menutupi matanya dengan buku itu.


Meski pelan sekalipun, Riyan memiliki satu indra yang paling sensitif, ia masih bisa mendengar suara bahkan dari jarak bermeter-meter, apalagi suara Olivia yang hanya berjarak sejangkauan tangan saja.


"Olivia? Kenapa kau menangis?" tanyanya.


"A-aku tidak menangis tuh. " sahut Olivia yang masih menetupi wajahnya dengan buku.


"Dasar cengeng! Berhenti menangis dan perlihatkan wajahmu!" ucap Riyan dengan menyingkirkan buku yang dipegang Olivia untuk menutupi wajahnya.


"Lihat! Betapa jeleknya dirimu saat sedang menangis, padahal aku sudah sering menyuruhmu untuk tidak menangis lagi." cibir Riyan yang menangkup wajah Olivia seraya menyeka setiap air mata yang terdapat di pelupuk matanya.


'Anehnya! Kenapa orang selalu mudah sekali untuk menangis? Kenapa mereka menangis jika akhirnya hanya akan membuat mata sembab dan berair serta membuat mata sakit, apa mereka tidak bisa jika tidak menangis? Bukan! Yang aneh adalah aku... Karena tidak bisa menangis layaknya seorang manusia!?!?!???' pikir Riyan.


"Kau sangat menyebalkan karena selalu mengejek setiap kali aku menangis." ucap Olivia.


"Olivia!" ujar Riyan.


"Hmm. Apa?" sahut Olivia yang sedikit kesal.


"Kenapa manusia menangis?"


"Apa? Tentu karena mereka merasakan kesedihan, karena itulah mereka menangis."

__ADS_1


jelas Olivia.


"Jika mereka tidak merasa sedih maka mereka tidak akan menangis kan? Kalau begitu lebih baik mereka jangan bersedih agar tidak menangis!" lirih Riyan yang termenung.


"Kau aneh Riyan! Jika manusia tidak menangis maka mereka bukanlah manusia melainkan hanya... Manusia. Pokonya manusi itu adalah mahluk yang sensitif terhadap emosi perasaan."


"Hmm benar, aku memang aneh, apa...?


Apa jika aku tidak aneh dan bisa merasakan setiap emosi perasaan yang dapat dirasakan layaknya seorang manusia, jika aku bisa marah... Bisa menangis... Dan bisa tersenyum dengan tulus dan bukannya dengan senyuman palsu yang dibuat-buat, jika aku bukan manusia yang terlahir seperti ini, apa aku bisa bersama dan terus berada disisimu lebih lama lagi?" lirih Riyan yang nyaris tidak terdengar.


"Kau bilang apa? Aneh? Manusia tanpa perasaan? Apa maksudnya semua itu?"


"Tidak, apa maksudmu? Memang aku bilang sesuatu?" tanya balik Riyan dengan tersenyum.


'Aku yakin mendengar Riyan bicara, tapi kenapa dia bilang tidak!??' pikir Olivia.


Olivia yang terdiam sesaat seolah memikirkan sesuatu yang rumit.


"Olivia? Apa buku yang kau baca sampai membuatmu menangis seperti tadi?" tanya Riyan yang membuat Olivia tersadar dari lamunannya.


"Hng... Eh, eh? Oh! Buku ini! Buku ini... Novel yang berjudul 'SACRIFICE'!" ujar Olivia.


"Apa yang membuatmu menangis dari buku itu?" tanya Riyan lagi.


"Novel ini mengisahkan tentang seorang putri duyung cantik dan pangeran tampan, kisahnya bermula ketika sang duyung yang terbawa arus ombak ketika terjadi badai menyeramkan yang membuatnya jadi terdampar di daratan. Sang duyung ditemukan oleh pangeran dan ia didapati dengan penuh luka di sekujur tubuh tanpa sehelai benang pun. Sang pangeran membawanya ke rumahnya, merawatnya dengan tulus, selama tinggal bersama terjadi kisah cinta yang saling terbalaskan, semakin lama mereka mengenal satu sama lain semakin terungkap kisah masa lalu dan ternyata mereka merupakan orang yang pernah bertemu jauh sebelum hari itu. Mereka merupakan teman masa kecil, setiap misteri serta potongan ingatan dari masa lalu mulai terungkap, masa lalu yang pahit dan kejam itu mempertemukan mereka lagi. Namun di saat dimana mereka paling bahagia dan saling mengasihi, kisah cinta mereka ditentang oleh semesta, mereka yang berbeda dunia dan yang memiliki banyak rahasia tidak bisa saling bersatu, putri duyung tak bisa hidup lama didarat sedangkan pangeran tidak bisa hidup dalam air, layaknya sebuah langit dan bumi yang tak dapat disatukan. Karena semua yang terjadi itu membuat mereka memutuskan untuk hidup di dunia mereka masing-masing, tetapi lagi-lagi... Karena rasa kerinduan yang semakin membesar perharinya, mereka melawan takdir dan hidup bersama menentang semesta, sampai... batas waktu kehidupan sang putri duyung habis, putri duyung adalah makhluk air karena itu... mereka memiliki batas waktu untuk dapat hidup di daratan, tapi karena melanggar hal mutlak itu ia harus berkorban dengan nyawanya, putri duyung itu menjadi buih laut sebagai hukuman atas pelanggaran hal mutlak itu. Sedangkan pangeran yang ditinggalkan seperti itu akhirnya iku menyusul putri duyung dengan mengakhiri hidupnya sendiri." jelas Olivia yang mendeskripsikan kisah dalam novelnya dengan begitu ringkas dan sedikit banyak.


"Astaga! Kau sedang mendeskripsikan atau sedang membuat dokumentasi perjalanan hidup?" ucap Riyan dengan sedikit mengejek.


"Biasa... Saja." singkat Riyan.


"Astaga! Kau ini. Bagaimana kau bisa tidak bereaksi sama sekali setelah mendengarkan kisah sesedih ini?" ucap Olivia yang penasaran sampai-sampai memajukan wajahnya mendekat kearah Riyan.


"Apa dimatamu ada sesuatu yang menghalang hingga kau kesulitan menangis!?!?" ucap Olivia yang terus saja mendekat hingga jarak mereka berada hanya dalam satu senti.


"Astaga Olivia kau terlalu dekat! Bisakah kau menjauh sedikit!" ucap Riyan saat menatap bola mata Olivia dari jarak yang begitu dekat.


Riyan mendorong pelan kepala Olivia dengan jari telunjuknya agar menjauh seraya bertanya, "Memang apa yang dapat membuat sedih dari kisah ini?" tanyanya.


"Karena... Karena ini mengisahkan tentang cinta yang menyedihkan," ucap Olivia.


"??? Coba jelaskan, aku tak mengerti!?!?"


"Kisah cinta menyedihkan karena meski mengetahui perasaannya saling terbalaskan namun tak dapat bersama,


jauh lebih menyedihkan dan menyakitkan ketimbang cinta yang bertepuk sebelah tangan." jelas Olivia.


'Sakit ya!?' pikir Riyan yang merenung.

__ADS_1


"Oh ya! Riyan kau ingat tentang seribu bangau yang pernah kita buat menggunakan kertas origami saat kecil dulu yang kita gantung dibelakang rumah dekat rumah pohon!?!" tanya Olivia.


'Ingatkah aku...? Aku samar-samar mengingat! Apa ini... Efek samping dari penyakit ini.' pikir Riyan.


"Riyan...?" ujar Olivia saat melihat Riyan yang masih terdiam.


"Iya aku ingat!" ujar Riyan.


'Aku tak ingat,' pikir Riyan lagi.


"Yasudah kalau begitu ayo pergi kebelakang rumah sekarang!"


"Apa? Tapi Olivia ini itu tengah malam?"


Olivia tidak peduli dan langsung menarik tangan Riyan menuju kebelakang rumah.


Di belakang rumah tepatnya dekat sebuah rumah pohon yang dibuat oleh mereka ketika masih kecil, disekeliling rumah pohon itu dihiasi banyak bangau yang terbuat dari sebuah origami.


Meski di tengah malam sekalipun tempat itu terlihat bersinar karena cahaya bulan yang bersinar cantik disertai bintang-bintang yang menghiasi angkasa malam.


Riyan dan Olivia duduk dipinggir teras rumah pohon dengan memandang langit dan bangau-bangau origami itu.


"Wah! Rasanya seperti kembali kemasa lalu, aku seperti menjadi diriku yang kecil." ujar Olivia dengan mata penuh rasa kagum saat memandangi para bintang.


'Apakah pemandangan ini seindah itu?!' pikir Riyan.


"Riyan pinjam pulpen!" ucap Olivia yang langsung meraih sebuah pulpen yang terdapat disaku bajunya Riyan.


"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Riyan saat melihat Olivia menuliskan sesuatu pada secarik kertas.


"Aku sedang menuliskan tanggal hari ini!"


"Untuk apa memangnya?"


"Untuk apa? Tentu untuk memperingatinya di masa depan yang akan datang sebagai bukti bahwa 'di hari ini aku duduk bersampingan dengan Riyan di atas rumah pohon dengan memandang langit malam yang dipenuhi bintang dan cahaya rembulan', aku harus mengingat momen ini sampai sepuluh tahun kedepan, tidak, seratus tahun kedepan, bukan... tapi, selamanya! Ya, kan? Kau juga harus mengingatnya Riyan! Waktu-waktu yang kita habiskan saat dulu, sekarang, maupun yang akan datang, harus tetap dikenang!"


tutur Olivia dengan wajah penuh kegembiraan.


'Tapi aku tidak bisa menemanimu bahkan hanya untuk setahun ke depan, tidak, aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok, bisa jadi... hari esok merupakan hari terakhirku untuk hidup di dunia ini.' pikir Riyan yang memandang wajah Olivia dengan begitu dalam seolah matanya sedang berbicara.


"Kenapa menatapku seperti itu, lihat langitnya! Betapa cantiknya langit malam ini." puji Olivia menatap langit yang penuh dengan hamparan bintang.


"Menurutku matamu yang memuji bintang pada langit malam ini terlihat lebih cermelang dan indah." gumam Riyan.


Setelah itu mereka terus memandang langit malam sampai tidak tidur sama sekali, mereka juga jadi menyaksikan momen saat matahari terbit.


Beruntungnya malam ini adalah malam minggu sehingga meski mereka bangun kesiangan pun tidak akan ada masalah karena libur sekolah.

__ADS_1


Begitulah hari dimana merupakan hari sebelum akhir pekan ini menjadi hari terpanjang bagi beberapa orang.


BERSAMBUNG.


__ADS_2