
Pov Rayden
Namaku Rayden Lucas Alvero Rafael
Keluargaku adalah sebuah keluarga yang harmonis terdiri dari ayah, ibu, dan aku, kami tinggal di desa, meski tinggal di desa, kami hidup serba kecukupan.
Kami hidup bahagia sampai ayah memutuskan untuk pindah ke kota, karena katanya beliau ingin mewujudkan impian kecilnya menjadi seorang tentara, beliau bekerja keras untuk itu, sampai akhirnya berhasil menjadi tentara.
Di mata masyarakat Ayahku adalah sosok yang hebat, kuat, berani, dan baik hati.
Dimataku dan ibu, ayah sosok yang bertanggung jawab, namun... lebih mementingkan pekerjaan, tanpa mementingkan perasaan kami, karena terlalu sibuk hingga tak ada waktu bagi kami yang merupakan keluarganya.
"Ayah, ayo main denganku, sebentar saja"
"Tidak bisa, ayah sibuk"
"Kenapa ayah selalu bilang sibuk?"
"Karena memang sibuk"
"Tapi berjanjilah ayah akan main denganku lain kali"
"Iya"
Ayahku yang sibuk.
Ayah selalu bilang jika dirinya sibuk.
Setelah hari itu berlalu cukup lama pun, ayah tak pernah menepati janjinya padaku, hubungan kami pun merenggang.
Bahkan beliau juga tak ada waktu untuk ibu, hingga ibu terlihat kesepian, ibu selalu menunggu ayah seperti orang bodoh, bahkan ibu juga sering sakit karena terus menunggu, jadi aku kasihan padanya, dan saat aku sedikit besar, aku memberontak.
"Ayah, ayah masih kerja? bahkan di rumah?"
"Iya, ayah sibuk"
"Apa ayah tidak bisa berhenti ? Ah! atau jika ayah berhenti bekerja, maka ayah akan mati? makannya ayah bekerja terus, aku tak masalah bila ayah bilang sibuk saat aku mengajak main, tapi ibu, dia selalu menunggu ayah seperti orang bodoh"
"Rayden, ayah melakukan ini demi negara, dan demi ibumu juga kau"
"Ayah hanya mencari alasan kan, kalau tidak suka aku dan ibu, tolong setidaknya jangan buat kami kecewa"
Ayahku yang mengecewakan.
Karena seorang tentara tidak bisa selalu ada di rumah setiap saat, ayah selalu pulang
1 kali setiap tahun, itu pun hanya beberapa hari saja.
Bunga mawar guelder adalah bunga yang sangat di sukai oleh ibuku, saat aku bertanya mengapa? beliau menjawab karena bunga ini dapat menghilangkan kerinduannya pada ayah yang lebih sibuk dengan pekerjaannya, bahkan di rumahku ini kemanapun mata akan memandang selalu terdapat bunga ini di setiap sisi rumah, karena katanya bunga ini hadiah pertama dari ayah saat melamar ibu, dan ibu menjadi sangat terobsesi pada bunga ini, bahkan saat hari peringatan pernikahan mereka ayah selalu mengirimkan bunga ini pada ibu tanpa datang menemuinya.
Bagi ibu ayah adalah cintanya dan jiwanya, ibu begitu mencintai ayah, dan bahkan rela melakukan apapun untuk cintanya, ayah pun sebaliknya, namun cinta mereka terhalang oleh jarak.
Tapi, aku tidak begitu dekat dengan ayah, karena hubungan kami tidak begitu baik, terkadang ayah pernah mencoba dekat dengan ku, tetapi aku selalu menjauhinya karena aku terlanjur kecewa dan membencinya.
-Saat aku sendiri
"Rayden kau sedang mengerjakan PR ya? mau ayah bantu"
"Tidak perlu"
"Jangan begitu, coba sini ayah lihat, ini caranya seperti..... seperti hmmm"
"Pergilah ayah, ayah tidak bisa membantuku karena ayah bodoh"
Ayahku yang bodoh.
-Saat aku bersama teman-temanku
"Rayden, lihat kucing di atas pohon itu, dia hampir jatuh, ayo kita bantu!"ucap temanku.
"Tidak, tidak mau, pohonnya terlalu tinggi"
"Kalau terlalu tinggi, biarkan ayah yang membantu kucingnya" ucap ayah.
"Wah ada ayahnya Rayden, hebat sekali"ucap temanku.
Ayah menolong kucing itu, namun ia juga sampai terjatuh dari pohon yang terlalu tinggi, dan menyebabkan kakinya patah, hingga dia harus cuti dari kerjanya selama beberapa bulan.
"Aku bilang pohonnya tinggi, tapi kenapa ayah naiki, lihat apa yang terjadi sekarang!"
"Hahaha anakku mengkhawatirkan ayahnya"
Ayahku yang aneh dan baik hati.
Lalu ketika hubungan kami mulai membaik, lagi-lagi ayahku mengecewakanku, dia tidak datang di hari ulang tahunku, aku tahu aku bukan anak kecil karena sudah berumur 14 tahun, tapi setidaknya aku hanya ingin ayah ada di sisiku saat aku ingin, aku tak butuh kue ulang tahun atau hadiah, aku hanya ingin dia mengucapkan selamat ulang tahun saja.
Dia juga orang yang kurang pengertian.
-Saat aku mempersiapkan ujian
"Rayden ayah pulang, wah kau rajin sekali belajarnya"
__ADS_1
"Karena aku sedang ujian, keluarlah ayah! kau mengganggu"
"Ayah kan baru pulang dan sangat rindu dengan anaknya, jadi ayah akan di sini"
"Rindu? benarkah? ayah bahkan tidak datang saat ulang tahunku"
"Soal i-itu maaf ya, kemarin ayah tidak pulang, padahalkan kemarin hari ulang tahunmu, ayah ingin menebus kesalahan dengan dekat denganmu"ucap ayah.
"Sudahlah, lagipula ini bukan yang pertama saat ayah tidak pulang di hari ulang tahunku, aku sama sekali tidak ingin dekat dengan ayah, karena aku benci ayah"
Ayahku yang kubenci.
-Di hari kelulusan, aku melihat sebuah keluarga yang harmonis.
"Ayah, ibu, lihat aku dapat peringkat 30, hebat kan?"
"Kau bangga dengan prestasi itu?"
"Tapi kan, setidaknya aku lulus"
"Iya, iya, kau mau apa sebagai hadiah kelulusanmu"
"Menghabiskan waktu bersama keluarga, makan-makanan yang enak"
"Haha iya, ayo kita pergi"
Aku jadi bertanya-tanya? bisakah keluargaku seperti itu?!
Tidak, sebenarnya aku jadi memikirkan.... akan sangat menyenangkan kalau aku yang berada di keluarga itu.
"Rayden, selamat ya sudah lulus"ucap ibu.
"Ibu aku juara kelas, peringatan 1"
"Wah anak ibu yang membanggakan, hebatnya"
"Itu saja? Ibu, ayah mana? apa dia lupa lagi?" tanyaku.
"Mungkin, dia akan segera datang"jawab ibu.
"Hei Rayden, mana ayahmu, apa lagi-lagi keluargamu yang datang hanya ibumu"ucap temanku.
"Rayden, maaf ayah terlambat karena ada mobil mogok"ucap ayah dengan baju kotor dan rambutnya berantakan.
"Apa? hei lihat itu semuanya! bukannya katanya ayah si Rayden itu seorang tentara ya? tapi kenapa dia datang ke acara kelulusan anaknya yang sudah SMP dengan baju kumuh dan cemong seperti pengemis haha"desis temanku.
"Iya, iya, pengemis, haha"desis temanku yang lain.
Aku terbiasa dengan semua ejekan yang terlontar dari teman-temanku karena ayah, saat itu aku sangat malu, karena memiliki ayah yang memalukan, karena dia terlalu baik.
"Membantu? Ayah, ayah itu sebenarnya apa? montir atau tentara?"
"Rayden, membantu itu adalah hal yang wajib, tidak peduli kita apa dan siapa, yang terpenting saat seseorang kesulitan kita harus membantunya"ucap ayah.
"Pergilah ayah, ayah membuatku malu di depan teman-temanku"
"Rayden kau tidak boleh begitu"ucap ibu.
"Rayden"
Ayah orang yang memalukan.
Lalu di waktu lain, saat aku mengurung diriku di dalam kamar.
"Rayden kau marah karena punya ayah sepertiku ya?"
"Iya, aku benci memiliki ayah sepertimu"
"Rayden, ayah hanya ingin kau bahagia~
untuk membuatmu bahagia akan ayah lakukan segalanya, apapun itu"
"Apapun itu? ayah akan melakukan segalanya?"
"Iya, akan ayah lakukan segalanya"
"Kalau begitu pergilah dari hidupku dan dari hidup ibu juga selamanya!!! dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi"
'Bohong, aku berbohong, karena aku ingin ayah setidaknya lebih pengertian lagi, jangan buat aku kesal, jangan buat aku marah, jangan buat aku membencimu.
Dan maaf karena selama ini aku sudah mengatakan hal yang melukai ayah '
Setelah itu ayah meninggalkan kamarku, keesokan paginya ayah sudah pergi bekerja sebagai tentara lagi.
Lalu waktu pun berlalu, ayah tak kunjung pulang, dan waktu berlalu lagi, berlalu dan terus berlalu, ayah hilang dan tidak pernah kembali lagi ke rumah, ia hanya mengirimkan bunga, surat , dan uang untuk kebutuhanku dan ibu tanpa muncul di hadapan kami.
Ibu terus menunggu ayah seperti orang bodoh.
"Bu, berhenti menunggu ayah seperti orang bodoh"
Lalu saat itu bingkai foto yang tergantung di dinding, sebuah foto keluarga kami, terjatuh ke lantai dan pecah.
__ADS_1
Praaang
Retakan kaca pada foto di bagian kepala ayah.
"Kenapa ini jatuh, Rayden perasaan ibu tidak enak, bagaimana ini?"
"Kenapa tanya padaku, mungkin ayah memang sudah mati ~"ucapku spontan.
"Rayden kenapa kau bilang begitu,"
Ibu berteriak dan menampar wajahku.
"Lagipula dia bukan ayahku"ucapku lalu aku mengurung diri dalam kamar.
3 hari kemudian, tepat di tahun baru yaitu tanggal 1 Januari 2016 di sore hari, aku duduk di bangku tunggal di ruang tamu saat sedang menonton televisi muncul sebuah berita.
'Selamat sore pemirsa News Update Now, saya Liora Queen Cheriesta melaporkan langsung dari tempat kejadian, sesuai laporan pada tanggal 1 Januari 2016, saat matahari gelincir pukul 16:30 petang, telah terjadi penembakan seorang 'Prajurit' tentara yang tewas dalam pelatihan militer, seorang pria berumur sekitar 35 th, bernama T_ _ _ _ _ N, tertembak saat berusaha melerai rekannya yang cekcok, ia tertembak oleh rekannya sendiri tanpa sengaja saat sedang memegang pistol, kini keadaannya keritis dan sedang berusaha tuk ditangani, saya Liora Queen Cheriesta pamit undur diri, sekian dan terima kasih'
Saat melihat berita itu, mucul dipikirkanku tentang ayah, lalu tak lama kemudian aku mendengar suara tangis ibu, suara yang berasal dari kamarnya, aku menghampiri kamar ibu dan melihat ibu menangis pijar dengan telepon genggam di tangannya.
"Ibu, ibu baik-baik saja?"
Ibu menghampiriku lalu memelukku erat dan air matanya membasahi pundakku, ibu hanya diam saat aku bertanya dan malah menangis seperti itu.
Keesokan harinya ibu mengajakku ke sebuah tempat, pemakaman yang tidak biasa, terdapat banyak makam dengan sebuah bendera negara, lalu saat itu aku melihat satu makam dengan sebuah foto yang tak asing, makam ayahku yang di kelilingi orang banyak, saat itu aku menyadari...
"Ayah"ucapku lirih seraya menitikkan air mata, kemudian aku menghampiri makam itu, menjerit, menangis, berteriak, memaki-maki, dadaku terasa sesak dan hatiku sangat sakit.
Akibat kejadian itu, aku merasa sangat terpukul, dan menganggap diriku monster dan aku memutuskan untuk menutup pintu hatiku.
Aku masih terisak dengan segala kepedihan yang mendera, memoriku berputar, mengingat kejadian-kejadian yang telah berlalu, aku sadar selama ini aku hidup dengan egois, bicara semauku tanpa memikirkan perasaan ayah,hatiku sangat sakit, hidup bagaikan monster, menghimpit menyerangku hingga *****, egoku membuat perih karena menyayat seluruh tubuhku, hingga rasanya ingin mati saja.
lalu aku menyadari...
Menyadari penyesalan...
Penyesalan karena aku baru mengetahui betapa berharganya orang yang berada di dapanku, yang sekarang terbaring dalam tanah.
Menyesal pun tak berguna karena ayah sudah benar-benar pergi meninggalkanku dan ibu, karena kata-kataku...
Kini aku memahami, manusia bisa merasakan "penyesalan", karena mereka benar-benar memahami bahwa tak ada satu cara pun yang dapat memutar balik kesalahan.
Ayah yang sibuk, ayah yang mengecewakan, ayah yang bodoh, ayah yang aneh dan terlalu baik hati, ayah yang menyebalkan dan memalukan, ayah yang kubenci...
Aku merindukan sosok ayahku...
"Kumohon, kumohon kembalilah meski hanya dalam sebuah mimpi"
ayah tak pernah kembali... bahkan di mimpi sekalipun, mungkin kini ia "membenciku".
Kebenciannya merobek hatiku berkeping-keping.
Aku menanggung penyesalan dan terus menyalahkan diri, bagiku kejadian ini menyebabkan awan kelabu yang memayungi hatiku, tiada satu hal pun yang bisa menyembuhkan perasaanku, sejak saat itu aku memutuskan untuk tidak dekat dengan orang lain, agar tidak ada lagi yang aku sakiti.
Aku pun selalu berhati-hati agar kemarahanku tidak membuat orang lain salah paham dan menjaga jarak telah menjadi kebiasaanku...
sampai.
Musim semi, lima bulan kemudian, di hari pertamaku memasuki jenjang SMA, saat semua orang sibuk mencari teman, aku hanya menyendiri agar tidak menyakiti orang lain lagi, aku berpikir....
Untuk apa aku menambah penderitaanku?
Banyak yang mencoba dekat denganku, tapi aku selalu bersikap dingin dan tak ramah agar mereka menjauhiku.
Waktu berlalu,Pertengahan semester dimulai, aku hidup dengan menjaga jarak dari orang lain.
Sampai ia mengajakku bicara dan tersenyum dengan hangat, auranya bersinar di sekelilingnya, sinarnya yang hangat berbeda denganku yang suram, karena itu aku menyukainya....
"Halo, namamu Rayden ya? aku Olivia, Rayden apa kau mau ikut istirahat bersamaku"
"......."
Di hari berikutnya.
"Rayden selamat pagi, hari ini cukup cerah loh... apa kau mau ke taman sekolah melihat bunga?"
"....."
Di hari berikutnya lagi.
"Rayden sebentar lagi akan ada semester, apa kau mau belajar bersamaku di perpustakaan sekolah"
"......"
Begitulah sampai seterusnya.
Meski ia ramah dan selalu menyapaku, aku tak pernah menjawab dan hanya diam, kupikir jika seperti itu, ia akan pergi seperti yang lain dan akhirnya akan menjauhiku, namun bertolakbelakang dari harapanku justru ia malah semakin mencoba dekat denganku.
Aku tidak ingin menyakiti hatinya, karena itu, akan lebih baik jika aku menjaga jarak darinya.
Begitulah, cinta pertamaku yang baru tumbuh,
__ADS_1
Olivia gadis cantik dan imut, aku menyukainya selama 3 tahun, aku menyukainya dalam diam.
BERSAMBUNG.