THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan

THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan
Chapter 20 Tugas Kelompok part 1


__ADS_3

Jam pelajaran bahasa Indonesia.


"Untuk pengambilan nilai di materi pelajaran hari ini. Coba bentuk kelompok diskusi terdiri dari 5 orang. Buat laporan diskusi berdasarkan topik yang di pilih, kemudian grup diskusi dengan hasil laporan terbaik akan mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Kalian pilih sendiri anggota kelompoknya ya? Karena jumlah kelas ini lebih, harus ada kelompok yang jumlahnya 6 orang"ucap Bu Metta guru B.indonesia.


"Ya, bu~"


Jam istirahat kedua.


"Huh, capeknya"gumam Cia.


"Cia boleh aku bertanya?"tanya Olivia.


"Ya? kenapa tiba-tiba mau tanya? biasanya... kau bertanya tanpa tanya segala... "


"Karena ini mengenai kehidupanmu, bolehkah?"ucap Olivia.


"Ya-ya silahkan saja"


"Kita sudah berteman cukup lama selama 6 tahun, selama ini hubungan pertemanan kita sangat lekat bukan? terkadang aku selalu cerita tentang kehidupanku, tapi kau... tidak pernah sekalipun menceritakan tentang keluargamu"ucap Olivia.


"Iya, benar... Cia kami bukannya ingin memaksamu menceritakan tentang kehidupanmu, tetapi kau boleh cerita pelan-pelan pada kami"ucap Riyan.


"Lucunya tiba-tiba kalian penasaran dengan kehidupanku hahaha..."


"Mak Lampir, coba jujur deh, kau ada masalah apa dengan keluargamu?"


"Tidak ada apa-apa"ucap Cia seraya tersenyum.


'Iya, untuk sekarang aku memiliki teman yang memperdulikanku, setidaknya itu cukup untukku saat ini, aku tidak perlu menceritakannya sekarang, aku tidak mau menyulitkan mereka dan tidak mau juga menjadi beban untuk mereka, karena itu....


aku akan menyimpannya saja' pikir Cia.


'Cia kenapa warna perasaanmu lebih gelap dari yang kemarin ku lihat? seolah-olah ia sedang tersiksa, kau terlihat sangat suram' pikir Riyan yang memperhatikan Cia.


"Lalu... kenapa dengan wajahmu?"tanya Olivia.


"Wa-wajahku? tidak apa-apa dengan wajahku kok"


"Wajahmu pucat, matamu sembab, dan terakhir.... pipi sebelah kirimu bengkak dan terlihat jelas habis ditam....."


"Olivia, kita kan belum membentuk kelompok untuk pelajaran tadi..."ucap Riyan yang sengaja menyela perkataan Olivia yang belum selesai.


'Aku tahu kau khawatir Olivia, tapi aku juga tahu ada hal yang tidak bisa dikatakan Cia pada kita, jadi mari tunggu... sampai ia bisa mengatakannya sendiri tanpa paksaan dari kita' pikir Riyan.


"Ah, iya benar... aku sampai lupa kelompok bahasa Indonesianya, Cia apa kau sudah dapat kelompok?"tanya Olivia.


"Tentu sudah, kita kan anggota sekelompok"jawab Cia.


"Aku senang kau sekelompok dengan kami, sekarang anggota kita ada tiga... jadi kurang dua lagi hmm.... bagaimana dengan Danisa teman sebangkumu Cia, apa dia sudah mendapatkan kelompok?"


"Dia sudah sekelompok dengan Klaura"


"Lalu... Azra"


"Dia sekelompok dengan Humaira"


"Fatma, Kiara, Mia..."


"Mereka semua sudah mendapatkan kelompoknya masing-masing,"


"Oh, begitu ya? kalau begitu siapa lagi, kira-kira yang belum mendapatkan kelompok?"


"Aku dan adikku Deana belum mendapatkan kelompok, boleh kami masuk kelompok kalian?"tanya Cleo yang baru tiba dengan Deana.


"Ok, kelompoknya sudah pas~"ucap Olivia.

__ADS_1


"Apa kelompok ini bisa menampung satu orang lagi?" tanya Rayden yang baru saja tiba.


"Tentu bisa, sekarang anggota kelompok kita ada 6 orang, mari duduk dan diskusikan"ucap Olivia dengan ramahnya.


Setelah diskusi selesai, ditentukan kerja kelompoknya akan di lakukan di rumah Cleo dan Deana, dan janji kumpul di jam 19:30.


***


Rumah Cleo dan Deana.


Saat ini jam masih menunjukkan pukul 18:00 sore, Deana yang tidak bisa menunggu dengan sabar, ia terus-terusan membersihkan rumah yang memang sudah bersih.


"Hei nak, berhentilah bersih-bersih, toh kau bukannya membuat rumah ini semakin bersih, malahan sebaliknya... kau membuatnya jadi kotor lagi"ucap Cleo dengan mata tertutup yang sedang terbaring di sofa panjang di ruang tamu rumahnya.


"Baiklah kak aku akan berhenti, karena sekarang aku mau mandi"ucap Deana yang langsung pergi dari ruang tamu, seraya melemparkan lap kotor yang tadi dipakainya untuk bersih-bersih, lap itu terlempar dan terjatuh tepat diwajah Cleo yang sedang terbaring.


"Maaf, sengaja~"


"Dasar anak itu, kalau saja dia bukan adikku"gumam Cleo saat mengangkat lap kotor dari wajahnya dan meremas lap itu lalu melemparkannya ke sembarang tempat, dan lanjut memejamkan matanya.


Setelah itu...


Bau wangi bunga yang dapat memikat hidung orang yang mencium baunya, bau wangi yang menenangkan, bau wangi yang mempesona...


Tapi bagi Cleo...


"1 jam 15 menit 50 detik itu rekor mandimu ya?, Deana kau pasti pakai parfum sangat banyak ya? karena terlalu banyak bukanya wangi tapi malah seperti bau bu...hm"ucapan Cleo terhenti karena adiknya menutupi wajahnya dengan bantal.


"Kakak tahu tidak, ada pepatah... kalau tidak bisa berkata baik lebih baik diam agar tidak menyakiti perasaan orang lain"ucap Deana yang sudah selesai mandi, dan sudah memakai baju cantik.


"Aku tidak berniat untuk diam, karena sangat menyenangkan membuatmu kesal akh... hentikan..."ucap Cleo yang dipukuli dengan sebuah bantal.


"Kakak mandi sana... sedari pulang sekolah tadi kan belum mandi sama sekali"omel Deana.


"Kakak ini bagaimana sih? katanya suka dengan Olivia, tapi kakak malah begini, bagaimana kalau saat Olivia kesini dia bilang kakak bau"


"Memang untuk apa dia kesini?"


"Dia akan kesini karena kakak yang mengundangnya untuk mengerjakan tugas kelompoknya di rumah ini"omel Deana.


"Iya, aku lupa, aku akan mandi"ucap Cleo yang tersentak, ia langsung berdiri lalu pergi mandi.


"Hmm, sepertinya ada yang kurang, oh iya tidak ada camilan untuk tamu,"


Kriukk...kriukk...


"Uh, perutku lapar... aku tahu, aku akan pesan ayam goreng untuk mereka sekalian untuk makan malam juga"


Deana kemudian memesan ayam goreng dan menunggu di ruang tamu dengan duduk di sofa.


Tring, tring,tring.


Deana mendapat pesan dari Olivia bahwa mereka semua sudah sampai dan sedang menunggu di luar.


"Mereka sudah sampai"ucap Deana yang langsung berlari ke luar rumah.


"Halo semuanya, silahkan masuk..."ucap Deana dengan tersenyum ramah.


Saat di dalam ruang tamu.


"Olivia kau sangat Cantik dengan baju santai, terlihat elegan dan mempesona"ucap Deana.


"Kau juga sangat cantik Deana, baju yang kau pakai bersinar"ucap Olivia.


"Benarkah? terimakasih"

__ADS_1


"Rayden kau juga sangat tampan dengan jeans dan kemeja yang di masukkan, kau terlihat keren, hanya saja... kau sedikit suram karena tidak tersenyum"ucap Deana.


Rayden yang duduk di sofa hanya diam dan melirik sesaat ke arah Deana dengan wajah datar dan dingin.


'Apa aku salah bicara' pikir Deana.


"Haha... kau benar sekali Deana, Rayden sangat tampan seperti ini"ucap Olivia.


"Riyan kau juga cocok pakai jeans, dan rambutmu yang basah, entah kenapa sangat cool, dan kau sangat tampan tanpa memakai kacamata"ucap Deana.


"Terimakasih"ucap Riyan.


'Deana sepertinya sangat pandai melihat orang, sepertinya dia sangat senang hari ini, warna perasaannya indah'pikir Riyan.


"Kau memuji laki-laki tampan di depanmu, tapi belum pernah memuji kakakmu sendiri, bagaimana denganku?"ucap Cleo dengan memakai baju mandinya, dan memegang secangkir air.


"Kakak apa yang kau lakukan di depan tamu, di sini ada perempuan... kenapa kau pakai baju mandi sampai kemari"ucap Deana.


Cleo baru menyadari jika ia keluar dengan baju mandinya, dan tepat di saat Olivia ada.


"A-aku hanya se-sedikit haus dan..."ucap Cleo yang langsung kembali ke kamarnya.


'Gawat, aku tidak memakai sehelai kain pun, terutama di depan Olivia'pikir Cleo saat di dalam kamar dengan memakai baju dalamnya terburu-buru.


Setelah itu terjadi perbincangan yang cukup lama antara Deana dan Olivia hingga lewat 30 menit kemudian.


'kenapa kakak lama sekali keluarnya apa yang dia lakukan selama ini di dalam kamar'pikir Deana.


Tok,tok,tok.


"Tunggu sebentar ya, aku akan bukakan pintu"ucap Deana dan berjalan kearah pintu yang diketuk, dan membukanya.


"Oh Cia, kau sudah datang, ayo masuk"


"I-iya"


Deana kembali duduk di sofa bersama Cia.


"Cia kenapa kau terlambat?"tanya Olivia.


"A-aku ketiduran... dan saat melihat jam..."


ucap Cia dengan tubuh yang sedikit bergetar, dan sedikit demi sedikit keluar mimisan dari hidungnya.


'Kenapa tubuhnya bergetar,kenapa ia semakin pucat dari hari ke hari... dan...'pikir Riyan.


"Cia kau mimisan,"ucap Riyan yang kaget melihat Cia.


"Iya benar, kau mimisan"ucap Olivia.


"Maaf membuat kalian semua jadi mempertontonkan hal yang tidak pantas untuk di lihat"ucap Cia menutupinya dengan telapak tangan dan langsung berdiri.


"Deana bolehkah aku pergi ke kamar mandi?"


"Ya? kamar mandi umum ada di sebelah kanan dekat dengan dapur, apa kau mau ku antar?"ucap Deana.


"Tidak perlu, aku permisi"ucap Cia yang langsung berlari.


Ia berjalan kearah yang tadi dikatakan Deana, tetapi di sana terdapat dua pintu, ia jadi kebingungan.


'Kepalaku pusing, seluruh tubuhku sakit dan... dimana pintu kamar mandinya, tadi kata Deana ada di sebelah kanan, tapi kenapa ada dua pintu...'pikir Cia.


'Kalau begitu aku akan mencoba yang ini...'ucap Cia yang meraih gagang pintu dan membukanya perlahan.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2