THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan

THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan
Chapter 19 Cerita Cia part 2


__ADS_3

Walau sebenarnya, aku merasa tidak pantas berada di sini.


Aku hanya bisa berharap agar kehidupanku tetap bahagia selamanya...


Apa orang sepertiku boleh mengharapkan yang seperti itu?


Keluarga kaya itu benar-benar menyayangi dan mengganggapku sebagai keluarganya, tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.


Kejadian-kejadian buruk, dan urusan yang tidak berjalan dengan baik, hanya ada hal-hal buruk yang datang seakan sudah menunggu waktunya, seolah-olah aku orang yang tidak pantas untuk bahagi.


Setengah tahun kemudian, ibu angkatku sekaligus ibu kandungnya Kevin menjadi sakit-sakitan, semakin lama penyakit itu tak kunjung sembuh dan malah semakin parah.


Pada saat itu, ibu angkatku seperti tidak punya harapan, dan hanya menunggu kematian datang menghampirinya.


Dan tepat saat kematiannya datang, ayah angkatku membawa dan menikah lagi dengan seorang perempuan cantik yang memiliki anak seumuran dengan Kevin, Dieter...


Anehnya sepertinya ada yang mengganjal pada perempuan itu dalam pikiranku...


Kematian ibu tiriku yang mencurigakan, kemunculan ibu tiri kedua.... perhatian dan kasih sayang yang terampas dariku dan kevin.


"Huhuhu... Kak... padahal ibu belum lama tiada, tapi kenapa ayah dengan teganya malah menikah lagi..."ucap Kevin, saat itu suaranya terdengar memilukan di telingaku.


"Kevin, ayahmu pasti punya alasannya sendiri yang tidak bisa ia katakan pada kita, mungkin ia ingin membutkanmu keluarga baru"


Aku juga tidak pasti tentang hal itu, tetapi aku hanya ingin menenangkan bocah 13 tahun yang sangat menderita karena kehilangan ibunya, karena aku juga memahami penderitaan itu saat kehilangan kedua orang tuaku sendiri.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, ayah angkatku mati karena sebuah kecelakaan, dan ibu tiri kami yang sekarang mulai menunjukkan sisi dirinya pada kami, ia menyiksaku dan Kevin.


Sampai aku menyadari... Rupanya aku memang tidak pantas untuk bahagia, aku hanya bisa bahagia kalau aku menukarnya dengan kemalangan orang lain...


Tapi aku tidak ingin seperti itu...


"Kak Cia, sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku hanya punya kakak, ayah dan ibu meninggalkanku terlalu cepat, dan ibu tiri kita terus-terusan menyiksa kita"


"Kevin jangan menangis, kakak ada di sini"


Penderitaan dan kesedihan yang mendalam selalu menyelimuti kami.


Ibu tiri kami memecat setiap pegawai di rumah, dan mulai menyuruh-nyuruh aku dan Kevin menggantikan pegawai itu, kami menjadi pembantu.


Setiap hari kami harus memenuhi ekspektasinya.


"Kalian harus melakukan setiap hal yang ku suruh dengan benar jika ingin hidup"


Jika sedikit saja kami membuat kesalahan, kami akan terus-terusan di beri minum susu, itu memang terlihat seperti susu biasa pada umumnya, yang anehnya susu itu seperti susu basi dan rasanya pun tak enak karena seperti tercampur sesuatu, lalu setelah meminum itu kami akan di berikan obat aneh.


Aku memang sudah terbiasa hidup sebagai pembantu dan memang sedari awal aku hanya pembantu...


Berbeda dengan Kevin, ia sering melawan, tapi karena sering melawan, ia terus-menerus di berikan susu itu tanpa di beri obat aneh, dan lama kelamaan tubuhnya melemah dan sering muncul tanda-tanda aneh di tubuhnya, kevin juga sering bilang jika ia merasaka sakit yang sangat amat teramat sakit.


"Kalau aku pergi, kakak harus selalu tersenyum dan bahagia ya..."

__ADS_1


"Apa maksudnya"


"Karena ini sangat sakit, lebih baik aku mati saja, aku sudah tidak bisa menahannya lagi kak, tolong... hiduplah bahagia"


"Kevin bertahanlah kakak akan mencari obat untukmu"


Aku menyadari... susu yang selama ini di berikan oleh ibu tiri kami adalah rancun, dan satu-satunya penawar sekaligus cara untuk menyelamatkan nyawa Kevin adalah obat aneh itu.


"Ibu, ibu kumohon... kumohon berikan obat aneh itu... kumohon selamatkan Kevin"


"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?"


"Racun, susunya ibu campurkan racun kan?"


"Binggo, kau anak yang pintar"


"Ibu tolong beri aku penawarnya"


"Sepertinya kau sangat menyayangi bocah itu yang bahkan bukan adik kandungmu ya?"


"Kumohon...kumohon akan ku lakukan apapun untuk ibu, jadi kumohon... selamatkan nyawa Kevin....."


"Baiklah akan aku selamat kan, tetapi bagaimana ya? aku juga turut berduka cita atas adik tirimu yang akan segera mati... hihihi"


"Apa maksudnya? ibu bilang akan menyelamatkan Kevin, tapi... tapi kenapa ibu bilang begitu ?"


"Kau tahu Cia anak sial dari keluarga miskin, racun yang digunakan dalam susu itu adalah racun mematikan yang dapat merusak organ tubuh secara perlahan dan tidak ada penawarnya, satu-satunya cara untuk mencegah kematian orang yang meminum racun itu adalah dengan terus meminum racunnya dengan sekala yang sama setiap hari, dan obat yang selalu kuberikan pada kalian setelah meminum susu beracun itu hanyalah sebagai pencegah agar racunnya berhenti menyebar, tetapi karena aku kehabisan obat aneh yang kau sebut itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk adik tiri yang kau sayang itu,"


"Apa maksud ibu? Hoek... jadi selama ini yang ku minum dengan kevin adalah hoek.."


"Kenapa kau sekejam ini, apa kau tidak punya darah dan air mata"


"Kau bilang apa? darah dan air mata ? Tentu saja aku punya, dulu sekali, tetapi karena kehilangan semua orang yang berharga dari sisiku semuanya sedah mengalir, karena itu sekarang semuanya sudah kering karena terkuras habis ..."


Aku ingin membunuh orang yang ada di depanku ini, tetapi jika itu yang kulakukan, aku akan kehabisan waktu untuk menyelamatkan Kevin.


"Ibu, ibu ku mohon bantu aku untuk mendapatkan obat penawarnya"


"Kau bersikeras sekali ya, akan aku bocorkan rahasia deh... racun yang kau minum dengan adik tirimu itu berbeda, karena kau penurut, aku memberikanmu racun pada umumnya yang masih memiliki obat penawar, tetapi karena adikmu tidak sama denganmu, ia suka membantahku dan sering melawan perkataanku karena itu aku mberikannya racun seperti itu padanya, jadi tolong jangan khawatir kau tidak akan pernah mati jika kau tetap menurut seperti biasanya ya, Cia sayang~"


Aku merasa jijik dan mual setiap mendengar perkataan perempuan ini, ia melontarkan kata-kata kejam dalam kemanisan, ia memang orang gila.


"Bukan, bukan aku, tapi Kevin... tolong bantu aku mendapatkan penawar untuk Kevin bu, jika ibu membantuku akan ku lakukan segalanya, jika ibu menyuruhku mencium kaki ibu, aku akan melakukannya, jika ibu menyuruhku membunuh diriku sendiri, itu pun akan ku lakukan, jadi tolonglah..."


"Menarik, kau sampai segitunya untuk melindungi hal yang berharga, kau gadis yang sama sepertiku waktu itu, karena itu aku akan membiarkanmu hidup, karena kau mirip denganku... tetapi belum semirip denganku, jika kau belum kehilangan segalanya sepertiku, kau harus merasakan juga rasa kehilangan segalanya termasuk darah dan air mata hihihi... dengan begitu kau akan benar-benar mirip denganku"


Dasar iblis, perempuan iblis, ia sangat kejam.


"Bu... tolonglah... selamatkan.... Kevin...."


"Cia berhenti memohon seperti pengemis, dan biarkan bocah itu mati, agar kau hidup, pilihlah... siapa yang aku harus ku biarkan tetap hidup, kau atau bocah itu..."

__ADS_1


"Kevin... di...a ya...ng .... ha..rus...nya... hidup... bu..."lirihku, karena banyak menangis,mulutku semakin lama semakin sulit digerakkan.


"Sayang sekali kita tidak sependapat, aku ingin kau yang hidup bukan bocah ingusan itu, jadi minumlah ini..."


glek... glek...


Aku pingsan karena meminum air yang tercampur dengan obat tidur, dan setelah aku bangun keesokan paginya, kepalaku terasa sangat berat, dan saat aku sadar sepenuhnya, Kevin adik tiriku yang sangat ku sayang mati karena kekejaman dari iblis seperti ibu tiri kami...


"Kevin... maafkan kakak..."


Kevin terbaring kaku, seluruh tubuhnya membiru, ia dikubur seperti binatang, ia dikubur di belakang rumah kami tanpa ada yang tahu selain aku dan ibu tiri.


"Kenapa anda terus seperti ini, setidanya tolong siapkan peristirahatan yang layak untuk Kevin"gumamku.


"Untuk apa menyiapkan peristirahatan yang layak, toh pada akhirnya semua yang mati akan hancur terkubur dalam tanah..."


'huhuhu...hssshhh... hiksss"


Di situasi seperti ini pun, tidak ada yang bisa ku lakukan.


Aku... jadi sendirian lagi.


Aku benci hidupku, karena seluruh hidupku adalah sebuah penyesalan, dan penyesalan terbesar di antaranya adalah, aku tidak melakukan apa pun, hingga hidupku jadi menyedihkan seperti ini.


Aku menguatkan diriku sendiri karena tak punya tempat untuk melarikan diri, tapi hal itu malah menggerogoti diriku sendiri.


Apa... selamanya aku tidak bisa bahagia?


Karena aku lemah, aku tidak punya kekuatan untuk melindungi siapa pun, aku jadi harus terus bersabar.


Karena sendirian aku berjuang keras untuk tetap hidup dengan siksaan ini.


"Kau harusnya merasa beruntung karena aku membiarkanmu hidup"


"Iya bu,"


Awalnya aku juga sebenarnya tidak mengerti, kenapa aku harus... berjuang sekuat tenaga sendirian sampai sejauh ini.


Karena itu, meskipun aku berharap sedikit saja pada seseorang, yang aku dapat adalah kekecewaan, karena itu di saat ini, aku tidak akan berharap supaya aku tidak kecewa...


Waktu berlalu dan terus berlalu, lagi-lagi...


"Halo, namaku Olivia dan ini Riyan, boleh kami tahu namamu?"


"Halo"


"Cia, namaku Cia"


Mungkin ini akan menjadi kali terakhirku untuk berharap.


Aku menjalani kehidupan ganda, jika di rumah aku harus hidup dengan siksaan, tetapi di sekolah saat bersama mereka, aku ingin hidup dengan baik seperti kata Kevin.

__ADS_1


Temanku ada banyak di sekolah, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu aku yang sebenarnya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2