
"Rayden!"
"Apa lagi."
"Apa kau punya teman?" tanya Deana.
"Tidak tuh." ucap Rayden kasar.
"Kenapa? kenapa tidak mencari teman?"
"Karena aku tidak membutuhkan teman." singkat Rayden dengan acuhnya, Deana yang merasa sedikit tersinggung dengan ucapan Rayden jadi mengayunkan tangan untuk memukul kepala Rayden.
"Akh!!! Apa-apaan kau ini?"
"Apa maksudnya tidak butuh?" tanya Deana lagi tanpa rasa bersalah.
"Cih. Yah... Buat apa berteman, toh. Akhirnya hanya akan dimanfaatkan sepertinya seseorang." ucap Rayden dengan memandang Deana.
Deana yang lagi-lagi merasa tersinggung kembali memukul kepala Rayden dengan lebih kencang.
"Akh!!! Apa kau sedang cari ribut denganku."
"Kau! Menyebalkan! Amat sangat menyebalkan!" ucap Deana setengah membentak.
"Apa? Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu sekarang."
"Kau! Apa kau tahu. Tidak mudah menghadapi sendiri 'Hari esok', yang tidak bisa diprediksi oleh siapapun, tetapi dapat terjadi pada siapapun. Aku takut jika hidupku yang baru mulai berjalan normal, akan kembali hancur seperti sebelum-sebelumnya. Tanpa sadar, aku jadi punya kebiasaan untuk mengulang situasi terburuk di kepalaku berkali-kali. Seperti... Kalau aku tidak pintar dan tidak bisa memenuhi ekspektasi orang lain maka aku hanya sampah yang akan segera fibuang, jika aku tidak bersikap seperti yang diinginkan orang lain maka aku akan dimusuhi dan akan diganggu. Kebiasaan itu sangat amat membantuku sampai sekarang, aku jadi bisa menghindar dari sesuatu yang lebih buruk." ucap Deana dengan mata sembab.
"Itu mungkin sangat membantu untuk sekarang, tapi mungkin... Itu akan perlahan-lahan mencekikmu di lain waktu dan juga akan menjadi sebuah belenggu." tutur Rayden.
"Ya, benar. Kau baru saja menyadarkanku. Aku muak dengan 'Hari esok', yang terlihat begitu jelas, seolah seperti sudah pernah terjadi. Namun... Aku sudah begitu terbiasa sampai merasa tak berdaya. Dan aku sangat sadar karena itulah takdir yang ditentukan untukku, menjadi orang yang lemah seolah sudah ditentukan sejak awal." ucap Deana yang tambah kesal dan melangkah pergi meninggalkan Rayden.
Sementara itu Cleo yang berada di negaranya sedang mengistirahatkan diri dengan berbaring pada kasur di sebuah hotel dengan penuh kenyamanan serta ketenangan.
Tapi semua itu berakhir ketika ia mendapat sebuah telepon dari ayahnya.
'Sial, aku baru saja menikmati waktu santai.' pikir Cleo seraya menekan icon berwarna hijau untuk menjawab panggilan telepon itu.
"Cleo. Kau masih ada di Eropa kan?" tanya ayahnya dari sebrang telepon.
"Tidak tuh yah— "
"Cleo jangan bercanda! ayah sedang bicara serius." gertak ayahnya.
"Mana kutahu ayah sedang bicara serius, makanya bilang dari awal jika ayah sedang serius." cibir Cleo dengan santai menanggapi gertakan ayahnya.
"Hah! Kau benar-benar tidak bisa diajak bicara baik-baik ya, sudahlah! ayah sangat sibuk sekarang, jadi ayah akan langsung keintinya. Keluarga besar mengajakmu dan Deana juga termasuk ayah untuk makan malam bersama, tapi... jangan bawa Deana, kau datang sendiri saja! Ayah tung—"
"Apa ayah masih mau bersikap seolah-olah peduli padaku dan Deana?" tanya Cleo.
"Berapa kali ayah bilang kalau ayah juga punya hak untuk mengurus kalian sebagai seorang ayah."
"Hak? Apa hanya hak? Kami tak butuh hak yang tak dapat menjamin apapun." ucap Cleo dengan mengernyitkan dahinya saat sedang bertelepon dengan ayahnya.
"Cleo, ayah sangat pusing akhir-akhir ini, jangan tambah beban pikiran ayah dan datang saja besok malam." ucap ayah Cleo dengan mematikan telepon secara sepihak.
Cleo sangat kesal sampai-sampai kedua kakinya menendang ke sana ke sini tak tentu arah saat sedang berbari di tempat tidur.
Hari cepat berlalu dan hari esok pun datang.
Hari yang mungkin akan menjadi hari paling tidak terduga bagi Cleo, sedangkan esok hari yang akan menjadi hari tragedi sekaligus hari terhebat bagi Deana.
Hari ini di jam pulang sekolah.
Deana yang mau pulang sekolah tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh Klaura sampai ke toilet sekolah.
"Akh! Klaura apa yang kau lakukan?!??" tanya Deana merintih saat merasakan rasa sakit dipergelangan tangannya yang dicengkeram Klaura.
"Sakit? Benar, haru sakit baru kau tahu rasanya, itu rasanya saat si sialan itu mencengkeram tanganku untuk melindungimu." ujar Klaura dengan menatap tajam Deana seraya berjalan maju kearahnya.
"Apa maksudmu si-siapa yang melindungiku." ucap Deana dengan berjalan mundur.
Deana terus berjalan mundur hingga terpojok pada tembok, Klaura dengan cepatnya mencekik leher Deana.
"Akh!" pekik Deana.
"Mari kita lihat, seperti apa orang itu akan datang untuk melindungimu." ujar Klaura dengan wajah terlihat puas.
"Kau, lepaskan aku! bukankah kita teman." pinta Deana yang menahan sakit saat dicekik.
"Na-nafas, nafasku..." lirih Deana.
Klaura melepaskan tangannya dan berhenti mencekik Deana, Deana yang lepas dari cekikan itu kehilangan keseimbangan hingga ia terjatuh ke lantai toilet sekolah, ia dengan segera mengambil nafas sedalam-dalamnya.
Klaura mengambil tisu toilet.
"Sial! kau mengotori tanganku!" ujar Klaura seraya mengelap-ngelap tangannya dengan tisu toilet lalu setelah itu ia melemparnya kearah Deana.
Klaura mencengkram rahang Deana hingga ia tidak bisa bicara, "Dengar! jika kau laporkan ini kepada siapapun itu, maka aku akan langsung membunuhmu." ucap Klaura.
"Jangan coba-coba melaporkan ini pada kakamu atau kau akan langsung habis." ucap Klaura seraya melepaskan cengkraman yang ia lakukan pada rahang Deana.
"Anya, Quella, bereskan dia!" titah Klaura pada kedua temannya.
Anya dan Quella menyeret Deana kedalam bilik toilet lalu mengunci pintunya dan mematikan lampu seluruh toilet sehingga menjadi sangat gelap dan mereka dengan teganya meninggalkan Deana sendirian.
'Aku takut, amat sangat takut, apa aku akan mati ditempat gelap ini.' pikir Deana.
Kini Deana sudah terjebak disana selama tiga jam, ia sudah tidak bisa teriak minta tolong akibat suaranya yang tercekat karena kebanyakan menangis.
Tempat itu sangat gelap, amat gelap, seluruh lampu sekolah itu pun sudah mati karena jam sekolah sudah berakhir sejak lama, kegelapan yang begitu mencengkam.
Deana duduk pada lantai toilet dengan memeluk kedua kakinya seraya menelungkupkan wajahnya pada kakinya dan terus berharap jika ada yang datang menolongnya.
Bruuuk....
Suara sesuatu yang ditendang.
Cetrak! Cetrek! Cetrak! Cetrek!
Suara kunci pintu yang seperti dipaksa untuk terbuka.
Lima belas menit sebelumnya...
Rayden yang sedang duduk di ruang guru yang sudah sepi dan gelap dan hanya ada beberapa guru yang sedang terlihat begitu sibuk merapikan sesuatu. Para guru sedang menyiapkan kertas ulangan, Rayden yang sejak tadi menunggu ibunya untuk pulang bersama hanya diam seraya menatap kosong kearah sebuah buku biasa, buku biasa yang bersampul sebuah awan putih dengan kata 'Hari esok', ya... memang sebuah kata biasa, tapi anehnya kata itu membesitkan sesuatu pada benaknya hingga sesaat ia jadi ingat pada Deana.
"Gila!" umpat Rayden spontan, hingga membuat semua orang pada ruangan itu sesaat menatap kearahnya.
"Rayden, jika kau bosan, kau bisa berjalan-jalan saja!" pinta Rahayu.
Tanpa menjawab Rayden segera pergi, ia berjalan-jalan pada lorong gelap itu, ia berjalan dan berjalan hingga mendengar rintihan tangisan dari balik toilet yang dilewatinya.
__ADS_1
Ia masuk kedalam toilet perempuan, ia mendekat kearah suara yang berada dari bilik toilet yang paling ujung.
"Aku takut." gumam seseorang.
'Siapa itu?' pikir Rayden sesaat, 'Ah... itu... suaranya.'
Rayden dengan segera mengontak atik pintu yang terkunci mencoba membuka paksa pintu itu.
Ia menarik pintu itu dengan paksa.
'Si-siapa itu?' pikir Deana yang semakin takut.
Deana semakin membenamkan wajahnya dalam pangkuan tangannya karena merasa begitu takut, tetapi perasaan takut itu hilang ketika ada sebuah cahaya senter dari satu arah, yaitu dari atas bilik.
Sebuah senter hp yang dinyalakan seseorang membuat Deana kesilauan.
"Deana!" ujar Rayden dari atas bilik.
"Ra-Rayden kau kah itu," lirih Deana.
"Iya, ini aku. Kau baik-baik saja, tunggu sebentar! Aku akan membukakan pintu ini."
Rayden segera berlari memberitahukan para guru yang masih berada disekolah.
Para guru juga berusaha membantu dengan membuka pintu bilik toilet, tetapi sayangnya pintu itu benar-benar terkunci. Kadi mereka memanggil ahli kunci dan setelah beberapa menit akhirnya pintu itu terbuka.
"Deana apa yang sebenarnya terjadi?"
"Apa kau baik-baik saja? Siapa orang yang berani melakukan ini padamu?"
"Apa kau tahu siapa orang itu?"
Deana dibanjiri dengan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan dari para guru.
"Pak, Bu, saya pikir akan lebih baik jika saat ini membiarkan Deana beristirahat, jika ia diberikan pertanyaan-pertanyaan seperti tadi hanya akan membuatnya menjadi trauma." jelang Rayden dengan tegas.
"Kau benar Rayden, sebaiknya kau antarkan pulang Deana!" usul Rahayu.
"Aku?" bantah Rayden yang menunjuk dirinya sendiri.
"Iya Rayden, sebaiknya kau saja yang antarkan pulang!"
"Benar, Deana pasti sangat ketakutan, akan lebih baik jika kau mengantarkannya pulang!"ujar para guru.
Dengan patuh juga sedikit terpaksa Rayden mengantarkan Deana untuk pulang dengan mobilnya karena Deana tidak bisa membawa mobilnya sendiri sehingga ia harus menumpang pada mobil milik Rayden.
Sepanjang jalan Rayden terus-terusan melihat kearah Deana yang menggil kedinginan.
"Pakailah ini!" suruh Rayden dengan memberikan sweater miliknya yang selalu ia bawa saat sekolah.
Di sisi lain, suasana ruangan tempat makan yang begitu mewah karena berada di restoran paling terkenal di Eropa, ruangan tempat makan keluarga kaya raya yang berada di atas ketinggian dua puluh lantai.
Ruangan yang sangat luas dengan pemandangan langit malam Eropa yang sangat indah dari balik kaca.
Makanan enak yang tersusun rapih, setiap alat makan yang terukir emas, tesaji berbagai masakan para koki yang berasal dari tiga puluh negara permasakan.
Terdapat setiap gelas berkilau karena lilin-lilin pada meja, terdapat juga bunga-bunga dalam vas pada meja yang tertata sangat cantik.
Sayangnya setiap suasana itu hancur seketika karena di tempat itu setiap orang sedang bersitegang.
"Hei Cleo, kau makin tampan saja!" ucap sepupu sekaligus kerabat jauhnya Cleo.
"Kau makin jelek saja, semakin dilihat semakin membuat tidak suka." ketus Cleo dengan melipat tangannya.
"Kalau aku masih terlihat anak-anak bukankah itu artinya waktu terhenti." ketus Cleo.
"Benar, dia benar-benar terlihat hebat, Cleo katanya prestasi di sekolahmu sama hebatnya dengan ayahmu sebelumnya." puji nenek Cleo dari pihak ayah.
"Aku melakukan itu karena terpaksa dan juga karena penekanan nek." ketus Cleo.
"Cleo, bicaralah dengan sopan di depan keluarga." ucap ayahnya yang duduk di kursi samping Cleo.
Cleo tidak menuruti perkataan ayahnya dan masih saja menjawabi setiap pertanyaan dari para keluarga dengan nada dingin dan ketus.
Waktu berlalu dan berlalu, jam menunjukkan pukul 21:00 malam.
'Bosan! kapan semua ini berakhir.' pikir Cleo dengan begitu kesal.
"Cleo kau sudah dewasa, sepertinya diusia-usiamu seperti saat ini, kau sudah cukup layak untuk mendapatkan pelatihan menjadi seorang pewaris." usul kakek Cleo dari pihak ibu.
"Aku tidak mau jadi pewaris, yang kumau adalah menjadi seorang penyanyi." bantah Cleo dengan santainya.
"A-Apa kau bilang?"
"Apa-apaan ini, sebagai pewaris darah keluarga ini bisa-bisa kau mengatakan hal mengerikan seperti itu."
"Mengecewakan sekali, kau sungguh terburuk dari yang terburuk."
"Kenapa kau tidak mau jadi pewaris nak?"
"Penyanyi? Apa kau tidak punya mimpi lain selain itu?"
"Penyanyi? Itu hanya hal yang mengecewakan saja."
"Kau tidak bisa mengelak pada takdir yang sudah ditentukan padamu sekak awal."
'Mereka! Masih sama saja, kupikir jika aku menemui mereka lagi setelah sekian lama mungkin mereka akan berubah, akan tetapi..... Mereka masih tetap menyebalkan!' pikir Cleo seraya mengepalkan kedua tangannya.
Di saat Cleo terus saja diserang dengan kata-kata kejam dan menekan secara bertubi-tubi.
"Cukup!!! Kalian tahu? Sejak kecil, aku dituntut untuk bisa melakukan banyak hal, mencoba berbagai banyak bidang saat kecil, mencari dimana aku akan paling bisa bersinar, dan karena aku sangat pintar, apapun bidang yang aku tekuni, selalu berhasil. Tetapi ada sesuatu yang menarik perhatianku ketika berhadapan dengan musik, musik adalah media yang paling akan membuatku bersinar, bahkan... disaat banyaknya begitu tekanan dari kalian, buku dan musiklah satu-satunya penghiburan dan juga tempatku berlari, jadi... Camkan baik-baik 'Aku tidak akan pernah menyerah
seberapa kalipun "takdir" mencoba menundukkanku! Karena... Bukan takdirlah yang menentukan jalan hidupku, tetapi aku yang akan membuat jalan takdirku sendiri."
ucap Cleo.
Semua orang yang mendengar perkataan Cleo hanya tercengang, sedangkan ayahnya tersenyum puas melihat anaknya yang bisa membrontak.
Suasa yang hampir tenang itu kembali menjadi tegang kembali ketika terucap sebuah kata.
"Tetapi... Omong-omong dimana Deana."
"Benar, dimana anak pembawa sial itu."
"Kenapa bocah sial itu, tidak datang di acara perkumpulan penting seperti ini?"
"Ayah, ibu, Deana ada di Indonesia, jadi tidak bisa datang hari ini." ucap ayahnya Cleo.
"Apa? Indonesia? Kenapa bisa dia ada disana?"
"Apa dia sedang berlibur disana?"
__ADS_1
"Dasar anak sialan yang tidak tahu diri, bisa-bisanya pergi berlibur setelah melimpahkan segala kesialan yang dibawanya saat lahir ke dunia suci ini."
"Memang anak sialan yang tidak ada guna! Ah! Tapi ada juga gunanya! Akhir-akhir ini perusahaan kita sangat berkembang pesat, tapi karena itu juga tidak memustahilkan kemungkinan masa keemasan ini akan berlangsung lama kan...?"
"Benar! Tidak mustahil semua yang kita rasakan saat ini bisa terus bertahan selamanya."
"Ada satu cara untuk menghentikan hal itu."
"Iya benar! Bagaimana jika kita menggunakan Deana si anak pembawa sial itu untuk melakukan pernikahan bisnis!"
"Itu masuk akal. Jika melakukan seperti itu, maka akan sangat menguntungkan."
'Sialan! Apa mereka tidak ada lelahnya terus bicara yang membuat orang kesal,' pikir Cleo dengan gigi-giginya yang bergemerutuk.
'Pernikahan bisnis? *Nj*ng apa mereka tidak puas dengan mengucilkan serta mengasingkan Deana dalam keluarga, bisa-bisanya mereka berpikir memanfaatkannya dengan begitu santai. Tidak akan kubiarkan!' pikir Cleo lagi sampai-sampai tangannya yang mengepal karena kesal itu akhirnya memukul meja makan hingga membuat semua gelas dan piring diatasnya hampir jatuh.
"Gila! Kalian semua gila!" umpat Cleo.
"Para kakek-kakek dan nenek-nenek, juga para paman-paman serta para bibi-bibi yang sudah gila. Aku peringatkan! Jangan pernah berpikir untuk mengusik Deana serta keluargaku, karena bila begitu aku tidak akan pernah membiarkan orang itu untuk bisa menghirup udara lagi." ucap Cleo dengan nada serius penuh penekanan.
"Tapi jika kalian masih ingin membuat ikatan keluarga ini baik, kalian hanya perlu ingat peringatan dariku." ucap Cleo tersenyum ramah.
"Astaga bagaimana bisa ada anak sepertinya didunia ini?"
"Kelahirannya di keluarga kita merupakan tragedi terbesar dalam sejarah!"
"Tragedi! Benar-benar tragedi!"
"Bisa-bisanya ia bicara dengan wajah seserius itu lalu tiba-tiba tersenyum layaknya seorang psikopat, dia itu psikopat."
"Astaga!!! Tuhan! Apa ini sebuah bencana yang kau berikan dalam keluarga kami!?!????"
"Kalian semua ini terlalu berisik, sepertinya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, mari kita hentikan pembicaraan yang tidak akan ada habisnya sampai disini saja, karena aku harus pulang dan beristirahat. Aku juga tidak bisa meninggalkan Deana adikku tersayang sendirian di negara asing." ucap Cleo yang benar-benar pergi meninggalkan mereka semua disana.
Sementara itu...
Dirumah Deana, tempat dimana kini ia sedang bersama dengan Rayden yang telah mengantarkannya pulang kerumah.
Tadinya Rayden berniat pergi setelah mengantarkan Deana pulang kerumahnya, namun karena hujan yang turun dengan derasnya di tengah malam itu, membuat Deana jadi menahan Rayden untuk tidak pulang sebelum hujan reda.
Kini mereka sedang duduk di sofa ruang tamu dengan ditemani coklat hangat. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara.
Sampai terdengar suara.
Kruuuyuuukkk...
"A-apa kau lapar Rayden?" tanya Deana setelah mendengar bunyi perut Rayden yang begitu kencang hingga menggema.
"Ti-tidak! Itu bukan suara perutku! Percayalah! Itu bukan aku!" bantah Rayden yang sedikit malu.
Kruuuyuuukkkk.....
"Tapi sepertinya sangat lapar." ucap Deana lagi setelah mendengar suara yang sama untuk yang kedua kalinya.
"Tidak!"
"Jangan khawatir dan tunggu saja disini! Karena aku akan segera kembali dengan membawa makanan." ucap Deana yang langsung pergi ke dapur.
Sementara Rayden hanya duduk dengan menahan rasa malu.
'Bisa-bisanya kau berbunyi kencang disaat seperti ini.' pikir Rayden yang kesal seraya menendang udara, ia melampiaskan amarahnya pada udara yang tak salah apa-apa.
Deana sangat sibuk memasak di dapur, karena ia sadar tidak bisa memasak sehingga ia memutuskan untuk membuat mie instan saja.
Ia merebus mie dan setelah merasa mie-ny telah a matang ia segera mengangkatnya ke sebuah piring yang siap untuk disajikan.
Ssshhh..... Ssshhh..... Ssshhh.....
Suara air mendidih yang sedang dimasak.
"Astaga! Aku lupa mematikan kompor!?!" ucap Deana yang langsung berlari kearah kompor untuk mematikannya.
Sebelum meraih cetrekan kompor itu, tiba-tiba di kakinya merayap sesuatu serangga kecil yang berwarna hitam.
"Astaga! KECOA, KECOA!!!" pekik Deana yang ketakutan.
Rayden yang mendengar jeritan Deana segera pergi ke dapur untuk menyingkirkan kecoanya.
Rayden menghampiri Deana yang berdiri membeku seraya memejamkan mata karena sangat ketakutan dengan kecoanya, Rayden menyingkirkan kecoa itu dengan sekali pukulan tangan yang diayunkannya.
Deana yang sangat ketakutan terus saja berjalan mundur dengan gelap mata hingga kakinya membentur tiang meja makan, karena seperti itu ia nyaris saja kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh, Rayden yang melihatnya langsung segera melingkarkan tangannya ke pinggang kecil Deana untuk menahannya agar tidak jatuh.
Apa daya, kecoa yang tadi terpental karena Rayden mungkin menjadi dendam hingga ia naik lagi kekakinya Deana dan membuat Deana merasa kegelian, Deana jadi tidak tahan dan kembali kehilangan keseimbangan, ia menarik kerah baju Rayden hingga mereka jatuh bersama dan tepat disaat yang bersamaan terdengar bunyi petir yang menggelegar dan terjadi pemadaman lampu di seluruh rumah itu.
Kejadiannya sangat cepat, kini Rayden berada di atas tubuh mungil Deana, ia tidak sengaja ikut terjatuh karena ditarik oleh Deana.
Mereka berdua berada posisi yang sulit dijelaskan, tubuh yang saling melekat satu sama lain, nafas hangat yang terasa tepat didepan mereka, bahkan bibir mereka sekarang saling melekat.
Mereka saling berciuman karena kecoa, mata mereka saling memandang juga mendelik, sayangnya tidak ada dari mereka yang dapat melihat ekspresi masing-masing karena kegelapan saat itu.
Untuk beberapa saat mereka terus seperti itu, sampai-sampai momen romantis itu berakhir dengan sendirinya, seperti awal yang aneh dan akhir yang aneh juga.
Air mendidih yang belum juga dimatikan lama-kelamaan mulai meluber, air itu mulai maju ke depan dengan sendirinya hampit menimpa mereka.
Rayden yang sadar segera menggulingkan tubuhnya dan Deana ke kiri untuk menghindari air panas itu.
"Kau sadar sudah berapa kali aku menyelamatkan nyawamu hari ini?" pekik Rayden.
"Ya, aku sadar, tapi sepertinya" ucap Deana yang ketakutan setengah mati dengan mata yang melirik kearah bayangan hitam yang mendekat kearah mereka.
Rayden segera menyekap mulut Deana agar tidak bersuara menggunakan telapak tangannya.
Beberapa saat sebelumnya.
Cleo yang sudah sampai di Indonesia sudah sangat lelah dan ingin segera mengistirahatkan tubuh. Ia sudah diantar taxi untuk menuju rumahnya.
Sekarang ia berada didepan rumahnya dan jam menunjukkan pukul 1:00 malam. Cleo sudah bersiap untuk membuka pintu rumah, ia segera membukanya perlahan tepat disaat yang bersamaan terdapat kilat dan bunyi petir yang menggelegar serta diiringi pemadaman listrik pada rumah itu.
"Deana kau baik-baik saja? Kau ada didalam" pekik Cleo yang mengkhawatirkan Deana adiknya.
Ia segera masuk perlahan seraya terus meneriaki nama adiknya.
Ketika ia sampai pada dapur ia mendengar suara-suara kecil dari kejauhan.
'Apakah ada pencuri disini? Deana!' pikir Cleo.
Cleo mencari-cari alat yang mungkin bisa dijadikan senjata, tetapi tidak ada alat apa-apa kecuali buku.
Ia mengambil buku paling besar dan mendekati bayangan yang terlihat sedang tiduran di lantai.
'Mati kau pencuri! Berani-beraninya kau mengganggu di rumah keramat milikku!' pikir Cleo yang semakin mendekat.
__ADS_1
Cleo mengayunkan tangannya yang memegang sebuah buku besar itu hingga mengenai wajah Rayden, Rayden yang terkena pukulan itu langsung jatuh terkapar pada lantai dan tepat disaat yang bersamaan semua lampu dalam rumah itu kembali menyala.
BERSAMBUNG.