
Malam datang dan siang lenyap serta matahari terbenam, langit malam yang gelap nan sunyi karena sudah tengah malam dan kini tak ada lagi manusia yang melakukan mobilitas di malam hari, mereka semua terlelap dalam tidurnya masing-masing terkecuali Olivia.
Di kamar Olivia yang gelap karena lampu kamar yang sengaja ia matikan, ia yang sedang tertidur di atas tempat tidur.
Tik... tok... tik... tok... tik... tok...
suara jam dinding yang berdetak memutar waktu seraya terus bergerak melingkar yang berada di dinding tepat di atas kepala tempat tidur.
Jam menunjukkan pukul 24:30 malam, dan pada saat itu seluruh ruangan kamar di selimuti kesunyian serta keheningan dengan udara dingin yang menusuk kulit.
"Tidak! Jangan pergi! Ayah, ibu, ajak aku pergi juga bersama, kumohon!" rintihan Olivia dalam tidurnya, seraya meneteskan air mata sedikit demi sedikit, membuka matanya perlahan lalu menatap kegelapan kamarnya.
"Aku mimpi itu lagi," ucap Olivia tersenyum sendiri seraya menahan tangis.
"Kalau dipikir-pikir semua yang terjadi berawal dari kesalahanku, maaf... ayah, ibu hiksss..... hiksss." ucap Olivia lalu menangis dengan suara yang pelan...
"Jika saja aku tak pernah terlahir, mungkin kalian akan hidup bahagia sampai kini."
***Masa Lalu yang Menyedihkan ***
Pov Olivia
Namaku Olivia Fioner Alessa Vianela, ayahku bernama Leon Michael Alessander, ibuku bernama Reva Fioner Vianela, ayah dan ibu adalah pemilik Restoran terbesar di negara Indonesia, Restoran yang memiliki lima cabang di kota-kota besar yang ada di negara Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Palembang, Yogyakarta dan Surabaya. Salah satunya adalah kota Jakarta, tempat kelahiranku, aku terlahir di keluarga yang terpandang,aku anak sewata wayang, anak yang sangat di sayang di keluargaku...
Aku tinggal di sebuah rumah besar yang memiliki kolam renang yang besar, taman yang luas dengan rerumputan, serta bunga
-bunga yang berhamburan di taman dengan warna yang beraneka macam, mobil yang lebih dari satu dan semuanya berkilau saat terkena terpaan sinar mentari, ruang perpustakaan peribadi juga kamar mandi di setiap kamar, ruang keluarga dengan sofa empuk dan lembut juga televisi yang besar, bahkan terdapat taman di atap teras yang diberi pagar setinggiku, ayah dan ibu selalu menghabiskan waktu mereka bersamaku, kami sering sekali berlibur keluar kota bahkan sampai ke luar negeri, disetiap liburan sekolah, mereka selalu mengajakku menginap di hotel-hotel besar.
Kehidupanku begitu menyenangkan...
karena terlahir di keluarga yang harmonis,
aku merasakan cinta kasih dari kedua orang tua yang bergitu menyayangiku sepenuh hati mereka.
Hobiku membaca, dan karena ayah suka bermain piano sedangkan ibu suka bermain biola aku juga jadi tertarik untuk belajar cara bermain kedua alat musik tersebut hingga kini itu semua menjadi hobiku, aku menuruni
bakat ayah dan ibu.
Mereka bagaikan malaikat yang hadir dalam kehidupanku menjadi cahaya saat aku berada di bawah bayangan, menemaniku ketika merasa kesepian, menjadi penghibur saat sedih, yang terus bersamaku mengukir kenangan yang terindah di dalam hati, kasih sayang mereka yang tak terbatas menjadikan kami sebagai sebuah keluarga yang harmonis.
__ADS_1
Namun semua itu hanyalah sementara, semuanya yang aku miliki hilang begitu saja karena insiden yang merenggut nyawa kedua malaikat yang menjagaku dan menyayangiku, kedua orangtuaku.
14 Febuari 2005, hari di mana kami sedang berlibur ke Eropa, disana terdapat hotel yang berdiri dengan megah dan mewah yang menjulang tinggi mencapai langit, dan kami menginap di hotel yang berlantai lebih dua puluh.
Hari ulang tahunku yang ke 5 tahun, hari ini umurku 5 tahun dan berulang tahun pada hari yang bertepatan dengan Valentine
Sore harinya saat aku baru terbangun dari tidur siang, aku berjalan ke pintu kamar dan membukanya kemudian berjalan kearah dapur, disana aku melihat ibu yang sedang memasak dengan serius, di sore ini tidak seperti biasanya, rumah terasa begitu sepi dan sunyi, aku kemudian teringat jika hari ini adalah hari ulang tahunku, aku melupakan hari ulang tahunku sendiri, aku segara menghampiri ibu yang ada di dapur lalu memeluknya dari belakang, ibu kemudian berbalik lalu ia berjongkok dan membalas pelukanku dengan hangat, lalu aku pun bertanya.
"Ibu ini hari apa?" tanyaku yang masih memeluk ibu dengan manja.
"Ini hari ibu sangat-sangat sibuk dari pagi sampai sekarang," ucap ibu melepaskan pelukannya dan melanjutkan kesibukannya di sore ini.
"Ibu ini kan hari valentine," ucapku dengan nada yang berubah kesal.
"Lalu, memang ada apa? ini kan hari tersibuk bagi ibu." ucap ibu dengan nada tak peduli.
Aku pun terdiam mendengar ucapan ibu karena sedih dengan mata hampir menangis, kemudian terdengar suara pintu kamar hotel yang dibuka lalu tak lama ayah masuk ke dapur dengan membawa beberapa barang yang ada pada tas belanja berwarna hijau besar dan menaruhnya di atas meja makan lalu tersenyum dengan hangatnya, "ayah tahu ini hari apa, ini hari ulang tahun Olivia kan?" ucap ayah seraya menyeka air mata yang menggenang di pelupuk mataku, lalu menggendongku.
"Kenapa kau kacaukan kejutannya," ucap ibu yang kini kesal pada ayah.
"Karena tuan putriku hampir menangis, aku jadi tidak tahan melihatnya." ucap ayah yang mengecup ujung kepalaku dengan tulus, ayah lalu berjalan ke arah meja makan dan duduk dengan aku dalam pangkuannya.
"Ayah hibur ibu! Agar dia tidak sedih dan agar tidak menangis sepertiku." ucapku seraya turun dari pangkuan ayah, ayah kemudian menghampiri ibu yang sedang berdiri dengan raut wajah yang tidak senang, lalu ayah mendaratkan kecupan manis dan lembut di bibir ibu, cup, "Apa sekarang kau masih marah?" tanya ayah di telinga ibu dengan tersenyum, dan itu membuat wajah ibu memerah dengan cantik dan ia terlihat malu lalu memukul kepala ayah dan mengatakan, "Apa yang kau lakukan, Olivia melihat kita tadi," ucap ibu, ayah sesaat melihat kearahku dengan mengedipkan sebelah matanya.
"tadi? Tadi aku memberikan sebuah penghiburan untuk istri tersayangku yang sedang merajuk." ucap ayah dengan lembut pada ibu.
"Ah sudahlah,kau yang mulai," cup.
Ucap ibu seraya mengecup pipi ayah dengan kaki yang sedikit berinjit.
"Ini bayaran atas yang kau lakukan sebelumnya." ucap ibu lagi kemudian ia langsung melakukan kesibukannya lagi.
"Iya,"ucap ayah seraya mengelus rambut ibu.
Ibu sesaat melihat ke arahku, "Olivia kau tidak lihat apa-apa! Tidak lihat apa-apa!" ucap ibu.
"Iya, aku tidak lihat apa-apa." ucapku, lalu setelah itu suasana menjadi canggung, karena mereka sibuk menyiapkan sesuatu dengan cukup lama hingga berjam-jam.
"Ayah, Ibu, apa yang kalian lakukan? rasanya bosan," tanyaku dengan diam duduk di kursi makan.
__ADS_1
"Menyiapkan ulang tahun anakku." ucap ayah. kemudian menghampiriku.
"ini bukanlah!" ucapnya seraya tersenyum.
Ayah memberikan tas belanja yang berwarna hijau yang tadi dia bawa kemudian aku membukanya dan melihat isinya.
Tas itu berisi banyak buah-buahan, beberapa coklat batangan, serta lilin untuk ulang tahun.
"Wah, ini semua untuku? ayah?" tanyaku.
"Iya." ucap ayah, seraya mengelus rambutku dengan lembut, lalu duduk di kursi sebelahku,
"Dan ini kuenya," ucap ibu seraya menaruh kue yang baru saja di keluarkan dari oven dan ditaruh di depanku di atas meja makan.
"Wah!"ucapku.
"Sekarang kita pasang lilin di atas kuenya lalu hias dengan buah,"ucap ayah, lalu ayah dan ibu mulai merangkai lilin dan menghias kue dengan buah-buahan.
"Selesai "ucap ayah.
"Selamat ulang tahun Olivia~"ucap ayah dan ibu seraya memberikan sebuah kecupan di pipiku.
Kami kemudian merayakan hari ulang tahun dengan bahagi hari ini.
Waktu menunjukkan pukul 23:00 malam, tak terasa waktu berjalan begitu cepat, di malam ini penuh dengan kemeriahan karena
hari ini adalah hari Valentine, banyak orang yang merayakannya dengan orang yang berhaga seperti keluarga, kekasih, dan teman, sama sepertiku yang merayakan hari ini dengan ayah dan ibu, suara kembang api yang terdengar menggelegar dari luar hotel, serta kemerlap cahayanya yang masuk melalu celah lubang, suara yang keras seolah membelah angkasa, cahayanya yang indah seolah menjadi lukisan di langit malam yang gelap, menambah kesan bagi setiap orang pada hari ini.
"Dengar itu Olivia, bahkan semua orangpun turut merayakan ulang tahunmu,"ucap ayah.
"Mereka sedang merayakan hari valentine."
ucap ibu dengan memakan kue.
"Iya. Mereka sedang merayakan hari valentine dan kita sedang meraya hari ulang tahun Olivia,"ucap ayah dengan semangat sendiri.
"ayo, kita nyalakan petasan juga diluar"ucap ayah dengan penuh semangat.
Tring...
__ADS_1
Bersambung.