
Siang ini, matahari tidak begitu terik, dia bersembunyi di balik gumpalan awan putih di langit, Olivia yang sejak tadi pagi sudah sibuk membersihkan rumah dan memasak,
karena sejak bangun tadi pagi ia tidak dapat tidur lagi, jadi ia mulai menyibukkan dirinya dengan pekerjaan-pekerjaan kecil hingga akhirnya mengurus semua pekerjaan rumah sendirian, lalu setelah semua selesai, ia juga sudah mandi dan berpakaian cantik karena niatnya ia ingin mengajak Riyan pergi belanja untuk kebutuhan rumah setelah makan, karena dia sadar persediaan makan di rumah mulai habis.
Dan lagi, karena ini hari Minggu.
"Sekarang aku tinggal bangunkan Riyan dan mengajaknya belanja"ucap Olivia yang berdiri di depan pintu kamar Riyan.
tok tok tok
"Riyan apa kau sudah bangun? boleh aku masuk?"tanya Olivia dari luar kamar, lalu ia menunggu beberapa saat.
"Riyan"ujar Olivia.
'Aneh, tidak seperti biasanya, Riyan kan selalu bangun pagi, bahkan di hari Minggu pun seperti sekarang dia selalu bangun lebih dulu dariku'pikir Olivia .
'Apa benar masih tidur? haruskah aku bangunkan dia?'pikir Olivia lagi.
Setelah menunggu beberapa saat, dan masih tidak ada respon dari Riyan, akhirnya Olivia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Riyan.
Olivia membuka pintu kamar Riyan dan melihat Riyan yang terbaring di atas tempat tidurnya dengan kamar yang masih gelap karena jendela kamar yang masih tertutup tirai, dia membuka tirai jendela lalu berjalan menghampiri Riyan yang masih berbaring di tempat tidur.
"Riyan, apa kau masih tidak ingin bangun?
kau tahu jam berapa sekarang? cepat bangun! dan ayo sarapan lalu kita belanja bersama karena tadi aku lihat persediaan bulanan hampir habis"ucap Olivia seraya mendekatkan dirinya pada Riyan lalu menyentuh pipi Riyan perlahan dengan telunjuknya, mencoba membangunkannya yang sedang tidur.
'Apa Riyan kelelahan ya?'ucap Olivia yang terus memandangi Riyan, lalu ia melihat keringat dingin yang mengucur di wajah Riyan, dan Riyan pun mengerang seraya meracau dalam tidurnya.
"Riyan kau baik-baik saja?"tanya Olivia pada orang yang bahkan tidak sadar.
"Hng...aku tak ingin terlahir menjadi Riyan... karena Riyan mempunyai tubuh yang sangat lemah... akh... ini sangat sakit , jika seperti ini, aku tak dapat bersama Olivia lebih lama lagi, aku tidak ingin seperti itu, jadi aku berharap... aku benar-benar berharap agar aku bisa hidup lebih lama lagi untuk bersama Olivia" ucap Riyan yang meracau seraya mengerang dalam tidurnya.
__ADS_1
"Apa maksudnya Riyan? apa yang kau katakan barusan?"ucap Olivia lalu dia menyentuh Riyan untuk memastikan bahwa Riyan tidak sakit, dan saat dia menyentuhnya , dia sangat terkejut karena Riyan demam, ia kemudian mencari termometer di laci dan segera memeriksa suhu badan Riyan, betapa terkejutnya dia karena suhu badan Riyan mencapai 41°.
"Oh tidak, kau demam,"ucap Olivia berlari meninggalkan kamar dan kembali ke kamar Riyan dengan kain untuk kompres serta air dingin, kemudian Olivia menaruh kain itu di kepala Riyan, menarik bangku lalu dia duduk di samping tempat tidur Riyan, seraya terus memeriksa keadaannya.
'Oh seperti dia tidak suka karena aku terlalu berisik' ucap Olivia dalam hati.
'bagaimana ini? apa harus di bawa ke dokter! dia pasti sakit gara-gara aku, karena kemarin kami terlalu lama berada di bawah hujan'pikir Olivia yang kebingungan sendiri.
"Riyan... mau pergi ke dokter?"tanya Olivia.
Riyan membuka matanya sedikit, matanya sayup-sayup, Riyan memandang Olivia.
"Ja... jangan... pergi" ucap Riyan lalu dia bangun dan duduk di atas tempat tidur dan menyandarkan kepalanya di bahu Olivia yang sedang duduk disebelah tempat tidur dengan kursi.
"Ri... Riyan"ucap Olivia dengan mata yang mendelik.
"Jangan pernah pergi"lirih Riyan.
"A... ku benci terlahir ke dunia ini, aku benci menjadi Riyan, aku membenci tubuh yang lemah ini, aku benci hidupku, aku sangat membencinya, aku benci batas hidupku"
gumam Riyan.
"Memangnya kehidupanmu seburuk itu?
apa maksudnya dengan tubuh yang lemah?
apa maksudnya dengan batas hidup?"tanya Olivia.
'jika memang ini mimpi, aku ingin mengatakan perasaanku padamu...
tak masalah jika hanya mimpi pun asalkan kau dapat mendengarnya' ucap Riyan dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku sangat menyukaimu, karena sangat menyukaimu, aku akan bertahan..."ucap Riyan semakin meracau karena ia berpikir ini hanya mimpi.
'Maaf, maaf aku memaksakan kehendakku padamu, maaf sekali aku merengek yang aneh-aneh, hanya satu permintaanku...
(aku ingin hidup di dunia di mana kau hidup)'
pikir Riyan.
'Kalau dipikirkan lagi... meski aku dan Riyan adalah teman dekat sekalipun, sedekat apapun kami.... aku hanya tahu sedikit tentangnya, dan yang aku tidak tahu sangat banyak, apa saja hal-hal yang disukai dan tidak disukanya..... hanya sedikit yang kutahu dari itu, sangat banyak yang ingin aku ketahui, jadi aku berpikir bolehkah ( aku menanyakan tentangnya) apa dia akan memberitahuku segalanya tentangnya saat aku bertanya itu... mungkin dia tak akan memberitahuku meski aku memaksa dan memohon sekali pun, jadi sebelum dia menolak menjawab pertanyaan dariku, aku tidak akan pernah bertanya padanya,'pikir Olivia.
Olivia menepuk pundak Riyan dan hanya mengatakan "aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu meski langit runtuh sekalipun"ucap Olivia spontan, namun penuh dengan ketulusan.
Cukup lama mereka seperti itu, hingga waktu berlalu dan malam pun tiba lagi, makin lama seperti itu Riyan mulai sadar dan...
'Wangi ini sangat familiar, wangi bagai bunga'ucap Riyan dalam hati seraya mengendus-endus parfum yang dipakai Olivia.
"Riyan apa yang kau lakukan?"tanya Olivia yang merasa sedikit tidak nyaman.
Riyan mendongak dan menatap wajah Olivia, dan saat dia menyadari apa yang baru saja dilakukannya, wajahnya memerah malu karena ingatan/adegan yang terjadi sebelumnya menerjang kepalanya.
"Maaf, sepertinya aku melakukan kesalahan, jadi aku minta maaf untuk yang tadi"ucap Riyan.
"Tidak apa-apa, lagipula tidak terjadi apa-apa "ucap Olivia seraya tersenyum.
"Hahaha, Olivia aku sangat malu... jadi bisakah kau pergi ke kamarmu saja, maaf aku bukanya mengusirmu"ucap Riyan mengantarkan Olivia ke kamarnya lalu segera kembali lagi ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya lalu kembali berbaring seraya terus mengeluhkan kesalahannya.
'Bodoh!!!' teriakan Riyan yang tertahan pada pikirannya.
'Seberapa banyak aku bicara pada Olivia, oh tidak!! rasanya aku baru saja mengukir aib baru dalam sejarah hidupku, malu aku...
rasanya mau masuk ke lubang semut' pikir Riyan seraya berguling-guling di tempat tidur hingga kelelahan sendiri, sampai esok hari datang.
__ADS_1
BERSAMBUNG.