THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan

THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan
Chapter 2 Guru Killer


__ADS_3

Karena suara Bu Rahayu yang begitu keras bahkan seolah seperti menembus gendang telinga, membuat telinga terasa sakit seolah terus menggemma di telinga orang yang mendengarnya.


"Ya, saya bertanya kepadamu, apa itu 'Mitologi'?"


"Mi to log i ad a lah hmmm sa... saya tidak tahu" ucap Fahmi, dengan tubuh bergetar.


Braaak


"Makanya kau harus mendengarkan ketika saya sedang menerangkan, saat semuanya sedang mendengarkan penjelasan saya dengan tenang, kau malah dengan asyiknya bermain hp tanpa sadar di jam pelajaran, tanpa menghormati guru yang ada di depan yang sangat kelelahan terus berbicara tanpa di dengar olehmu, dan saat ditanya kau malah tidak bisa menjawab apa-apa" gertak Bu Rahayu.


"Keluar kamu! Lari 150 kali di lapangan,


jika ada yang mengulanginya lagi, ibu akan kali lima hukumannya, menjadi 750 kali, mengerti semua!?!?!" ucap Bu Rahayu lagi.


"Ya, bu."


Lapangan yang di maksud Bu Rahayu itu berukuran 400 meter yang biasanya digunakan untuk perlombaan estafet.


"Ya.. bu..."ucap Fahmi dengan tubuh bergetar.


Kemudian Bu Rahayu melempar pertanyaan kepada murid lain yang duduk di depan sebelah Riyan, Rayden yang sedang menatap kosong kearah jendela kelas, Rayden yang tidak lain adalah anak kandung Bu Rahayu sendiri.


"Rayden Lucas Alvero Rafael, coba jawab?" tanya Bu Rahayu seraya menatap kearah Rayden.


"Saya tidak tahu bu" singkat Rayden tanpa melihat sedikit pun ke arah Bu Rahayu.



Rayden Lucas Alvero Rafael


Berumur 19 tahun kelas 3 SMA, berwajah tampan tanpa ekspresi, anak pendiam dan pemurung, tidak banyak bicara, karena ia kehilangan seorang ayah, ayahnya seorang tentara, seorang pria yang lebih mementingkan pekerjaannya dari pada keluarga, ayah yang dibenci dan sekaligus dicintai oleh Rayden.


Sedangkan Bu Rahayu yang melihat anaknya itu hanya diam dan malah melempar pertanyaannya lagi, mungkin karena rasa kasih sayang sebagai seorang ibu dan pengertiannya seorang ibu.


"Baiklah, apa ada yang bisa menjawab pertanyaan dari ibu?" ucap Bu Rahayu dengan nada yang berbeda dari yang tadi, Bu Rahayu yang melempar pertanyaan ke murid lain dengan nada sedikit melunak.


"Psst... pasti klo Bu Rahayu yang mengajar pasti pilih kasih sama si Raiden" desis seorang murid.


"Ya pastilah, si Rayden kan anaknya, haha"


"Stt... diam, diam, nanti kedengaran sama Bu Rahayunya" desis murid lain lagi.


Saat semua orang yang berada di dalam kelas hanya bisa diam dan membisu Olivia dan Riyan mengangkat tangan bersamaan dan menjawab pertanyaan dari Bu Rahayu.


Riyan dan Olivia menjawab bersamaan serentak, semua orang yang berada di dalam kelas memberikan tepuk tangan, sedangkan Bu Rahayu hanya tersenyum simpul mendengar jawaban itu dengan wajah yang merasa puas dengan jawaban Olivia dan Riyan.


Dan berhubungan jam pelajaran telah berakhir, "Baiklah, kelas saya tutup, terima kasih" ucap Bu Rahayu seraya meninggalkan kelas.


Crying... crying... crying... suara bel istirahat berbunyi, Bu Rahayu meninggalkan kelas dan diikuti semua murid yang juga meninggalkan kelas untuk ke kantin, lorong dipenuhi oleh murid yang saling berdesakan menuju kantin, dan kelas menjadi kosong dan hanya tinggal beberapa orang saja.


"Olivia kelas sudah mulai kosong, ayo kita juga ke kantin!" ucap Cia.


Olivia mengangguk samar seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Olivia hari ini kita ke kantinnya berdua saja!" ucap Riyan yang berdesis di telinga Olivia.


"Heh, Riyan aku yang mengajaknya duluan, jadi... aku yang akan ke kantin berdua saja dengan Olivia! Kau hush, hush sana!"


'Mereka mulai lagi.' pikir Olivia.


"Hei, kalian sudahlah, tidak bisakah sehari saja jangan bertengkar?" tanya Olivia seraya memegang dahinya.


"Tidak bisa," sahut Cia dan Riyan bersamaan.


Riyan dan Cia adalah sahabat terbaik Olivia yang umumnya tak sekalipun akur, pasti ada hal yang dapat dibuat mereka saling mencibir satu sama lain, selalu ada hal-hal kecil di pertengkarkan oleh mereka yang tak terelakkan, bersenda gurau menjadi kebiasaan mereka saat bersama, jika tak seperti itu maka persahabatan mereka tak akan efesien.


"Kita pergi ke kantin bertiga saja!" usul Olivia, Riyan mendekatkan wajahnya kearah Olivia dengan perlahan dan berdesis.


"Bukannya aku tidak mau bertiga, tapi... katanya kalau bertiga yang ketiga itu setan." ucap Riyan yang berdesis kepada Olivia dengan sedikit keras agar terdengar Cia, seraya menunjuk kearah Cia saat kata yang terakhir terucap.


"Aku dengar kok, apa? Setan? Kalau aku setan berati kau apa?" tanya Cia dengan meninggikan suara.


"Aku? Aku member K-Pop," ucap Riyan, dengan rasa PD yang membumbung tinggi.


"Riyan, kau itu **** boy, irritating boy."


"Hah? Gak salah tuh, aku ini lebih cocok cool boy."


"Cih, kalau begitu aku adalah bae suzy artis Korea imut, menggemaskan, cantik." ujar Cia.


"Olivia apa kau punya kantung muntah, Cia kau itu Mak Lampir, Hahaha." ucap Riyan.


"Heh Riyan nyebelin banget sih, kalo ketemu pasti ngajak ribut,"


"Emang karakterku kaya gini."


"Ih! emang ya, nih orang nyebelin se-du-nia! dasar nih rasain," ucap Cia seraya memukul-mukul pundak Riyan.


"aw, aw, ih si Mak Lampir ngamuk, kabooor," ucap Riyan yang mencoba bersembunyi di belakang Olivia.


"Ah, kalian ini terlalu sering bertengkar, katanya nanti lama-kelamaan akan jadi saling suka," ucap Olivia dengan wajah yang mengejek.


"Ih amit amit tujuh turunan, tujuh belas tanjakan, tujuh puluh belokan, tujuh puluh tujuh tikungan, gak akan!" bantah Riyan dan Cia bersamaan.


"Cieee ada pasangan yang kompak," ucap Olivia yang mencebir.

__ADS_1


"Sudahlah kalau kalian masih mau bertengkar silahkan dilanjutkan! Aku bisa pergi ke kantin sendiri saja atau..." ucap Olivia lalu dia berjalan ke arah bangku Rayden.


"Rayden kau mau ikut istirahat bersamaku?" tanya Olivia seraya tersenyum.


"Tidak." jawab Rayden singkat dan melirik sesaat ke arah Olivia, dengan nada yang dingin dan wajah datarnya.


"Oh, ok... kalau begitu aku pergi sendiri saja." Olivia meninggalkan kelas dan menuju ke kantin.


"Olivia!" ujar Riyan yang menghampiri Olivia yang berjalan sendiri di lorong.


"Olivia tunggu aku juga!" ujar Cia yang ikut menyusul.


"Cepatlah!!!" sahut Olivia yang sesaat berbalik ke belakang dan berjalan mundur sebentar, lalu sampai di kantin dan mereka pada akhirnya duduk bertiga di satu meja yang sama.


"Olivia kau ingin apa? Akan aku ambilkan,"


tanya Riyan.


"Roti coklat dan susu coklat." jawab Olivia, lalu kemudian Riyan berdiri untuk mengambilkan pesanan Olivia.


"Aku jus Apel dan kue melon." pinta Cia kepada Riyan.


"Kau kan masih punya kaki dan tangan, ambil saja sendiri!" ucap Riyan.


"Ih nyebelin banget tuh orang, aku bisa ambil sendiri kok," gerutu Cia seraya membeli pesanannya sendiri seraya mengumpat dalam hatinya dengan wajah yang penuh kekesalan, dan beberapa saat kemudian Riyan dan Cia kembali dengan membawa pesannya sendiri-sendiri dan kembali duduk .


"Nah, ini pesananmu." ucap Riyan seraya memberikannya kepada Olivia.


"Terima kasih."


"Tumben kalian jajan di kantin, kan biasanya kalian bawa bekel dan paling kalo di kantin cuma beli minum," sindir Cia.


"Kami lupa menyiapkan bekalnya," ucap Olivia.


"Oh iya, kan Om Vian dan Tante Sera sedang pergi jadi tidak ada yang mengurus kalian,"


"Tapi, memangnya kalian belum sarapan dari rumah?" tanya Cia.


"Ah, tadi pagi Riyan sudah buatkan sarapan tapi telurnya gosong." ucap Olivia seraya mengerkah roti.


"Gosong? Hahaha Riyan gak bisa masak"


ucap Cia tersenyum sinis pada Riyan.


"Aku tidak dengar apapun." gumam Riyan tidak peduli dengan perkataan Cia dan hanya sibuk mengerkah makanannya, tapi dengan wajahnya yang mengerut seolah menahan amarah, lalu menunjukkan ekspresi yang pura-pura tenang untuk meredam kemarahannya.


"Olivia apa kau ingin roti lagi?" tanyanya.


"Tidak aku sudah cukup." ucap Olivia seraya menyesap susunya, dan tanpa disadari olehnya, ia menyesap susunya sampai seperti anak kecil karena sisa susunya masih tertinggal di sudut mulut imutnya.


"Owh, cinta kasih di sekolah, cinta monyet remaja." ujar Cia yang sedang memperhatikan.


"Seperti buku Novel, romantisme seperti Romeo dan Juliet," ucap Cia yang mulai meracau.


Cia bicara melantur dengan menggigit jari saat memperhatikan Olivia dan Riyan, ia meracau karena kebanyakan nonton drama Korea dan tanpa dipedulikan oleh Olivia dan Riyan karena mereka sibuk dengan makanannya masing-masing.


"Hei kalian tidak mendengarku ya?" ucap Cia, yang masih tidak digubriskan.


"Hei aku ini apa...?" tanya Cia dengan wajah murung sambil menempelkan pipinya di atas meja.


"Kau itu teman terbaikku Cia." ujar Olivia dengan tersenyum.


"Kau itu Mak Lampir, bawel , cerewet, berisik, banyak ngomong, ya... begitulah dirimu." tandas Riyan yang berterus-terang.


"Jahat."ucap Cia dengan memasang ekspresi sedih.


"Olivia kalau dalam seminggu, aku ditemukan mati dimana pun, pelaku utamanya adalah Riyan ya, soalnya dia yang paling mendiskriminasiku di sekolah ini" ucap Cia dengan wajah serius kepada Olivia.


"Kapan aku begitu?"


"Sudah, sudah, kalian bercandanya keterlaluan." ucap Olivia.


"Tau nih Mak Lampir."


"Ya, maap," ucap Cia, lalu tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.


"Olivia, apa kau tahu katanya di sekolah kita akan kedatangan murid baru, dia pindahan, katanya dia campuran, ibunya dari Indonesia dan ayahnya dari Eropa, katanya dia ganteng banget, matanya biru dan rambutnya pirang, dia juga pintar, hobinya memotret dan jago olahraga basket," ucap Cia yang mengalihkan pembicaraan .


"Kau pintar sekali mengalihkan pembicaraan ya, huh... kau mengatakannya seolah-olah kau sudah melihatnya langsung." imbuh Riyan sambil mengerkah makanan.


"Aku belum pernah melihatnya langsung, tapi terkadang aku sering membayangkan wajah tampannya yang bagai pangeran dalam novel,"


"Mungkin seperti ini," ucap Cia seraya membayang-bayangkannya dipikirannya.


"Atau seperti ini, cowok cool yang keren dan ceria."bucap Cia.


"Oh ya, dan katanya dia juga punya adik yang seperti tuan putri, katanya adiknya sangat cantik." ucap Cia.


"Pokonya mereka pasti sangat gan—"


"Pasti biasa ajah." ucap Riyan yang menyela sebelum Cia selesai bicara.


"Syirik bilang boss." cibir Cia seraya menyeringai dan memandang sinis.


"Gak tuh,"ucap Riyan.

__ADS_1


'Aku jauh lebih tampan darinya, mungkin, ' pikir Riyan seraya tersenyum sendiri.


"Munafik." tandas Cia yang seolah mampu membaca pikiran Riyan.


"Hei dari mana semua asal khayalan konyolmu itu sih," ucap Riyan dengan wajah kesal, dan tangan yang mengibas-ngibaskan seolah mampu melihat khayalan konyol Cia dengan indra lain.


"Ganteng dan cantik kan...?"


"Gak tuh," ucap Riyan dengan acuhnya, yang membuat wajah Cia kesal.


"Aku lebih ganteng kok."ucap Riyan membuat raut wajah yang seolah mengatakan 'Aku yang lebih seperti pangeran' dengan siku yang di taruh di atas meja tertindih dagu dengan cool.


"Cih, ganteng dari mananya?" tanya Cia yang menunjukkan wajah yang lebih tidak acuh.


"Dari semua arah lah." ucap Riyan, lalu terjadi perang kata-kata lagi antara mereka.


"Sudah, jangan bertengkar terus kan malu dilihat orang" tandas Olivia, lalu menyesap dan menghabiskan susunya.


Yang barusan diucapkan Olivia memang benar, murid-murid yang berada di sekitar mereka ramai memperhatikan mereka karena di meja merekalah yang paling berisik.


"Tapi, Cia kau tahu itu dari mana?" tanya Riyan kepada Cia dengan memelankan suara.


"Dia tahu dari 'ppmpaSpcg' " ucap Olivia yang seharusnya dijawab oleh Cia.


"Ppm apah? Apa itu?"tanya Riyan dengan memutar bola mata malas.


" 'ppmpaSpcg' adalah (perkumpulan pertemanan murid perempuan anak SMA penggemar cogan)" tandas Olivia.


'Nama perkumpulannya ajah alay kaya anggotanya' pikir Riyan seraya melirik kearah Cia.


"Alay!" ucap Riyan spontan.


"Hei Riyan!" ucap Cia dengan wajah kesal sambil menatap kearah Riyan dengan tatapan yang seolah mengatakan 'Aku akan membunuhmu dengan cara apapun.'


'Haish, kok aku merinding ya...?' pikir Riyan yang bergidik.


Brak... Riyan memukul meja dengan keras seraya berdiri lalu mengatakan kata maaf.


"Maaf." ucap Riyan lalu duduk kembali.


"Kenapa tiba-tiba minta maaf?" tanya Olivia.


"Karena aku kan memang gentleman" ucap Riyan yang masih sempat-sempatnya bergaya dengan wajah tampannya.


'Apa telepatiku berhasil' pikir Cia dengan meringis.


"Karena aku sudah minta maaf, jadi silahkan lanjutkan pembicaraan kalian!" ucap Riyan yang langsung memainkan game dalam ponselnya.


"Cia, anggota di grup itu ada 60 orang ya?"


tanya Olivia.


"Grup?, grup itu, tapi Olivia kau sudah tahu itu tapi kenapa saat aku menyuruhmu ikut saat ada perkumpulan kau tidak datang?"


"Kau tidak pernah mengajakku datang" ucap Olivia dengan wajah bingung.


"Aku mengajakmu kok, coba saja cek ponselmu, aku selalu mengirimkan pesan padamu setiap ada perkumpulan tapi kau hanya membacanya tanpa membalasnya, aku pikir kau tidak ingin datang," ucap Cia dengan wajah heran seraya menyipitkan matanya.


"Ah masa, tunggu sebentar, (mengecek ponsel) tuh kan tidak ada pesan darimu," ucap Olivia yang langsung menunjukkan ponselnya kepada Cia.


"Kok bisa gak ada, tapi di ponselku masih ada, nih lihat saja!" ucap Cia yang sekarang menunjukkan ponselnya.


"Iya, kok ada sih, tapi seingatku terakhir kali aku membaca pesan darimu sebulan lalu saat hari minggu" ucap Olivia yang masih bingung, saat Olivia dan Cia sedang berbicara berdua Riyan terus saja menggigit jarinya.


'Padahal aku yang baca' pikir Riyan memainkan game dengan berpura-pura santai, seraya menguping pembicaraan Olivia dan Cia.


"Mungkin ada yang mencuri pesan yang kukirim padamu, dia membacanya dan langsung menghapusnya," ucap Cia.


"Hpku pakai sandi dan, satu-satunya yang tahu sandiku cuma Riyan," ucap Olivia.


"Dia yang melakukannya." ucap Cia dengan menjentikkan jari seraya melirik ke arah Riyan.


"Siapa?" tanya Olivia yang masih belum mengerti.


".........." ucap Cia yang menggerakan bibirnya menyebutkan nama Riyan, seraya Mengerjap-ngerjapkan mata seolah memberi isyarat.


"Siapa? Kenapa kau berbicara dengan pelan?" tanya Olivia yang masih belum sadar, Cia hanya menepuk dahinya.


'Kok, kupingku terus gatal ya, sepertinya


ada yang membicarakanku?' pikir Riyan yang sedang bermain game seraya menggaruk kupingnya yang memerah karena gatal.


"Lihat ini!" ucap Cia.


"Lihat apa?" tanya Olivia.


"Lihat saja!" ucap Cia lagi lalu ia mengalihkan pandangannya dari Olivia ke Riyan dan menatapnya dengan teliti.


Riyan kembali bergidik.


'Aduh kok merinding, jangan-jangan ada setan' pikir Riyan seraya melamun, yang masih belum sadar jika sedang ditatap Cia.


"Oy Riyan!" sergah Cia dengan sedikit keras.


" A A-Apa???"sahut Riyan yang tersentak dari lamunannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2