THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan

THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan
Chapter 14 Hidup Bersama dengan Cerita yang Berbeda


__ADS_3

Pov Cleo


Namaku Cleo Lict Virga Cryisis


Aku terlahir di keluarga sederhana, ayah mempunyai ambisi besar untuk membahagiakan keluarganya, ia membangun perusahaan dari nol hingga kini menjadi perusahaan besar.


ayahku yang pekerja keras, keren, dan berambisi.


Sedangkan ibu, ia orang yang cantik, lembut, elegan, hangat dan baik hati.


"Cleo, apa kau tahu? semua yang kita miliki hanyalah pemberian saja... karena itu kau harus hidup dengan membalas kebaikan dunia yang telah memberikan semua ini"ucap ibu dengan membelai-belai wajahku.


"Iya, bu"


Saat aku sedih maupun senang, ibulah yang ada di sisiku.


Tapi, disisi lain, ibu juga sangatlah lemah, di depan ayah...


"Kenapa kau melakukan ini, Cleo masih masih kecil, tapi kau malah dekat dengan perempuan lain"


"Kenapa memangnya? ini rumahku, semuanya milikku, kau hanya sebatas istriku, jadi jangan pernah melanggar batas itu"


Yang kutahu hubungan mereka tidak seperti pernikahan pada umumnya, hubungan mereka bagai cangkang kosong tanpa isi, karena pernikahan itu hanyalah sebuah simbiosis, di depan keluarga besar, ayah dan ibu selalu berakting bagai keluarga terbahagia di dunia, aku pun harus menjalankan peran sebagai anak dari pasangan yang sempurna, tapi... saat di rumah kami semua seolah bukan siapa-siapa.


Padahal ... aku berharap dan bermimpi...


keluargaku akan menjadi keluarga yang bahagia...


Tapi nyatanya kehidupan tak berjalan sesuai keinginan sendiri.


Setelah ayah menjadi bos perusahaan besar, ia jarang pulang dan sering menghabiskan waktunya di luar .


Lalu suatu saat, di saat ibu terbaring sakit dalam keadaan mengandung seorang bayi, ayah malah membawa perempuan lain ke dalam rumah kami.


Dari hari ke hari kesehatan ibu terus menurun, ibuku yang cantik dengan kulit yang lembut pun menghilangkan, karena selama ia sakit, ia jarang makan hingga wajahnya menjadi tirus, kulitnya berkriput, seluruh tubuhnya menjadi tak berisi, dengan kondisi itu ia bertahan selama sembilan bulan mengandung.


Ayahku sama sekali tidak pernah membesuk ibu sekalipun, di saat itu ia malah menikah lagi dengan perempuan yang ia bawa kerumah.


Akhirnya perempuan itu menjadi ibu tiri ku, ia mulai menunjukkan sifatnya,perempuan itu tinggal di rumah seolah ialah pemilik rumah kami, dan ia seakan menunggu kematian ibuku.


Ibu yang tak makan secara teratur hingga tubuhnya lemas, jatuh pingsan selama berbulan-bulan, dan aku terus menunggu di sisinya sampai ibu bangun.


Rasanya hidupku hancur seketika... karena tanpa ibu hidupku hanya sendirian, rasanya harapan, impian, semua hancur melebur tak tersisa.


Dan akhirnya ibu bangun setelah tujuh bulan terlelap seperti putri tidur, ia pergi untuk selamanya setelah terbangun tidak lebih dari 15 menit, ibu terbangun hanya untuk melahirkan Deana ke dunia ini...


Kata-kata terakhirnya adalah...


"Cleo, anak ibu yang membanggakan, kau harus hidup bahagia ya... dan tolong jaga adikmu Deana"lirihnya.


".....huhuhu ibu..."


Ibuku pergi untuk selamanya, kira-kira saat itu usiaku 2 tahun, ibu meninggal karena melahirkan Deana tanpa bantuan siapapun.


Aku sempat berpikir untuk mati bersama ibu, tetapi... aku tidak bisa meninggalkan Deana sendiri, karena itu aku tetap hidup.


Deana..... adikku yang lugu, menggemaskan... dan malang, ia tidak tahu apa-apa, meski begitu... semua orang sangat membencinya termasuk ayah.


"Kau bahkan tidak membesuk ibu selama sakit, tapi mengapa? mengapa kau selalu mengganggu Deana dan membencinya"

__ADS_1


"Karena dia pembawa sial"


Karena katanya tepat saat kelahiran Deana, terjadi begitu banyak kemalangan, dan semua ketidakberuntungan itu di salahkan pada anak yang baru saja terlahir ke dunia.


Karena ibu sudah tidak ada, ayah tidak memperhatikan kami, ia hanya memperhatikan ibu tiri kami.


Aku benci ayah...


Bagiku dialah yang seharusnya di salahkan atas semua kejadian yang terjadi dan bukannya Deana.


Karena ibu sudah tiada, ayah bersikap seenaknya pada kami, ia melakukan kekerasan padaku dan Deana.


Hidupku di penuhi dengan tekanan, hingga aku berpikir berkali -kali tuk lari, tapi sekali lagi... aku tidak bisa meninggalkan Deana sendirian...


Kami tinggal di rumah yang sama, tumbuh dengan siksaan yang sama


Aku harus selalu memenuhi ekspektasi ayah, ayah memaksaku belajar dan belajar, ia selalu menuntutku untuk menjadi sesempurna mungkin.


karena dorongan yang di sertai tekanan...


aku menjadi monster yang ambisius...


Karena dengan begitulah aku hidup di masa yang melelahkan ini...


Agar ayah tak lagi mengusikku dan Deana, aku harus tumbuh besar dengan sempurna.


Menjadi kuat dan hebat, untuk melindungi yang ingin ku lindungi.


***


Pov Deana.


Ada saatnya aku merasa jijik dengan namaku sendiri, setiap ulang tahun, yang teringat hanyalah diriku yang di benci dan di caci maki.


Karena sedari awal aku bukanlah sesuatu yang di inginkan.


Saat ulang tahun, semua keluargaku selalu berteriak, mereka bilang seharusnya aku tidak pernah lahir.


"Gara-gara kau, gara-gara kau putriku jadi mati, kenapa bukannya kau yang mati"


Mereka selalu berkata seperti itu.


Bahkan ayahku...


"Ayah..."


"Jika kau ingin semua orang bahagia, maka musnahlah"


Saat aku lahir akulah yang menyebabkan ibu meninggal, ibu meninggal saat berusaha melahirkanku.


Saat itulah baik keluarga dari ibu maupun dari ayah, mereka semua menganggapku pembawa sial, ayah pun berpikir demikian, ayah menganggapku pembawa sial karena tepat saat hari kelahiranku bisnis ayah berada di ambang kebangkrutan dan tepat di hari itu ayah mengalami kecelakaan, mobilnya hancur karena kecelakaan beruntun, hingga ia harus di rawat inap di rumah sakit selama 3 hari, dan setelah keluar dari rumah sakit, ayah baru mengetahui jika istrinya meninggal saat berusaha melahirkanku, ayah menyalahkan semua ketidakberuntungan ini pada diriku yang masih anak-anak.


Aku... hanya sampah dan beban bagi setiap orang.


Ayah pun menjadi sangat membenciku, aku tumbuh tanpa kasih sayang ayah, hanya ada rasa kesal dan benci yang mengelilingiku.


Meski sehari, tidak, satu jam, bahkan beberapa menit saja, aku ingin merasakan kasih sayang...


Tapi... lagi-lagi...

__ADS_1


Bodohnya aku mendambakan kasih sayang ayah, setelah tahu di campakan, aku berjuang untuk bertahan hidup, dalam siksaan.


Bahkan di sekolah sekali pun, aku begitu di kucilkan, tidak ada yang mau berteman denganku, hingga aku selalu sendirian.


Kenapa semua orang selalu membenciku karena hal yang tidak bisa aku pilih saat lahir...


Menerima hinaan dan cemoohan selalu menjadi bagian dari hidupku, karena aku begitu di benci, selalu ada sampah yang melayang dari balik jendela.


Itulah semua yang ada dalam duniaku.


Aku tak punya teman, karena itu...


temanku hanya sebuah boneka dan buku...


Dan di saat tidak ada yang pernah menginginkan keberadaanku, kakaklah satu-satunya, yang merawat dan menjagaku.


Aku sudah dekat dengan kak Cleo sejak kecil, dan saling bergantung pada satu sama lain.


Kakak menjadi harapan yang mengisi posisi keluargaku yang kosong, terkadang seperti ibu, terkadang seperti ayah, terkadang seperti teman yang berharga.


Kakak menjadi satu-satunya alasanku untuk hidup dan terus hidup karena yang kutahu kakak sama sepertiku, ia sering di siksa oleh ayah, kami sama-sama tumbuh dengan siksaan yang sama.


Kakaku adalah orang yang hangat dan penyayang, ia ramah pada semua orang, tapi setelah kecelakaan itu...


Saat itu, kira-kira umurku 6 tahun. Saat orang tuaku tidak ada, dan kakak juga tidak ada dirumah, aku mencoba kabur dari rumah, tetapi aku malah tersesat.


Aku penyuka buku dongeng, aku memiliki cerita yang paling kusuka, yaitu putri terkutuk, aku menyukai cerita itu karena kisahnya mirip denganku, di kisahkan tentang putri yang memiliki kutukan, meski ia memiliki sang pangeran yang selalu ada di sisinya, kutukan itu bisa dicabut, tetapi dengan nyawa pangeran, dia sangat sedih dengan hal itu hingga terpikir jika saja dirinya tak pernah ada, karena terlalu menyayangi pangeran, sang putri dengan kutukan itu pergi, dia meninggalkan kerajaan dan negrinya, pergi ke tempat di mana tidak ada satu pun yang dapat melihat kematiannya terutama sang pangeran, karena sang putri berharap sang pangeran hidup bahagia.


Aku jadi terpikir, jika saja aku tak pernah ada, mungkin kakak dan ayah akan hidup bahagia bersama keluarganya selamanya tanpa aku...


Itu pemikiran yang konyol, tetapi aku ingin tetap mencobanya, meski terlambat, aku ingin pergi dari kehidupan kakak dan ayah...


Saat itu aku terus-menerus berjalan tanpa arah dan tujuan, mencoba melarikan diri dari kehidupan yang menyedihkan dan yang menyiksaku.


Langit sudah gelap dan hujan sangat deras, sebenarnya aku pun takut karena tersesat, aku tidak memperhatikan sekeliling sampai tidak melihat lampu pejalan kaki sedang merah...


"Deana...awas!"


Hal terakhir yang kudengar sebelum kehilangan kesadaran adalah suara teriakan kakak.


Lalu terjadi sebuah kecelakaan yang membuatku masuk ke rumah sakit.


Keesokan harinya saat aku terbangun, aku berada di kamar rumah sakit dan melihat kakak yang berada di sampingku, ia terbaring lemah dan kelihatannya kaki dan tangannya patah karena saat menolongku.


Aku memang menyesal keputusanku pergi dari rumah bukannya membuatku senang malahan sebaliknya, aku jadi sedih karena melihat kakak yang terbaring terluka.


Lalu saat pintu kamar rumah sakit terbuka, aku yang tidak tahu siapa yang masuk hanya berpura-pura menutup mata dan mengintip sedikit, ayah yang datang langsung duduk di kursi di tengah tempat tidur rumah sakit....


"Cleo, Deana, ayah tak bermaksud untuk membuat kalian terluka seperti ini, maaf...


maaf... seharusnya ayah tak bersikap kasar, seharusnya aku tidak melampiaskan semua kemarahanku pada kalian, padahal kalian tidak mengerti apa-apa, ayah mohon maafkanlah ayah, seharusnya ayah lebih memperhatikan kalian, maaf, maaf, maaf..."


Hari itu, sepanjang hari aku terus mendengarkan kata maaf dari ayah, meski dengan keadaan mata tertutup, aku tidak ingin bangun di depan ayah, jadi aku pun terus menutup mata dan menunggu agar pagi lebih cepat datang, agar esok pagi aku punya keberanian untuk menatap ayah...


Mulai sejak saat itu kakak lebih semakin membenci ayah.


Dan saat aku bilang jika ayah sudah berubah dan sudah meminta maaf, kakat tidak percaya sama sekali.


Sulit meyakinkan kakak yang keras kepala .

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2