THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan

THE TEARS THAT FLOW BECAUSE OF THE SAD RELATIONSHIP Air Mata Yang Mengalir Karena Hubungan Kesedihan
Chapter 22 Kotak Pandora


__ADS_3

Cleo baru saja tiba di sekolah langsung di kerumuni dengan berbagai siswi.


"Wah Cleo makin ganteng ajah"ucap para siswi.


"Iya terima kasih, kalian makin nyebelin ajah"


"Kenapa, kita ganggu ya?"


"Iya nih, ganggu banget..."ucap Cleo seraya berjalan pergi.


"Cleo! kamu mau kemana? kita ikut ya!"


"Ngapain ikut? toh, aku mau pergi kesuatu tempat yang gak ada kaliannya"ketus Cleo yang langsung pergi tanpa menoleh ke belakang.


Rupanya Cleo pergi ke atas atap sekolah yang berlantai lima dengan menaiki anak tangga, "Ah senangnya, menghirup udara segar ini sendiri tanpa para


pengganggu"ucap Cleo saat di atap sekolah dengan menaruh tangannya di atas pagar pembatas yang setinggi perutnya.


Krieeet... suara pintu yang di buka perlahan, karena takut yang datang adalah para pengganggu, Cleo segera mencari tempat sembunyi untuk bersembunyi, dan yang keluar dari pintu itu adalah Cia lalu ia berjalan kearah pagar pembatas dan menaikinya.


"Aku ingin mati saja, rasanya sangat sakit ... sampai sekarang pun aku tidak terbiasa dengan rasa sakit ini"ucap Cia yang berdiri di atas atap sekolah, ia berniat untuk mengakhiri hidupnya dengan menjatuhkan diri ke bawah dari ketinggian atap sekolah yang berlantai lima.


'Apa yang dikatakan olehnya, karena jaraknya terlalu jauh aku tidak begitu mendengarnya'pikir Cleo yang mengamati seraya bersembunyi.


Sebelum sempat menjatuhkan diri, tiba-tiba gelang permata cantik milik ibunya jatuh ke bawah, "Oh tidak, gelang ibuku..."ucap Cia.


Gelang cantik miliknya jatuh pada semak belukar.


"Bagaimana ini? itu satu-satunya pemberian ibu,"ucap Cia dengan berpikir.


"Kalau aku turun ke bawah lewat tangga pasti terlalu lama, bagaimana jika orang lain menemukan gelang itu lalu mengambilnya, hmm... ah, aku tahu, aku hanya perlu melompat ke bawah lalu mencarinya sebelum di temukan orang lain,"ucap Cia, ia segera mengambil ancang-ancang untuk lompat.


'Apa sebenarnya yang mau di lakukan oleh gadis itu? tungu, tunggu, jangan bilang dia ingin bunuh diri...' pikir Cleo.


Cleo berlari kearah Cia dan menarik tangannya, "Hei kau, kalau ingin mati setidaknya cari tempat yang tidak ada orangnya dan lagi ini masih pagi, jangan melakukan hal konyol," ucap Cleo dengan memegang secuil lengan seragam Cia.


"Aku hanya ingin mengambil gelangku yang terjatuh di bawah sana"ucap Cia.


Lalu pintu atap kembali terbuka perlahan, mereka mengira jika guru yang datang, karena takut di tanya tidak-tidak Cia memutuskan untuk tetap melompat seraya menghentakkan tangan Cleo, "kau mau a...pa?"


Cleo meraih kembali secuil lengan seragam Cia dan ikut jatuh.


Bruk...


Mereka berdua jatuh dalam semak belukar, baik baju atau rambut mereka sama-sama kotor dan berantakan.


"Kenapa tiba-tiba lompat, duh pinggangku.."keluh Cleo.


"Siapa suruh kau ikut jatuh, aku kan sudah bilang hanya ingin mengambil gelangku yang jatuh"ucap Cia yang tidak menggubris.


"Hei niatku itu baik, aku hanya ingin menghentikan kelakuan konyol seorang siswi yang melompat dari lantai lima hanya untuk mengambil gelang yang terjatuh kebawah, dan lagi karenamu pinggangku jadi sakit ugh..."


"Ya, ya... maaf tapi aku akan tanggung jawab nanti, jadi tolong bantu aku menemukan gelak permata warna putih dengan bentuk angsa dan bulan sabit"ucap Cia seraya meraba-raba semak-semak.


"Kenapa aku harus membantumu? tidak mau"bantah Cleo.


"Ternyata kau ini cowok menyebalkan yang tidak mau membantu perempuan yang malang"ucap Cia memasang ekspresi sedih di wajahnya.


"Ya, baiklah akan kubantu"ucap Cleo yang melakukannya dengan terpaksa.


Mereka mencarinya bersama sampai ketemu lalu berbaring di rerumputan yang lembut di bawah pohon rindang seraya menatap langit yang cerah.


"Kau bilang akan tanggung jawab setelah aku membantumu,"

__ADS_1


"Hah dasar pelit, apa kau tidak ikhlas membantuku hah?"ucap Cia seraya menoleh ke arah Cleo.


"Bukankah tidak ada orang yang membantu tanpa rasa pamrih?"ucap Cleo yang juga menoleh kearah Cia hingga membuat mereka saling bertatapan.


"Beri aku tiga permintaan,"ucap Cleo.


"Memang apa yang kau inginkan?"tanya Cia.


"Hmm... untuk sekarang aku masih belum tahu, mungkin aku akan minta lain kali saat kita bertemu kebetulan seperti saat ini, karena itu jangan lakukan hal konyol sampai kita bertemu lagi ya"ucap Cleo yang langsung berdiri dan pergi.


'Orang aneh'pikir Cia seraya berdiri dan menatap bahu belakang Cleo yang berjalan menjauh.


'Aku jadi sendirian lagi, aku benci sendirian... karena sendirian itu rasanya hampa...' pikir Cia dengan wajah tertunduk.


"Hei namamu Cia kan, Cia kalau kau tidak sibuk aku ingin pinta satu permintaan sekarang,"teriak Cleo yang sudah berjalan cukup jauh.


"Kau tidak dengar aku ya? cepat kemari!"teriak Cleo lagi.


"Berisik"ucap Cia yang berjalan menghampiri.


"Apa, cepat minta dengan cepat"


"Temani aku makan dikantin,"ucap Cleo.


"Tidak mau, sendiri saja sana!"ucap Cia.


"Tidak mau, aku tidak mau sendirian, karena sendirian itu rasanya hampa, jadi ayo cepat temani aku"ucap Cleo.


Mereka pergi ke kantin dengan sedikit berbincang-bincang.


Di sisi lain.


"Kalau dipikir-pikir, aku belum mencoba mendekatkan diri pada Riyan, setidaknya aku ingin berteman dengannya..."gumam Deana yang berjalan-jalan di taman sekolah.


Tepat setelah Deana bergumam seperti itu, ia kemudian melihat Riyan yang duduk di bangku taman, Riyan duduk di bangku taman menikmati semilir angin dingin dengan membaca buku di tangannya, angin dingin yang menyebarkan musim dingin dengan memancarkannya lewat debu dan udara, angin itu menerpa rambutnya sehingga membuat rambutnya berkibas hingga terlihat bersinar di bawah matahari dan menutupi matanya sampai terpejam.


"Riyan! kau baik-baik saja?"tanya Deana yang menghampirinya.


"Ah.... iya, aku tidak apa-apa, oh Deana..."ucap Riyan.


"Matahari bersinar terang memancarkan kehangatan, tetapi hanya terasa angin yang berhembus melalui udara membuat dingin ya, karena ini musim dingin~"ucap Deana yang kini duduk di samping Riyan.


"Benar, kau benar, anginnya begitu dingin"ucap Riyan membalas senyuman Deana.


'Sesaat aku berpikir Olivia yang mendatangiku' pikir Riyan.


"Riyan, aku mengganggumu ya? kau terlihat memikirkan sesuatu"


"Tidak, kau tidak menggangu sama sekali"


"Ah..."


'Aduh bagaimana ini, baru beberapa saat saat aku memutuskan untuk menghampiri dan ingin mengobrol sedikit dengannya, tapi kenapa aku sudah kehabisan bahan obrolan' pikir Deana.


'Sepertinya Deana merasa tidak enak padaku, dia salah paham... 'pikir Riyan.


"Riyan/Deana"


"Hmm... kau bisa bicara lebih dulu"ucap Deana.


"Ah, tidak, tidak, kau duluan saja,"ucap Riyan.


"Kalau aku mengganggumu, kau bisa mengusirku"ucap Deana.

__ADS_1


"Tidak, sudah kubilang kau tidak menggangguku, aku hanya sesaat ingin memakan sesuatu yang manis dan dingin"ucap Riyan yang mencoba mencairkan suasana yang terasa kurang nyaman dan sedikit canggung itu.


"Hanya saja aku ingin bertanya, apa kau mau makan eskrim?"tanya Riyan tersenyum ramah.


"Aku mau,"


"Kalau begitu, ayo beli~"ucap Riyan seraya berjalan.


Di perpustakaan.


"Huh...."helaan nafas Olivia yang sedang memandang keluar jendela dari perpustakaan tempat ia membaca buku yang di pegangnya, ia melihat Riyan dan Deana yang berada di luar.


'Entah kenapa rasanya sangat berbeda saat Cia yang mendekati Riyan, karena aku tidak merasa apap pun. Tetapi kali ini rasanya hatiku sedikit sakit saat melihat Riyan bersama 'Deana', perasaan yang baru pertama kali kurasakan'pikir Olivia.


"Kenapa kau menghela nafas sampai segitunya Olivia?"tanya Cleo dari belakang, Olivia berbalik dan melihat kearah Cleo.


"Kapan kau ada di situ?"


"Aku? aku sudah ada lebih dulu di sini sebelum kau datang kemari, aku sedang mencari buku disebelah sini dan mendengar helaan nafasmu yang seolah-olah kau sedang mengangkat bumi sendirian"ucap Cleo.


"...Oh begitu ya"


"Olivia, kau mau makan hoddog? kebetulan kau yang belum lama ke sini terlihat bosan membaca buku, apalagi aku yang sejak tadi, ayo makan di hoddog di kantin"ucap Cleo.


"Sebenarnya aku tidak bosan,"


"Sepertinya kau kesal tentang sesuatu, apa kau tahu kalau kau lapar saat kau marah, kau akan merasa lebih sengsara, jadi ayo~ "


ucap Cleo, Olivia terdiam dan memikirkan sesuatu.


'Sepertinya aku memang sedikit lapar, tetapi setelah dipikir-pikir lagi tidak juga,'pikir Olivia.


'Aku mohon... mau ya? mau... kumohon...'pikir Cleo.


'Tapi tidak enak menolak ajakan Cleo'pikir Olivia lagi.


"Baiklah"


"Sungguh? aku senang, ayo cepat!"ucap Cleo meraih tangan Olivia dan menariknya ke kantin.


'Aku terus berpikir-pikir sejak tadi karena rasanya ada yang aneh, aku baru menyadari ternyata tadi adalah pertama kalinya tanganku bergandengan dengan orang lain, selain ayah dan Riyan, rasanya grogi dan berdebar-debar, apa karena Cleo tampan ya, sama seperti Riyan saat menggandeng tanganku... 'pikir Olivia.


"Apa yang kau pikirkan? sampai seserius itu,"ucap Cleo yang baru kembali dari membeli makanan.


"Bukan apa-apa"


"Oh, kalau begitu ini pesananmu hoddog original dan keju, juga susu coklatnya"ucap Cleo.


"Terimakasih"


'Dia seperti anak kecil karena masih minum susu'pikir Cleo dengan sedikit tertawa.


"Kau kenapa Cleo,"


"Tidak, tapi Olivia apa kau tidak akan mual jika memakan hoddog di barengi dengan susu?"


"Tidak, mungkin karena sudah terlalu biasa, apa pun yang aku makan, aku selalu membarenginya dengan susu"ucap Olivia yang menyesap susunya.


"Imutnya"gumam Cleo yang memperhatikan Olivia.


"Hmm? apa kau baru saja bicara sesuatu? Cleo?"


"Tidak"

__ADS_1


Dan hari itupun berakhir.


BERSAMBUNG.


__ADS_2