
Jam pulang sekolah, Riyan dan Olivia sudah sampai di setengah jalan untuk pulang, hanya butuh beberapa mil saja sampai harus pulang ke rumah, dan mungkin tidak sampai sepuluh menit untuk sampai rumah.
Olivia yang sedang berjalan di samping Riyan, ia merogoh saku roknya, mencari sapu tangan yang biasanya ada di sana, sapu tangan cantik berwarna biru pertama dengan sulaman berbentuk mawar dengan warna peach, yang di berikan Riyan sembilan tahun lalu.
"Riyan! ayo kembali ke sekolah,"ucap Olivia dengan wajah kaget. setelah menyadari sapu tangan yang berharga baginya hilang.
"Kenapa harus kembali, padahal sedikit lagi sampai rumah, apa mungkin... ada sesuatu yang tertinggal?"tanya Riyan dengan menoleh kearah Olivia.
"Ya, ada! sapu tangan yang pernah kau berikan padaku sembilan tahun lalu, saat usiaku sembilan tahun. Sepertinya itu jatuh didalam kelas saat aku tidak sengaja mengeluarkannya dari kantungku"ucap Olivia.
"Kau masih menyimpan benda itu?"
"Memang kenapa, apa tidak boleh menyimpan barang pemberian darimu, bukankah kau bilang kalau itu adalah sapu tangan dengan sulaman yang kau buat sendiri untukku"
"Bukan itu maksudku, hanya.... terimakasih sudah menyimpannya selama ini"ucap Riyan seraya mengusap rambut panjang Olivia.
"Jadi, kita akan kembali ke ke sekolah kan?"
tanya Olivia dengan mata berbinar-binar seperti kucing.
"Tapi... sapu tangan itu bukanlah barang mahal, kenapa kau masih menyimpannya, dan lagi... sulaman yang kubuat sendiripun begitu jelek, jadi kenapa kau selalu menyimpan dan membawanya, kau bisa saja membuangnya.... kurasa kita tidak perlu kembali ke sekolah hanya untuk mengambil barang yang tidak begitu penting, bukan begitu?"ucap Riyan, di satu sisi, Riyan merasa terharu karena Olivia masih menyimpan barang sepele yang ia berikan waktu itu, di sisi lain, ia hanya ingin agar Olivia tidak menyiakan waktu berharganya hanya untuk menyimpan sebuah sapu tangan yang tak memiliki nilai sama sekali.
"Tidak penting katamu, itu penting bagiku, karena sama seperti nafasku, jadi... kalau kau tidak mau .... yasudah, aku bisa mencarinya sendiri"ucap Olivia yang kesal karena Riyan mengatakan hal yang sudah ia anggap sebagai nafasnya sendiri sebagai benda tidak penting.
Karena kesal Olivia mengambil langkah seribu dengan cepat untuk kembali ke sekolahnya lagi.
"Olivia... tunggu aku, aku akan membantumu mencarinya"ucap Riyan.
Sesampainya di sekolah, sebelum menaiki anak tangga untuk ke lantai tiga, Olivia memutuskan untuk mencari sapu tangannya sendiri, karena tidak ingin membuat Riyan kerepotan, karena ia sadar selama ini selalu merepotkan Riyan. Apalagi sekarang ia juga menyadari kalau mereka sudah sama-sama besar, bukan anak kecil seperti dulu, yang selalu merepotkan setiap saat dan setiap waktu.
"Riyan kau tunggu di sini saja, aku yang akan naik ke lantai tiga untuk mencari sapu tangannya"ucap Olivia yang segera menaiki anak tangga dengan berlari.
"Apa?? Olivia jangan lari di tangga"ucap Riyan.
"Tunggu saja di situ dan jangan kemana-mana ya,"teriak Olivia saat berlari di anak tangga.
"Dasar Olivia..."gumam Riyan.
'Ah... aku merasa bersalah karena kau harus sampai segitunya hanya untuk sebuah sapu tanga'Pikir Riyan.
__ADS_1
Sedangkan Olivia yang sudah menaiki anak tangga sampai lantai tiga segera menghampiri kelasnya yang berada di ujung lorong, sejak ia berjalan ia terus mendengar suara paku yang di pukul-pukul, dan saat ia berada di depan pintu kelasnya, ia melihat papan tulis yang sedang di terapkan pada dinding kelasnya.
"Oh, Halo Kak Bily, halo Kak Arkan"sapa Olivia pada kedua orang yang juga merupakan anggota OSIS sepertinya, ia memanggil mereka kakak, karena mereka alumni sekolah itu, dan juga mereka merupakan siswa-siswa yang mendikasikan diri untuk menjadi pengajar pada sekolah itu nantinya, mereka adalah ketua OSIS sekaligus guru magang yang baru tiga bulan bekerja.
"Oh Olivia ternyata kau, jam sekolah sudah berakhir dari tadi, kenapa kau kembali lagi, apa ada sesuatu yang tertinggal?"tanya Arkan.
"Iya, padahal tadi aku melihatmu pergi meninggalkan sekolah, memangnya apa yang tertinggal?"tanya Bily.
"Aku kehilangan sesuatu saat di sekolah, aku pikir... sepertinya tertinggal di ruang kelas ini"ucap Olivia.
"Oh kalau begitu cepat temukan barangmu yang hilang dan pulang, kelasnya akan segera kami kunci"ucap Bily.
"...Iya"
Olivia mencari sapu tangan itu, ia memeriksa setiap lantai dengan cermat, hingga menemukan sapu tangan itu ada di bawah jendela.
"Aku menemukannya"ucap Olivia kegirangan.
"Kalau begitu cepat pergi, kami akan segera mengunci kelasnya"ucap Bily.
"Iya aku akan segera pergi, tapi... kak, kenapa papan tulisnya di ganti lagi dengan yang baru, bukankah belum lama saat yang itu di ganti, itu masih bagus. Dan belum ada seminggu saat papan tulis sebelumnya di ganti,"tanya Olivia penasaran.
"Oh begitu ya, kalau begitu aku permisi untuk pulang"ucap Olivia yang masih berusaha menahan tawanya yang sulit di tahan.
"Hati-hati di jalan Olivia"ucap kedua orang itu.
"Sepertinya aku menghabiskan sekitar lima belas menit, aku pasti membuat Riyan bosan karena harus menunggu lama, rasakan.... karena ini pembalasan untuknya yang waktu itu"
Olivia menuruni anak tangga dengan perlahan, dan melihat Riyan yang terus bergumam dengan alis yang menyatu.
"Olivia,dia ini benar-benar membuatku menunggu lama, apa aku harus naik ya"gumam Riyan yang kedengaran Olivia, ia menggerutu dengan menyatukan alisnya, Olivia yang melihat itu sangat gemas pada teman kecilnya itu, hingga langkahnya terhenti di tengah anak tangga, ia menghentikan langkahnya karena ingin melihat lebih lama ekspresi Riyan yang mengemaskan baginya.
Cukup lama ia memperhatikan Riyan, tiba-tiba ia melihat wajah Riyan yang pucat seketika dan Riyan memegangi kepalanya juga dadanya seperti orang yang kesakitan.
"Riyan... apa kau baik-baik saja"lirih Olivia dengan nada cemas.
Gruduk..... gruduk....
Suara papan tulis yang meluncur di tangga, yang hendak dipindahkan tetapi lepas dari tangan Bily dan Arkan yang memeganginya hingga jatuh meluncur menuruni tangga dengan bebas.
__ADS_1
"Hei siapapun yang ada di bawah cepat menyingkir!"teriak Bily dan Arkan.
Olivia tidak mendengar suara apapun, karena ia begitu mencemaskan Riyan, ia hanya terdiam.
Sebelum Olivia menyadari ada benda panjang yang mengarah padanya, papan tulis itu lebih dulu sampai ke belakang tubuhnya Olivia, menabrak punggung Olivia dengan keras sampai ia terdorong ke depan.
Olivia yang terdorong ke arah Riyan.
"Riyan, minggi!"teriak Olivia yang meminta Riyan untuk minggir dari hadapannya, tetapi bukannya menyikirkan diri, Riyan berbalik dan justru terdiam dengan kedua tangannya yang terbuka lebar berniat menangkap Olivia ke dalam pelukannya.
Kejadiannya begitu cepat.
Sreeet..... Cup...
Papan tulis terhenti karena berhasil di tahan oleh Bily dan Arkan.
Sedangkan Olivia yang terdorong ke arah Riyan, membuat Riyan ikut terdorong dan terhimpit di tembok dan tangan Olivia sudah menahan di kedua bahu Riyan, sedangkan tangan Riyan yang tadinya terbuka lebar karena berniat menangkap Olivia ke dalam pelukannya, tangannya kini berada di punggung belakang Olivia.
Terjadi kecupan manis, karena tubuh dan bibir mereka saling melekat, mata mereka saling bertautan dengan menggambarkan ekspresi terkejut, mereka yang kaget
dengan situasi yang terjadi diantara mereka itu hanya terdiam dengan mata yang terbelalak, saling menatap satu sama lain.
"Oy remaja, kami tahu yang terjadi pada kalian itu adalah kesalahan kami karena tidak memegangi dengan benar papan tulisnya. Tapi, sampai kapan kalian akan seperti itu, kalian membuatku yang kemarin baru putus dengan pacarku jadi cemburu...."
ucap Arkan.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa , aku akan diam dan tidak akan mengadu pada guru, tetapi jangan lupa untuk mengirimkan undangan pada kami saat kalian menikah nantinya ya"ucap Bily mengejek.
Olivia yang tersadar segera menjauh dari Riyan dengan ekspresi malu dan wajah yang merona merah.
"Kak Bily! Kak Arkan bukannya minta maaf, tapi kakak malah meledek"teriak Olivia.
"Yah sayang sekali padahal tadi aku jadi candu melihat kalian seperti itu, sungguh manis. Sayangnya aku tidak sempat mendokumentasikan kejadian langka barusan"cibir Bily.
"Kakak!"
Pertengkaran itu berakhir dengan bantuan Arkan yang turun tangan untuk menghentikan peperangan adu mulut
antara Olivia dan Bily, dan Riyan juga membantu dengan membawa Olivia pulang.
__ADS_1
BERSAMBUNG.