
(Lanjutan)
Tring Tring Tring
suara bel pintu kamar hotel yang dibunyikan, lalu tak lama terdengar suara...
Pip pip pip
"ayah, ibu, tapi sepertinya aku terus mendengar suara pip pip, dari mana asal suaranya"ucapku menyadari suara aneh yang terdengar.
"Iya, ayah juga dengar suaranya"ucap ayah berdiri dari meja makan lalu mencari asal suara aneh itu, ibu juga berdiri untuk mencari asal suara itu, mereka memeriksa setiap barang di tiap ruang namun tak kunjung menemukannya.
Aku pun turut membantu mencari asal suara itu, lalu kembali terdengar suara bel pintu kamar hotel yang dibunyikan lagi beberapa kali.
"Ayah, ibu, sepertinya ada tamu diluar"ujarku.
Karena tak ada respon dari ayah dan ibu aku pun mengecek sendiri siapa tamu diluar,
aku menghampiri pintu kamar hotel dan membukanya, terlihat seseorang yang jelas tak kukenal berdiri dihadapanku dengan memegang sebuah kotak, ia berpakaian serba hitam, topi hitam bahkan wajahnya tertutupi oleh mesker hitam dia bahkan memakai sarung tangan hitam.
"Permisi nona kecil saya adalah teman ayah anda, saya membawa hadiah pemilik kamar ini, tolong berikan ini pada ayah nona"ucap orang yang aneh itu.
'Dia berbicara dengan bahasa Indonesia, sepertinya dia benar-benar kenalan ayah,
tapi mengapa aku merasa sedikit takut padanya'pikirku.
"Tapi paman, bukankah paman bisa menitipkan ini pada petugas hotel, kenapa paman memberikan ini secara langsung?"tanyaku.
"Karena semua orang sampai petugas hotelpun tidak ada, mereka semua sibuk dengan kebahagiaannya tersendiri, karena ini hari Valentine... ya kan?"ucap paman aneh itu, meski wajahnya tertutup masker hitam, entah kenapa aku seperti dapat melihat ekspresi wajahnya yang menyeringai.
" O...oh Baiklah akan aku berikan pada ayah , terimakasih paman dan selamat tinggal"ucapku menerima kotak itu lalu masuk kedalam kamar hotel dan mengunci pintunya, sekujur tubuhku bergetar seakan merasakan sesuatu yang aneh seperti yang dirasakan hatiku, perasaan yang mengganjal di benakku.
Rasa cemas dan takut mulai menumpuk
di hatiku.
Kekhawatiran... kegelisahan... ketakutan... yang seperti insting...
tentang apa yang akan terjadi setelah ini?
Lalu kembali terdengar suara pip... pip...
"sepertinya suaranya berasal dari kotak ini" ucapku, menyadari suara aneh yang dari tadi terus ku cari berasal dari kotak yang baru saja diberikan paman aneh barusan, hatiku berdebar tak karuan, suaranya semakin lama semakin kencang, panik dan takut menjadi satu membuat sekujur tubuhku semakin bergetar hebat, dan tanpa sengaja aku menjatuhkan kotak itu dan tiba-tiba kotak itu meledak dan membuatku sampai terlempar ke ruang tamu.
__ADS_1
Kotak itu meledak dan membuat api yang mengelilingi di sekitarku, aku hanya menangis karena takut, api semakin lama semakin besar dari barang-barang yang terbakar, asap hitam bertebaran tertiup angin, begitu banyak asap membuatku sulit bernafas, rasa panas yang menyelimutiku mengusir kesadaranku perlahan.
Lalu...
Gelap...
Tidak terdengar apa-apa...
'Apa aku mati?? tidak, aku tidak boleh mati, aku harus beritahukan ayah dan ibu untuk keluar dari hotel, karena mungkin hotelnya akan meledak, aku harus bangun!'
Dan saat aku sedikit tersadar, aku berada dalam dekapan ayah yang menggendongku dengan erat.
"Ayah, ibu, kalian harus pergi dari sini!"ucapku lirih.
"Olivia bertahanlah, kau harus bertahan agar kau bisa hidup"ucap ayah saat menggendongku.
"Olivia kau ingin punya banyak teman kan? iya kan? kalau begitu kau harus hidup bahagia dan cari teman sebanyak mungkin"
ucap ayah.
"Olivia sayang, kau mulai sekarang harus hidup sendiri tanpa kami, kau bisa kan?
hiduplah dengan bahagia..."ucap ibu.
"Maaf karena kami hanya bisa membesarkanmu sampai sini, maaf karena kami harus pergi meninggalkanmu sendirian di dunia ini, maaf karena kau harus terlahir di keluarga ini, maaf karena ini semua salah ayah,"ucap ayah yang memeluk dengan sangat erat.
"Tidak aku tidak mau sendiri, tidak mau, ayah dan ibu tidak boleh pergi!"ucapku lantang dengan menahan tangis.
"Sayang kau tau kan ayah dan ibu sangat sangat menyayangimu lebih dari apapun"
lirih ibu dengan wajah yang terus menitikkan air mata.
aku tak mengerti mengapa mereka mengucapkan hal yang tak dapat ku mengerti, mengapa orang dewasa mengatakan sesuatu yang sulit tuk di cerna dan dimengerti oleh anak sekecilku, bukan...
mungkin aku mengerti maksud ayah dan ibu tapi, tapi aku ingin berpura-pura tak mengerti... karena aku ingin menganggap perkataan ayah dan ibu adalah sebuah candaan, saat ini aku benar-benar berharap semua yang mereka katakan adalah candaan.
Untuk beberapa saat aku menatap wajah ayah dan ibu dengan cermat, lalu air mataku mulai mengalir dari sudut mataku, aku merasakan tetesan air mata yang menyusuri pipiku, tangis yang kutahan sejak tadi akhirnya pecah, saat ini rasa takut akan kehilangan orang-orang yang berada di depanku.
Sampai akhirnya aku dilempar ke luar jendela oleh ayah dan ibu, dari lantai dua puluh, aku tahu mereka melakukannya agar aku tetap hidup, tapi ini sangat menyakiti perasaanku karena aku harus melihat kematian dua malaikat yang sangat berharga bagiku, aku melihat api yang sudah menyebar keseluruhan hotel hingga lantai atas dan akhirnya aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, ayah dan ibu yang ikut terlahap api dan hangus terbakar oleh api yang begitu besar.
Aku terjatuh dari ketinggian lantai dua puluh, aku terjatuh cukup jauh dari hotel, aku jatuh ke semak-semak, kepalaku terbentur batu.
"Ayah, ibu, ajak aku pergi bersama kalian"pekikku.
__ADS_1
Biasanya saat aku sedih dan takut aku selalu berharap agar ayah dan ibu datang lalu menenangkanku dan menghiburku, tapi kini pada siapa aku harus berharap, saat ini pikiran di penuhi pertanyaan.
Mengapa Tuhan mengambil kedua orang tuaku begitu cepat? mengapa tuhan tidak adil seperti ini, di saat-saat dimana aku paling membutuhkan orang tuaku tuk ada di sisiku, mengapa Tuhan harus membawa pergi mereka? ini tak adil kehilangan orang-orang yang kupikir akan bersama selamanya, memang cepat atau lambat itu akan terjadi, tapi ini terlalu mendadak di saat aku belum siap, jadi aku berharap, berharap agar seseorang datang padaku saat ini juga.
"Ayah ibu kembalilah, aku benar-benar takut tanpa kalian"lirihku dengan penuh harap.
"Jika saja aku tak pernah terlahir ke dunia ini, mungkin kalian akan hidup bahagia sebagai sebuah keluarga... tanpa aku"ucapku.
Saat ini juga, rasa sesal dan dorongan menyalahkan diriku sendiri, serta rasa takut pada kematian di hari ini, juga kegelisahanku soal masa depan, seketika semua meluap dari dalam hatiku.
Dalam situasi yang terus-menerus terjadi ini... rasanya kesadaranku akan kenyataan menjadi lumpuh.
Merasakan semua rasa sakit, merasakan bahwa kesadaranku makin lama makin hilang, bahkan menyaksikan darah yang tak henti-hentinya keluar dari kepalaku, rasa takut akan maut tersebar ke seluruh tubuhku, meski ingin minta tolong tak ada satu suarapun yang mampu kuteriakan, lalu aku menutup mataku seraya berharap dan berhitung sampai tiga dengan suara pelan agar seseorang datang dan menyelamatkanku dari rasa sakit yang tak tertahankan ini.
1...
2...
3...
"Apa kau baik-baik saja?"tanya seorang anak laki-laki.
Aku membuka mata dan tersenyum kecil pada anak laki-laki yang berdiri di hadapanku.
"Tidak... ini sangat menyakitkan"ucapku .
Mulutnya terbuka dan ia seperti mengucapkan sesuatu, namun kata-katanya tak terdengar karena suara mobil kebakaran dan ambulans yang telah tiba, dan akupun kehilangan kesadaran tanpa tahu kata-kata yang diucapkan anak laki-laki itu.
Sebelum aku kehilangan kesadaran, hal terakhir yang kudengar dan yang kulihat adalah suara raungan keras, dan hotel runtuh bersamaan dengan raungan keras itu.
Saat ku tutup mataku, semua terlihat jelas, malam itu saat semuanya di mulai, kenangan yang abadi.
Semuanya musnah didepan mata.
*** ***
"Sepertinya, waktu itu Riyan mengucapkan sesuatu, tapi aku tidak bisa mengingatnya"ucap Olivia.
"Kira-kira apa ya? yang terucap olehnya saat itu?"ucap Olivia seraya berpikir keras untuk mengingat dan mencari jawaban dari potongan memori di saat itu, ia berpikir sampai tak sadar pada waktu.
Lamunan Olivia terganggu karena bunyi dering jam alarm di kamarnya yang menunjukkan jam 6:00.
Begitulah pertemuan pertama Olivia dan Riyan yang merupakan awal dari sebuah takdir yang saling mengikat sampai kini.
__ADS_1
BERSAMBUNG.