
Pov Cleo
Aku tidak pernah berpikir untuk mencintai apalagi menyukai...
Karena aku... punya cintaku sendiri, cinta pertamaku yang menghilang yang pergi entah kemana, karena itu aku tidak pernah berpikir akan mencintai sekali lagi.
Aku menutup rapat pintu hatiku karena dengan begitu aku hanya akan mencintai satu orang seumur hidupku.
Tapi aku salah karena telah berpikir seperti itu, memang benar kata orang kalau 'sulit untuk memprediksi kemana hati akan membawamu' atau 'tidak ada yang bisa menahan perasaan untuk menyukai seseorang'.
Semua berawal dari hari itu...
-di taman.
"Oh tidak burungnya hampir jatuh, bagaimana ini? tidak ada yang lewat sini lagi, aku harus meminta bantuan seseorang"ucap Olivia dari kejauhan yang berdiri dibawah pohon dengan wajah gelisah.
Karena kegelisahannya membuatku penasaran sehingga tanpa sadar aku menghampirinya.
"Ada apa, kau terlihat gelisah?"
"Oh, Cleo cepat panjat pohon ini,"
"Kenapa harus aku? dan untuk apa?"
"Lihat sarang burung disana! burung itu hampir jatuh, cepat selamatkan"pintanya.
"Kenapa aku?"
"Karena kau laki-laki,"
Meski aku terus-terusan menolakpun ia malah semakin memaksa memintaku melakukannya.
Begitulah awalnya, lalu...
-di jam olahraga.
"Aku lelah, rasanya sangat haus setelah jam olahraga, apa disini ada yang jual air?"gumamku.
"Cleo, kau mau minum"
"Oh, kebetulan aku sedang sangat haus, terimakasih..."
Aku meminum air pemberiannya dan...
"Harganya lima ribu"
"Puuufff uhuk... uhuk... bayar?"
"Iya, memang harus bayar karena itu dari ruang OSIS jadi dijual"
Aku tidak kaget karena harus membayar, tapi yang membuatku kaget adalah dia orang pertama yang melakukan itu padaku.
Seperti saat pertama kali melihatnya diantara sekian banyak siswi yang kulihat di sekolah ini hanya dia yang tidak pernah melirik kearahku, dan diantara siswi yang selalu mencari perhatianku karena menganggap aku adalah bintang hanya dia yang bersikap seolah aku hal biasa untuknya.
"Cleo kenapa kau terdiam... apa kau... mengira aku memberikannya padamu... kalau begitu aku minta maaf aku tidak bermaksud seperti itu dan membuatmu salah paham, biar aku yang bayar,"
"Tidak, tidak, ini uangnya"
Dia gadis kedua yang menarik perhatianku.
Sejak hari itu, tanpa sadar pandanganku selalu tertuju padanya.
Awalnya bisa dikatakan aku begitu kagum padanya,
-di perpustakaan.
"Hei! apa kau membaca buku sebanyak itu?"tanyaku.
"Iya, kenapa?"
"Apa kepalamu tidak meledak? oh ya, wajar saja ya katanya kau siswi terpintar di sekolah ini... gawat, sepertinya akan sulit mengalahkanmu"
Sampai kemudian... aku jadi tertarik sekali dengan kesehariannya.
-di warung dekat gerbang sekolah.
"Kau sedang apa disini?"
"Absen bolos, ya makan mie lah"
"Ini kan jam pelajaran,"
"Lalu, apa kau mau ikut bolos bersamaku, Riyan, dan Cia, tenang, kalau kau ikut bolos dengan kami kau tidak akan dimarahi"
"Tidak dimarahi, memang kau anak guru,"
"Bukan sih, aku cuma anak kesayangan dari guru-guru"ucapnya dengan lembut.
Pada akhirnya aku ikut bolos dengan mereka karena terbuai wangi mie ayam, ini debut bolosku setelah 18 tahun hidup di dunia. Aku ikutan juga karena mereka menjamin jika ketahuan maka kami akan dihukum bareng-bareng, tapi ternyata... mereka seperti itu karena jam kosong...
Rasanya saat bersamanya entah kenama sangat nyaman.
Sampai kusadari, kalau aku sudah teracuni olehnya, memandangnya menjadi candu untukku.
Mungkin itulah alasan aku ingin...
Selalu berada disisi seseorang, ingin memiliki senyumnya untuk diriku sendiri.
Lalu kami berpapasan dan terus berpapasan, mungkin itu adalah takdir...
Akan tetapi aku menyadari sudah ada yang memilikinya, aku tidak akan menyerah, karena tidak pernah ada kata menyerah dalam kamusku.
***
3 minggu sebelumnya, Cleo sangat kesulitan dengan perasaannya.
Malam hari di ruang tamu, di rumah Cleo dan Deana, ketika mereka sedang sibuk dengan hpnya masing-masing.
"Kenapa akhir-akhir ini kami selalu saja berpapasan, kami selalu bertemu secara kebetulan, di perpustakaan, di lorong, di taman, di mana pun aku mengarahkan pandangan ia selalu terlihat di ujung mataku" gumam Cleo.
"Siapa kak ?"
"Olivia"gumam Cleo lagi.
"Kakak, tertarik ya padanya?"
"Itu bukan urusanmu"
"Waw, baru kali ini aku lihat kakak tertarik dengan manusia"
__ADS_1
"Kau pikir kakakmu ini apa hah? tapi...
Deana, apa kau berpikiran sama denganku kalau Olivia mirip ibu..."
"Menurutku tidak, kenapa kakak bisa berpikir seperti itu?"
"Karena senyuman hangat dan paras cantiknya lembut"ucap Cleo dengan wajah yang sedikit memerah.
"Alasan mirip ibu, kalau seperti itu artinya, berati kakak memang menyukai Olivia"ucap Deana.
"........"
"Wajah kakak sampai memerah, kalau begitu kak, kakak harus melakukan pdkt !"
"Pdkt ya? aku akan menggunakan rumus"ucap Cleo menyeringai.
"Aku tak yakin dengan ide kakak, kakak pikir ini pelajaran, tapi.... coba saja! , semoga berhasi !"ucap Deana.
'Kakaku ini memang gila dengan buku, karena itu dikamarnya bahkan banyak sekali yang berserakan, apa pun itu selalu ia pelajari dengan buku, apalagi dia ini tak pernah tertarik sedikit pun dengan perempuan, atau lebih tepatnya dia jomlo dari lahir' pikir Deana.
Keesokannya...
"Setelah berpikir semalam, akhirnya aku menemukan satu kesimpulan dari rumusku... taktik memikat perempuan"gumam Cleo saat di dalam mobil saat akan berangkat ke sekolah.
"Jadi... ka... apa rumusmu?"tanya Deana yang tidak begitu peduli.
"Pertama mengajaknya kencan, kedua memberikannya coklat, dan terakhir menik..."
"Tunggu, tunggu, ka... jangan bilang yang ke terakhir itu menikah..."sela Deana.
"Memang kenapa?"tanya Cleo yang menyetir.
"Dasar jomblo dari lahir, kak, seharusnya kakak mendekatinya dan mengenalnya perlahan-lahan, itu yang di sebut pdkt" omel Deana.
"Terserah akulah..."
Sesampainya di sekolah, saat Cleo berjalan di lorong, jalannya terhenti karena suara yang tak asing, dan ia memandang ke luar jendela.
'Sebenarnya kenapa sejauh mata memandang, kenapa di ujung pandanganku selalu ada kau?'
"Hahaha Maya apa kau lapar?"tanya Olivia dari luar ruangan yang sedang bermain dengan kucing.
Cleo membuka jendela itu, dan saat jendela terbuka sepenuhnya, Olivia memandang ke arah jendela itu, hingga mereka saling bertukar pandang.
'haha... lagi-lagi aku bertemu dan tanpa sengaja kami saling bertukar pandang...
anehnya... kau terus membuatku tertarik' pikir Cleo dengan tersenyum kecil.
"Halo Cleo~"sapa Olivia.
'Semua bermula dari rasa penasaranku padanya, tiap kali bertemu tersiram rasa itu hingga tumbuh dan berkembang, ketika bermekaran, di saat itulah ia menjadi pusat duniaku. Wajahnya yang indah semakin terlihat berseri di bawah sinar matahari, sampai menyilaukan mataku'pikir Cleo.
Olivia mendekati Cleo yang terdiri dalam diam.
"Cleo, kau tidak dengar, tadi aku menyapamu"ucap Olivia yang mendekatkan wajahnya ke arah Cleo.
"Oh, halo juga, Olivia"ucap Cleo yang sedikit tersentak karena ketika ia sadar dari lamunannya, Olivia sudah berada begitu dekat dengan wajahnya.
'tidak.....
sebenarnya,
sedang mencarimu... Olivia'
Kemudian Olivia mengulurkan tangannya dan berkata...
"Cleo, cuaca cerah hari ini, apa kau mau menikmatinya bersamaku"ucap Olivia dengan tersenyum.
"Tapi, langit tidak secerah dirimu"gumam
Cleo seraya meraih uluran tangan itu dan ia melompati jendela itu, jendela yang setinggi perutnya.
"Astaga kenapa kau melompati jendela, kan ada pintu di sebelah sana"
"Terlalu lama jika harus lewat pintu, apa kau tahu setinggi ini bukan apa-apa, aku bahkan terbiasa duduk pada jendela kamar di lantai tiga rumahku, itu sangat menyenangkan "
"Tapi tetap saja, nanti kau bisa terluka..."
"Aku tak apa, kau kan lihat sendiri, dan tadi kau yang mengajakku untuk menikmati cuaca indah hari ini"
"Yasudah, kalau begitu ayo bermain dengan kucing"
"Kuci...ng, tapi Olivia aku tidak bisa... akhhh"
"Jangan takut, kucing-kucingnya sangat menggemaskan dan ramah"
"Argh....."
Uks
"Olivia, kau bilang kucingnya sangat ramah, tapi mereka menyerangku, lihat ini mereka mencakar lenganku, syukurlah mereka tidak mencakar wajahku..."ucap Cleo.
"Iya, aku minta maaf... karena semua ini terjadi karenaku..."ucap Olivia.
"Apa hanya maaf?"
"Memang kenapa? kau ingin aku melakukan apa?"
"Aku akan menerima maafmu kalau kau mau menonton bioskop bersamaku"ucap Cleo yang modus.
"Itu hal yang mudah, baiklah..."
"Sungguh? kau mau? "tanya Cleo yang masih belum percaya jika tawarannya diterima dengan begitu mudah.
"Ya, aku mau jika itu yang kau inginkan"
"Baiklah, aku akan tentukan tanggal kita pergi"
"Iya,"
Tok, tok, tok.
"Siapa ya?"tanya Olivia.
"Olivia, ini aku, tadi seseorang bilang kalau kau ke uks, apa kau sakit?"
"Oh, Riyan masuklah"
Riyan masuk dan melihat Olivia dan Cleo hanya berdua di satu ruangan.
__ADS_1
"Halo Riyan"sapa Cleo.
"Iya, Cleo kau sakit ya? kenapa kau terbaring di uks?"tanya Riyan.
"Aku... di cakar kucing, akibat Olivia"ucap Cleo yang mengadu seraya menunjuk kearah Olivia.
"Olivia apa maksudnya karenamu?"tanya Riyan dengan menatap Olivia seraya tersenyum.
"Haha, itu karenaku ... karena aku yang mengajaknya bermain dengan kucing bersamaku, jadi itu karenaku"ucap Olivia dengan menatap Riyan balik seraya tersenyum.
'Kenapa? kenapa tatapan Olivia berubah saat menatap Riyan, seolah sedang menatap kekasih, memang apa hubungan mereka?'pikir Cleo dengan menatap ke arah Riyan dan Olivia yang saling bertatapan.
"Hmm, permisi Olivia aku ingin bertanya"
"Ya? apa? silakan saja!"
"Kau dan Riyan Sanga dekat ya?"tanya Cleo.
"Kami teman sejak kecil"jawab Olivia.
"Begitu ya, tapi kenapa kau menatap teman kecilmu dengan tatapan selembut itu?"gumam Cleo.
"Kau bicara apa, Cleo?"tanya Olivia.
'Apa kau menyukai Olivia?' pikir Riyan saat melihat ke arah Cleo yang terdiam dengan menatap Olivia.
"Ah, tidak, bukan apa-apa"
"Kami tidak hanya berteman sejak kecil, kami juga tumbuh besar beesama, dan tinggal dalam rumah yang sama"ucap Riyan seraya mengacak-acak rambut Olivia.
"Ah, Riyan apa yang kau lakukan"
"Mengacak-acak rambutmu..."
"Haish, kau ini keterlaluan"
"Maaf, sini ku rapikan lagi"ucap Riyan dengan merapikan rambut Olivia dengan perlahan.
'........ Ah seandainya kita bertemu lebih cepat, tidak... sejujurnya aku ingin bertemu denganmu lebih dulu dari siapapun'pikir Cleo.
"Olivia sebentar lagi bel akan berbunyi, ayo kita kembali ke kelas"ucap Riyan.
"Iya, ah tapi bagaimana dengan Cleo"ucap Olivia melirik ke arah Cleo.
"Aku sudah baik-baik saja, ayo kita bertiga ke kelas bersama"
'Tak masalah... jika kau menyukai Riyan, tapi akan ku buat kau berpaling darinya dan akan kubuat kau menyukaiku'pikir Cleo.
"Iya, ayo bertiga"ucap Olivia.
Di sisi lain...
"Deana..."ujar Klaura.
Deana yang sedang berjalan di lorong untuk menuju ke kelas, menghentikan langkahnya.
"Oh, klaura ada apa?"
"Cleo dimana?"
"Kakak mungkin ada di kelas"ucap Deana.
"Tadi aku sudah ke kelas dan tidak ada Cleo"
"Kalau begitu aku juga tidak tahu kakak ada di mana"
"Oh begitu, Deana .... tapi bolehkah aku meminta nomor Cleo, kau pasti punya nomornya kan?"tanya klaura.
"Aku punya nomor kakak, akan tetapi tidak bisa aku berikan, karena kakak sangat tidak menyukai jika nomornya di berikan pada orang asing"
"Haha, apa maksudmu, aku ini bukan orang asing, kita kan teman ya kan?"
'Ha... bicara dengannya membuatku kesal saja' pikir Klaura.
"Jadi... bisakah aku meminta nomor Cleo"
"Maaf, aku bukanya tak mau melakukannya, tetapi aku tak bisa melakukannya, maaf..."
'Sial, aku bicara baik-baik, dia malah seperti ini, lihat saja kau, aku akan membuatmu menyesal karena terus membuatku marah seperti ini' pikir Klaura.
Klaura memberikan isyarat pada teman-temannya yaitu Anya dan Quella yang berdiri tepat di belakang Deana, untuk menyuruh mereka mendorong Deana dari belakang.
"Akhh, sakit..."ucap Deana, rupanya ia terluka di lututnya.
"Astaga, apa yang kalian lakukan, lihat Deana sampai terjatuh, cepat minta maaf"ucap Klaura.
"Deana maafkan kami, lantainya licin hingga tanpa sengaja kami jadi membuatmu jatuh.."ucap Anya dan Quella bersamaan.
Crying... crying... crying...
Klaura berjongkok,"Deana ... lain kali kau harus lebih ramah denganku, dan karena bel berbunyi lebih cepat dari perkiraanku, aku harus segera pergi ke kelas, jadi kau bisa bangun sendiri kan!"ucapnya seraya pergi dengan Anya dan Quella, meninggalkan Deana sendirian di lorong.
'Kata-kata klaura seolah terdengar seperti 'jika kau membuatku marah, lain kali kau akan menerima akibat yang lebih besar', memang apa salahku, kenapa mereka bersikap seperti itu' pikir Deana yang masih terduduk di lantai.
"Hei, kau... kau menghalangi jalanku, minggirlah"ucap Rayden yang kebetulan sedang lewat.
"Eh, ah... ma-maaf, ukh..."
'Lukanya terasa perih' pikir Deana.
Rayden merogoh sakunya dan kemudian berjongkok, ia mengeluarkan penutup luka dari sakunya dan menutupi luka di lutut Deana, Deana berdiri mematung dengan kebingungan, kemudian ketika Rayden kembali berdiri tegap.
"Sepertinya kau terjatuh. Luka di lututmu kurang enak di lihat"ucap Rayden kemudian pergi.
"Eh, tunggu..."
Rayden menghentikan langkahnya.
"Kita sekelas kan? ayo ke kelas bersama, karena sepertinya sudah ada guru yang datang"ucap Rayden yang berbicara tanpa membalikkan badannya.
"I-iya, dan terimakasih"
'Bukankah namanya Rayden...' pikir Deana saat menatap tubuh belakang Rayden.
"Apa yang kau tunggu, cepatlah, atau nanti kita bisa di alpakan"ucap Rayden.
"Iya"
Mereka pergi ke kelas bersama.
__ADS_1
BERSAMBUNG.