The Undead Knight

The Undead Knight
Kunjungan Komandan Kesatria Kerajaan


__ADS_3

"Berhenti Gillian!"


Saya yang tidur kemudian terbangun mendengar suara ayah menegur kakakku Gillian Hensberg ketika berjalan melewati kursi ayah di ruang tamu.


Dari balik pintu kamar ayahku terlihat celana kakak penuh dengan bercak lumpur, pakaiannya berantakan, dan beberapa helai daun di rambutnya.


Seperti biasa ayah dan pembantu hanya menatapnya diam seolah tidak peduli dengan apa yang telah kakak lakukan malam-malam diluar dengan keadaan seperti itu.


"Ini teman lama ayah Komandan Kesatria Kerajaan. Gillian beri salam pada Komandan Gerald!"


Seru ayah pelan kepada kakak yang hendak menuju ke kamarnya.


". . . . . . . . ."


Gillian hanya membungkukkan rendah sedikit kepalanya dan segera meninggalkan ruang tamu.


"Haa. . Maafkan ketidaksopanan anak saya Komandan Gerald."


"Tidak apa-apa Walikota Hensberg, saya sedikit mengerti keadaan anak-anakmu."


Paman Gerald tersenyum kecil ketika melihatku mengintip dari pintu kamar ayahku.


"Saya masih mengingat hari dimana Liliana kecil dan Gillian bersama Nyonya Esthelle berkunjung melihat-lihat latihan kesatria kerajaan."


Terlihat Paman Gerald mengelus-elus janggut pendeknya menatap lukisan dinding.


Ayah yang mendengar nama ibu hanya bisa mengernyitkan alisnya menatap sedih sejenak kearah lukisan-lukisan ibu kemudian kearahku.


 


"Ayah minta maaf membuatmu terbangun sayang. Lily sini ke ayah."

__ADS_1


"B..baik ayah."


Jawabku terkejut.


Saya tahu tubuh Paman Gerald lebih besar dibanding ayahku, tetapi saat melihatnya dari dekat, sosok paman itu benar-benar lebih besar dari yang kubayangkan, mungkin begitu besar dibanding seluruh orang dewasa yang pernah kulihat. Sejenak, saya terhenti disamping kursinya ketakutan, tidak berani menatapi paman itu. Lalu tanpa sadar saya berlari dan berlindung dibalik punggung ayah yang duduk di kursi.


"Sepertinya Liliana kecil tidak mengingat paman."


Raut wajah sedih terpapar diwajah Paman Gerald.


"Wajar saja Komandan Gerald, semua anak kecil yang pernah melihat tubuh besarmu seperti Ogre ditambah bekas luka diwajahmu membuat mereka ingin segera melupakanmu agar bisa bermimpi indah."


"HAHAHAHAHA. . . saya tidak bisa menyangkal itu saudaraku."


Tawa lantang Paman Gerald seketika mengagetkanku dan pembantu yang sedang mengantarkan minuman.


"Lihat Lily semakin takut padamu Komandan Gerald."


"Maafkan Paman mengagetkanmu Liliana kecil."


Saya hanya mengangguk malu ke Paman Gerald. Paman Gerald tersenyum haru dan ayah mengusap kepalaku.


"Permisi Tuanku, Tuan Gerald."


Claudia menaruh 2 cangkir minuman di meja.


Paman Gerald entah kenapa menatap serius ketangan Claudia yang sedang menaruh teh.


Raut wajah Claudia sedikit terkejut melihatku yang terbangun di jam tidurku.


"Nyonya muda terbangun rupanya. Mau kubuatkan teh juga Lily?"

__ADS_1


Saya menggeleng-geleng cepat ke Claudia. Claudia tersenyum lucu karena tahu apa yang akan terjadi kalau saya minum teh malam-malam.


"Ayah ingat waktu itu Tuan Barenheid bersama putrinya Charlotte pernah datang berkunjung. Lily dan Charlotte terjaga semalaman dan ke dapur meminum teh. Akhirnya. . ."


"AYAAAH!"


Saya teriak panik menghentikan ayah sebelum menyelesaikan ceritanya.


"Hahaha ayah hanya bermaksud menggodamu Lily, maafkan ayah."


"Hmmph!"


Liliana melipat tangan membelakangi ayahnya membuang wajah cemberut menggelembungkan pipinya.


"lu.. Lucunya~"


Claudia tertawa kecil melihatku cemberut sedangkan Paman Gerald malah terpesona.


"Oh ya, saya datang berkunjung dari ibukota tentunya membawa beberapa souvenir ibukota dan sebuah hadiah spesial untuk Liliana kecil."


Dari tas besar yang ditaruh disamping kursi tempat dia duduk Paman Gerald mulai mengeluarkan beberapa barang dan sebuah boneka beruang.


"Waaahh~"


Saya yang tadinya merasa takut kepada Paman Gerald mulai tersenyum dan berkaca-kaca melihat boneka beruang putih dengan pita biru di lehernya.


Yang membuatku sangat tertarik adalah ukuran boneka tersebut tidak kalah jauh besar dengan tas untuk membawanya.


"Sebenarnya dari awal saya sudah penasaran dengan isi tas besarmu Komandan Gerald, kupikir didalamnya berisi barang untuk perjalanan jauh atau semacamnya. Saya tidak habis pikir malah yang keluar adalah boneka raksasa."


Semakin menatap boneka tersebut, ayah akhirnya tertawa lepas menepuk-nepuk paha kanannya tidak bisa lagi menahan kekonyolan Paman Gerald.

__ADS_1


Paman Gerald hanya bisa menggaruk kepalanya tersipu malu melihat ayah menanggapi tingkahnya seperti itu.


__ADS_2