
Merasakan adanya pergerakan aliran mana yang aktif di sekitar Rainhart, kakek itu menjawabnya dengan senyuman. Dirinya bukannya tersenyum tanpa alasan, ia hanya takjub dengan umur pangeran itu yang tidak jauh rentangnya dengan Gillian namun sudah dapat mengontrol kekuatan mana-nya bahkan mana disekitarnya sefokus ini.
"Suhu udara turun drastis, tapi berhenti di suhu 5 derajat?! Pengendalian mana-nya setara dengan Penyihir Kelas Tinggi, mampu menggabungkan 3 kata magis. . . unsur angin, suhu, dan air begitu mudahnya dikendalikan. Hmm. . Pantas saja para Peri Hutan tertarik pada pemuda ini. . ."
Pikir kakek itu tak bisa membayangkan sehebat apa nantinya Pangeran Rainhart dikemudian hari.
Entah kenapa, perasaan itu sama seperti waktu dirinya bertemu Gillian pertama kali, setahun yang lalu. Dirinya masih yakin, potensi Gillian dengan Pangeran Rainhart tidaklah jauh berbeda.
Kakek itu meminum habis tehnya yang tersisa setengah gelas. Bunyi dari alas cangkir dan meja kayu yang bersentuhan seakan tanda untuk memulai perbincangan serius.
Melihat Gillian menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, lalu ditempelkannya ke pipi basahnya. Rainhart mengatur napasnya, berusaha untuk mengendalikan dirinya, ia tahu kakek itu bukanlah kakek tua biasa, namun rasa penasarannya mengalahkan rasa hormatnya kepada orang tua di depannya.
"Jadi apa yang ingin ditanyakan oleh Pangeran Britania kepada kakek tua ini?"
Kakek itu mengawali pembicaraan setelah melihat mana dalam ruangan rumahnya menjadi normal.
__ADS_1
"Kalau bisa panggil saja nama saya tanpa gelar pangeran, Kakek. . . Alf Vanheim?"
Dengan nada suara yang masih terdengar ragu, Rainhart mencoba memastikan. . .
"Tu. . tunggu dulu Pa-, ehm. . Rainhart. . . aku tahu kalau kakek tua ini adalah seorang penyihir yang hebat, tapi Alf Vanheim?! penyihir legendaris itu?!. . . penyihir yang membantu Pahlawan bertarung melawan Naga Hitam Fafnir 400 tahun yang lalu?! ka. .kamu tidak sedang bercanda kan?"
Gillian angkat bicara memotong pembicaraan, tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Pangeran Rainhart.
"Ya Gillian. . . memang ada banyak versi cerita tentang penyihir legendaris dalam buku dongeng, maupun cerita anak-anak. Salah satunya dikatakan kalau penyihir itu ialah Ras Manusia yang mendapatkan karunia magis dari 2 Dewa, yaitu Dewa Perang Atheros, dan Dewa Perputaran Kehidupan Artemis. . ."
Kakek itu hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Tidak begitu banyak catatan kuno yang ditinggalkan para leluhur mengenai peristiwa Perang Besar secara spesifik yang terjadi di masa lampau, kecuali kehormatan, kejayaan dan bagaimana kemenangan ras manusia yang ikut andil mengakhiri *P*erang Besar 4 Ras melawan monster sekelas Bencana Dunia, Ras Naga Terkutuk. . .
Ini hanya pendapatku sendiri, mungkin karena adanya sekte agama yang ikut campur mengenai penyebaran peristiwa itu, menyebabkan kenyataan yang terjadi seakan ditutup-tutupi."
__ADS_1
"Hoo. . . jadi apa yang membuatmu berpikir kalau saya adalah penyihir legendaris itu nak Rainhart?"
Tidak ada perubahan di wajah kakek itu setelah mendengar ucapan Pangeran Rainhart, ia tetap memasang wajah tenangnya. Memelintir rambut putih panjangnya yang sudah berombak.
"Kami para Kesatria Kerajaan Britania, dalam sekolah militer, selain diajarkan seni pedang dan strategi perang juga mempunyai kelas khusus, kelas penggunaan sihir bagi kesatria yang mendapatkan Karunia Dewa. . .
Apa nama Adelaine De Elenoir tidak asing bagimu kakek?"
Alis mata kakek itu yang mengambang datar kini terangkat naik. . .
Rainhart tersenyum, seperti dugaannya.
"Sekarang, ia adalah guru yang mengajar dalam kelas sihir tersebut, keturunan Ras Elf "
Dengan cepat Rainhart menambahkan.
__ADS_1
Jari telunjuk kakek itu berhenti memelintir rambutnya seakan penjelasan dan asumsi Rainhart tepat kesasaran.