
"Yah aku sangat mengenalnya. . . tapi itu tidak lantas membuktikan bahwa akulah penyihir yang kamu maksudkan nak Rainhart."
Ia berdiri, kemudian berjalan ke salah satu lemari yang tadi ditatap oleh Pangeran Rainhart.
"Jadi dia kembali mengajar yah. . ."
Ia berjalan lambat sambil mengelus janggut putihnya.
"Kupikir karena tidak mau lagi berurusan dengan para elit bangsawan manusia, ia berhenti sebagai pengajar 15 tahun yang lalu."
Ia mengambil botol yang berisi ginseng dengan tangan kirinya, tongkat kayunya senantiasa menemani langkahnya digenggam ditangan kanannya, lalu kembali ke kursinya.
"Hmm. . . apa yang membuatnya, merubah pikirannya begitu cepat?"
Gumamnya pelan, ia kemudian menaruh botol itu di atas meja, membiarkan dirinya larut dalam pikirannya beberapa detik.
15 tahun bagi ras elf adalah waktu yang singkat jika dibandingkan dengan vitalitas waktu hidupnya yang bahkan dapat mencapai 900 tahun.
"Ahh, mungkinkah juga karena permintaan darinya** ?"
Ia melirik Gillian yang terlihat kebingungan menerka nama jenis tanaman di dalam botol.
Disamping itu Pangeran Rainhart tetap menatap kakek itu, tidak teralihkan dengan botol berisi Mandragora yang ditaruh kakek itu di depan Gillian. .
__ADS_1
"Meski dirinya menyembunyikan identitasnya demi alasan tertentu. . . namun sekali lagi saya ingin memastikan! kemungkinannya tidaklah kecil."
Pikir Rainhart yang masih mempercayai asumsinya.
"Jika benar ia adalah penyihir yang pernah bertarung melawan Naga Hitam, Fafnir. . . maka puzzle ini akan semakin jelas. Guruku. . . Esthelle. . . . saya. ."
Sekilas ia memejamkan matanya, lalu menarik napasnya lebih dalam. Memantapkan keteguhan hatinya untuk tidak terburu-buru.
"Kakek, sihir yang kau gunakan untuk memanggil Treant berbeda dengan pengucapan mantra sihir pada umumnya."
Rainhart kini mencoba dengan bukti terakhirnya.
"A. . aku juga baru pertama kali melihat sihir seperti itu! Itu sangat berbeda dari sihir pada umumnya."
Sanggah Gillian cepat membenarkan pendapat Pangeran Rainhart.
"Memangnya sihir pada umumnya~ seperti apa bocah tengil?"
Ia mengatakan dengan nada bergurau kepada Gillian.
Tangan Gillian dilipat menyilang diatas meja, dahinya mengkerut, mencoba berpikir dengan keras.
"Seperti. . . mmmm seperti. . .yang dilakukan ibuku. . ya!! pengucapannya terbilang pendek. . ."
__ADS_1
"Ah?! tadi kau memanggilku apa kakek tua tengik?!"
Ia baru tersadar dan menyesal terlambat menyadari panggilan itu, seakan mengakui dirinya sesuai panggilan kakek itu kepadanya.
"Lebih tepatnya sihir yang dilakukan oleh ras manusia pada umumnya terdiri dari beberapa gabungan kata magis, semakin banyak katanya, mana yang dikeluarkan juga semakin banyak."
Rainhart lebih memperjelas jawaban dari Gillian.
"Mantra-, tidak. . . lebih tepatnya kakek menggunakan karunia dewa untuk berbicara dengan peri hutan, dengan kata lain kalimat itu berupa puji-pujian kepada Dewa Kesuburan, Demeter. Dewa yang disembah oleh ras elf. Dan ini bukan pertama kalinya saya mendengar bahasa yang kakek gunakan."
"Adelaine De Elenoir. . ."
Kata kakek itu dengan suara seraknya, menebak orang yang dimaksudkan Pangeran Rainhart.
Rainhart mengangguk pelan dan melanjutkan perkataannya. . .
"Bahasa yang kakek gunakan adalah bahasa kuno yang hanya digunakan oleh ras elf sekitar 500 tahun yang lalu."
Rainhart mengakhiri kalimatnya dengan menutup matanya setelah melihat kakek itu tersenyum, mengakui tidak bisa mengelak lebih jauh.
"Kalau nak Rainhart sudah mengetahui sampai sejauh itu. Sudah tidak ada lagi yang perlu kusembunyikan, memang benar campur tangan sekte agama besar Kerajaan Britania menyembunyikan kebenaran tentang diriku."
Kakek itu menghela napasnya, punggungnya seakan dibiarkan jatuh bersandar pada kursi kayunya. . .
__ADS_1
"Ya akulah penyihir dalam cerita Perang Besar melawan Ras Naga Terkutuk. Penyihir yang dulu gagal membantu Pahlawan membunuh monster sekelas Bencana Dunia, Naga Hitam Fafnir 400 tahun yang lalu. . . Alf Vanheim."
Matanya menatap ke arah mereka dengan senyum yang sekilas membawa pilu.