The Undead Knight

The Undead Knight
Hutan Mapple Hitam, Bagian 2.1


__ADS_3

[Kejadian sebelum Pangeran Rainhart masuk kedalam Hutan Mapple Hitam. . . .]


Seorang pasukan kesatria berlari ke Pangeran Rainhart yang sedang mengamati Hutan Mapple Hitam dari atas menara pengawas.


"Lapor Wakil Komandan! semua pasukan sudah bersiap menunggu perintah anda Pak!!"


Kesatria itu berteriak dengan lantang dari bawah menara itu. Melihat Wakil Komandannya mengangguk dari atas, ia segera kembali ke kamp sementara.


Rainhart melihat tangan kanan pasukannya Sera dari atas, juga sudah bersiap sedang menunggu. . .


lebih tepatnya berlari-lari ria mengejar kupu-kupu di bawah.


"Neh wakil komandan, apa yang sebenarnya yang akan kita lakukan disini?"


Tanya Sera yang berhenti mengejar kupu-kupu melihat Pangeran Rainhart sudah turun dari menara pengawas.


"Saya juga tidak tahu dengan pasti Sera."


Sedikit mengkerutkan dahinya, belum tahu pasti tujuan dari surat perintah yang dikeluarkan.


"Hee. . . seperti biasa Wakil Komandan benar-benar tidak berguna nyahahaha~. . ."


Rainhart berjalan ke anak gadis komandannya yang terlihat senang mengejeknya, ia mengacak-acak rambut oranye anak perempuan berumur 8 tahun itu.


"nyahaha. . .nyahahaHAHAHAAHAH."


Sera tidak melawan gerakan tangan di kepalanya, ia malah tambah tertawa merasa sangat geli daun telinga sensitifnya yang tepat di atas kepala, digelitik oleh Pangeran Rainhart.


Puas menggoda Sera ia melanjutkan penjelasannya. . .


"Tidak ada penjelasan mendetail dari surat perintah yang dikeluarkan oleh Uskup Sekte Agama Artemis dan Ibu- maksudku Ratu Elizabeth sebagai Keluarga Kerajaan dan Kepala Keluarga Klan Penjaga Naga Putih selain bersiaga di sekitar hutan ini, kita hanya perlu menunggu perintah lebih lanjut dari Komandan Gerald yang masih pergi melapor ke Walikota Hensberg dan Ketua Guild."


Tidak sampai setengah penjelasan yang didengarnya, Sera kehilangan fokusnya melihat kupu-kupu itu, kini terbang di belakang Pangeran Rainhart.


Rainhart berjalan mondar-mandir memikirkan apa yang dilihatnya dari atas menara. . .

__ADS_1


"Hutan Mapple Hitam dengan Tanah Terlupakan secara topografi hanya dipisahkan oleh pegungungan.


Manusia yang memiliki darah keturunan penyihir atau mendapat Karunia dari Dewa dapat melihat kabut hitam dari kejauhan disekitar kaki gunung itu. . .


Tapi itu adalah hal yang lumrah diketahui dari generasi ke generasi oleh penduduk lokal bahkan sudah sampai ke telinga bangsawan di ibukota. . .


Apa perintah ini ada hubungannya dengan kematian Guru Esthelle? terlebih lagi tidak hanya kesatria tapi petualang juga dikerahkan. Saya rasa tidak ada salahnya saya masuk lebih dulu tanpa menunggu perintah untuk menyelidikinya. "


Rainhart melirik salah satu Pasukan Elit Valkyrie-nya bersiaga 30m dari menara pengawas tempat ia berdiri.


"Isabella!"


Rainhart memanggil nama kesatria wanita yang setahun lebih muda darinya.


Rambutnya pendek sebahu, dengan poni yang menutup 1 matanya. Gagang kacamata hitam yang seragam dengan warna rambutnya memberi kesan dingin dan intelektual. Tapi sebenarnya Isabella adalah gadis yang peduli, dan hanya lebih disiplin dibanding kesatria yang lain.


Debu beterbangan dari posisi berdirinya, cuma butuh 1 kaliTeknik Lompatan Kilat, dengan sekejap Isabella sudah berada di depan Wakil Komandannya.


"Siap Wakil Komandan!"


"Sampaikan kepada semua pasukan, untuk tetap bersiaga secara berotasi tunggu perintah selanjutnya. Saya akan masuk ke dalam hutan untuk memeriksa perimeter."


"Biarkan saya yang melakukannya Wakil Komandan! tugas kecil seperti itu biarkan saya yang melakukannya!!"


Mengetahui wakil komandannya yang dari dulu memang tidak pandai mengingat arah, Isabella mengulangi perkataannya memberi kesan memaksa.


"Tidak apa-apa Isabella, pasukan yang lain masih kelelahan setelah perjalanan jauh-"


"Justru itu yang harus saya katakan kepadamu Wakil Komandan!!"


Isabella menghela napasnya setelah melihat Wakil Komandannya memiringkan tatapannya.


Isabella Alexander adalah teman masa kecil Pangeran Rainhart, lahir dari keluarga terpandang elit bangsawan, keturunan penjaga keluarga kerajaan.


Pada umumnya untuk masuk mendaftar pasukan militer, diwajibkan berumur 15 tahun keatas. Namun tentu terdapat pengecualian kepada keluarga yang telah membuktikan kontribusi tiap generasinya atau mendapat rekomendasi dari beberapa bangsawan atau instruktur yang mengakui kemampuan pendaftar.

__ADS_1


Dengan pembuktian kemampuannya bahkan tanpa pengaruh dari keluarganya, Isabella berhasil masuk diumur 10 tahun mengikuti jejak Pangeran Rainhart yang setahun lebih dulu masuk kedalam pasukan kesatria.


Melihat perkembangan Pangeran Rainhart yang terus berkembang diusianya yang masih 16 tahun, semakin membuatnya lebih mendisiplinkan dirinya sehingga kadang terlihat kaku dan sedikit dingin di mata kesatria yang lain.


Tatapan miring Pangeran Rainhart adalah salah satu sikapnya yang tidak berubah dari dulu jika dirinya menyembunyikan sesuatu darinya. Ia juga mengetahui seberapa keras keteguhannya jika sudah memutuskan sesuatu, apapun yang akan dikatakannya jarang dapat mengubah pikiran lelaki di depannya itu.


"Kalau begitu biarkan saya menemani Wakil Komandan masuk ke Hutan Mapple Hitam!"


Daripada mencoba melarangnya, ia berpikir untuk menemaninya saja.


"Tidak usah Isabella, kamu juga letih. . . dari yang kulihat tadi dari menara pengawas, ada banyak batu anti-mana yang terpasang di dalam hutan ini, jadi kemungkinan untuk monster keluar dari hutan sangatlah kecil. Sebaiknya kamu beristirahat di kamp, tidak usah memaksakan diri bersiaga seperti itu."


Rainhart berputar-putar mencari alasan agar ia bisa masuk sendiri tanpa ada yang mengawasi menyelidiki sekitaran hutan, tentu tujuannya untuk menyelidiki kabut hitam yang dilihatnya dari jauh.


Namun itu bisa menunggu beberapa hari nanti, karena jarak untuk sampai ke bawah kaki gunung tersebut beberapa puluh kilometer.


Merasa tidak ada perkembangan dari usahanya, Isabella terpaksa menaruh harapan ke Ketua Pasukan Valkyrie-nya, Sera yang tadi sedang bersiap. . .


lebih tepatnya kembali mengejar kupu-kupu.


Urat diatas matanya keluar, melihat tingkah ketuanya berlarian tertawa ria.


Seketika Sera berhenti mengejar kupu-kupu, telinganya berdiri tegak berhenti bergoyang, instingnya mengatakan ada sesuatu yang akan menerkamnya dari belakang jika dirinya tidak berhenti mengejar serangga lucu itu.


"Nyahahaha~ nyahahaha~"


Sera hanya bisa tertawa, ketakutan bersembunyi dari balik punggung Pangeran Rainhart menatap tatapan dingin Isabella.


"Kalau begitu biarkan Ketua Valkyrie Sera, yang menemani Wakil Komandan. . . Melihat kondisi ketua masih terlihat segar bermain seperti itu, tentu tidak menjadi masalah bagi anda kan?"


Isabella tersenyum dingin mengancam kedua orang didepannya.


"Siap ma'am!!!"


Sergap keduanya yang berlari ketakutan masuk ke dalam hutan.

__ADS_1


Isabella menghela napasnya, kembali ke kamp sementara yang terletak tidak jauh dari menara pengawas di sekitaran Kuil Artemis, memberitahukan perintah dari Wakil Komandan ke kesatria lainnya.


__ADS_2