The Undead Knight

The Undead Knight
Roh Angin - Sylph, Bagian 1


__ADS_3

"Kakek Alf, jadi. . ."


Raut wajah Pangeran Rainhart terlihat segan menanyakan tentang Naga Hitam, Fafnir.


Sekilas Kakek Alf melihat perubahan sikapnya, ia lalu menatap keluar jendela kecilnya yang tertutup setengah kain penutup jendela tua itu. Memandang jauh ke langit senja berwarna kuning oranye.


"Hari sudah mulai gelap nak Rainhart, simpan pertanyaanmu itu untuk besok. Aku tahu tujuan para Kesatria Kerajaan datang jauh-jauh dari Ibukota Alexandria ke kota ini yang letaknya di pinggiran perbatasan. Dan- . . ."


Sejenak kalimatnya berhenti, pandangan kakek tua itu jatuh ke salah satu pohon diluar jendela. Seperti mengacuhkannya, ia lalu melanjutkan omongannya.


. . . Aku bisa melihat pasukan kesatria yang menunggu dekat dengan menara pengawas di gerbang pintu masuk hutan mulai terlihat khawatir, beberapa orang bahkan sudah masuk ke hutan untuk mencarimu nak Rainhart."


Ia tersenyum menggoda lagi ke Pangeran Rainhart.


"He. . .hebat, Hutan Mapple Hitam ini cukup luas dan saya yang baru masuk kedalamnya merasa berada dalam Labirin Raksasa. Inikah salah satu kemampuannya yang dapat melihat dari mata roh alam yang menjalin perjanjian kontrak dengannya?!"


Rasa malu Rainhart mengalahkan rasa takjubnya kepada Kakek Alf, ia terpaksa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Merasa malu tingkah seenaknya membuat bawahannya repot-repot mencarinya.


"Kalau begitu saya pamit dulu Kakek Alf, terima kasih sudah menjamu tamu ini yang datang tanpa pemberitahuan. Keramahtamahanmu suatu hari, pasti akan saya balas."


Rainhart berdiri tegap. Kepalan tangan kanannya lantang dirapatkan sejajar dengan jantungnya, kemudian menundukkan bagian atas tubuhnya memberi penghormatan kesatria.


"Tidak usah seformal itu nak Rainhart. Tidak banyak yang kulakukan berada dalam hutan ini sendirian selain berkecimpung dengan tanaman-tanaman ini dan buku-buku tua dilemari. Aku senang menyambutmu, terlebih lagi. . ."


Kakek Alf melirik Gillian.


". . . hanya berdua dengan bocah tengil ini menambah stress di kepalaku ahahahaha."

__ADS_1


ketawa sombongnya membuat Gillian berdiri, beranjak dari kursinya.


Gillian tidak begitu kesal, ia sudah terbiasa dengan candaan kakek tua itu yang seenak jidatnya mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Ia hanya tidak ingin membuat Liliana juga khawatir menunggunya dirumah.


"Tunggu sebentar Gillian. . ."


Seru Kakek Alf kepadanya.


"Dasar kakek tua tengik, kalau ada maunya baru memanggil dengan nama."


Kalau ia mengatakannya maka Perang Besar II akan terjadi, pikirnya.


Rasa ingin bertemu Liliana cepat, menahannya untuk tidak mengutarakan unek-uneknya.


Tongkat kayu Kakek Alf, ia sandarkan ke dinding kayu tepat dibelakang kursinya, lalu botol berisi Mandragora tadi di atas meja, ia berikan ke Gillian yang telah berdiri didekat pintu.


Kakek Alf lalu merogoh sesuatu di saku jubah bajunya.


"Perasaan ini. . ."


Gillian mencoba mengingat sensasi ditangannya seperti pernah dirasakannya.


"Apa ini kakek?!"


Gillian merasa penasaran dengan batu kristal berwarna hitam pekat yang diberikan oleh Kakek Alf.


"Materialisasi dari konsentrasi mana yang sangat kuat, membentuk Kristal Mana. Kristal Mana berwarna merah terbentuk dari kekuatan api biasanya ditemukan dalam gua wilayah gunung berapi yang aktif. Tapi kalau warna hitam pekat ini ?"

__ADS_1


Rainhart berpikir darimana Kakek Alf mendapatkannya.


"Itu hanya Kristal Mana biasa, berikan itu langsung kepada Ketua Guild di kota."


Ia menatap Gillian dingin, tidak sedang bercanda.


"Baiklah - baiklah, kalau tidak ada lagi. . . aku pergi kakek."


Batu kristal itu ditaruh di kantung celananya, tanpa menunggu Pangeran Rainhart yang masih terdiam memikirkan sesuatu, Gillian kemudian berlari meninggalkannya.


"Hmmm?! Ah tidak. . . kemana Gillian pergi?"


Rainhart yang baru sadar dari pikirannya memperhatikan sekelilingnya. . .


"Bagaimana caranya saya bisa keluar dari hutan ini ? "


Pikirnya terlihat panik.


Angin berhembus dari selah-selah pohon hutan lagi, namun kali ini angin itu bagai air mengalir, berkumpul sekitar dedaunan pohon diatas rumah Kakek Alf.


Cahaya berwarna hijau terang kemudian keluar dari lebatnya dedaunan tersebut, dikelilingi oleh pusaran angin, lalu perlahan melayang jatuh ke tempat dua pria itu berdiri.


Angin itu senyap melemah, bersamaan dengan kilatan cahaya hijau yang mulai meredup.


"hoaaaam~~~"


Nampak anak perempuan berukuran kepalan tangan pria dewasa, sedang menguap dari cahaya hijau tadi yang sudah menghilang.

__ADS_1


__ADS_2