The Undead Knight

The Undead Knight
Hutan Mapple Hitam, Bagian 2.2


__ADS_3

Ketua Valkyrie Sera dan Pangeran Rainhart akhirnya masuk bersama ke dalam Hutan Mapple Hitam.


Tanpa rasa khawatir, mereka hanya berjalan mengikuti jalan setapak yang entah kemana tujuannya. Disepanjang jalan hutan itu tampak ramai dengan vegetasi yang tumbuh tinggi. Semakin masuk kedalam semakin gelap pula suasananya.


Ada 2 rumor dari mulut Penjaga Hutan yang dikatakan sewaktu Rainhart mengawasi dari atas menara tadi. . .


Yang pertama salah satu jalan setapak itu ada yang menuju ke rumah Kakek Druid yang tinggal ditengah hutan, tapi untuk menemukannya hanya kakek itu yang memutuskan untuk mau bertemu dengan orang tersebut atau tidak.


Rainhart jadi berpikir bagaimanapun caranya, ia sebaiknya harus bertemu dengan Kakek Druid tersebut agar ia dapat membantunya mencari jalan sampai ke kaki gunung perbatasan.


"Neh Wakil Komandan. . ."


Sera berhenti tiba-tiba, merasakan seperti ada sepasang mata yang mengawasi mereka namun ia tidak bisa menebak lokasinya.


"Ya Sera, hawanya semakin jelas. Meski saya sudah menggunakan sihir deteksi Mana Zone, tapi kali ini saya benar-benar tidak dapat melacaknya."


"Apa cuma perasaanku? sekilas saya merasakan 1 lagi hawa kehadiran samar-samar karena pergerakannya sangat cepat dari sisi lain hutan, tapi hanya sedetik ia masuk kedalam Mana Zone-ku, ia langsung keluar dari area sihir deteksi itu seperti bisa melihatnya. Tidak mungkin itu Isabella atau Kesatria Elite lainnya, mengingat mereka sudah kuperintahkan mengawasi sekitaran kamp dan hutan."


Keringatnya jatuh dari pipinya, merasakan tidak hanya sedang diawasi dari dalam hutan tapi dari belakang juga seperti ada sesuatu yang bergerak kearah mereka.


"Nyahahaha~ Wakil Komandan, kamu sebaiknya jangan terlalu jauh dariku."


Kalimat yang diucapkan Sera bertolak belakang dengan tingkahnya yang tidak bisa menahan diri mengejar kupu-kupu menjauh dari Wakil Komandannya.


"Nyahahaha~ nyahahaha~"


Ia tertawa dengan puas bagaikan berada di surga kupu-kupu, ia dikelilingi ratusan serangga itu.


"Jadi itu yah rumor keduanya. . ."


Ucapnya mengingat kembali kalimat Penjaga Hutan itu, yang mengatakan jika seseorang dapat menemukan pohon dikelilingi kupu-kupu, maka 1 hari penuh ia akan beruntung.


"Hei Sera!"


Rainhart berlari mengejar Sera yang sedang mengejar salah satu kupu-kupu yang menjauh dari sarang pohonnya.


"Dari sekian banyak kupu-kupu kenapa malah itu yang kamu kejar Sera !"


Pikir Rainhart setelah mencermati kupu-kupu yang dikejar Sera lain dari yang lain. Nampak kupu-kupu itu mengeluarkan cahaya berwarna biru terang.


Kupu-kupu itu terbang dengan bebas, namun anehnya setiap jalan yang serangga itu lewati tidak ada satupun rumput tinggi atau semak-semak, terasa seperti pemandu jalan mereka didalam kegelapan.


Tidak hanya bentuknya tapi pergerakan kupu-kupu itu lain dari biasanya, bahkan Sera dan dirinya tidak mampu memperkecil jaraknya. Jarak mereka dengan kupu-kupu itu semakin lebar, serangga itu terbang tinggi dengan sangat cepat ke arah pohon yang sangat besar lalu lenyap berbaur dengan daunnya.


Seketika Rainhart berhenti, mengawasi sekitarnya. Hutan Mapple Hitam termasuk hutan yang datar dengan topografi yang tidak berbukit-bukit, pohon sebesar itu seharusnya dapat terlihat dengan mudah dari menara pengawas.


"Sera! SERAAA!!!"


Rainhart berusaha memanggil Sera, setelah tawa riangnya lenyap bersamaan dengan hawa kehadirannya secara tiba-tiba.

__ADS_1


Ia mengeluarkan sihir deteksinya lagi namun tidak menemukan Sera. Ia berusaha untuk tidak panik, ia tahu Ketua Valkryie-nya memiliki indra yang sangat tajam, namun mengingat tingkahnya sesuai dengan umurnya membuatnya semakin khawatir.


"Ahahahaha. . ."


Tawanya terdengar pasrah, ia benar-benar tidak tahu posisinya dimana. "Apa ini salah satu keberuntungan itu ?" pikirnya sarkastik terhadap perkataan Penjaga Hutan.


Rasa paniknya menghantui, membayangkan seperti apa murka Komandan Gerald jika mengetahui anak perempuan kesayangannya tidak diketahui keberadaannnya.


Ia kembali berpikir jika ini ulah dari Kakek Druid tersebut yang menerimanya, tentu Sera tidak akan dibuatnya kenapa-kenapa.


Ia mendengar suara pedang dari arah pohon besar itu lalu berjalan mengikutinya. . .


[Sementara itu Sera. . . . . .]


Tanpa memperdulikan perintah Wakil Komandannya yang menyuruh dia istirahat, Isabella kembali ke posisinya dekat menara pengawas, mengawasi keadaan sekitar.


Terdengar tangisan dari dalam hutan, bergerak dengan kecepatan tinggi kearahnya.


"Se. .Sera?!"


"Huwwaaa. . . huwwaaaa!!"


Memeluk Isabella penuh tangis. . .


"Apa yang terjadi Sera?"


Nadanya rendah mencoba menenangkan Sera. Sera mengelap tangis di dadanya yang masih dalam proses pertumbuhan, pada baju pelindung yang ia modifikasi terbuat dari kulit agar dapat menambah percepatan pergerakannya.


Tangisnya semakin menjadi-jadi.


Tangisan sera terdengar sampai ke kamp sementara. Beberapa pasukan dari kamp bergegas ke tempat mereka berdua, tapi mereka langsung berputar kembali setelah melihat Isabella yang mungkin sedang mendisiplinkan Sera seperti biasanya.


"Tenanglah Sera. . . hentikan tangismu itu, apa kamu ingin membuat para kesatria yang masih kelelahan menjadi panik semua?"


Ia berbisik ke kuping kucing Sera.


Setelah melihat beberapa kesatria masih mengamati keduanya, ia terpaksa mengeluarkan salah satu Teknik Pamungkas Pembunuh Kucing yang Bersedih, yaitu meniup-niup bulu di lubang telinganya.


"Hauuu!!!"


Ekor kucing Sera meregang lurus berdiri.


Sekilas lensa kacamata Isabella memantulkan cahaya matahari. . .


ia melanjutkan kombinasi Teknik Pamungkas selanjutnya, dengan mengelus dengan cepat ekor Sera.


"Nyahahahaha~"


Terasa sangat geli di ekornya, membuatnya tertawa meski air matanya sedikit masih mengalir.

__ADS_1


Isabella tidak melihat Sera sebagai Ketua Valkyrie dengan kemampuan Ras Hewan Buasnya yang menakutkan, tetapi ia mengelus rambutnya dengan lembut sebagai anak perempuan biasa.


Sera menghentikan tangisnya, ia mengingat Isabella selalu mengelus rambutnya jika dirinya berbuat salah atau tidak sesuai dengan posisinya.


Ia dari dulu merasa Isabella lebih cocok sebagai Ketua Valkyrie daripada dirinya, namun Isabella selalu menolaknya dengan alasan posisi itu akan mengganggu tugas utamanya sebagai bodyguard keluarga kerajaan.


Semua pasukan kesatria tahu bagaimana kemampuan Sera yang sesungguhnya, justru Sera sendiri yang tidak menyadari kemampuannya. Tanpa campur tangan ayahnya sebagai Komandan Kesatria Kerajaan, semua kesatria dengan sukarela menerima Sera memegang salah satu posisi tinggi, sebagai Ketua Valkyrie.


"Bisa kamu ceritakan Sera apa yang terjadi padamu dan Wakil Komandan?"


Ia menanyakan setelah Sera melepas pelukannya.


"Aku fwuss... mengejar kupu-kupu yang waw... kupu-kupu aneh itu zabumm... dan fwah... aku kembali tidak jauh dari batu kcing..."


Penjelasan dengan gerakan-gerakannya sangatlah lucu di mata Isabella.


"Jadi kamu dan Wakil Komandan masuk kedalam hutan, terus ada kupu-kupu bercahaya lalu kamu mengejarnya. Hmm. . . berarti Wakil Komandan yang mengikutimu dari belakang berusaha untuk mengejarmu. Tapi kupu-kupu itu tiba-tiba menghilang.


Aneh. . .


Kalau kupu-kupu itu benar-benar menghilang seharusnya kamu masih berada dekat dengan Wakil Komandan. Jadi logika yang masuk akal ada semacam sihir portal yang aktif yang memindahkan posisimu ke dekat Batu Anti-Mana sewaktu kupu-kupu itu menghilang. Jika posisi kalian tidak terlalu jauh ketika dipindahkan, sihir deteksi Wakil Komandan seharusnya dapat dengan mudah melacakmu, berarti dirinya dipindahkan jauh kedalam hutan. . .


Karena panik dengan situasimu kamu mencoba mencarinya beberapa saat, namun dengan indra penciumanmu kamu sama sekali tidak bisa mengetahui posisi Wakil Komandan, berarti ada semacam pelindung mana yang aktif disekitar Wakil Komandan. . .


Akhirnya kamu memutuskan untuk kembali menemuiku, pilihan yang cerdas Ketua Sera!"


Ia mengatakan penjelasan panjangnya dengan santai bahkan menambah kesimpulan dari penjelasan Sera yang aneh dan hanya setengah dari kejadiannya.


"Kamu yang lebih cerdas Isabella bisa mengetahui dengan detail dari penjelasan aneh Ketua Sera."


Begitu semua isi pikiran kesatria disekitaran mereka, berdecak kagum mengamati mereka berdua.


Informasi tentang rumor seorang penyihir yang tinggal di hutan, lebih dulu sampai di telinga Isabella daripada Rainhart.


Isabella berpikir mungkin Kakek Druid yang tinggal disanalah pelaku atas kejadian yang dialami Sera dan Wakil Komandannya.


Karena lelah dan bosan mendengar penjelasan Isabella yang panjang membuat Sera terlelap di pelukan Isabella.


Isabella menganalisa segala kemungkinan yang akan terjadi. . .


"Kalau niat Kakek Druid itu untuk bertemu dengan Wakil Komandan seharusnya ia tidak perlu repot-repot mengusir Sera. Ada kemungkinan ia sudah mengawasi dari jauh keduanya, ia menilai Sera bukanlah orang yang tepat untuk diajak dalam perbincangan serius. . .


Kalau sihir teleportasi dan Mana Barrier benar-benar dari kakek tersebut, ia bukanlah penyihir druid biasa. Saya rasa percuma untuk masuk ke dalam hutan jika posisi mereka dikelilingi barrier yang dapat mengubah apa yang seharusnya terlihat menjadi tidak terlihat seperti ilusi."


Ia tidak bisa berteriak mengingat Sera yang tidur dipelukannya, dengan gerakan isyarat Isabella memanggil pasukan Valkryie paling dekat dengannya yang mengamati daritadi.


Isabella menceritakan situasi yang dialami Wakil Komandan Rainhart kepadanya. . .


"Siagakan semua pasukan kesatria yang mampu menggunakan Karunia Dewa Asclepius dan Karunia Dewi Artemis. dan sampaikan pesan itu kepada Ketua Paladin yang mungkin berada di Guild.

__ADS_1


Jika matahari sudah terbenam persiapkan diri kalian menghadapi situasi terburuk."


Isabella berdoa kepada dewa yang dianutnya, Dewi Artemis dan Dewa Atheros semoga Wakil Komandannya baik-baik saja. Lalu mengantar Sera yang tertidur dipunggungnya ke kamp untuk beristirahat dengan layak.


__ADS_2