
Udara yang beresonansi oleh pekatnya mana disekitar Kakek Alf, membuat waktu terasa menjadi lambat dalam area mana-nya.
"Mana Spot. . ."
Rapalannya datar dengan niat membunuh.
Tangan kanannya direntangkan kedepan mengubah mana di udara sekitarnya termaterialisasi menjadi cahaya serupa butiran-butiran salju.
Tikkk!
Dengan 1 petikan jarinya yang dibunyikan keras, membuat butiran mana itu berkumpul dalam 1 titik menjadi bola cahaya terang.
Nampak kini wajah misterius dari pembunuh kecil di depannya yang mengenakan topeng berbentuk wajah iblis berwarna merah. Rambutnya diikat 1 panjang kebelakang, mengenakan pakaian yang ia kenali.
"Ninja Klan Oni ??"
Alisnya terangkat, namun tetap memfokuskan mana-nya ke bola cahaya yang melayang sesuai pergerakan tangan kanannya.
"Siapa yang mau repot-repot menggunakan jasa Assassin Guild datang ke tempat seperti ini? Apa untuk membunuhku? aku hanya merasakan dia bergerak sendiri. Siapapun yang menyuruhnya tentu tahu identitasku, ia tidak mungkin sebodoh itu menyuruh pembunuhnya bergerak sendirian. Terlebih lagi menggunakan jasa orang dari luar Kerajaan Britania. Apa mungkin Sekte Agama Artemis? tidak. . . tidak mungkin sampai sejauh itu. . .aku tidak bisa melihat keuntungan yang didapatkan dari membunuhku."
Pikirnya dengan tenang, namun masih tidak menemukan jawaban tujuan ninja perempuan itu.
__ADS_1
Kelakuannya yang hanya terdiam berpikir, seakan mengintimidasi ninja wanita itu. Tidak terlihat kekhawatiran di wajah Kakek Alf, menggambarkan apapun yang dilakukan lawannya tidak berpengaruh padanya.
"Bahkan tanpa tongkat sihirnya, sihir rendahan seperti itu sudah setara dengan jumlah mana untuk merapalkan sihir level tinggi. Saya tidak ingin tahu apa yang akan dilakukannya dengan bola cahaya menyeramkan itu. Bahkan mana di telapak kakiku perlahan mulai ikut terhisap. Konsentrasi pengendalian mananya tidak dapat dibandingkan dengan penyihir manusia yang mendapat Karunia Dewa**."
Ninja itu berpikir demikian setelah melihat jumlah aliran mana yang sangat kuat mengalir ke bola cahaya di depannya. Tentu dengan darah elf-nya dan pengalaman hidupnya yang sudah hidup 400 tahun lebih mengontrol mana alam sangatlah mudah baginya.
Getaran udara membuat dedaunan jatuh berguguran. . .
Beberapa daun yang jatuh kearah bola cahaya itu langsung lenyap terurai secepat kilat bahkan tanpa bersentuhan langsung. Bulu kuduknya berdiri, menyadarkan seberapa bahayanya kakek tua disana yang hanya diam berdiri.
"Tidak!! kalau saya terlalu lama disini, saya bisa mati !!! "
Matanya dengan cepat mencari celah, jari-jari tangannya kini bergerak berirama merapalkan jurusnya dari posisinya yang masih berjongkok.
"Hoo. . . kata magisnya diubah menjadi simbol bahasanya."
Merasa penasaran Kakek Alf membiarkan ninja wanita itu menyelesaikan rapalannya.
"Datanglah Kerberos !!!"
Ninja itu memanggil iblis yang mengikat perjanjian dengannya. . . dari bayangan tubuhnya seekor mahluk buas melompat dari bayangan tersebut, menyerupai anjing berukuran 2x lebih besar dari anjing besar biasa, berwarna hitam pekat, tapi mulut dan kakinya mengeluar api berwarna biru.
__ADS_1
"Roh Anjing Neraka yah, seperti nama klannya. . . mereka benar-benar mengikat kontrak dengan para iblis. Aku penasaran apa yang ia korbankan untuk memanggil salah satu hewan buas mistis itu. Hmm. . . tapi mungkin dari situ dia mendapatkan kemampuan melihat aliran mana sama sepertiku."
Kerberos menatap tuannya yang dalam posisi tidak menguntungkan langsung mengeluarkan kabut hitamnya.
"Anti Mana?!"
Melihat cahaya dari bola mana ditangannya tidak dapat menembus kabut hitam disekitar mereka. Ia hanya kaget, mungkin kalau lawannya penyihir biasa, semua sihir yang dikeluarkan sudah dapat dinetralkan.
Tapi konsentrasi mana yang begitu tinggi ditangannya, tentu tidak dapat dinetralkan semudah itu, malah kabut hitam itu juga terhisap ke bola mana Kakek Alf.
Merasa sudah terlalu lama bermain-main, Kakek Alf melanjutkan rapalan sihir keduanya.
"Mana Zone !"
Tangannya yang terbuka direntangkan kedepan tadi, kini dikepalkan. Mengikuti pergerakan jari tangan Kakek Alf, bola cahaya itu pecah kembali menjadi butiran-butiran kecil, menyebar ke berbagai penjuru arah lalu menyatu dengan udara membentuk area mana yang sangat luas.
Gesekan dedaunan yang terhempas angin, burung-burung yang terbang di udara, bunyi jangkrik dari kejauhan dapat dirasakan semua panca indra dari Kakek Alf lewat mana-nya di udara.
Tubuhnya yang tidak muda lagi mulai kelelahan mengontrol mana seluas itu.
"Ahh kurasa aku terlalu berlebihan. . . haha."
__ADS_1
Katanya pelan, sedikit terbungkuk menahan rasa lelah di tubuhnya.