The Undead Knight

The Undead Knight
Roh Angin - Sylph, Bagian 2


__ADS_3

Daun telinganya meruncing memanjang keatas, sayapnya indah seperti kupu-kupu, lalu rambutnya yang berwarna kuning terang dikepang 2, terasa sangat kontras digaun baju kecilnya berwarna hijau daun.


Dengan posisi duduk melayang, kedua tangan kecilnya direntangkan lurus keatas kepalanya, sedangkan jari jemari kaki mungilnya menjulur lurus kedepan.


"Kakek Alf kenapa aku dibangunkan dari ti...dur. . . ku!??"


Dengan mata yang masih tertutup peri itu mengatakan protesnya, namun terkejut membuka matanya melihat wajah rupawan Pangeran Rainhart tepat disampingnya.


Peri itu langsung membalikkan badannya. . .


"Hmmm???"


Nampak wajah penuh tanya terpapar di wajah Rainhart, ia sedikit merapikan rambutnya yang tadi dibuatnya berantakan.


Pikirnya, mungkin karena penampilannya yang menyedihkan membuat peri itu tidak mau melihatnya.


"Apa?! Kenapa ada pria tampan disini?! Kakek Alf kasi tahu dulu kalau mau manggil! dasar orang tua tidak sensitif !! "


Telapak tangan peri itu menutupi pipinya yang merona merah. Menahan malu, dengan penampilannya muncul tanpa persiapan.


"Kakek Alf. . . ."


Wajah Rainhart tiba-tiba menjadi serius.


Kakek Alf dan Peri Kecil itu menoleh ke suara Pangeran Rainhart.


"Anak kecil ini. . . ."


Nadanya tegang tidak bergetar goyah.


Mereka yang mendengarnya seakan terbawa kedalam rasa penasarannya.


"Anak kecil ini. . ."


Mengulangi dengan nada yang lebih meregang, memantapkan pertanyaannya.


Kini kedua alis mereka terangkat naik, semakin penasaran dengan gelagat Pangeran Rainhart.


". . . . . . . ."


Menarik napasnya dalam-dalam.


Kepala mereka seakan condong tertarik oleh tarikan napas Pangeran Rainhart.


"Anakmu???"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Ekspresinya tidak sedang bercanda.


"TENTUUUU TIIIIIIDAAAAAKKK!!!"


Teriakan keras dari peri itu, keluar bersama angin kencang dari mulut kecilnya.


Rambut Pangeran Rainhart menjadi berdiri tegang diterpa angin kencang.


"Tidak hanya 2. . . tapi sekarang bertambah lagi seorang yang tidak sensitif, hehe. . he. hehehe..."


Gumamnya pelan tertunduk kesal.


2 orang yang dimaksud, tentu Kakek Alf dan Gillian.


Peri itu makin kesal, memikirkan pria yang tidak sensitif itu malah datang dari pemuda tampan di depannya.


"Anak Kecil katamu?!"


Katanya pelan, tidak terdengar jelas namun penuh emosi. Tatapannya masih tertunduk.


"Tidak hanya sekali. . . tapi 2 kali?! hehe...he.. he he hehe..."


Tawanya semakin aneh. Mengingatkan Rainhart dengan ketawa Gillian tadi.


Butiran-butiran mana berwarna putih salju, berkumpul disekitar peri itu.


Bahu kanan kecilnya yang tidak tertutup kain bajunya, diputar-diputar seperti putaran roda kereta kuda melaju kencang. Siap memberi pukulan ke Pangeran Rainhart.


"Kukira nak Rainhart, layaknya anak bangsawan lainnya, selalu formal dalam berbagai situasi tanpa selera humor recehan. . ."


Perkataan Kakek Alf mencairkan suasana.


Ia cuma bisa tersenyum. Kakek Alf antara mau tertawa dan tidak, menjadi canggung melihat Pangeran Rainhart yang memang serius menanyakan.


"Tenanglah Sylph. . . "


dengan sapuhan tangannya di udara, Kakek Alf menetralkan mana yang terkonsentrasi.


"Pangeran Rainhart hanya sedang bercanda -"


"Saya tidak sedang -"


"Ha!?"


Sanggah Rainhart cepat, namun berhenti diam disanggah Sylph yang memasang raut wajah menantang.


"Sudah-sudah, Sylph. . . Tolong kamu antar Pangeran Rainhart sampai ke menara pengawas."


Kakek Alf menghela napasnya, merasa ragu menyuruh Roh Angin itu menemani Pangeran Rainhart keluar dari hutan.


"Hmmph!!"

__ADS_1


Tangannya dilipat mengiyakan.


Perasaannya menolak permintaan Kakek Alf, namun batinnya melayang perlahan menjauh dari kedua pria itu.


Rainhart tersenyum, menangkap maksud peri itu seakan menyuruh mengikutinya.


Dengan langkah cepatnya, cuma butuh sekian detik Rainhart berada disampingnya, kepalanya sedikit ditundukkan miring ke Sylph yang terbang melayang setinggi dadanya.


"Jadi namamu Sylph yah?"


". . . . . . ."


Mengacuhkannya karena masih kesal. . . mempercepat kepakan sayap kupu-kupunya.


Rainhart juga dengan cepat mengikuti pergerakan Sylph.


Sylph terlihat panik berhenti mengepakkan sayap kupu-kupunya. . .


Melayang diam menatap pangeran itu yang berlutut di hadapannya. Kepalanya kini sejajar dengan tubuh Sylph.


Rainhart memandang wajah Sylph yang terlihat tidak berani menatap tepat ke bola mata birunya.


Dengan suara lembut Rainhart berkata. . .


"Namamu Sylph. . . seindah rupa cantikmu."


mengakhiri katanya dengan senyuman.


"KAKEK ALF!!! SAYA AKAN DATANG LAGI !!!"


Dari kejauhan Kakek Alf mendengar suara teriakan Pangeran Rainhart yang sudah tertutupi bayang-bayang pepohonan.


Rainhart tidak melihat adanya gerakan sekecil apapun dari Sylph beberapa detik.


"Sylph? Kalau kamu masih mengantuk, kamu bisa duduk di bahuku."


Katanya setelah melihat Sylph menutup matanya lalu terdiam mematung.


"Da. . ."


"Hmm? Da?"


Wajahnya mendekat ke Sylph agar dapat mendengar lebih jelas.


"Da. . . ."


Tangan kanan Sylph dikepal, bergetar terangkat naik setinggi mulutnya.


"DASAR COWOK TIDAK SENSITIF!!!"


"Whuss~~~"


Burung-burung berhamburan dari ranting pohon terkena angin kencang dari Sylph.

__ADS_1


__ADS_2